
"Darimana saja kau bang Tigor?"
Terdengar suara seorang pemuda menegur seorang pemuda yang baru tiba di depan pintu rumah di belakang restoran samporna itu.
"Belum tidur kau Geng?" Tanya pemuda bernama Tigor itu balik bertanya.
"Belum bang. Aku masih memikirkan bagaimana caranya kau mendapatkan izin untuk menempati rumah ini. Aku ingin bertanya kepadamu sejak kemarin. Tapi kau tampaknya sangat sibuk." Kata Sugeng.
"Geng. Sebenarnya aku juga tidak tau. Mungkin sudah nasib. Saat ini aku sudah bergabung dengan gang kucing milik Martin." Kata Tigor berterus terang.
"Pantas. Pantas saja kau dengan mudah membawa kami untuk pindah ke rumah ini dari bawah jembatan. Tapi bang, apa sudah kau fikirkan baik-baik. Kau jangan terpengaruh sama cemoohan Ucok tempo hari. Martin itu kan mafia bang. Apa kau sudah memikirkan resikonya?" Tanya Sugeng.
"Hahhh" Tigor menarik nafas berat kemudian menghempaskannya dengan keras. "Aku sudah tidak punya pilihan lain Geng. Sebenarnya ada tiga alasan mengapa aku memilih bergabung dengan geng Martin ini. Yang pertama aku butuh kekuatan untuk membalas dendam atas kematian orang tua ku. Yang ke dua adalah, aku butuh uang untuk biaya pendidikan Rio. Kau kan tau sendiri apa cita-cita Rio. Dia ingin jadi polisi. Yang ke tiga jika aku tidak bekerja dengan Martin, bagaimana dengan biaya perobatan Ucok? Bagaimana dengan kehidupan kita? Sudah hampir 8 tahun kita tinggal di bawah jembatan. Apakah mau sampai tua?" Jawab Tigor.
"Aku tidak takut ketika kau bekerja dengan Martin yang seorang mafia itu bang. Yang aku khawatirkan adalah Rio. Kau kan tau apa cita-cita anak itu. Dia itu calon polisi bang. Ketika dia mendapat tugas kelak untuk membasmi orang-orang seperti Martin, Birong dan Lalah, kau pun tidak akan lepas dari buruannya." Kata Sugeng.
"Lalu menurutmu jika aku tidak bisa menghasilkan uang untuk biaya pendidikannya, apakah dia bisa menjadi seorang Polisi? Aku ini adalah seorang abang. Jika bukan aku yang berkorban, lalu siapa lagi Geng?" Tanya Tigor dengan nada berat.
"Itulah sulit nya bang. Aku juga mungkin akan berfikiran sama sepertimu. Maafkan aku bang." Kata Sugeng menyesali perkataannya tadi.
"Nah, tuh kau tau kan?! Ibarat lilin yang rela terbakar demi memberikan cahaya. Biar aku seperti lilin itu. Tidak akan ada penyesalan bagiku di kemudian hari." Kata Tigor sambil meraup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Ajak juga aku bang. Aku juga mau bekerja di bawah Martin." Kata Sugeng sedikit memohon.
"Jangan Geng. Terlalu berbahaya. Aku hanya. bisa menempatkanmu di restoran ketika siang hari dan untuk mencari tambahan, kalian bisa bekerja di bar. Yang penting adalah kumpulkan modal. Ketika kalian sudah punya uang, segera membuka usaha sendiri dan menjauh dariku agar kalian tidak menjadi sasaran musuh-musuhku kelak." Kata Tigor.
"Sekarang ayo kita tidur. Sudah larut malam." Kata Tigor sambil.menguap.
"Kamarmu di ujung itu bang. Kamar utama. Ditengah ada jabat dan Thomas. Aku di belakang sendirian. Kalau nanti Ucok sudah sembuh, aku akan sekamar dengan Ucok." Kata Sugeng.
"Baiklah. Kau cepatlah tidur. Besok kau harus sudah mulai bekerja di restoran Samporna." Kata Tigor lalu berjalan kearah kamar yang di tunjukan oleh Sugeng tadi.
*********
Pagi-pagi sekali Andra yang telah menyetujui bahwa dia akan bergabung di bawah Tigor untuk menjadi bawahan telah berkumpul di pangkalan ojek bersama hampir 200 anak muda gelandangan yang sudah terpilih baik dari segi kebandelannya, tipu muslihat nya, suka berkelahi, dan lain sebagainya.
Pokoknya diantara 200 orang ini adalah hantu segala hantu yang akan menjadi team elit dan hanya Tigor serta Martin saja yang bisa memberikan perintah kepada mereka.
Ada sekitar satu jam mereka berkumpul di pangkalan ojek tersebut, dari arah jembatan kini datang 5 unit bus besar kemudian mengangkut mereka menuju ke Blok B Tasik putri tepatnya rumah milik Tigor pemberian dari Martin.
Sesampainya mereka di sana, seorang penjaga rumah segera menjemput mereka untuk memasuki rumah kita lantai tersebut dan langsung memandu 200 orang anak-anak muda gelandangan berjiwa petarung ini ke lantai dua.
Ketika mereka tiba di lantai 2, saat ini Andra yang menjadi ketua dari rombongan itu melihat seorang lelaki setengah baya memakai jas dan celana hitam, sepatu kulit hitam sedang duduk didampingi seorang lelaki berbaju ketat warna hitam, celana ketat hitam pula serta memakai topeng berbentuk kucing berwarna hitam pekat.
"Benar. Tapi aku tidak menyangka bahwa akan seramai ini yang datang. Tadinya aku mengira paling hanya sekitar 20 orang saja." Kata Lelaki bertopeng itu sambil maju ke depan dan berkata, "Siapa di antara kalian yang bernama Andra?"
"Saya Bang. Saya yang bernama Andra. Apakah saya sedang berhadapan dengan Martin, ketua organisasi Kucing hitam?" Tanya Andra dengan sopan.
"Tuan yang duduk di sofa itu adalah Boss kucing hitam bernama Martin." Jawab lelaki bertopeng itu.
"Bang. Kami datang kesini atas keinginan dari sahabat kami bernama Tigor. Dimanakah dia sekarang?" Tanya Andra lagi.
"Ketika aku berada di sini, kalian tidak akan menemui orang yang bernama Tigor. Aku adalah tangan kanan Tigor. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Black Cat." Kata lelaki bertopeng itu memperkenalkan diri.
"Black Cat?"
"Dengarkan bagi kalian baik-baik! Sebelum mengangkat sumpah setia sebagai anggota dari organisasi terbesar di Tasik putri ini, ada baiknya bagi kalian untuk memikirkan segala konsekwensi nya. Ini karena, apa bila kata sumpah telah terucap dan kalian resmi menjadi bagian dalam organisasi, kalian tidak akan bisa mundur lagi. Jika kalian mundur, maka kalian akan di cap sebagai penghianat. Dan kalian akan di buru layaknya seekor tikus. Aku memberikan kalian watu 10 menit untuk berfikir." Kata Black Cat lalu kembali berdiri di samping Martin.
Keadaan di ruangan lantai dua rumah di Blok B tasik putri itu seketika seperti dengungan ribuan tawon.
Mereka yang mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh Black Cat tadi saling pandang dan berdiskusi sesama mereka. Namun sejauh ini, tidak satupun diantara mereka yang menyatakan diri untuk mundur. Ini lah yang menandakan bahwa tekat mereka sudah bulat.
"Baik. Waktu kalian habis." Kata Black Cat sambil mengambil sebuah mangkuk putih terbuat dari giok beserta sebuah sendok juga terbuat dari giok.
Setelah mangkuk itu dia letakkan di atas meja, Black Cat lalu mencabut sebilah belati dari pinggangnya dan berkata. "Aku akan memulai ritual ini. Dan kalian harus mengikuti apa yang aku lakukan." Kata Black Cat sambil mengbil pisau tersebut lalu mengiris ibu jari tangannya hingga berdarah.
Kini semua orang melihat bahwa Black Cat telah meneteskan darahnya tersebut kedalam mangkuk putih terbuat dari batu giok itu.
"Sekarang giliran dirimu Andra!" Kata Black Cat.
Tanpa berfikir panjang lagi, Andra langsung maju ke depan dan menyayat tangannya kemudian meneteskan darah yang meleleh dari tangan itu ke dalam mangkuk.
Semua yang berada di tempat itu kini saling bergantian melakukan hal tersebut kecuali martin.
"Sekarang ikuti kata-kata dariku!" Kata Black Cat sambil menyelipkan kembali pisau di balik pinggangnya.
"Aku bersumpah, demi langit dan bumi bahwa aku akan setia kepada organisasi kucing hitam dan aku juga bersumpah akan mengikuti apa kata pemimpin tertinggi dan wakil pemimpin tertinggi. Aku bersumpah demi langit dan bumi bahwa mulai hari ini kami saling bersaudara. Kami akan menjadi seperti satu tubuh. Ketika salah satu diantara kami mengalami sakit, maka semuanya akan merasa sakit. Jika terdapat di antara kami yang menghianati antara satu sama lain, maka biarkan langit dan bumi yang mengutuk kami. Jika salah satu di antara kami lari dari tugas atau berpihak kepada musuh, maka yang lain berkewajiban untuk memburu dan membunuhnya. Kami adalah pasukan Black Cat dan hanya akan tunduk terhadap perintah Ketua kami yaitu Martin, wakil ketua yaitu Tigor habonaran dan Black Cat."
Semua yang berada di tempat itu meneriakkan sumpah setia seperti yang diucapkan oleh Black Cat tadi. Setelah itu, satu persatu mereka meminum sesendok darah yang terdapat di mangkuk putih itu satu per satu hingga semuanya habis.
"Mulai saat ini kita adalah saudara." Kata Black Cat dengan lantang.
"Maaf Black Cat. Apakah kami boleh melihat wajahmu?" Kata Andra memberanikan diri.
"Maafkan saudaraku. Aku tidak bisa melakukannya. Sudah menjadi sumpah bagiku bahwa selain orang terdekat dan Ketua geng kita, mereka yang melihat wajah asliku harus mati di tanganku atau aku yang mati di tangan mereka." Kata Black Cat dengan tegas.