BLACK CAT

BLACK CAT
Black Cat terjebak



Menjelang malam itu di perumahan Staf milik Martin di kota Kemuning, Tigor yang saat ini sedang berkumpul dengan sembilan orang lainnya untuk membahas beberapa rencana kerja setelah yayasan Martin resmi beroperasi dan menampung orang tua jompo serta anak-anak gelandangan.


Tepat ketika mereka sedang serius-seriusnya membahas kerangka kerja, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan bahwa seseorang telah mengirim pesan WhatsApp kepadanya.


Sambil menghentikan ucapannya, Tigor langsung meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.


Cetaaaar....!


Bagai di sambar geledek ketika Tigor melihat isi pesan yang berupa tiga buah video berdurasi pendek itu.


Saat ini ponsel Tigor sudah terlepas dari tangannya dan terjatuh di lantai.


Seluruh tubuhnya menggigil, urat-urat nya kini mulai menegang dan keringat bercucuran dari dahinya.


"Ada apa Gor?" Tanya Monang.


"Martin. Martin di bunuh oleh Marven." Jawab Tigor dengan tubuh semakin menggigil.


"Apa...? Kau jangan bercanda Gor!" Kata Andra pula.


Dengan tubuh gemetar, Tigor menunjuk ke ponselnya yang jatuh di lantai lalu bergegas pergi dari tempat itu.


"Hey Gor...! Mau kemana?"


Tidak ada jawaban dari Tigor. Dia terus saja pergi setengah berlari.


Kini sembilan orang itu melihat ke ponsel Tigor lalu memutar ulang video pendek tersebut.


"Ya Tuhan. Cepat! Ayo cegat Tigor!" Kata Monang.


Terlambat. Tigor sudah tidak tampak lagi batang hidungnya.


Di tikungan, mereka melihat sepeda motor Ducati Panigale melesat dengan penunggang berpakaian serba hitam.


"Celaka. Black Cat sudah keluar. Bagaimana ini?" Tanya Acong.


"Acong, Ameng dan Timbul. Kalian kumpulkan semua anak buah kita. Cepatlah! Sudah tidak banyak waktu lagi." Teriak Monang.


"Kau Cok, Jabat, Thomas dan Sugeng, kumpulkan senjata kita. Bawa keluar dari gudang. Lekas lah!" Kata Monang lagi.


"Andra! Bantu aku mempersiapkan semuanya. Kali ini aku menduga banjir darah akan terjadi."


Mereka lalu bergegas dengan tugas. Masing-masing dan dalam waktu tidak sampai satu jam, lebih dari lima ratus orang telah berkumpul di tempat itu dan siap untuk berangkat menuju kota Tasik Putri.


***


Di jalan raya saat ini, tampak Black Cat memacu kendaraannya seperti sedang kesetanan.


Dia tidak berfikir bahwa sejak tadi beberapa orang di sepanjang jalan sedang memperhatikan dirinya.


"Bos. Benar dugaan anda. Saat ini sepeda motor berwarna hitam yang di tunggangi oleh sosok hitam sedang bergerak menuju perbatasan antara kota Kemuning dan kota Batu." Kata lelaki di pinggir jalan itu.


"Baiklah. Kau terus amati dan beritahu kepada orang-orang yang kita pasang di sepanjang jalan. Kami akan berangkat ke perbatasan. Kau segera menyusul 30 menit kemudian!"


"Baik Bos." Kata lelaki itu lalu mengakhiri panggilan.


*


Sementara itu, Black Cat kini sudah hampir tiba di perkebunan kelapa sawit perbatasan dengan kota Batu.


Berkali-kali dia menikung mobil-mobil yang lewat agar segera sampai di kota Tasik Putri.


Namun baru saja dia memasuki kawasan perkebunan itu, tiba-tiba sepotong balok kayu berukuran sedang dengan sengaja dijatuhkan di tengah jalan membuat ban depan sepeda motor yang ditunggangi oleh Black Cat tepat menabrak balok tersebut.


Dalam keadaan serba terdesak itu, mau tak mau membuat Black Cat harus menekan rem depan. Hal ini menyebabkan ban belakang terangkat dan mengakibatkan sepeda motor itu berputar ke depan bersama dengan tubuh Black Cat dan langsung terhempas di jalan beraspal itu.


Gubraaak.... Buuum....!


Tak lama kemudian, dari balik semak-semak, bermunculan sekitar lima puluh orang lalu segera mencari kemana sosok hitam itu tadi terjatuh.


"Ayo cari dan bunuh bangsat itu!"


"Bang Togar! Di sini!" Kata anak buahnya kepada Togar.


Bagaimana Togar bisa tahu bahwa Black Cat akan melewati jalan itu?


Kita kembali ke beberapa jam yang lalu.


Setelah Marven membunuh Martin, Marven yang tau bahwa berita itu pasti akan sampai terlebih lagi kepada Black Cat, segera meminta kepada Beni untuk menghubungi Birong.


Birong yang saat itu merasa senang dengan kematian Martin menyetujui permintaan dari Beni tersebut lalu berkordinasi dengan mata-mata yang memang telah dikirim oleh Beni di kota Kemuning.


Dengan ini, Birong lalu memerintahkan Togar beserta lima puluh orang anak buah dari geng tengkorak untuk mencegat siapa saja yang datang dari Kota Kemuning terutama Black Cat.


Tepat seperti dugaan mereka bahwa Black Cat benar-benar muncul dan dengan segala persiapan, mereka pun berhasil mencegat kucing hitam itu di perbatasan kedua kota tersebut.


"Hahaha... Akhirnya kena juga kau Black Cat." Kata Togar sambil tertawa.


"Seret dia ke pinggir jalan sana. Aku ingin menguliti orang ini yang telah banyak menimbulkan kerugian bagi geng tengkorak." Kata Togar.


Mereka pun kini beramai-ramai menggotong tubuh Black Cat lalu melemparkan ke pinggir jalan.


Bagai sesosok bangkai, Black Cat sama sekali tidak bergerak.


Pakaiannya di beberapa bagian telah sobek dan berdarah.


Juga dari balik topeng itu kini keluar darah segar menandakan bahwa Black Cat ini saat ini sedang menderita luka di bagian dalam.


Tidak ada pergerakan. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia masih hidup.


Saat ini Black Cat persis seperti mayat yang tergeletak dengan tangan di terletak di bagian pusat.


"Hahaha. Tamat sudah riwayat mu Black Cat." Kata Togar sambil menginjakkan kakinya di dada Black Cat.


Tiba-tiba saja tubuh yang kaku itu bergerak dengan sangat cepat lalu....,


Wuzz...


"Argh.... Kaki mu.... Sialan! Pukuli bangsat itu!"


Yang tidak di duga oleh Togar adalah, bahwa Black Cat pura-pura mati.


Dalam keadaan payah dan tenaga yang tersisa, dengan cepat Black Cat meraba ke pinggang nya dan sebilah pedang tipis yang lentur terlepas dari pinggang itu lalu ditebaskan ke arah kaki Togar yang menginjak tubuhnya.


Itulah yang menyebabkan Togar menjerit.


Darah kini mengucur dari bekas tebasan itu dan tampak kaki Togar yang sebelah sudah buntung sebatas betis.


Anak-anak buah Togar yang mendapat perintah ini langsung menghujani Black Cat dengan batu yang terdapat di pinggir jalan itu.


Mereka jelas tidak berani mendekat karena melihat contoh nyata dari kaki Togar yang buntung itu.


Kini tubuh Black Cat benar-benar dihujani oleh batu yang dilemparkan oleh anak buah Togar.


Tepat di saat-saat kritis itu, dari arah belakang berdatangan sepeda motor dan juga mobil dalam jumlah yang besar lalu mengepung mereka dari arah depan dan belakang.


"Itu Black Cat." Kata Monang yang melihat sosok tubuh tergeletak di pinggir jalan sedang dilempari dengan batu oleh ramai orang.


Kini orang-orang yang baru tiba itu segera membuat pengepungan dan...,


"Serbu...! Jangan biarkan seorangpun yang lolos!" Kata Monang.


Bersambung...