
Sebuah mobil BMW sport i8 meluncur dengan mulus meninggalkan Blok B perumahan menengah ke atas Kota tasik putri menuju ke komplek elit tempatnya para pengusaha kaya di kota ini.
Tepat di salah satu rumah besar seperti Mansion, mobil BMW i8 itu pun berhenti.
Sambil menunggu penjaga membuka pintu pagar, tampak seorang pemuda di kursi pengemudi sedang memperhatikan ada beberapa mobil di sana sedang parkir menandakan bahwa pemilik rumah sedang kedatangan tamu.
Ketika para penjaga membukakan pintu, pemuda di dalam mobil tersebut menurunkan kaca mobilnya lalu berucap. "Terimakasih pak. Oh ya, apakah boss besar kita sedang kedatangan tamu?" Tanya pemuda tampan itu.
"Benar bang Tigor. Saat ini ada beberapa tamu yang datang. Tadinya mereka dari gang kumuh karena menghadiri undangan acara pesta di gang kumuh tersebut oleh Marven." Jawab penjaga itu.
"Sudah jam 1 dini hari. Siapa saja yang ada di dalam?" Tanya pemuda bernama Tigor itu.
"Di dalam ada Lalah dan putri nya. Ada Bang Beni, Togi dan Strongkeng juga ada di sana." Jawab pengawal itu.
"Bantu saya pak. Anda tunggu di depan sana. Saya akan memarkir mobil saya di sana." Kata Tigor segera menjalankan mobilnya menuju tempat parkir.
Saat ini pengawal tadi setengah berlari menghampiri mobil Tigor.
"Ada perlu bantuan apa bang?" Tanya penjaga yang berumur hampir 40-an itu.
"Di dalam ada 5 koper. Kau bawa tiga dan sisanya aku yang bawa." Jawab Tigor.
"Ayo kita kedalam. Kau ikuti aku." Ajak Tigor.
Tigor yang saat ini mengenakan baju kemeja slimfit merah hati di padu dengan celana jeans dan sepatu louis vuitton tampak sangat tampan berjalan menuju pintu diikuti oleh pengawal yang dia pinta bantuannya tadi.
Begitu mereka berdua tiba di ambang pintu, Tigor langsung berseru. "Boss besar, aku sudah kembali." Katanya dengan wajah tersenyum manis membuat semua orang termasuk Wulan mengalihkan perhatiannya kearah pintu.
Seeeer....!
Berdesir juga darah Wulan melihat Tigor berdiri dengan ketampanan maksimal.
Sungguh tidak pernah dia bayangkan jika orang yang dia hina selama ini bisa tampil bergaya. Ini terlebih lagi, karena Tigor berani menggangu acara Martin. Jika tidak memiliki hubungan yang sangat erat dengan Martin, orang biasa mustahil berani melakukan hal itu.
"Tigoooor...! Anak ku sudah kembali." Kata Martin sambil bangkit dan melangkah mendekati Tigor.
Sejenak Martin memandangi Tigor dari atas ke bawah lalu memeluk pemuda tampan berambut belah tengah sedikit panjang dan pirang itu.
"Kau berhasil Gor?" Tanya Martin.
"Berhasil dengan jayanya. Andai aku gagal, sudah pasti mayat ku yang dikirim kemari." Jawab Tigor sambil tersenyum kecut.
"Pak. Letakkan koper itu di meja!" Kata Tigor memerintahkan pengawal itu meletakkan tiga koper ditangannya.
Dengan susah payah, sang pengawal pun meletakkan satu per satu koper itu di atas meja. Diikuti oleh Tigor.
Setelah koper itu di meja, Tigor lalu membungkuk ke arah Lalah sebagai penghormatan.
"Lalah. Anda di sini. Terima salam hormat saya." Kata Tigor.
"Hahaha. Kau terlalu sopan Tigor. Oh ternyata ini yang bernama Tigor? Aku sering mendengar Martin menyebut namamu. Ternyata masih sangat muda dan tampan." Puji Lalah tulus.
"Apa isi dari koper ini Gor?" Tanya Martin.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Tigor langsung membuka dua dari lima koper itu lalu memutar koper tersebut sehingga menghadap ke arah Martin.
Begitu mereka melihat isi dari dua koper itu, semua pasang mata yang ada di ruangan itu menjadi terbelalak. Bagaimana tidak, di dalam koper itu terdapat bergepok-gepok uang. Bukan Rupiah melainkan Dollar America dalam jumlah besar.
"Kau...?!"
"Misi ku berhasil. Saat ini geng tengkorak pasti akan disalahkan atas kejadian ini. Sesuai dengan janji ku. Seperempat dari hasil malam ini aku serahkan kepadamu sebagai Boss besar organisasi." Kata Tigor sambil melirik ke arah Beni dan konco-konco nya.
"Bagaimana mungkin. Ini mustahil. Apa yang kau lakukan Gor?" Tanya Martin heran bercampur bangga.
"Apa yang aku lakukan? Aku merampok mereka yang melakukan transaksi. Aku membunuh prengki dan juga membunuh Dagol. Mereka adalah dedengkot geng tengkorak. Aku dan anak buah ku juga berhasil membakar lebih dari seratus orang anak buah geng tengkorak di perkebunan karet sekitar dua kilo meter dari bukit batu." Kata Tigor menjawab pertanyaan Martin membuat semua orang yang berada di situ membelalakkan mata mereka sehingga nyaris copot.
"Gila. Benar-benar gila." Kata Lalah sambil bangkit berdiri dan menepuk pundak Tigor.
"Aku salah. Seharusnya aku menyisakan salah seorang dari anak buah geng tengkorak untuk mengadukan masalah ini kepada Birong. Aku ingin berurusan langsung dengan pantat kuali itu." Kata Tigor dengan suara mendadak dingin.
Sebenarnya dia tidak menyangka akan bertemu dengan Beni dan konco-konco nya di rumah Martin ini. Sudah kepalang tanggung. Di rahasiakan juga percuma. Dia sudah pasti kalau Beni akan mengadukan masalah ini kepada Tumpal.
Jika sudah terlanjur basah ya sudah mandi saja sekalian.
"Aku berharap ada yang melihat bagaimana aku membantai lebih dari seratus orang anak buah geng tengkorak serta memenggal kepala Acun. Dengan begini, aku secara langsung sudah mengistiharkan peperangan kepada mereka. Terserah apa tanggapan Birong. Jika dia menganggap bahwa organisasi kita masih lemah dan ingin bermain-main, maka aku persilahkan dia memilih permainan seperti apa yang dia inginkan." Kata Tigor lagi.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Martin.
"Aku adalah anak buah mu. Hitam katamu hitam, putih katamu putih. Aku akan mengikuti perintah mu." Jawab Tigor sambil mengirim kode kepada Martin.
"Lalah, Pak Beni, aku permisi dulu. Tubuh ku rasanya Lelah sekali. Kau minta diri." Kata Tigor memberi hormat lalu memutar badan dan berjalan melenggang ke arah pintu.
Martin yang mengetahui kode dari Tigor segera menyusul.
"Tunggu sebentar Gor. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Kata Martin berpura-pura sambil menarik tangan Tigor menuju ke luar ruangan itu.
"Martin. Secepatnya kau atur keberangkatan aku ke Hongkong. Saat-saat seperti ini lah waktu yang tepat. Karena jika orang-orang geng tengkorak mulai bertindak, itu akan sangat menyulitkan pergerakan kita nantinya." Kata Tigor setelah dia hanya berdua saja dengan Martin.
"Kau tenang saja. Kapan rencananya kau akan berangkat?" Tanya Martin.
"Bila perlu malam ini." Jawab Tigor.
"Kau jangan gila Gor. Siapa yang akan menunggu mu di pelabuhan nanti? Aku harus menelepon relasi ku dulu di sana. Aku juga harus menyiapkan speedboat tercepat untuk mu agar tidak bisa di kejar oleh pihak penjaga perbatasan laut. Mungkin untuk urusan ini aku akan meminta bantuan Lalah." Kata Martin.
"Jika besok malam aku tidak bisa berangkat ke Hongkong, maka lupakan saja. Karena percuma. Dan satu hal lagi. Keberangkatan ku jangan sampai ada yang tau. Aku khawatir orang-orang Birong atau Mr.Chan akan menggunakan koneksi mereka di Hongkong untuk mencegat ku." Kata Tigor.
"Kau tenang saja. Lalah tidak akan membocorkan rahasia keberangkatan mu."
"Baiklah. Kau atur lah. Aku ingin istirahat dulu." Kata Tigor sambil permisi untuk pulang.