
"Silahkan Nona Wulan dan Nona Debora untuk masuk ke restoran! Bos kami sudah memesan restoran dan hotel untuk anda berdua menginap." Kata Monang sambil mempersilahkan Wulan dan Debora.
"Terimakasih Bang Monang. Tapi kemana Tigor? Mengapa dia tidak berada diantara kalian?" Tanya Wulan.
"Mungkin Bang Tigor sedang ada urusan. Tapi percayalah bahwa dia pasti akan datang. Dia sudah berjanji akan menemui kalian." Jawab Monang.
"Baiklah bang." Kata Wulan sambil melangkah memasuki restoran bersama Debora dan diikuti oleh Monang dan Andra sebagai pengawal.
Hampir lima belas menit mereka berada di restoran itu, akhirnya sebuah mobil sport BMW i8 pun meluncur dengan perlahan memasuki area depan restoran.
Melihat mobil siapa yang datang, sekali lagi anak buah Tigor yang berada di luar restoran menghampiri mobil tersebut lalu membukakan pintu.
Wulan dan Debora hanya saling pandang saja melihat ke arah mobil tersebut.
Monang yang mengerti langsung saja berkata. "Nah Nona Wulan dan Nona Debora, orang yang kita tunggu sudah tiba." Kata Monang.
Setelah mendapat kepastian bahwa mobil BMW yang baru tiba itu adalah mobil milik Tigor, kecerahan di wajah Wulan dan Debora pun mulai tampak dengan jelas. Namun ketika melihat Tigor yang keluar dari dalam mobil bersama dengan seorang gadis yang sangat cantik, kecerahan di wajah kedua gadis itu berubah menjadi mendung.
"Bang Monang, siapa gadis yang bersama dengan Tigor itu?" Tanya Debora.
"Oh. Gadis itu. Namanya adalah Mirna." Jawab Monang.
"Apakah dia kekasih nya Tigor?" Tanya nya lagi.
"Kalau itu saya tidak tau Nona." Jawab Monang yang tau bahwa kedua gadis itu kini sedang dilanda rasa kecemburuan.
Dia tidak ingin memanas-manasi kedua gadis itu. Makanya dia memilih menjawab tidak mengetahui.
Sementara itu dari luar, Tigor mulai melangkah memasuki restoran sambil menggandeng tangan Mirna yang tampil dengan keanggunan yang hakiki malam itu.
"Maaf saya terlambat. Ada hal yang harus di bahas tentang beberapa proyek tambahan. Saya harap Nona Wulan dan Nona Debora tidak kecewa.
Oh ya. Silahkan perkenalkan! Ini adalah sahabat wanita terbaik ku. Namanya Mirna. Mirna, kedua Nona ini adalah kenalan ku. Yang ini namanya Wulan. Dia adalah putri penguasa dari Dolok ginjang. Dan yang ini bernama Debora. Dia adalah bidan dan memiliki klinik praktek sendiri di kota Tasik Putri." Kata Tigor memperkenalkan Mirna kepada kedua gadis itu.
"Mirna. Senang bisa berkenalan dengan anda." Kata Mirna sambil mengulurkan tangannya.
Dengan perasaan malas, Wulan dan Debora akhirnya menyambut juga uluran tangan Mirna.
"Mari silahkan dinikmati makan malam ini. Aku khusus memesan masakan khas di restoran ini untuk kita nikmati."
"Monang dan kau Andra! Panggil semua anak buah kita untuk bersama makan malam." Kata Tigor.
"Tapi Bang."
"Tidak ada tapi-tapian. Aku tidak ingin ada kesenjangan jarak antara aku dan mereka. Jarang-jarang kita bisa berkumpul secara lengkap seperti ini. Ayo panggil!"
"Baik bang." Kata Monang lalu segera melangkah keluar untuk memanggil anak buah yang lainnya.
Tidak ada yang istimewa dengan makan malam itu.
Hal ini dikarenakan, Tigor datang dengan seorang gadis yang jelas-jelas lebih cantik dari mereka berdua.
Ada perasaan cemburu di hati kedua gadis itu. Tapi siapa mereka untuk cemburu. Ini terutama buat Debora bahwa Tigor sudah berkenan menyambutnya dengan baik di kota Kemuning ini pun sudah syukur. Untung dia tidak di usir oleh Tigor mengingat dulu seperti apa perlakuannya terhadap pemuda yang dulunya adalah seorang gelandang itu.
Selesai dengan makan malam itu, Tigor yang sengaja tidak mau menambah penyakit langsung saja meminta diri untuk pergi dengan alasan masih banyak urusan yang harus dia kerjakan.
"Sangat menyesal sekali Nona Wulan. Sebagai orang yang mendapat kepercayaan di kota Kemuning ini oleh Martin, dan terlebih lagi saya masih baru di sini. Jadi, ada banyak pekerjaan yang menanti untuk di selesaikan. Saya mempercayakan kepada Monang dan Andra untuk mengurus segala sesuatunya bagi keperluan anda berdua selama berada di kota Kemuning ini. Maaf, saya mohon diri dulu." Kata Tigor dengan penuh kesopanan dan sikap sangat elegan sekali.
Sambil merapikan jas dan dasi miliknya, Tigor pun bangkit dari duduknya dan dengan lembut mengulurkan tangannya kepada Mirna yang langsung di sambut oleh Mirna dengan senyuman.
"Mari Mirna kita kembali. Anda tentu sudah sangat kelelahan." Kata Tigor.
Mereka berdua memberi sedikit hormat kepada Wulan dan Debora, lalu membalikkan badan dan berlalu meninggalkan meja tempat mereka makan tadi tanpa menunggu jawaban dari kedua gadis itu.
Kepergian Tigor dan Mirna membuat nafsu makan mereka yang memang sudah rusak sejak awal menjadi semakin rusak.
Tanpa menghabiskan makanan yang ada di dalam piring mereka, Wulan langsung saja meminta kepada Monang dan Andra untuk mengantar mereka berdua menuju hotel untuk beristirahat.
Andra dan Monang tau bahwa kedua gadis ini mengalami kekecewaan yang dalam. Oleh karena itu, mereka berdua hanya menuruti saja keinginan dua gadis dari Tasik Putri dan Dolok ginjang ini.
Setelah mereka tiba di kamar hotel ekslusif yang telah di booking oleh Tigor untuk mereka, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka.
Mereka berdua seolah-olah sibuk dengan kecamuk fikiran masing-masing.
Pertemuan yang tadinya mereka harap bisa meraih simpati dan memenangkan hati Tigor ternyata kandas karena kehadiran seorang gadis lain yang datang bersama dengan Tigor malam itu.
Hal yang paling menyakitkan bahkan seperti luka yang di siram dengan cuka adalah bahwa mereka berdua harus menerima kenyataan kalau Mirna itu ternyata lebih cantik dari mereka berdua.
Tadinya mungkin mereka berharap bisa menikmati malam Minggu yang panjang ini sambil sesekali bersenda gurau dengan Tigor.
Setelah hubungan mereka mulai membaik dan berjalan normal, kemungkinan mereka berdua akan berkompetisi untuk mendapatkan Tigor
Mereka akan berusaha untuk menonjolkan keunggulan masing-masing di depan Tigor. Namun sialnya adalah, Tigor datang bersama Mirna dan mengacuhkan mereka berdua.
"Kau tidur lah Debora. Aku akan ke kamar ku." Kata Wulan.
"Baiklah Lan. Tidur lebih awal ya! Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah berangkat meninggalkan kota Kemuning ini." Kata Debora.
Untuk apa lagi dia bertahan lama-lama di kota ini. Kedatangan nya kemari bukan karena tertarik dengan wisata, perkotaan dan lain sebagainya. Kedatangan nya kemari hanya ingin menemui Tigor yang jelas tidak menginginkan kedatangan mereka.
Hanya karena menghargai bahwa Debora pernah berjasa pada dirinya saja maka Tigor memaksakan diri untuk tetap bersikap baik.
Jika di ingat perbuatan Debora kepada Tigor semenjak mengenal Irfan, maka selayaknya gadis ini diceburkan ke laut untuk umpan hiu.