
Sudah beberapa hari Tigor dan rombongannya meninggalkan Kota tasik putri. Hal ini mulai menimbulkan tanda tanya kepada semua yang mengenal Tigor.
Bagi Debora dan Wulan, mereka berfikir mungkin Tigor sengaja menghindari mereka. Namun tidak demikian bagi Beni.
Beni yang memang sangat ingin menyingkirkan Tigor mulai menyebarkan mata-mata untuk menyirap kabar kemana Tigor menghilang beberapa hari ini.
Sedangkan dia sendiri berusaha mengorek keterangan dari Martin dan Marven. Hingga sampailah pada suatu ketika Marven tanpa sengaja mengatakan bahwa Tigor memang pergi melakukan transaksi di Hongkong.
Dengan bangga Marven mengatakan bahwa transaksi itu telah berhasil dengan sangat sukses dan Tigor mendapat penghormatan dari Mister Ming kang Khang yaitu salah satu dari Mafia sekaligus ketua organisasi terbesar di Hongkong.
Mengetahui akan hal ini, Beni pun segera memberi kabar kepada Tumpal bahwa Tigor sedang tidak berada di tempat dan dia mengatakan bahwa Tumpal harus menghasut Birong agar mengirim anak buah nya ke Tasik putri untuk mengganggu orang-orang terdekat Tigor seperti Ucok, Jabat, Sugeng dan Thomas.
Hal itu harus mereka lakukan dengan tujuan agar geng kucing hitam tidak merasa bahwa geng tengkorak telah lemah pasca dibantai oleh anak buah Tigor di perkebunan karet di dekat sarang mereka sendiri beberapa waktu yang lalu.
Waktu Tumpal mendapat informasi dari Beni ini, Birong dan adiknya Togar baru saja tiba di Villa bukit batu dari Singapore karena menjemput anak gadis mereka yang kuliah di negara singa itu yang bernama Butet.
Ketika Tumpal menyampaikan informasi ini kepada Birong, Birong yang memang menaruh dendam berkarat kepada Tigor dan Black Cat merasa bagai orang ngantuk diberi bantal dan langsung setuju. Maka, terjadilah pengaturan rencana diantara Tumpal, Togar dan Birong untuk mengacaukan kota Tasik putri.
"Tumpal! Apakah Beni berkata sudah berapa hari Tigor berangkat ke Hongkong?" Tanya Birong.
"Menurut perhitungan Marven, Tigor dan anak buahnya sudah berangkat ke Hongkong sehari sebelum abang dan Togar berangkat ke Singapore." Jawab Tumpal.
"Kalau begitu sudah lima hari. Mustahil aku bisa menggagalkan bisnis mereka. Andai aku mengetahui hari keberangkatan mereka, pasti aku batalkan keberangkatan kita ke Singapore dan mengejar Tigor ke Hongkong. Karena walau bagaimanapun, aku memiliki ramai kenalan di Hongkong." Kata Birong dengan wajah putus asa.
"Masih belum terlambat Bang! Bagaimana jika kita susul dia ke Hongkong?" Tanya Tumpal.
"Tidak mungkin. Sudah lima hari. Dia bisa saja berada di negara ini kapan saja. Siapa tau ketika kita mengejar rombongan nya ke Hongkong, dia malah sudah berangkat meninggalkan negara itu? Buang-buang uang dan tenaga saja." Kata Birong.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Bang?"
"Kacaukan pusat hiburan Dunia gemerlap malam! Cari tau keempat pemuda sahabat Tigor itu. Bila perlu tangkap mereka. Aku ingin mengorek keterangan jika dia memang anak Kapten Bonar, maka seharusnya dia mempunyai adik. Aku ingin tau dimana adiknya itu berada. Teman-teman Tigor ini pasti tau di mana Tigor ini menyembunyikan adiknya itu." Kata Birong.
"Kapan kita bergerak bang?" Tanya Togar.
"Togar dan kau Tumpal! Siapkan orang-orang kita! Kau lebih tau seluk beluk dunia gemerlap malam itu kan? Lakukan seperti yang pernah dilakukan oleh Tigor kepada kita beberapa bulan yang lalu saat dia mengacaukan kota Batu ini. Bila perlu, bakar saja pusat hiburan itu!" Kata Birong memberi perintah.
"Siap Bang!" Kata mereka serentak dan langsung keluar meninggalkan ruangan itu untuk mengumpulkan orang-orang mereka.
*********
Sementata itu di sebuah rumah yang berada tidak jauh dari pinggir komplek elit tasik putri, Beni saat itu sedang mengobrol dengan Strongkeng dan Togi.
Mereka bertiga terus membahas tentang keberangkatan Tigor ke Hongkong.
Dalam hati mereka masing-masing merasa sangat iri. Mengapa harus Tigor yang berangkat? Mengapa bukan mereka. Itu artinya Martin pilih kasih.
Beni yang tidak tau diri ini merasa andai dia yang pergi, sudah pasti dia akan dapat meluaskan pergaulannya dengan orang-orang seperti Mister Ming kang Khang dan Mister Long Kang yang sudah sangat terkenal sebagai Mafia internasional.
Wilayah yang memang berada di bawah kekuasaannya meliputi Macau, Taiwan selain negaranya sendiri yaitu Hongkong. Bahkan konon salah satu kasino terbesar di Macau adalah milik saudara Ming kang Khang ini.
Dengan Tigor yang di suruh oleh Martin berangkat ke Hongkong, sudah pasti Tigor akan memiliki kenalan baru. Andai transaksi itu berjalan dengan baik seperti kata Marven, maka Tigor akan mendapatkan pujian dari Martin sekaligus Ming Kang Khang sendiri.
"Sialan betul Tigor ini. Jamu apa yang dia berikan kepada Martin sehingga dia selalu menjadi pilihan utama. Barang yang dia bawa begitu banyak. Ini sudah pasti akan mengharumkan nama bangsat itu di mata mafia kelas dunia di hongkong. Seharusnya aku mengetahui lebih awal agar aku juga bisa ikut berangkat ke Hongkong sebagai ketua rombongan." Kata Beni sambil membanting gelasnya di meja.
Benar-benar tidak tau diri Beni ini. Padahal barang yang dibawa oleh Tigor ke Hongkong itu adalah barang hasil rampokan yang dilakukan oleh Tigor dan anak buahnya.
Jangankan Beni. Martin saja tidak memiliki hak atas barang yang di bawa oleh Tigor itu. Hanya karena Tigor menghormati Martin sebagai ketua, maka Tigor memberikan seperempat dari uang tunai hasil rampokan itu dan seper tiga dari hasil transaksi di Hongkong.
Andai beni mau berfikir menggunakan sedikit saja otak nya, seharusnya dia malu mengatakan perkataan seperti itu. Tapi yah.., dasar Beni.
"Kita sekarang sudah tidak memiliki hak lagi untuk memberikan pendapat semenjak Tigor direkrut oleh Martin kedalam organisasi." Kata Strongkeng.
"Benar katamu itu. Tigor ini sudah menjadi duri dalam daging bagi kita semenjak dia berada di sisi Martin. Kau tau jika duri menusuk kedalam daging? Daging itu akan membusuk dan bernanah jika tidak cepat dicabut. Tigor ini, akan menjadi penyakit bagi kita di kemudian hari." Kata Togi pula seperti menyiram minyak ke dalam api.
"Bukan kemudian hari. Disaat ini pun dia memang sudah menjadi penyakit buat kita." Kata Strongkeng lagi.
"Saat ini kita serba salah. Jika kita mengusik Tigor, Martin akan menjadi lawan kita. Jika kita menyingkirkan Martin, Black Cat akan memenggal kepala kita. Keadaan menjadi tidak terkendali selama hampir setahun ini. Kita semakin lemah sementara Tigor semakin kuat dan semakin mendapatkan kepercayaan. Satu hal yang harus di ingat! Bahwa, Black Cat si hitam yang haus darah itu berada di bawah perintah Tigor. Setan hitam itu kita tidak tau seperti apa dia. Tiba-tiba ada lalu lenyap begitu saja." Kata Beni sambil menampar pahanya sendiri karena kesal dengan keadaan ini.
"Menurut mu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Togi.
"Senjata rahasia kita ada di kota Batu. Untuk saat ini kita hanya bisa membuat adu domba dan pecah belah antara Martin, Marven dan Tigor. Kau tau bahwa penyakit utama lelaki adalah wanita?"
"Apa maksud mu Beni?" Tanya Strongkeng.
"Butet, Wulan, Tigor dan Marven. Selain Butet, kita harus menjadikan Wulan putri Lalah ini sebagai kain merah buat kita untuk memancing kedua banteng ini agar berlaga." Kata Beni.
"Apa kau memiliki idea?" Tanya Togi.
"Idea akan selalu ada seiring perkembangan waktu. Mulai sekarang, sebarkan anak buah kita untuk menangkap segala tindak tanduk Tigor dan Wulan ini. Target utama kita adalah menyingkirkan Tigor si keparat ini. Apa pun caranya, bagiku itu halal. Asalkan Tigor ini sekarat." Kata Beni.
"Lalu apa rencanamu untuk Butet putri Togar itu?"
"Hahaha... Kalian akan tau nanti. Tidak enak terlalu membeberkan rencana. Kalian lihat saja nanti seperti apa cara Beni bermain."
"Beni! Andai semua ini berhasil, apa sebenarnya yang kau harapkan? Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari semua ini." Kata Togi.
"Kau jangan lupa 26 tahun yang lalu Togi! Seharusnya Venia adalah milik ku. Namun Martin dengan kekuasaan yang dimiliki oleh ketua kita yang terdahulu telah merebut Venia dariku. Yang paling aku sesali adalah, ketika itu Venia mengandung anak kami. Aku sakit. Sakit sekali. Kehilangan Venia berat bagiku. Hal itu selalu menjadi mimpi buruk bagiku. Sampai-sampai aku ketakutan ketika malam tiba. Aku ketakutan untuk tidur. Karena setiap kali mata ini terpejam, yang ada hanya deraian air mata Venia ketika terpaksa harus menerima lamaran dari Ayah Martin. Aku menangis tak berlagu. Kau tau seberapa sakitnya aku ketika itu?" Tanya Beni.
"Aku hampir saja menghancurkan organisasi ini ketika aku memilih menolak ajakan Birong untuk mendirikan organisasi geng tengkorak. Itu semua aku lakukan karena aku ingin menusuk Martin dari dalam. Sebelum Tigor bergabung ke dalam organisasi, aku nyaris sudah menghancurkan kelompok ini dengan memberikan kerja sama dan informasi kepada geng tengkorak. Itulah sebabnya mengapa aku sangat membenci Tigor ini. Bagiku dia harus mati. Atau paling tidak, dia harus sekarat." Kata Beni lagi.
"Kita tunggu saja kabar dari Tumpal. Begitu ada kabar, kita akan kembali mengatur rencana." Kata Strongkeng.
"Ya. Memang itu yang aku tunggu dari tadi. Mungkin sama dengan kita. Saat ini mungkin mereka sedang mengatur rencana. Kita tunggu saja." Kata Beni.
"Oh ya Beni. Bagaimana dengan putra mu si Irfan. Apakah dia sudah baikan?" Tanya Togi.
"Sudah lumayan. Kemungkinan dalam beberapa hari ini dia akan keluar dari rumah sakit. Anak muda. Biasalah. jika tidak terluka, meka dia akan melukai. Tapi jujur saja bahwa untung ada Black Cat ketika itu. Jika tidak, mungkin anak ku sudah mati dihajar oleh Ronggur putra Jordan sialan itu." Kata Beni.
"Hahaha. Itulah sulitnya. Mereka tidak saling kenal. Sekarang Jordan sudah menjadi sekutu Birong dan termasuk sekutu kita juga. Memang sangat sulit untuk membalas." Kata Togi pula.
"Mereka itu anak muda. Biarkan saja lah. Sekarang berantem. Besok sudah baikan lagi." Kata Strongkeng menghibur hati Beni.
"Ya. Benar katamu itu."
"Oh ya. Aku berniat untuk mengungi Irfan di rumah sakit. Kalian jangan nonaktifkan ponsel! Siapa tau kalau aku mendapat kabar dari Tumpal, maka aku akan menghubungi kalian. Bagaimana?!"
"Ok. Kami akan menunggu kabar darimu Beni!" Kata Strongkeng.
"Kau pergilah kunjungi anak mu dulu. Aku dan Strongkeng kembali dulu. Nanti jika ada kabar, segera beritahu kepada kami!" Kata Togi pula sekaligus berpamitan.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan rumah Beni yang juga langsung bersiap-siap untuk mengunjungi Irfan putranya di rumah sakit tasik putri yang di rawat akibat babak belur di hajar oleh Ronggur ketika sedang mengadakan acara di pusat hiburan Dunia gemerlap malam ketika itu.