BLACK CAT

BLACK CAT
Terbunuhnya Birong di tangan Rio



Seorang lelaki muda tampak sigap menyambut lemparan buntalan hitam yang dilemparkan oleh Tigor kepadanya.


Ketika itu, dari dalam mobil keluar dua orang lain sambil menelanjangi seorang lelaki setengah baya dan memakaikan pakaian serba hitam itu.


Sebelum memakaikan topeng kucing kepada lelaki tadi, tak lupa salah satu dari kedua lelaki yang menyeretnya tadi memaksa lelaki itu untuk menelan dua butir pil.


Karena lelaki itu terus meronta, pemuda itu terpaksa mencekik batang leher lelaki setengah baya tadi lalu menekan rahang nya sehingga mulut lelaki tadi terbuka lalu..,


Glek.., glek.., glek.


"Mampus kau Acun." Kata pemuda itu lalu memegang kan jari tangan Acun kepada kepala gagang pedang itu untuk mengambil sidik jarinya kemudian melilitkan pedang tersebut di pinggang lelaki setengah baya bernama Acun itu.


Sementara itu, di bagian sisi lain, tampak Monang, Sugeng dan Andra sedang mencegat tiga orang lelaki berbadan gemuk yang mencoba ingin melarikan diri dari tempat yang sudah kacau-balau itu.


"Mau lari kemana Beni?" Tanya Monang dengan wajah sinis.


"Kau.., kau."


"Ya. Aku adalah Monang. Monang yang kau jebak sehingga terusir dari dunia gemerlap malam. Aku telah bersumpah dengan tangan ku ini, aku akan mencabut nyawa mu."


"Tolong jangan Monang. Kau adalah anak buah ku. Apa kau ingat dulu akulah yang merekomendasikan dirimu kepada Marven." Kata Beni yang mulai ketakutan.


"Hahaha. Anak buah mu? Mimpi kau Bani. Aku adalah anak buah Tigor. Sekarang ayo lawan aku atau kau akan mati dengan membawa penyesalan karena tidak melawan." Kata Monang lalu bersiap-siap untuk menyerang.


Beni saat ini sangat ketakutan. Dia tidak tau harus melawan dengan cara apa. Jangankan melakukan perlawanan. Membawa perutnya yang buncit itu pun dia sudah megap.


Saat ini, Monang, Andra dan Sugeng sudah bersiap-siap lalu sekali lompat saja mereka sudah melakukan serangan kepada lawan masing-masing.


Tidak ada perlawanan yang berarti dari ketiga lelaki setengah baya itu. Hal ini menjadikan mereka seperti bola mainan ditendang ke sana ke mari oleh ketiga anak muda itu.


Saat ini Monang seperti kerasukan setan. Dia seperti lupa diri memukuli Beni yang tergeletak dengan kursi tamu dengan bertubi tubi.


Tidak ada ampun bagi Beni, sehingga tubuh lelaki tua yang memiliki lidah yang sangat berbisa itu tidak karuan rupa.


"Bunuh saja mereka ini. Kita harus segera menyingkir. Lihat semuanya sudah sepi!" Kata Andra memperingatkan.


Mendengar peringatan dari Andra, Monang segera melirik ke kiri dan ke kanan. memang benar bahwa kini tempat itu sudah sangat sepi. Yang ada hanya mereka bertiga dan Tigor yang masih mengamuk dengan rencong emas yang tergenggam di tangannya.


Dia juga melihat Tumpal sudah tergeletak mandi darah dengan nyawa sudah terbang dan yang tersisa hanya Marven dan Butet yang saat ini bersembunyi di balik kursi pelaminan.


Begitu Monang melihat semuanya sudah pada kabur, Dia pun langsung memukul Beni dengan kursi sehingga kursi itu patah. Lalu dengan patahan kaki kursi itu, dia menyodok mulut Beni hingga tembus sampai ke belakang.


"Itulah hukuman untuk orang yang memiliki mulut yang sangat berbisa." Kata Monang lalu sebelum pergi, sempat menendang kepala Beni yang sedang sekarat itu.


Mereka bertiga lalu segera pergi dengan cara berlari menuju di mana mobil mereka terparkir.


"Cong! Lepaskan Acun itu lalu segera kabur!" Kata Monang lalu memasuki mobilnya dan tancap gas untuk kembali ke kota Kemuning.


Acong, Ameng dan Timbul yang mendapat seruan dari Monang tadi langsung menendang pantat Acun yang tampak seperti orang linglung.


Baru saja mereka bergerak pergi, Tiba-tiba dari arah yang berlawanan kini tampak beberapa kendaraan polisi sedang menuju ke Villa milik Birong, tempat terjadinya kekacauan itu.


Begitu polisi Tiba, mereka lalu mengatur posisi masing-masing dan sebagian langsung melakukan penangkapan terhadap Acun yang berubah menjadi Black Cat.


Entah karena gugup atau karena sudah mabuk, membuat Acun pun melakukan perlawanan dan berniat untuk melarikan diri. Namun, baru beberapa langkah Acun kabur, tiba-tiba,


Dor!


Beberapa polisi kini dengan dipimpin oleh Rio mulai memasuki tempat kejadian itu dengan kewaspadaan tinggi dan senjata di tangan masing-masing.


Tiba di bagian ruangan di Villa itu, mereka melihat pertarungan antara Tigor melawan Birong.


Sebenarnya tidak sulit bagi Tigor untuk membunuh Birong. Namun, karena dia sudah berjanji untuk membiarkan Birong mati di tangan Rio, maka dia hanya mengulur-ulur waktu saja sampai Rio ini datang bersama anggota kepolisian yang lain.


"Jangan bergerak! Kalian sudah terkepung!" Kata Rio sambil mengacungkan senjatanya.


"Hahaha. Tigor... Oh Tigor. Kau gagal dalam membalaskan dendam atas kematian ayah mu. Sekarang pihak kepolisian sudah datang dan aku akan di tangkap. Beberapa tahun lagi aku akan bebas dan kembali pulih. Sedangkan kau. Kau tetap akan gagal untuk membalas dendam kepada ku." Kata Birong dengan senyum mengejek.


"Kau tau Tigor, betapa menderitanya Kapten Bonar ketika menghembuskan nafas terakhirnya? Dia seperti ini." Kata Birong sambil mempraktekkan seperti gerakan orang yang lagi sekarat.


Tentu saja hal ini membuat Rio jadi gelap mata lalu,


Dor!


Sebutir peluru lepas dan menerjang pundak bagian kiri milik Birong membuat lelaki hitam itu terkejut setengah mati.


"Kau jangan lupa Birong. Bahwa kapten Bonar memiliki seorang lagi Putra bernama Rio. Dan putranya itu kini sedang berdiri dihadapan mu." Kata Rio dengan mata merah dan ekspresi wajah dingin.


Dor!


"Akh..." Teriak Birong begitu sebutir lagi timah panas menerjang bagian pinggang nya.


"Bagaimana? Kau akan menderita Birong. Aku akan mencabut nyawamu sepuluh menit lagi. Aku ingin melihat mu menderita sebelum kematian."


Tigor yang melihat adegan itu sama sekali tidak percaya bahwa adiknya itu memiliki kekejaman yang nyaris setara dengan dirinya ketika memakai topeng Black Cat.


Kini Birong benar-benar sudah sangat sekarat. Nafas nya pun sudah tinggal satu dua.


"Sudah ya Birong. Itu sudah cukup. Aku sudah sangat terhibur." Kata Rio lalu mundur sedikit menjauh dan,


Dor!


Sebutir peluru lagi menembus bagian batok kepada Birong membuat nyawa lelaki berkulit hitam itu seketika terbang keluar dari raga nya.


"Tulis laporan bahwa penjahat bernama Birong ini mencoba melakukan perlawanan ketika petugas kepolisian mencoba untuk mengamankan nya." Kata Rio dengan nada tegas kepada ajudan nya.


"Siap Komandan!" Kata ajudannya menurut.


tanpa menunggu lama lagi, Rio langsung mengeluarkan borgol lalu memborgol tangan Tigor kemudian memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap Marven dan memperlakukan Butet dengan baik.


"Maafkan aku bang." Kata Rio ingin memeluk Tigor. Namun Tigor segera mencegah dan berbisik.


"Jangan lakukan itu atau kau akan mendapat kesulitan." Kata Tigor sambil menyerahkan rencong emas pemberian kakek Tengku Mahmud dan berpesan.


"Pergi ke Kuala Nipah. Temui kakek kita lalu kembalikan Rencong Atjeh ini kepadanya."


"Baik Bang!" Kata Rio menerima Rencong Atjeh terbuat dari emas itu lalu membersihkan dari darah dan sidik jari Tigor.


"Sita semua rekaman cctv di Villa ini lalu kembali ke kantor!" Perintah Rio.


Setelah semuanya selesai, Rio pun lalu memerintahkan kepada bawahannya untuk menghubungi rumah sakit terdekat untuk meminta mereka mengantarkan ambulance.