BLACK CAT

BLACK CAT
Black Cat kembali mengamuk



"Sialan. Gagal sudah rencana ku untuk menemui Monang gegara Martin ini.


Karna aku sudah dibuat tidak tenang, maka kalian pun harus tidak tenang oleh ku." Kata Tigor sambil mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Martin.


"Hallo anak monyet. Ada apa lagi? Baru satu jam kita berpisah. Kau sudah menelepon ku." Kata Martin.


"Pak Martin. Sejak kapan geng kita berubah nama menjadi geng monyet hitam?" Tanya Tigor sambil menahan tawa.


"Khusus untuk mu saja. Yang lain tidak." Kata Martin.


"Ayo lah serius." Ajak Tigor.


"Ok. Ada perlu apa kau menelepon ku?"


"Martin. Aku rasa sebaiknya segera kumpulkan anak buah mu dan secepatnya kita kirim mereka ke kota kemuning. Hal ini sengaja kita lakukan agar kelompok geng tengkorak tidak menganggap bahwa kita hanya pasrah saja. Bagaimana?" Tanya Tigor.


"Ok. Kalau begitu kalian akan berkumpul di komplek elit sejam dari sekarang. Aku akan mengadakan pertemuan mendadak. Kau juga harus datang Gor. Sekalian kita akan mengantar mereka kesana." Kata Martin.


"Ya. Begitu pun jadi. Aku mau siap-siap dulu.'


"Baiklah." Kata Martin sambil mengakhiri panggilan.


"Mampos kalian kan. Enak-enak saja makan tidur gaji jalan. Sekarang aku kirim kalian ke tempat jin buang anak." Kata Tigor lalu menari menirukan gaya anak Boyband yang alay gemulai.


Tigor segera mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadiri pertemuan itu. Dia akan datang ke rumah Martin sebagai Black Cat. Bukan sebagai Tigor. Ini karna dia tidak ingin menimbulkan iri hati diantara Beni dan yang lainnya jika Tigor yang datang. Tapi jika Black Cat yang datang, mereka akan berfikir seribu kali untuk mencari masalah. Atau, kepala hilang.


Setelah selesai mengenakan pakaian serba hitam dan topeng kucing warna hitam, Tigor pun segera membalut baju hitam nya dengan jaket serta tak lupa memakai helm.


Setelah segala sesuatu nya sudah beres, Tigor pun mengeluarkan sepeda motor Yamaha R1 milik nya dari garasi dan segera berangkat menuju komplek elit tepat nya rumah Martin.


Tepat ketika Tigor atau Black Cat akan berbelok ke kanan, tiba-tiba di depannya muncul seorang wanita muda yang cantik sedang berlari-lari kecil untuk menyebrang ke arah restoran Samporna membuat Black Cat spontan menginjak pedal tem dan nyaris terjatuh.


"Woy Nona. Bosan hidup kau ya?"


Jengkel benar hati Tigor melihat kegoblokan wanita itu. Namun ketika dia berbalik dengan wajah pucat, Tigor kini melihat wanita itu seperti pernah mengenalnya.


"Kau...!" Kata Tigor/Black Cat buru-buru turun dari motor nya dan membantu gadis itu untuk bangkit.


"Apa kau tidak mengerti rambu-rambu lalu lintas? Lihat itu lampu hijau! Mau mati kau ya?"


"Maaf. Aku dari kampung. Belum terlalu mengerti. Karena tadi aku lihat jalan sepi, jadi aku menyebrang saja." Kata gadis itu masih ketakutan.


"Ya sudah. Kau tidak apa-apa?" Tanya Tigor.


"Tidak bang." Jawab gadis itu. Namun dia segera kaget begitu melirik ke arah Tigor.


"Kau?!"


"Ya ini aku. Kita bertemu lagi. Apakah kemarin Monang memarahi mu?"


"Tidak bang. Setelah aku katakan kalau Black Cat yang membuat ku terlambat, dia tidak jadi marah."


"Bagus. Jika dia berani memarahi mu, berarti dia sudah bosan makan nasi pakai sendok." Kata Black Cat.


"Sudah ayo aku bantu kau menyebrang!" Kata Black Cat menawarkan.


"Sepeda motor mu bang. Lihat tuh di sana para pengendara sejak tadi membunyikan klakson."


"Mereka tidak akan berani memindahkan sepeda motor ku ini. Kalau berani, berarti mereka sudah bosan makan nasi pake sambal belacan." Kata Black Cat sambil menarik tangan gadis itu dan membantunya untuk menyebrang.


*********


Black Cat kembali mengendarai sepeda motor nya. Namun kali ini tidak terlaku kencang.


Sesekali dia menggeleng dan sesekali dia senyum-senyum sendiri.


"Cantik sekali gadis itu. Wajah polos, lugu, nada bicara yang lembut. Ah. Sayang sekali jika dia harus bekerja di bawah Monang. Hmmm... Aku harus mengeluarkan gadis itu dari sarang setan seperti pusat hiburan gemerlap malam itu. Jika terlambat, kasihan sekali. Bila perlu, aku mau menikah dengan nya. Tapi lagi-lagi sial. Mengapa aku lupa menanyakan namanya?" Kata Black Cat dalam hati.


Black Cat terus saja melaju dengan santai sambil tersenyum sendiri. Sesekali dia menyanyi kecil dan sesekali bersiul riang.


'Sialan. Ada apa dengan hatiku ini? Ah bodo amat lah. Baru kali ini aku merasakan nya."


Tanpa terasa kini Black Cat sudah tiba di komplek elit.


Karena dia tadi sempat membantu gadis yang nyaris dia tabrak ditambah lagi dia memang sangat santai mengendarai sepeda motor milik nya, sehingga dia terlambat hampir 30 menit.


Sambil memarkir sepeda motor milik nya, Black Cat pun mulai melangkahkan kakinya menuju beranda depan rumah mewah milik Martin dan mulai memasuki rumah tersebut.


Saat itu di dalam ruangan sedang terjadi ribut-ribut karna beberapa orang anggota senior dalam organisasi menolak untuk dikirim ke kota kemuning termasuk Beni yang sangat Vocal dalam menentang keputusan yang dibuat oleh Martin.


Tadinya Black Cat ingin langsung memasuki ruangan itu. Namun ketika dia mendengar ribut-ribut suara yang berasal dari ruangan pertemuan itu, Black Cat pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia hanya berdiri saja di balik pintu dan menyuruh pengawal yang mengantarkan dirinya tadi untuk kembali ke posisi nya.


Dia terus mendengar semua percakapan mereka sambil menunggu waktu yang tepat untuk memasuki ruangan itu.


Sementara itu di dalam, Martin yang mendapat penentangan dari Beni semakin terpojok saja.


"Bang. Selama ini kami hanya di tugaskan untuk menjaga pusat hiburan, restoran dan hotel di kita Tasik putri ini saja. Tapi mengapa setelah kau merekrut Tigor dan orang-orang nya, kini kau mengirim kami ke kota Kemuning untuk menjaga keamanan di sana? Bukankah itu sama saja dengan kau mengumpankan kami ke mulut buaya?" Kata Beni yang segera di iyakan oleh beberapa orang anggota senior yang ada di ruangan itu.


"Bukan begitu maksud ku Beni. Saat ini kita kekurangan orang. Anak buah Tigor tidak cukup untuk menjaga kota Kemuning. Mereka harus berbagi tugas menjaga gang kumuh yang baru saja mereka rebut dari tangan geng tengkorak. Jika gang kumuh ditinggalkan, maka orang-orang dari kota Batu akan memasuki dan menguasai kawasan itu sekali lagi." Kata Martin.


"Kami mampu menjaga kawasan gang kumuh itu bang. Biarkan saja anak buah Tigor yang pindah ke kota Kemuning." Kata Beni.


"Beni!!! Apa kau masih punya malu? Kau menyuruh agar aku memindahkan orang-orang Tigor ke kota Kemuning, sedang kan kalian menjaga kawasan gang kumuh? Apa hak kalian untuk kawasan itu? Dulu ketika anak buah Birong merebut tempat itu, kalian lari terbirit-birit. Sekarang dengan rasa tidak tau malu, kalian kembali menawarkan diri untuk menjaga kawasan itu. Dimana otak kau?" Kata Martin sambil membanting tangannya diatas meja.


"Kami ini orang lama bang. Seharusnya abang lebih perhatian kepada kami. Bukannya kepada Tigor." Kata Beni tetap tidak mau mengalah.


"Beni. Aku tidak menyuruh mu untuk pergi ke kota Kemuning. Yang aku suruh adalah mereka-mereka ini. Tapi mengapa kau begitu Vocal sekali menentang keputusan ku? Apakah kau sudah bosan berada di dalam organisasi? Hah?! Jawab Beni! Sebenarnya kepada siapa kau berpihak. Kepada ku atau kepada orang-orang si Birong?"


"Aku tetap akan mengabdi kepada organisasi ini bang. Namun jika harus melepaskan mereka ke kota Kemuning, aku jelas keberatan. Karena walau bagaimanapun, mereka itu dulu nya adalah orang-orang yang aku rekrut. Lebih baik kami keluar dari organisasi daripada harus menjadi umpan buaya di kota kemuning." Kata Beni.


"Kau benar-benar penghianat, Beni. kau sudah tidak memberi wajah lagi kepadaku. Baik. Sekarang kalian semua aku pecat dan minggat kalian semua dari sini! Mulai besok jangan datang lagi ke rumah ini dan tarik seluruh orang-orang mu dari pusat hiburan dan seluruh restoran serta hotel milik ku. Sekarang keluar kalian!" Bentak Martin dengan marah.


"Kau keterlaluan bang. Hanya demi anak gelandangan yang tidak jelas asal usul nya itu, kau rela melepaskan kami. Aku heran entah obat apa yang sudah diberikan oleh Tigor kepada mu. Pertama kau menyingkirkan Tumpal. Kedua kau membatasi pengaruh ku dalam organisasi. Sekarang kau memecat kami semua. Apakah semua ini karna si Tigor anak H*ram itu?"


Praaak....


Selesai Beni menyebut anak h*ram, tiba-tiba pintu ruangan itu dibanting dari luar dan kini tampak satu bayangan hitam menerobos masuk lalu menampar mulut Beni secara bertubi-tubi sehingga mengeluarkan darah.


Kejadian itu berlangsung begitu cepat membuat semua yang ada di ruangan itu hanya bisa melongo terpaku dengan kejadian yang sangat singkat itu.


Tampak kini Beni berlutut sambil menutupi mulutnya yang berlumuran darah tepat dihadapan sosok serba hitam yang berdiri tegak seperti tunggul arang itu.


"Black Cat!"


"Celaka. Ya. Itu adalah Black Cat." Kata mereka berbisik sesama mereka.


"Comberan sekali mulut anda ini Beni. Kau menutupi kepengecutan mu dengan menjadikan Tigor sebagai landasan."


"Kalian semua dengar baik-baik! Kalian ini adalah sampah. Kalian bukan anggota dalam organisasi. Kalian ini hanya kutu. Kutu kucing yang harus di basmi. Apakah jika Tigor membawa semua anak buahnya ke kota Kemuning, kalian akan merasa aman? Ketika kota tasik ini kosong dan orang-orang dari kota batu menyerang, apakah kalian bisa bertahan? Jangan-jangan kalian akan melarikan diri terbirit-birit seperti orang terkena disentri. Sampah kalian ini semuanya." Kata Black Cat dengan lantang.


"Sudahlah Black Cat. Bagaimanapun mereka ini adalah orang-orang lama. Dulu sebelum mendiang ayah ku meninggal, dia sempat berpesan agar aku tidak terlalu perhitungan dengan mereka. Kau mengerti bukan, maksud ku?" Kata Martin.


"Itu lah kesalahan mu Martin. Kau terlalu lembut. Saat ini organisasi kucing hitam sudah kembali bangkit. Sudah banyak kawasan milik mu yang dulu dikuasai oleh geng tengkorak satu per satu mampu kami rebut kembali. Namun mereka ini apa? Maaf Martin. Aku hari ini sangat haus. Aku haus darah." Kata Black Cat sambil menekan kepala ikat pinggang nya dan kini di dalam genggaman tangan Black Cat tampak gagang sebilah pedang tipis yang sangat lentur.


Craaas....!


Bugh...


Tampak kepala terpisah dari badan salah seorang dari anggota kucing hitam yang hadir di ruangan itu.


Darah kini menyembur bagai air mancur membasahi meja dan kursi lalu meleleh jatuh ke lantai keramik ruangan pertemuan itu.


"Ini adalah orang yang paling membangkang setelah Beni. Dan kau akan menyusul dia Beni!!!" Kata Black Cat membentak dengan lantang lalu mengayunkan pedang nya kearah Beni.


"Hentikan Black Cat! Tolong jangan! Ampuni aku. Kami berjanji akan mengikuti semuanya dan apa saja yang diperintahkan oleh Martin. Asal, tolong jangan bunuh aku." Kata Beni dengan tubuh menggigil.


Melihat sorot merah di mata Black Cat yang sangat mengerikan itu, membuat semua yang hadir di dalam ruangan itu kecuali Martin kini berlutut menghadap ke arah Black Cat.


"Tolong ampuni kami Black Cat. Kami tidak akan lagi menentang keputusan Ketua kita yaitu Martin. Ketua. Tolong selamatkan kami!" Pinta mereka yang sangat ketakutan. Bahkan sudah ada yang terkencing di dalam celana.


"Lepaskan mereka Black Cat. Kau keluarlah dulu dari ruangan ini. Tunggu kabar dari ku. Secepatnya aku akan menghubungi mu." Kata Martin.


Black Cat memutar tubuh menatap Martin dengan tajam.


Dalam hatinya dia sangat menyesalkan kelembutan Martin yang sangat merugikan itu. Menurutnya, boleh lembut. Asal pada tempatnya. Dan Martin sama sekali tidak bisa membedakan semua itu.


Dengan memendam kekecewaan, Black Cat membungkukkan badan ke arah Martin dan segera berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Suatu saat kau akan menyesal karena terlalu memberi muka kepada orang-orang seperti Beni. Semoga saja kau tidak dibunuh oleh mereka, Martin. Sehingga aku bisa merintis kembali kejayaan geng kucing. Keputusan sudah bulat. Aku akan menguasai kota Kemuning sebagai ancang-ancang mengantisipasi andai suatu saat nanti kau digulingkan oleh mereka." Kata Black Cat alias Tigor dalam hati.


Setelah Black Cat pergi, barulah mereka yang ada di ruangan itu bisa bernafas lega. Sejak tadi mereka merasakan bahwa seakan nyawa mereka telah lama melayang meninggalkan raga.


"Bereskan mayat itu. Cuci semua yang terkena percikan darah. Pertemuan ini ditutup. Aku akan menemui Tigor untuk memindahkannya ke kota Kemuning. Kalian bisa tetap di sini. Tapi ingat! Jangan menceritakan kejadian ini kepada siapapun." Kata Martin sambil bangkit dari kursi nya dan melangkah gontai meninggalkan ruangan itu.