
Iring-iringan mobil mewah baru saja tiba dari bandara internasional Kuala namu menuju ke kota Kemuning.
Seperti yang telah diceritakan dalam bab sebelumnya, bahwa Tigor telah menyetujui tentang rencana kerja sama yang melibatkan proyek pembangunan sekolah sembilan tahun, panti jompo, panti asuhan untuk menampung anak-anak terlantar dan juga rumah sakit yang kesemuanya akan di bangun di kota Kemuning menggunakan nama perusahaan Martin dan telah mendapat izin dari wali kota Kemuning.
Keahlian rencana Tigor serta nama besar Martin sebagai pengusaha di kota Kemuning ini lah yang menjadikan proyek pembangunan ini mendapat izin.
Hari ini sesuai dengan kesepakatan, bahwa pihak R2D MegaTown akan meninjau lokasi Tempat bangunan itu akan di dirikan sekaligus membuat kesepakatan kerja sama antara kontraktor dan pihak yang memiliki proyek.
Berita kedatangan para pengusaha muda dari Starhill dan Metro City ini membuat gempar mulai dari Dolok ginjang, Tasik Putri, Kota Batu, kota Kemuning dan kota Tanjung karang.
Bahkan, Martin sendiri menyempatkan diri untuk mengunjungi langsung kota Kemuning demi ingin melihat sosok keempat pemuda yang sangat kaya raya menurut ukuran orang-orang lokal itu.
Di depan kantor pusat perusahaan milik Martin, rombongan iring-iringan mobil itu pun berhenti.
Untuk mobil yang paling depan, ada Andra, Acong, Ucok dan Jabat.
Mobil yang ke dua ada Tigor, Monang, Karman dan Martin.
Dua mobil di tengah tampak Daniel, dan Riko. Dan tepat di belakang mobil mereka ada Ivan Patrik dan Ryan.
Keempat pemuda itu tidak datang berempat saja. Mereka juga di kawal oleh Arslan, Herey, Black dan David.
Sementara itu, di depan kantor milik Martin telah berbaris anak buah Tigor seramai 200 orang di bagian luar dan di bagian teras kantor berjejer sekitar 40 orang staf di perusahaan milik Martin.
Ivan, yang paling berpengalaman dan yang paling kaya serta yang paling terhormat diantara kedelapan orang yang datang dari Starhill dan Metro City itu berjalan di depan bersama Martin sambil diiringi oleh Ryan, Daniel, dan Riko.
Sementara Arslan, Herey, Black dan David menyusul di belakang mereka.
"Selamat datang di kantor saya yang alakadarnya ini Tuan Ivan!" Kata Martin berbasa-basi dengan malu-malu.
"Oh.. terimakasih Tuan Martin." Jawab Ivan singkat sambil melepas kacamatanya.
Begitu Ivan, Martin, Tigor, Daniel, Ryan dan Riko memasuki ruangan yang biasa mereka gunakan untuk rapat, Arslan dan yang lainnya langsung menunggu di depan pintu dan tidak mengizinkan siapapun untuk masuk.
Sikap kaku, dingin dan pancaran sorot mata yang mengintimidasi dari keempat orang asing itu membuat anak buah Tigor termasuk Monang merasa ngeri juga. Hal ini terlebih melihat sesuatu tersembul di balik baju milik Arslan.
"Itu pasti pistol." Kata Monang dalam hati.
Sementara itu di ruangan rapat, Tigor yang merasa sangat antusias menerima kunjungan dari keempat pengusaha dari luar negri ini langsung bangkit berdiri untuk menyampaikan kata sambutannya.
"Ah anda terlalu sungkan Tuan Tigor. Kami juga merasa terhormat karena dapat mengunjungi negri Tuan ini. Sebenarnya ada beberapa proyek yang dulu sempat pernah dikerjakan oleh William Group di provinsi ini. Namun saya lupa apa nama kota nya. Dan kini giliran kami generasi baru yang ingin mencoba mengembangkan sayap. Semoga ini awal langkah baru untuk melangkah lebih jauh lagi." Kata Ivan.
"Wah. Ternyata anda adalah orang yang sangat rendah hati Tuan Ivan." Puji Martin dengan tulus.
"Begini Tuan Tigor dan Tuan Martin. Kedatangan kami kemari adalah selain meninjau lokasi tempat bangunan akan didirikan, kami juga ingin melihat seberapa besar potensi yang dimiliki oleh kota anda ini. Kami juga menilai bahwa kota ini masih banyak yang harus dilakukan di masa depan.
Selain itu, kami juga ingin melakukan kerja sama bisnis dengan anda Tuan Martin dan Tuan Tigor." Kata Ivan.
"Mohon maaf Tuan Ivan. Kerjasama seperti apakah yang anda maksudkan itu?" Tanya Martin.
"Untuk masalah itu, biarkan sahabat saya Daniel yang menjelaskan."
"Begini Tuan Martin. Kami ingin melakukan beberapa proyek pembangunan dan pengembangan di empat kota utama ini. Sebagai orang lokal, tentu Tuan sangat Arif dengan seluk-beluk kota ini. Kami ingin meminta anda untuk melobi pemerintah daerah agar bisa meluluskan proyek real estate di kota ini. Karena menurut penelitian saya, hanya ada dua kota yang memiliki perumahan yang elite yaitu kota Batu dan kota Tasik Putri. Jika anda bisa melobi pemerintah daerah, maka kita bisa melakukan kerja sama dan akan saling menguntungkan." Kata Daniel.
"Sebagai acuan, kami akan mengerjakan proyek milik anda terlebih dahulu. Kemudian anda bisa menilai sendiri seperti apa cara dan kualitas kami bekerja. Untuk langkah awal bagi kami di negara Tuan ini, masalah harga bisa kita negosiasikan dan itu bukan masalah besar. Bagaimana?"
"Ini sesuatu yang sangat menggiurkan Tuan. Tapi terus terang saja, di empat kota ini memiliki organisasi masing-masing dan saling bermusuhan. Saya khawatir jika Tuan-tuan ingin mengembangkan real estate, maka pekerjaan itu akan sangat tergantung mengingat di kawasan ini sangat banyak preman nya." Kata Martin.
Mendengar perkataan preman dari Martin tadi membuat keempat pemuda dari Metro City dan Starhill itu saling pandang lalu tertawa.
"Tuan Martin. Masalah preman atau apapun itu, anda jangan khawatir. Kami memiliki sebuah organisasi tentara bayaran yang memiliki lisensi dari pemerintah. Preman seperti apakah itu yang berani melawan tentara bayaran. Apakah mereka memiliki tujuh nyawa?" Tanya Riko.
"Karena itulah mengapa saya akhirnya menjatuhkan pilihan kepada perusahaan Tuan. Ini karena jaminan keamanan yang anda janjikan. Sama seperti anda, bahwa nilai anggaran yang akan saya keluarkan dalam proyek ini sekitar 20 juta Dollar. Harga bukan masalah. Asalkan keamanan dan ketepatan waktu selesai bisa sesuai dengan rencana, maka saya bersedia menaikkan harga menjadi 25 sampai 30 juta. Dibandingkan dengan pemborong lokal yang akan lari apabila ada gangguan dari pihak preman." Kata Tigor.
"Untuk masalah itu, anda jangan khawatir. Ketiga sahabat ku ini akan berada di sini selama kerja-kerja pembangunan berlangsung. Anda dapat mempercayai kata-kata saya. Hal ini tidak ada sekuku hitam dengan yang kami hadapi bertahun-tahun selama kami menggeluti berbagai bidang di dunia bisnis." Kata Ivan.
"Baiklah Tuan. Saya rasa cukup sekian dulu yang kita bahas. Kami juga akan menghubungi perusahaan rental alat berat seperti excavator, Case, Crane serta truck pengangkat barang material di ibu kota provinsi. Untuk bahan-bahan logistik sendiri, itu akan kami datangkan langsung dari Metro City menggunakan kapal. Kualitas barang dari perusahaan kami sudah teruji di berbagai belahan dunia. Anda dapat mempercayai kata-kata saya ini" Kata Ivan lagi.
"Baik Tuan. Mari saya antar anda. Kami juga akan menjamu anda dengan makanan khas Indonesia. Silahkan!" Kata Martin sambil mempersilahkan keempat orang asing itu menuju pintu.
"Gor! Kau pergi duluan ke restoran. Atur semuanya ya!" Kata Martin.
"Siap Pak Martin." Kata Tigor bergegas mendahului keluar dari ruangan itu.
"Monang, Ucok, Acong dan Jabat ikut aku ke restoran!" Ajak Tigor.
Dengan mengendarai sepeda motor, kelima orang itu langsung berangkat menuju restoran milik Martin di kota Kemuning ini untuk memerintah kepada manager restoran agar segera menyiapkan sajian khas masakan Indonesia kepada tamu dari luar negri itu.