BLACK CAT

BLACK CAT
Membunuh anak buah geng tengkorak



Dua unit Mercedes Benz V Class berjalan perlahan memasuki pekarangan bangunan tua yang telah usang itu.


Dari dalam mobil tersebut kini keluar sekitar 14 orang berbadan tegap mengenakan jas hitam dan di telinga masing-masing lengkap dengan intercom layaknya agent rahasia.


Tak berapa lama kemudian ke empat belas orang itu kini menyebar ke setiap penjuru dan bersembunyi di balik semak-semak rumput yang menjalar di sekitar area tersebut.


Tak lama setelah orang-orang itu menghilang di balik kegelapan malam, dua unit mobil Mercedes V class itu pergi ke arah tadi di mana dia datang.


Tepat sekitar dua puluh menit, datang lagi iring-iringan mobil mewah dan segera berhenti tepat di tempat mobil Mercedes yang mengantar orang-orang berpakaian jas tadi berhenti.


Dari dalam mobil yang paling belakang keluar seorang mengenakan stelan jas biru dan setengah berlari membukakan pintu mobil yang berhenti di tengah.


Kini tampak sekitar sepuluh orang lelaki berjas dan menggunakan senjata lengkap sedang mengawal seorang lelaki berkulit kuning langsat dengan ukuran badan sedikit pendek dengan masing-masing di tangan mereka menenteng sebuah koper berukuran sedang.


"Pak Prengki! Bagaimana dengan situasinya? Apakah aman?" Tanya lelaki berpakaian putih dan berkulit kuning itu.


"Tenang Pak Acun. Semua sudah berada pada posisinya masing-masing. Sebelumnya sudah ada beberapa anggota geng tengkorak yang aku tempatkan di sini. Menyusul empat belas orang lagi anggota pilihan yang terlatih. Seharusnya semua akan berada dalam kendali kita." Jawab lelaki berbadan tegap yang di panggil dengan nama Prengki itu.


Setelah berbicara sebentar dengan Acun, lelaki yang bernama Prengki tadi langsung menoleh ke arah salah seorang bawahannya dan berkata, "Dagol! Coba kau beri tanda kepada orang-orang kita! Apakah mereka sudah berada pada posisi masing-masing?"


"Baik bang!" Kata lelaki bernama Dagol itu sambil mengeluarkan korek apa dan meyalakannya, kemudian cepat-cepat dipadamkan.


Tak lama setelah itu tampak kerlap-kerlip cahaya dari balik semak-semak belukar di sekitar area bangunan itu. Namun hanya sesaat. Setelah itu semuanya kembali gelap.


"Kau sudah lihat sendiri kan Pak Acun?" Tanya Prengki.


"Baiklah. Oh ya. Di mana kita akan menunggu mister Chan?" Tanya Acun.


"Sesuai dengan kesepakatan, seharusnya mereka akan tiba sekitar setengah jam lagi." Jawab Prengki.


"Bagus. Mari kita naik ke atas. Kita akan menunggu mereka di sana." Kata Acun.


"Silahkan!" Kata Prengki memberi jalan.


Semua adegan kejadian itu tampak jelas oleh beberapa pasang mata yang juga berada di balik semak-semak. Mereka adalah anak buah Tigor.


Saat ini Tigor mulai menghitung berapa titik cahaya yang terlihat dan mengunci posisi mereka.


"Hmmm... Target sudah jelas posisi nya. Tinggal menunggu rombongan yang membawa barang." Kata Tigor dalam hati.


30 menit berlalu dengn sangat lambat.


Semua pihak saat ini berdebar-debar menanti.


Hal ini juga dapat dirasakan oleh Tigor, Andra, Acong, Timbul dan Ameng dan berada tepat di delapan penjuru mata angin.


"Bang. Lihat itu!" Kata salah seorang lelaki muda memakai pakaian seragam polisi kepada Acong.


"Mereka sudah datang!" Jawab Acong sambil meletakkan jari telunjuk tangan nya ke arah bibir.


Sama seperti rombongan yang pertama dan yang ke dua. Dari arah jalan pintas tampak sekitar lima kendaraan memasuki kawasan pekarangan bangunan itu.


Setelah rombongan itu berhenti, tampak dari mobil yang paling depan, keluar seorang lelaki langsing dan tampak lincah menghampiri Dagol yang menjadi perantara antara kedua kelompok itu.


"Maaf pak. Apakah semua sudah berada di tempat?" Tanya lelaki itu.


"Benar. Mereka sudah tiba sekitar 30 menit yang lalu." Jawab Dagol.


Mendengar jawaban itu, lelaki kurus tadi segera berjalan cepat menghampiri mobil yang berada di tengah dan seperti sedang membicarakan sesuatu.


Tak lama setelah itu, pintu mobil mereka pun terbuka dan dari dalam keluarlah sekitar dua puluh orang lelaki dengan tangan masing-masing membawa tas koper.


"Benar-benar transaksi gila." Kata Tigor dalam hati sambil terus memperhatikan semua kejadian itu.


"Apakah kita bisa langsung ke atas, Mister Chan?!" Tanya Dagol yang memang sengaja tinggal untuk menunggu rombongan itu.


"Baik. Lebih cepat lebih baik." Kata lelaki yang tampak seperti ketua rombongan itu yang di sebut dengan nama Mr.Chan oleh Dagol tadi.


Sebagai perantara, Dagol kini menjadi pemandu bagi rombongan Mister Chan memasuki bangunan tua itu untuk menemui Acun yang memang sudah datang sejak tadi.


Setelah beberapa menit mereka memasuki bangunan itu, kini tampak bayangan hitam pekat melesat di balik rerumputan dan..,


"Hoeeek..."


Wuzzz....


Slap...


"Argh....!"


Tampak delapan titik di semak-semak belukar itu bergoyang-goyang tanpa ada angin yang berhembus.


Sosok bayangan hitam itu kini bergerak ke arah bagian luar pagar bangunan itu dan melempar sebilah pisau.


Saaap...


Wess...!


"Heg....!"


Begitu sosok yang tertikam lemparan pisau itu tumbang, sosok tubuh hitam mengenakan topeng kucing itu melesat mendekat dan mencabut pisau yang melekat di kening lelaki bertubuh besar itu lalu kembali bergerak ke titik lain yang sudah dia tandai.


Saat ini di balik semak-semak di sekitar bangunan itu, tidak kurang dari tiga puluh mayat sudah bergelimpangan dengan leher koyak dan bekas tertusuk senjata lempar.


Berhasil membersihkan area di bagian bawah, Tigor atau Black Cat kini membunyikan tanda agar ke empat belas teman-temannya berkumpul.


"Kau di sini Black Chat? Mana Tigor?" Tanya Andra.


"Bagaimana dengan target mu? Apakah sudah beres?" Tanya Black Cat tanpa menjawab pertanyaan Andra.


"Beres." Jawab Andra.


"Bagi dua kelompok. Yang satu dari sisi timur dan yang satu lagi dari sisi barat. Ambil perlengkapan kalian tadi lalu segera gerebek mereka 15 menit dari sekarang dalam waktu bersamaan." Kata Black Cat.


"Cong! Kau dan Ameng dari sisi Timur. Aku dan Timbul dari sisi barat." Kata Andra.


"Baik."


Empat belas orang itu kita terbagi menjadi dua kelompok dan berpisah menuju tangga sebelah timur dan barat bangunan itu untuk melakukan penyergapan.


Saat ini Black Cat menukar sarung tangan nya dan mulai merayap ke arah bagian luar bangunan.


Dia tidak naik melalui tangga. Melainkan dari bekas-bekas besi pranca yang tidak di cabut oleh pemilik bangunan bangkrut itu.


Tiba di ruangan pertama Tigor tidak melihat apa-apa. Namun semakin naik, dia melihat beberapa orang lelaki sedang duduk sambil mengisap Rokok.


"Hmmm... Mati kalian." Kata Tigor dalam hati sambil menggenggam sebilah pisau di tangan kiri lalu tangan kanan menekan kepala ikat pinggang miliknya.


Wuzz....!


"Heh siapa itu?!"


"Argh.....!"


Hanya itu kata yang terucap dari bibir lelaki malang itu begitu dari balik tiang, melesat sosok hitam sambil menebaskan pelang lentur tepat ke arah lelaki yabg sedang duduk mengobrol itu.


"Siapa kau? Mengapa menyerang kami?"


"Hugh....!"


Tidak ada ramah tamah. Sebagai jawaban atas pertanyaan itu, Black Cat langsung menebaskan pedangnya membabi buta sehingga mereka tidak sempat lagi menghindar.


Tidak menunggu waktu lama, Black Cat langsung bergerak kembali dan kali ini dia bertemu dengan kelompok lAndra.


"Semua sudah bersih. Cepat naik ke atas." Ujar Black Cat.


Lalu dia kini mendahului.


Tanpa hambatan yang berarti, akhirnya Black Cat dan lima belas orang itu pun sampai juga ke tingkat atas setelah menyingkirkan beberapa penhawal dari kelompok geng tengkorak yang berada di sekitar tangga menuju ke lantai atas bangunan itu.


"Lakukan sesuai rencana!" Kata Black Cat sambil bersembunyi di balik kegelapan untuk memperhatikan posisi musuh.