BLACK CAT

BLACK CAT
Wulan dan Tigor bertengkar



Tigor yang sengaja menjemput Karman dari pusat hiburan gemerlap malam akhirnya sampai juga di Blok B tasik putri dan memarkir sepeda motor nya lalu mengajak Karman untuk memasuki rumah baru nya itu.


"Gor. Aku takut." Kata Karman begitu melihat Tigor akan memasuki rumah tersebut.


"Kau takut kenapa Karman?" Tanya Tigor.


"Rumah siapa ini? Apakah benar kalau aku akan dihukum oleh Marven?" Tanya Karman ketakutan.


"Oh. Hahaha... Iya. Kau akan dihukum oleh Marven. Kemungkinan kau hanya akan tinggal nama saja." Kata Tigor membuat celana Karman kini basah oleh cairan yang sangat bau.


"Sialan. Kau kencing di celana ya? Ah sialan. Itu bisa mengotori lantai rumah ini." Kata Tigor berpura-pura memarahi Karman.


"Gor. Aku lari saja ya. Aku belum kawin Gor. Kalau aku mati, habis sudah penerus marga ku." Kata Karman sambil menekap selangkangannya dengan tangan gemetaran.


"Kau mau lari kemana? Negara ini terlalu kecil bagimu. Apa kau tau akhir-akhir ini organisasi telah melakukan perekrutan besar-besaran dan saat ini sudah lebih 500 orang yang tersebar di setiap penjuru. Kau mau lari kemana? Sudah jangan banyak omong! Kau tunggu di sana dan aku akan memanggil Marven keluar." Kata Tigor sambil menunjuk ke arah sebatang pohon cemara.


Karman benar-benar ketakutan dan hanya bisa menurut saja apa yang di katakan oleh Tigor.


"Sialan. Katanya pakai ilmu padi. Makin berisi makin merunduk. Kena prank sekali langsung kencing di celana." Kata Tigor mengomel sambil melangkah memasuki rumah baru miliknya itu.


"Marven. Semua sudah beres. Kau bisa membawa mobil mu pergi dari sini dan menunggu di tikungan sana. Setelah nanti terjadi cekcok antara aku dan Wulan putih Lalah, kau harus segera datang dan berpura-pura memarahi aku dan Karman."


"Oh ya satu lagi. Tadi aku mengerjai Karman. Saat ini dia sedang ketakutan. Kau bisa membujuknya. Hahaha kasihan dia." Kata Tigor lalu menceritakan semua yang dia katakan kepada Karman tadi sehingga membuat Marven tertawa terpingkal-pingkal.


"Di mana anak itu saat ini?" Tanya Marven.


"Ada di bawah pohon cemara sana." Kata Tigor.


"Ayo ikuti aku. Kau ini ada-ada saja." Kata Marven lalu melangkah keluar rumah untuk melihat Karman yang ketakutan.


"Silahkan!" Kata Tigor mempersilahkan Marven mendahuluinya dan dia pun menyusul di belakang sambil menahan tawa.


Saat ini Karman yang memang sudah ketakutan semakin ketakutan saja ketika melihat dari dalam, keluar seorang pemuda yang sangat dia kenal sebagai anak lelaki dari penguasa kota Tasik putri ini bernama Marven.


Seeerrrr.....?!


Kembali celana Karman bagian ************ sekali lagi basah oleh cairan.


Begitu Marven dan Tigor sudah berdiri didepannya, Karman langsung berlutut dan meminta-minta ampun sambil menangis.


"Ampuni aku Tuan muda. Aku tidak berani lagi macam-macam. Ampuni aku. Aku belum mau mati. Aku belum kawin. Nanti kalau aku mati, siapa yang akan meneruskan marga ku?" Kata Karman sambil memohon layaknya orang yang benar-benar akan di eksekusi.


Melihat Karman sudah sangat ketakutan, Marven pun mulai beracting seolah-olah dia memang akan menghukum Karman.


"Bangun kau Karman!" Kata Marven.


"Ba.., baik Tuan muda."


"Kau tau apa kesalahan mu?"


"Tau Tuan muda. Aku telah merampok tunangan anda." Kata Karman.


"Sialan kau. Kalau tunanganku kau rampok, lalu aku akan kawin sama siapa?" Kata Marven berusaha menahan tawa.


"Ma.. Maksud saya adalah, saya telah merampok tas tangan tunangan anda." Kata Karman.


"Bagus kalau kau mengakui kesalahan mu. Sekarang kau harus membantu ku jika ingin selamat!" Kata Marven.


"Kalau begitu kau bukan mati ditangan ku. Kau akan mati terbakar. Apa bedanya? Lebih baik aku saja yang mengakhiri hidup mu saat ini." Bentak Marven.


"Ups saya salah. Maksud saya."


"Ah sudah. Lupakan omong kosongmu itu. Pokoknya kau nanti harus berpura-pura meminta maaf kepada Wulan dan...," Marven pun langsung menceritakan rencana yang telah mereka atur dengan Tigor.


Setelah mengetahui apa yang harus dia lakukan, Karman pun segera menyetujui semua yang dikatakan oleh Marven. Baginya yang terpenting adalah, 'Selamat.'


*********


Sore itu sebuah kendaraan berat memasuki kawasan perumahan Blok B kota Tasik putri.


Setelah merasa bahwa alamat yang di tuju telah benar, tampak dari pintu sebelah sopir turun seorang gadis yang lumayan cantike mengenakan pakaian putih dan juga rok putih panjang.


Gaya gadis itu cukup elegan dan juga tampak raut manja dan egois pada wajahnya. Sedangkan tatapan mata gadis itu begitu tajam penuh selidik.


Ketika dia sampai dihalaman rumah tersebut, dia langsung memencet bel rumah itu dan kini tampak seorang pemuda yang sangat tampam bak artis korea berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah.


Tapi begitu melihat siapa yang berdiri di luar, senyum itu langsung menghilang berganti dengan kata, "kau..?"


"Hah kau?"


Wanita yang berdiri di luar dan lelaki yang berdiri didepan pintu itu sama-sama terkejut ketika mereka saling pandang tadi.


"Ternyata kau si brengsek itu? Mana paman Martin? Aku datang kemari secara khusus untuk mengirim pesanannya." Kata gadis itu berubah galak.


"Pesanan Martin itu adalah untuk ku sebagai hadiah. Kau bisa menurunkannya di depan sana." Kata pemuda itu sembari melangkah keluar.


"Apakah kau anak buah paman Martin?" Tanya gadis itu.


"Iya benar. Mengapa?" Tanya pemuda itu.


"Huh. Bagus. Aku akan mengadukanmu kepada paman Martin karena telah menjambret ku di depan kafe dekat jembatan beberapa waktu lalu." Kata gadis itu mengancam.


Lalu dia kembali bertanya. "Kemana teman mu yang satu lagi? Cepat suruh dia kemari agar hatiku merasa puas melihat kau dan begundal mu itu mendapat hukuman dari paman Martin.


"Aku tidak bersalah. Macam mana kau ini mau mengadukan hal yang tidak pernah aku lakukan?" Kata Pemuda itu.


"Hey Tigor! Aku tidak butuh alasan mu. Sudah jelas kalian berkomplot. Pagi itu aku di jambret oleh orang suruhanmu. Kau berpura-pura menjadi pahlawan kesiangan. Ternyata malamnya kalian duduk bersama di kafe dekat jembatan. Jika tidak bersandiwara, lalu apa namanya itu?" Kata gadis itu mulai berang seperti seekor harimau betina yang sedang beranak kecil.


"Karman. Keluar kau!" Kata Tigor yang di susul oleh munculnya seorang lelaki juga masih muda sekitar 27 tahun sambil terbungkuk-bungkuk menahan rasa takut.


"Nah kan terbukti dugaan ku. Kalian ini memang sampah masyarakat."


"Kau jelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada harimau betina ini Karman!" Kata Tigor.


"Sebenarnya begini Nona." Kata Karman mulai menceritakan ketika dia menjambret tas gadis itu, lalu di kejar oleh Tigor dan teman-temannya, lalu ketika dia menghasut Monang agar menyerang geng Tigor sampai mereka berdamai. Semuanya diceritakan oleh Karman tanpa ada yang di sembunyikan.


"Huh aku tidak percaya dengan mulut lelaki. Pokoknya aku akan melaporkan kepada paman Martin agar kau dan orang ini di hukum." Kata gadis itu tetap pada pendirian nya.


Perdebatan antara Tigor, Karman dan gadis itu terus berlanjut sampai akhirnya mereka tidak menyadari sebuah mobil hitam telah terparkir di belakang gadis itu dan seorang pemuda pun keluar dari dalam mobil.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya satu suara menegur membuat ketika orang yang sedang bertengkar itu langsung berpaling ke arah datangnya suara teguran tadi.