
Pagi itu, sebuah mobil BMW hitam melaju meninggalkan Blok B perumahan menengah Tasik putri mengarah ke Dolok ginjang.
Di dalam Mobil itu tampak seorang lelaki setengah baya sedang melihat ke kanan dan ke kiri di sepanjang jalan menuju Tikungan pitu.
Lelaki setengah baya itu kemudian melirik ke seorang yang memakai pakaian serba hitam dan mengenakan topeng kucing juga berwarna hitam.
"Black Cat, di mana kejadian pengeroyokan putraku waktu mengantar Wulan kembali ke Dolok ginjang?" Tanya Lelaki setengah baya itu.
"Masih jauh di depan sana. Pertengahan tikungan pitu." Jawab Black Cat singkat.
"Oh. Lalu darimana kau tau kalau putra ku akan di cegat?" Tanya lelaki setengah baya itu lagi.
"Sebenarnya aku tidak pasti. Waktu itu Karman melihat seorang lelaki mengambil gambar mobil ku yang dikendarai oleh Marven. Aku hanya mengejar Marven untuk memastikan kalau dia dan putri lalah yang galak itu selamat sampai di tujuan. Tidak di sangka aku menemukan bahwa Marven sudah babak belur di hajar oleh anak buah geng tengkorak." Jawab Black Cat.
"Untung ada kau. Kalau tidak mungkin putra ku sudah tewas." Kata Lelaki setengah baya itu.
"Martin. Sebenarnya untuk apa kita menemui Lalah itu. Kita hanya buang-buang waktu saja. Tidak ada gunanya kita menemui dia. Dia berada di posisi yang aman dengan adanya kita di kota Tasik putri sebagai perisai."
"Bukan begitu Black Cat. Lalah itu sahabat baik ku. Dulu aku, Lalah, Birong dan Togar adalah sahabat baik waktu ayah ku masih hidup."
"Lalu mengapa Birong dan Togar memusuhi mu?" Tanya Black Cat.
"Setelah ayah ku meninggal, aku sebagai anak mewarisi seluruh aset kekayaan termasuk organisasi geng kucing hitam. Nah, Birong dan Lalah tidak setuju. Dia beranggapan bahwa dia lebih layak dari segala sisi. Awal nya kami masih berbaikan. Namun entah siapa yang menyiram minyak ke dalam api. Akhirnya hubungan kami retak yang berujung kepada pengunduran diri Birong dan Togar dari organisasi."
"Itu pasti ulah Tumpal dan Beni." Kata Black Cat dalam hati.
"Lalu mengapa kalian sampai bermusuhan? Bukankah hanya pecah kongsi?" Tanya Black Cat.
"Panjang ceritanya. Aku tidak masalah dengan pengunduran diri Birong dan Togar. Yang menjadi masalah adalah, setelah mereka mendirikan organisasi geng tengkorak, mereka mulai menyerang kawasan-kawasan ladang uang milik geng kucing. Dari mulai kota Batu, gang kumuh sampai mereka ingin menyebrang jembatan dan kafe tempat mu biasa sarapan itu adalah pintu masuk mereka ke kota Tasik putri ini."
Martin berhenti sejenak. Lalu melanjutkan.
"Peristiwa penggerebekan delapan tahun yang lalu di bangunan tua. Itu dilakukan oleh mendiang ayah mu. Mereka juga menimpakan tuduhan kepada ku bahwa aku lah yang telah membocorkan lokasi transaksi mereka. Padahal aku tidak tau apa-apa antara mereka dengan Acun. Tapi begitu lah. Tuduhan mereka kepadaku adalah hukum bagi mereka. Dan mereka terus-terusan merengsek kawasan yang tadinya adalah milik geng kucing hitam."
"Lalu, apakah kalian tidak memberikan perlawanan? Mengapa hanya pasrah saja?"
"Bukannya kami tidak memberikan perlawanan. Akan tetapi kami selalu kalah. Mungkin karena kalah jumlah." Jawab Martin.
"Kalah jumlah. Huh... Tidak masuk akal. Lalu mengapa aku bersahil mengalahkan mereka hanya dengan dua ratus orang anak buah ku? Bukankah kalau mengikuti jumlah, kami jauh lebih sedikit dari anak buah mu?" Tanya Black Cat.
"Itu lah yang tidak aku mengerti." Kata Martin.
"Itu tandanya di dalam tubuh geng kucing hitam ada penghianat!" Kata Black Cat dengan geram.
"Kau kemarin melarang aku. Jika kau tidak melarang, Aku pasti sudah memetik kepala Beni dan empat orang penjilat itu seperti buah semangka yang siap panen." Kata Black Cat membuang muka.
Martin hanya diam saja tidak menanggapi kekesalan Black Cat.
*********
Obrolan mereka terus berlanjut di sepanjang jalan menuju Dolok ginjang itu.
Entah karena terlalu asyik mengobrol, sampai-sampai tak terasa mereka sudah memasuki halaman rumah besar milik Lalah.
"Selamat datang sahabatku." Kata Lalah sambil memeluk Martin dengan hangat.
"Terimakasih. Aku sengaja datang kemari untuk mengujungi mu. Apakah tidak menggangu?" Tanya Martin.
"Ah tidak. Sama sekali tidak. Apa-apaan kau ini? Seperti baru kenal saja." Kata Lalah tersenyum.
Perlahan senyum di bibir Lalah sirna begitu dia melirik ke arah mobil tampak lelaki berpakaian serba hitam denga topeng kucing gang juga hitam keluar dan sedikit membungkuk memberi penghormatan kepadanya.
"Martin.., apakah itu yang dinamai oleh orang-orang dengan panggilan Black Ca" Tanya Lalah.
"Benar. Dia adalah Black Cat." Jawab Martin singkat.
"Ternyata seperti itu wujud nya. Seram juga." Bisik lalah.
"Dia akan kejam kalau di usik. Jika tidak, dia sama saja dengan kita." Kata Martin.
"Aaah.. Sudah lah. ayo kita masuk. Mari kita minum kopi di dalam." Ajak Lalah lalu menarik tangan Martin.
Tadinya Black Cat hanya ingin menunggu di luar saja. Namun karena ajakan dari Lalah, Black Cat pun akhirnya masuk juga ke rumah Lalah yang besar dan mewah itu.
"Selamat datang di gubuk kediaman ku ini. Sungguh satu kehormatan bagiku kedatangan tamu terhormat." Kata Lalah setelah Martin duduk dan Black Cat berdiri tegak di belakang nya.
"Sejak kapan kau begitu formal dan penuh basa-basi kepada ku, t*ik kucing?!" Kata Martin sambil tertawa.
"Hahaha. Setan kau bah. Eh Martin. Kau ini tak pernah berubah. Bahkan dalam situasi genting pun kau masih bisa becanda."
"Apa lagi yang bisa aku lakukan. Kau pun tau bahwa banyak pihak yang menginginkan organisasi yang sudah berdiri hampir 80 tahun ini runtuh." Kata Martin mulai serius.
"Aku juga turut prihatin. Jujur saja. Jika kau tumbang, maka aku juga pasti tumbang. Sebenarnya aku tidak sepertimu yang memiliki organisasi. Aku hanya mafia selundupan dan bermain di sektor-sektor barang-barang tanpa cukai. Aku tidak menguasai Dolok ginjang ini. Makanya aku berusaha untuk berbaikan dengan Birong dan Jordan. Serta menjalin beberapa kesepakatan kerja sama dengan Acun di singapura. Namun akhir-akhir ini kelakuan Birong benar-benar membuatku muak. Terlanjur aku sudah menentang nya. Pantang bagiku untuk mundur. Sudah menjadi sifat lelaki lebih baik binasa daripada di injak-injak oleh orang lain." Kata Lalah.
"Lalu bagaimana rencana mu kedepannya?" Tanya Martin.
"Aku juga masih buntu tentang masalah ini. Tapi yang jelas, aku akan seratus persen mendukung apa pun keputusan mu." Jawab Lalah.
"Keputusan yang bisa aku ambil saat ini adalah mengirim Tigor dan anak buah nya ke kota Kemuning. Aku akan menandatangani seluruh aset kepemilikan ku berupa pusat hiburan, restoran dan beberapa kafe kepada anak angkat ku itu. Biar dia yang mengelolah semuanya."
"Kau gila Martin. Bagaimana kau bisa melepaskan bocah ingusan itu ke kota kemuning. Jika dia anak angkat mu, berarti kau tidak menyayangi dia. Kau mengumpankan dia tepat di depan mulut harimau." Tegas Lalah karena tidak setuju dengan keputusan Martin.
"Aku sudah memikirkan ini selama satu malam penuh. Sebelumnya aku sudah mengadakan pertemuan dengan seluruh anggota organisasi. Namun semua dari mereka menentang keputusanku dan menolak untuk berangkat ke kota Kemuning. Bahkan mereka mengancam aku keluar dari organisasi andai aku tetap memaksakan. Aku benar-benar dalam dilema." Kata Martin tertunduk lesu.
"Kau memang bagitu. Tidak pernah tegas. Jika aku jadi kau, sudah ku penggal batang leher mereka secara masal." Kata Lalah sambil menggebrak meja lalu bangkit berdiri dan berjalan mondar mandir.
"Kau sahabat ku sejak kecil. Kau lebih tau tentang diriku. Aku ini sangat toleransi. Kau bukan tak tahu semua itu kan?"
"Beruntung. Geng kucing hitam itu sudah sangat beruntung karena bisa berdiri 10 tahun dibawah kendali mu. Jika bukan karena sebuah keberuntungan, dengan sikap dan sifat mu ini, geng itu sudah lama runtuh. Tegas lah sikit Martin! Kau ini.... Iiih.....!"
"Sudah menjadi keputusan ku. Tigor akan berangkat dalam beberapa hari setelah urusan administrasi dan seluruh pengalihan saham selesai. Aku hanya menjadi Ouner dan biarkan Tigor menjadi CEO di sana."
"Terserah kau saja lah, Martin. Aku sudah berjanji akan mendukung mu."
"Dan kau Black Cat! Aku sudah mendengar banyak tentang sepak terjang mu. Kau juga sudah menyelamatkan putri ku sebanyak dua kali. Aku berhutang budi kepadamu. Namun izinkan aku memohon satu hal kepadamu. Tolong jaga sahabat ku ini. Sifat sholeh nya ini tidak cocok untuk menjadi seorang kepala Mafia. Lambat laun dia pasti akan digulingkan. Tolong jaga dia!" Kata Lalah sambil merapatkan kedua tangan nya di depan dada.