BLACK CAT

BLACK CAT
Rencana vs Rencana



Sore itu sekitar pukul 4 tampak seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun turun dari mobil nya dan bergegas memasuki rumah tiga lantai di perumahan blok B tasik putri itu dengan penampilan penuh gaya.


Begitu pemuda itu sampai tiba di dalam rumah tersebut, tampak Tigor dengan senyum mengembang di wajahnya merentangkan tangannya sambil menyambut pemuda itu.


"Selamat datang Marven."


"Hey Bro Tigor. Ayahku bilang katanya kau ingin bertemu dengan ku."


"Eh. Ngomong-ngomong rumah mu ini bagus juga." Kata Marven sambil tersenyum.


"Aku tidak tau seperti apa rumah yang bagus atau tidak. Bagiku, asal nyaman, maka itu lah yang terbaik. Duduk dulu Marven! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua dengan mu." Kata Tigor.


"Ha... Tentang apa itu?" Kata Marven sambil duduk memilih kursi yang berhadapan dengan Tigor.


"Apakah ayahmu tidak menceritakan kepadamu?" Tanya Tigor.


"Apakah itu tentang anak gadis Lalah yang akan mengantar mobil itu kemari?"


"Ya." Jawab Tigor singkat.


"Katakan padaku rencana apa yang ingin kau atur?!" Kata Marven.


"Begini Marven. Lalah menelepon ayahmu tadi. Katanya, dia ingin agar aku yang mengantar anak gadisnya itu kembali ke Dolok ginjang sekalian uji coba mobil baru yang telah dimodifikasi itu. Tapi bagaimana jika kau saja. Aku khawatir jika aku yang mengantarnya, akan menutup kesempatan buatmu untuk mendekati putri Lalah ini." Kata Tigor.


"Aku? Ah kau jangan becanda sama aku Gor. Apakah semudah itu? Belum tentu dia mau" Kata Marven ragu-ragu.


"Pasti mau. Kau ikuti saja rencana dariku ini!


Begini Ven. Antara aku dan Wulan itu telah terjadi salah faham. Yang jelas ketika dia bertemu dengan ku nanti, dia pasti akan marah-marah kepadaku. Nah di sini sebagai atasan, kau harus berpura-pura memarahi ki dan berpihak kepadanya. Kemudian kau harus menawarkan diri untuk mengantarnya kembali. Pasti dia tidak akan menolak." Kata Tigor.


"Setelah itu?" Tanya Marven.


"Apa perlu aku ajari setelah itu?" Tanya Tigor.


"Hahaha... Aku tau. Aku akan melakukan pendekatan. Bukan begitu?" Tanya Marven sambil nyengir kuda.


"Ya harus begitu. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Sekali sayang terbayang-bayang. Sekali terbayang-bayang, kalian harus menikah baru naik ke atas ranjang. Setelah naik ranjang, jangan terlalu tegang. Setelah..,"


"Ah sudah sudah sudah! Pusing aku. Pokoknya kau juga harus mengikuti ku dari belakang! Kau harus menjadi pengawal ku. Kau mengerti?!" Kata Marven.


"Baiklah, aku mengerti. Kau tenang saja. Aku akan menghubungi Karman. Sekalian nanti kau paksa Karman untuk berlutut meminta maaf kepadanya. Itu baru Hero namanya." Kata Tigor.


Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Wulan itu Gor?" Tanya Marven.


"Masalahnya anak buah si Monang lah. Wulan ketika itu sedang berada di depan kafe dekat jembatan. Tiba-tiba Karman menjambret tas tangan gadis itu. Aku dan sahabat ku berusaha untuk mengejar karman dan bertahan mengembalikan tas tangan gadis itu. Sialnya karena Monang, aku dan Karman akhirnya berdamai. Tapi kau tau? Ketika aku dan Karman sedang duduk di kafe dekat jembatan, gadis itu memergoki kami. Mulailah dia menuduh ku bersekongkol dengan Karman untuk bersandiwara. Sial kan? Hahaha." Kata Tigor menjelaskan kejadiannya kepada Marven.


"Ternyata begitu. Ok lah. Kita tunggu saja kuda betina itu tiba. Aku akan beracting di depannya untuk menghajar kau dan Karman itu." Kata Marven sambil manggut-manggut.


*********


Kriiiing...!


Kriiiing...!


"Hallo Beni."


"Tumpal. Kau di mana saat ini?"


"Aku berada di Bukit batu. Tepatnya di Villa Birong. Ada apa Beni?" Tanya Tumpal.


"Tumpal. Aku mendapat informasi bahwa Martin sedang menyusun rencana untuk menggagalkan aliansi antara Birong dan Lalah dengan cara menyuruh Marven untuk mendekati Wulan putri Lalah." Kata Beni.


"Apa? Apakah informasi yang kau dapat itu benar atau hanya sekedar kabar angin?" Tanya Tumpal.


"Kalau masalah Martin menyuruh putranya untuk mendekati putri Lalah itu seribu persen benar. Aku mendengar sendiri. Tadinya aku ingin menggagalkan rencana mereka ini dengan cara merekomendasikan putraku Irfan. Namun lagi-lagi si Tigor anak bau kencur ini berhasil mempengaruhi Martin hingga akhirnya keputusan Martin jatuh kepada Marven." Kata Beni.


"Tigor. Lagi-lagi anak itu yang jadi masalah. Aku bersumpah cepat atau lambat anak itu akan merasakan bagaimana pembalasanku." Kata Tumpal dengan geram.


"Kau tenang saja! Selagi masih ada aku di sini, semuanya pasti akan lebih mudah.


Begini Tumpal. Aku mendapat kabar bahwa putri Lalah itu akan datang sore ini ke Tasik putri Blok B perumahan menengah keatas. Aku mendapat kabar bahwa Martin telah membeli mobil kepada Lalah dan yang akan mengirim mobil itu adalah putrinya." Kata Beni.


"Lalu? Aku rasa ini tidak penting untuk kita bahas. Apa hebatnya hanya mobil saja." Kata Tumpal tanpa reaksi.


"Kau jangan bodoh Tumpal! Ini kesempatan emas buat kita." Kata Beni.


"Kesempatan emas?"


"Ya. Begini. Dengan baik-baik! Kau temui Birong. Katakan padanya untuk mengerahkan anak buahnya mencegat putri Lalah ini di perkebunan kelapa sawit perbatasan antara Tasik putri dan Dolok ginjang."


"Lalu?!" Tanya Tumpal.


"Aku mendengar bahwa putri Lalah ini tanpa pengawal. Setelah mobil itu berhasil dia antar dengan selamat, aku mendengar bahwa Lalah menginginkan agar Marvel atau Tigor yang akan mengantar putri nya itu kembali ke Dolok ginjang. Menurut ku Marven atau Tigor sama saja. Katakan kepada Birong untuk mencegat mobil yang mereka kendarai itu dan bunuh saja andai yang mengantar putri Lalah itu adalah Tigor. Andai itu Marven, kalian cukup hanya menculiknya saja dan minta tebusan kepada Martin." Kata Beni.


"Bahaya jika begitu Beni. Andai Lalah tau bahwa itu adalah ulah geng tengkorak, bisa gagal rencana Birong untuk menjalin aliansi dengan Lalah." Kata Tumpal keberatan.


"Nah di sini puncak dari rencana kita. Ketika orang-orang Geng tengkorak berhasil membunuh Tigor atau menculik Marven, di saat itu lah anak lelaki Birong bergerak seolah-olah dia adalah penyelamat. Dengan begitu, Lalah pasti akan merasa berhutang budi kepada anak lelaki Birong ini dan kesempatan untuk menjadikan putri Lalah sebagai menantu pasti akan terbuka lebar." Kata Beni bersemangat.


"Wah ini adalah idea yang bagus. Birong pasti akan sangat senang dengan rencana ini. Kau harus melihat sendiri berapa nomor plat mobil yang akan dikendarai oleh mereka nanti. Ini akan mempermudah pencegatan. Pastikan informasi yang kau beri tidak salah." Kata Tumpal.


"Kau tenang saja. Aku akan memastikan bahwa semuanya benar." Kata Beni. Di hatinya dia berharap agar Tumpal berhasil meyakinkan Birong tentang rencananya ini. Dengan begitu, hanya dengan satu peluru, dua sasaran dapat sekaligus. Dia juga berdoa dalam hati semoga saja yang mengantar Wulan kembali ke Dolok ginjang adalah Tigor. Dia sangat ingin menyingkirkan Tigor ini yang telah menggeser posisinya sebagai orang kanan di sisi Martin.


"Baiklah Beni. Kalau begitu aku pergi dulu menemui Birong. Semuanya harus direncanakan sebaik mungkin." Kata Tumpal.


"Baiklah." Kata Beni sambil mengakhiri panggilan. Dia berharap Birong menyetujui rencana ini.


"Hmmm.., meminjam tangan orang lain untuk menyingkirkan musuh. Sungguh mengagumkan." Kata Beni dalam hati sambil terus tersenyum.