
Dolok ginjang
Pagi itu tingkah Wulan tidak seperti biasa. Gadis yang biasanya periang, banyak tingkah dan egois yang selalu ingin menang sendiri itu lebih banyak berdiam diri, uring-uringan dan sering melamun.
Perubahan sikap Wulan ini ternyata tidak luput dari perhatian Lalah.
Sebagai seorang Ayah, dia merasa perubahan sikap putri nya ini menjadi tanda tanya besar dalam hatinya.
Semenjak ibunya meninggal, Lalah terlalu memanjakan putri nya yang semata wayang ini sehingga lambat laun membentuk sifat dan kepribadian gadis ini menjadi manja, egois dan sulit di atur. Namun pagi ini sangat berbeda. Dan perubahan sikap ini lah yang membuat Lalah merasa sangat penasaran.
"Putri cantik ku. Ada apa pagi-pagi begini kau sudah termenung seperti memikirkan sesuatu?" Tanya Lalah sambil duduk di samping putrinya itu.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Wulan segera memaksakan senyum. Namun jelas senyum itu tidak bisa menutupi sesuatu yang dia coba sembunyikan.
"Ya sudah kalau kau keberatan untuk menjawab pertanyaan ayah mu ini." Kata Lalah segera bangkit dari duduknya dan bergegas hendak berlalu dari tempat itu.
"Ayah! Bagaimana jika Ayah menyuruh orang-orang yang bekerja dengan mu untuk mencari Black Cat dan menyuruh dia bekerja untuk menjadi pengawal pribadi ku." Kata Wulan buru-buru sebelum Lalah beranjak.
"Black Cat? Mengapa tiba-tiba kau menyebut nama manusia yang sama sekali tidak ku kenal itu? Aku hanya mendengar nama dan sepak terjang nya saja. Bertemu dengan nya pun aku belum pernah." Jawab Lalah.
Dia segera menghentikan langkah kakinya karena merasa bahwa permintaan putrinya ini sangat aneh.
"Sudah dua kali Black Cat ini menyelamatkan aku. Yang pertama ketika bersama dengan Marven di tikungan pitu. Yang ke dua ketika di pusat hiburan dunia gemerlap." Lalu Wulan menceritakan semua kejadian antara dirinya bersama sahabat-sahabatnya yang mendapat gangguan dari Ronggur.
"Apa? Ronggur berani mengganggu dirimu?"
Lalah sungguh kaget mendengar aduan dari putrinya tersebut. Bagaimana mungkin Ronggur memiliki keberanian itu? Padahal selama ini Ronggur yang dia kenal sangat baik dengan putrinya dan rela melakukan apa saja demi memenangkan hati Wulan. Jika bukan Wulan sendiri yang mengatakan, mungkin Lalah tidak akan percaya.
"Apa saja yang dia lakukan terhadap mu?" Tanya Lalah dengan wajah tegang.
"Dia memaksaku, menampar ku, juga menjambak rambut ku. Bahkan saat ini Irfan kekasih sahabatku yang juga anak Beni dari geng kucing hitam masih terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit akibat dipukuli oleh Ronggur, Ayah." Kata Wulan mengajukan semuanya kepada ayahnya.
"Kurang ajar. Aku akan menanyakan hal ini kepada Ronggur. Berani sekali dia berbuat kasar kepada putri Lalah." Kata Lalah sambil mengeluarkan ponsel nya dan mencari nomor Ronggur.
Dengan tergesa-gesa karena diliputi kemarahan, Lalah langsung saja membentak begitu panggilan itu terhubung.
"Ronggur bangsat. Kau apakan putriku?"
"Hey Lalah. Ini aku Birong. Kau ingin bicara dengan Ronggur? Hahaha. Saat ini Ronggur berada di Villa ku."
Terdengar suara jawaban dari seorang lelaki yang memiliki suara serak-serak basah dan sumbang yang mengaku bernama Birong.
"Bangsat kau Birong. Katakan dimana anak sialan itu?! Aku tidak punya urusan dengan mu." Kata Lalah membentak.
"Hehehe.. Kau masih saja tetap seperti dulu. Suka marah-marah. Ronggur ada di sini dan kami sedang membahas kerja sama antara aku dan orang-orang dari kota Kemuning. Dia tidak ingin bicara dengan mu. Hal itu karena dia merasa kau tidak layak untuk bicara dengan nya. Sebaiknya kau tau diri." Kata Birong lalu mematikan telepon.
"Halo...!"
"Hallo....!"
"Bangsaaaaat.....!"
Prak...!
Lalah benar-benar telah dikuasai oleh kemarahan. Dia tidak lagi sadar telah membanting handphone nya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Bangsaaaaat....!"
Teriakan kemarahan dari Lalah ini membuat beberapa anak buahnya bergegas kedatangan termasuk Sudung dan Roger.
"Ada apa Boss? Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya mereka.
"Roger. Kau segera pergi ke Tasik putri! Temui Martin di sana. Katakan kepada ketua geng kucing hitam itu bahwa saat ini Ronggur sedang menjalin kerja sama dengan Birong. Kemungkinan terbesar adalah, seluruh pusat hiburan miliknya di kota Kemuning dalam bahaya. Cepat berangkat sekarang! Bangsat Ronggur ini harus menerima balasan karena berani menyakiti putri ku. Aku akan bekerja sama dengan Martin untuk membantai bajingan ini." Kata Lalah.
"Baik Boss. Apakah ada pesan tambahan yang ingin Boss sampaikan?" Tanya Roger.
"Baik Boss. Aku berangkat dulu." Kata Roger segera pamit.
*********
Saat ini di Tasik putri tepatnya di kafe dekat jembatan, Tigor sedang menikmati secangkir teh susu dan roti panggang bersama dengan Acong.
Hampir sama dengan Wulan. Tigor kali ini benar-benar berubah. Dia juga kebanyakan diam dan hanya sesekali saja bergerak. Itupun ketika hendak menyeruput teh susu nya saja. Hal ini juga tidak luput dari perhatian Acong.
"Bang Boss. Sejak tadi kau perhatikan kau ini macam lain. Mengapa kau berubah pagi ini bang boss?" Tanya Acong.
"Berubah jadi apa pulak aku kau tengok Cong? Apakah aku sudah berubah menjadi Ksatria baja hitam?" Tanya Tigor seenaknya.
"Buka begitu Abangkiuh. Maksud aku, kau tak macam biasa. Pagi ini kau kebanyakan diam. Aku curiga entah-entah kau ini kemasukan begu ganjang." Kata Acong sambil menahan tawa.
"Hussst... Muncung kau ini bah. Kalau kemasukan benaran aku, mati lah aku. Kau ini doa mu tak sedap didengar telinga." Kata Tigor.
"Sebenarnya apa apa dengan mu bang? Kita kan kawan. mengapa ada rahasia diantara kita?"
"Cong. Ayo temani aku!" Ajak Tigor.
"Kemana kita bang?" Tanya Acong.
"Menemui Monang."
"Untuk apa menemui Monang The bapak chicken itu bang?" Tanya Acong heran.
"Aku penasaran dengan seekor Chicken Cong. Tadi malam aku bertabrakan sama dia. Cantik kali Cong. Aku bagai melihat sosok mendiang ibu ku dalam diri nya." Jawab Tigor.
"Bang. Mengapa rendah kali selera mu bang. Semua wanita yang bekerja di dunia gemerlap itu pelacur. Carilah yang baik-baik bang!" Kata Acong merasa kurang setuju.
"Aku tau Cong. Tapi semua orang punya alasan. Kehidupan ini kejam Cong. Aku rasa, jika memiliki pilihan, kau pun tak mau bekerja seperti sekarang ini. Menjadi anak buah seorang mafia. Betul?"
"Betul bang. tapi,"
"Tidak ada tapi-tapian. Aku merasakan ada beban penderitaan yang sangat berat dari sorot mata gadis itu. Aku tidak bisa tidur memikirkan pertemuan singkat antara aku dan wanita itu malam tadi." Kata Tigor.
"Suka-suka kau lah bang."
"Ayo kita berangkat. Sudah jam 10 ini. Aku rasa Monang pasti sudah bangun tidur." Kata Tigor.
Tigor segera bangkit dari kursi dan membayar makan dan minum mereka lalu mengajak Acong untuk pergi. Namun baru beberapa langkah dia meninggalkan kafe itu, ponselnya pun berdering.
Melihat ke layar ponsel, ternyata orang yang meneleponnya adalah Martin.
"Siapa bang?" Tanya Acong.
"Sssst...! Bos besar." Kata Tigor sambil menyuruh Acong untuk diam. Lalu dia segera menjawab panggilan itu.
"Hallo Pak." Kata Tigor.
"Gor. Di mana kau sekarang?" Tanya Martin.
"Aku ada di kafe dekat jembatan. Ada apa Pak?"
"Pulang kau Gor! Ada hal penting yang ingin aku diskusikan dengan mu. Cepat sikit!"
"Kau di mana sekarang? Komplek elit atau Blok B?" Tanya Tigor.
"Di rumah mu. Blok B. Cepat!"
"Baik bang." Kata Tigor lalu segera mengakhiri panggilan.
"Ayo kita kerumah ku Cong. Boss besar menunggu kita di sana." Kata Tigor. Lalu mereka segera ke pangkalan ojek untuk meminta diantar ke Blok B perumahan menengah ke atas tasik putri.