BLACK CAT

BLACK CAT
Mengurus kepindahan sekolah Rio



Sebuah mini Bus melaju perlahan diantara lorong gang mencari penumpang.


Tampak di dalam Bus tersebut hanya ada seorang lelaki tua berusia atas 70-an namun tampak masih sangat gagah duduk bersebelahan dengan pintu Bus untuk sekedar mendapat hembusan angin yang menderu masuk melalui pintu yang tak tertutup tersebut.


Lelaki tua itu tampak sedang bertafakur sambil memetik-metik untaian tasbih yang terdapat dalam jepitan antara jari jemarinya yang sudah keriput itu.


Entah sudah berapa lama dia seperti itu sambil mengabaikan teriakan kondektur mini Bus itu yang meneriakkan kepada calon penumpang untuk memilih naik di Bus nya tersebut.


Di ujung sana tepat di depan Kafe yang berdekatan dengan jembatan, tampak seorang pemuda tampan berkulit putih kemerahan karena terpanggang matahari dengan gaya rambut belah tengah dan sedikit pirang tampak sedang melambaikan tangannya untuk menghentikan mini Bus tersebut.


Begitu pemuda yang berumur sekitar 23 atau 24 tahun tersebut lewat di depan lelaki tau itu untuk duduk di kursi yang masih sangat kosong itu, lelaki tua itu sontak membuka mata yang sejak tadi terpejam.


"Assalamualaikum Kek. Maaf cucu numpang lewat." Kata pemuda itu dengan sopan.


"Hmmm, Wa'alaikumsalam." Jawab lelaki tua itu sambil menggut-manggut.


"Ikan tenggiri bawa berlari,


Berlari menuju sri indrapura,


Lama sudah di tasik putri,


Baru kali ini bertemu jawara."


Pemuda yang baru naik ke mini Bus itu sedikit tersentak mendengarkan pantun yang entah kepada siapa ditujukan oleh lelaki tua itu.


"Dalam sekali pantun kakek ini. Kepada siapakah dia tujukan. Jika bukan kepadaku, siapa lagi. Di sini hanya ada kami berdua." Kata pemuda itu dalam hati.


"Tinggi menjulang gunung krakatau,


Anak gembala pulang ke kandang.


Jangan di sangka aku tak tau,


Jika di pinggang melingkar pedang."


Serrr...


Berdesir darah pemuda itu karena sekali lagi mendapat tamparan keras dari sindiran berbentuk pantun tersebut.


"Maaf Kakek. Untuk siapakah pantun itu Kakek tujukan?" Tanya pemuda itu dengan sopan.


"Siapa nama mu anak muda?" Tanya lelaki tua itu tanpa menghiraukan pertanyaan pemuda tadi.


"Nama saya Tigor. Siapakah Kakek ini? Dan dari mana?" Tanya Tigor.


"Apa hubungan mu dengan Bonar?"


Degh....!!!


Kali ini pemuda yang bernama Tigor itu menjadi terperanjat mendapat tembakan pertanyaan yang mengejutkan itu.


"Maaf Kakek. Siapakah anda ini?" Tanya Tigor semakin penasaran.


Plak...!


Orang tua itu menjukurkan tangannya dan menepuk pundak Tigor. Namun orang tua itu sama sekali tidak mengangkat tangannya setelah menepuk malahan menahan tangan tersebut tetap di atas pundak Tigor.


Tampak tangan yang kurus kering dan keriput itu biasa-biasa saja. Namun saat ini Tigor merasakan seperti memikul karung pasir seratus kilo gram rasanya.


"Ka.. Kakek. Anda...,"


"Berlakulah lebih sopan dihadapan orang tua. Jika orang tua bertanya, kewajiban bagimu untuk menjawab dengan jujur!" Kata orang tua itu.


"Harap di maafkan cucu yang kurang ajar ini. Cucu akan menjawab pertanyaan Kakek. Mengenai apa hubungan saya dengan Almarhum kapten Bonar, dia adalah Ayah saya." Jawab Tigor sambil meringis menahan pundak nya yang mulai terasa kram.


"Jika kau ingin tau siapa aku, datang ke kampung Kuala Nipah! Tanyakan kepada penduduk di sana di mana rumah Tengku Mahmud. Mereka akan menunjukkan jalan kepada mu." Kata Lelaki tua itu lalu berdiri dan tanpa menyuruh mini Bus itu berhenti, dia sudah melompat keluar dan hilang.


"Kemana kakek aneh itu tadi?" Kata Tigor dalam hati sambil mengucak-ucak matanya dengan tangan.


"Siapa dia? Apa hubungannya dengan mendiang Ayahku? Mengapa dia banyak tau bahkan dengan pedang yang melingkar di pinggang ku pun dia dapat tau."


"Tengku Mahmud. Aneh sekali." Kata Tigor dalam hati.


"Tenaganya seperti tenaga banteng. Padahal hanya tinggal kulit pembungkus tulang. Apakah itu yang dinamakan tenaga dalam? Ah.., makin pusing saja otak ku ini."


"Bang berhenti di depan sana bang!" Kata Tigor sambil menunjuk ke arah sebuah warung pinggir jalan.


Setelah mini Bus yang tak dapat penumpang itu berhenti, Tigor pun turun lalu membayar ongkos dirinya sekalian dengan kakek aneh tadi lalu segera berjalan menuju ke satu lorong gang antara rumah warga.


Tok tok tok...!


Tok tok tok...!


"Pak! Pak Harianja...! Apakah bapak ada di dalam?"


"Sebentar!"


Terdengar suara seorang lelaki dari dalam rumah tersebut.


Kreeeet...


Suara pintu rumah usang itu terbuka dan tampak lelaki usia sekitar 50-an berdiri di depan.


"Ah kau nya itu bah. Aku pikir siapa tadi. Eh mari masuk dulu Tigor!" Ajak pak Harianja dengan ramah.


"Terimakasih Pak." Kata Tigor lalu mengikuti langkah lelaki setengah abad itu masuk ke dalam rumah.


"Nah.. Katakan apa tujuan kau mengunjungi aku Gor?" Tanya Pak Harianja.


"Begini Pak. Langsung ajalah biar enak ya kan." Kata Tigor lalu melanjutkan. "Tujuan ku datang kemari ini mau meminta bantuan bapak untuk menemui kepala sekolah. Aku berencana mau memindahkan Rio keluar pulau kita ini untuk sekolah. Ya mungkin di pulau jawa lah." Kata Tigor menyampaikan maksud dari kunjungan nya itu.


"Mengapa Gor? Apa di sini pendidikan nya tidak bagus? Apa kau kira pulau jawa sana lebih baik dari pulau kita ini? Semuanya sama saja Gor. Tergantung otak siswa saja dalam menangkap apa yang guru ajarkan." Kata Pak Harianja.


"Bukan itu maksud saya Pak. Bapak mungkin sudah tau bahwa aku telah bergabung dengan Martin. Aku khawatir jika ada masalah dengan diriku, takutnya nanti Rio juga menjadi sasaran mereka Pak." Kata Tigor.


"Lebih bahaya lagi lah kalau dia sendirian di pulau jawa sana. Sebatang kara. Tidak ada sanak saudara."


"Tidak Pak. Bagaimanapun dia harus jauh dari aku." Kata Tigor tetap dengan pendiriannya.


"Sebaiknya kau panggil dulu Rio kemari. Biar kita Rundingkan."


"Ya. Sebaiknya begitu. Tapi ingat pak. Jangan ungkit masalah aku bekerja dengan mafia di depan Rio. Susah nanti aku menjelaskan alasannya." Kata Tigor.


"Kau tunggu dulu di sini. Biar aku yang menjemput Rio di rumah kos-kosan nya." Kata Pak Harianja sambil mengeluarkan speda motor butut miliknya.


"Ya Pak." Jawab Tigor sambil membantu pak Harianja mengengkol sepeda motor butut miliknya itu.


Tak lama setelah itu Pak Harianja pun berangkat meninggalkan rumahnya menuju ke arah sekolah menengah yang berjarak sekitar 10 menit naik sepeda motor dari rumahnya itu.


Lama juga Tigor menunggu hingga akhirnya suara sepeda motor pak Harianja akhirnya terdengar sangat memekakkan telinga.


Setelah suara mesin bising itu berhenti, kini tampak seorang anak lelaki berusia sekitar 14 tahun datang menghampiri Tigor didampingi oleh pak Harianja.


"Bang.." Kata anak lelaki itu sambil menalamii tangan Tigor dan mencium nya.


"Bagaimana dengan pelajaran mu Rio?" Tanya Tigor.


"Baik bang. Ada apa abang mencari ku?" Tanya Rio.


"Begini Rio. Orang-orang dari Geng tengkorak sudah menjejaki abang sampai ke Tasik putri ini. Jadi, demi keselamatan dirimu, abang berencana untuk memindahkan kau sekolah."


"Hmmm Geng tengkorak lagi. Lalu kemana abang akan mengirim aku?" Tanya Rio.


"Kau mau ke jakarta atau ke surabaya?" Tanya Tigor.


"Sama siapa aku di sana bang? kita kan tidak punya saudara di sana." Kata Rio.


"Mengapa? Apa kau takut menyambung pendidikan di sana? Dengar Rio. Jika orang-orang geng tengkorak mengetahui bahwa kau adalah anak mendiang kapten Bonar, maka nyawa mu akan dalam bahaya." Kata tigor menjelaskan.


"Masalah biaya kau tidak perlu khawatir. Setelah kau nanti di terima di sekolah baru, abang akan menjadi TKI di Taiwan dan akan mengirimkanmu uang setiap ujung bulan untuk biaya makan dan mendidikanmu." Kata Tigor berusaha meyakinkan Rio adiknya itu.


"Iya boleh lah bang. Calon anggota kepolisian mana boleh takut-takut. Kelak kalau menjadi anggota polisi juga harus bisa ditempatkan di mana saja." Kata Rio.


"Nak gitu lah baru mantap. Untuk mengurus kepindahan mu, biar Pak Harianja saja yang mengurus. Bolehkan Pak?" Tanya Tigor.


"Boleh. itu bisa diatur." Jawab pak Harianja.


"Baiklah Pak. Aku masih ada kerjaan. Di dalam amplop ini ada uang untuk memuluskan negosiasi antara anda dan kepala sekolah nanti." Kata Tigor sambil menyerahkan amplop ke tangan lelaki tua itu


Setelah semua beres dan kata sepakat teteh diambil antara Tigor dan Rio, akhirnya Tigor pun pamit.


"Aku pulang dulu Pak." Kata Tigor pamit.


"Tunggu sampai kau dapat surat izin pindah. Nanti abang sendiri yang akan mengantar mu ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan mu." Kata Tigor sambil mengelus rambut adiknya itu.


Rio hanya mengangguk saja tanpa menjawab perkataan dari Tigor. Bayinya, percuma membantah karena semua yang dilakukan oleh abang nya itu pasti memiliki alasan yang kuat dan pastinya itu lah yang terbaik untuk dirinya.