BLACK CAT

BLACK CAT
Birong pun pusing



Kegemparan kali ini terjadi di Villa batu milik Birong yaitu, ketua geng tengkorak.


Ini karena Tumpal yang melarikan diri dari kota Tasik putri, datang membawa kabar bahwa salah satu pentolan di tubuh geng tengkorak ternyata telah tewas bersama sekitar 20 orang anak buahnya. Tidak ada satu pun yang selamat. Dan hebatnya lagi adalah, tidak satupun media yang memberitakan kejadian tersebut.


Begitu mendengar berita yang dibawa langsung oleh Tumpal yang memang salah satu dari pentolan kucing hitam yang berkhianat, hal ini mau tidak mau membuat Birong sangat terpukul.


Dia sama sekali tidak menyangka bahwa yang tadinya dia mengira akan sangat mudah menaklukkan kafe di dekat jembatan itu berujung kepada tewasnya anak buah yang memang menjadi andalannya selama ini.


"Katakan kepadaku Tumpal! Siapa yang membunuh bedul?! Aku akan mengejar orang itu bahkan ke neraka sekalipun!" Kata Birong yang semakin menghitam wajahnya.


"Sangat sulit bagiku untuk mengetahui siapa pembunuh nya. Karena ketika kejadian itu, aku tidak berada di tempat. Kau kan tau untuk menghindari kecurigaan Martin, aku harus berpura-pura tidak mengetahui kejadian kerusuhan yang disebabkan oleh Bedul." Kata Tumpal beralasan.


"Lalu jika kau bisa mengelabui Martin, mengapa kau harus lari kemari?" Tanya Birong.


"Itu dia masalahnya Birong. Aku kira Bedul dan anak buahnya akan dengan sangat mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kekacauan itu. Aku yang ingin agar dia memeras Martin akhirnya mengirim pesan suara kepada Bedul yang mengatakan bahwa Martin telah tiba di depan kafe, tanpa aku menduga bahwa Bedul akhirnya tewas oleh seseorang yang tidak ku kenal. Celaka bagiku karena handphone milik Bedul disita oleh Martin." Kata Tumpal menjelaskan.


"Benar-benar sialan. Kau sama sekali tidak berguna bagiku, Tumpal!"


"Jika tidak memandang hubungan kita di masa lalu, aku sama sekali tidak menginginkan sampah seperti mu. karena penghianatan mu terhadap Martin membuat aku mengalami kerugian." Kata Birong.


"Begitukah caramu terhadap sahabat lama, Birong? Sekarang kau melimpahkan semua kesalahan dari kegagalan ini kepadaku. Aku ingin bertanya. Andai Bedul mendapatkan kawasan Kafe dekat jembatan itu, apakah kau akan mengenang aku sebagai pembuka jalan bagimu? Kau hanya memikirkan untung rugi dari sebuah persahabatan. Kalau begitu, apakah aku tidak rugi? Aku juga rugi sampai tidak punya apa-apa lagi bahkan sekedar tempat berlindung." Kata Tumpal dengan geram.


"Aaaah... Sudahlah! Kau pergilah istirahat. Aku masih banyak urusan. Sebentar lagi utusan dari Singapore akan datang untuk melakukan Transaksi dengan Martin. Acun ingin agar aku menjebak Martin ini dan membunuhnya. dengan begitu aku baru bisa menguasai kota Tasik putri dan Acun bisa berinvestasi di sana." Kata Birong.


"Birong. Walaupun aku saat ini berada di sini, tapi Beni masih berada di Tasik putri dan masih menjadi tangan kanan Martin. Kau harus sering-sering menghubungi nya." Kata Tumpal tanpa mengetahui bahwa Beni sudah tidak memiliki kuasa lagi di geng kucing karena kehadiran Tigor.


"Ya aku tau itu. Dulu kita adalah sahabat dekat waktu Pak tua Gabe masih hidup. Sekarang setelah dia mati dan kedudukannya digantikan oleh martin yang lembek itu, huh tak sudi aku bekerja dibawah bayang-bayang lelaki lembek seperti betina itu." Kata Birong.


"Kau atur lah. Aku mau istirahat dulu. Aku saat ini akan mencari tempat menetap di sini. Sekalian membuka usaha kecil-kecilan." Kata Tumpal sabil berlalu pergi.


"Kau tetap di sini saja Tumpal. Kau bisa menggantikan posisi Bedul." Kata Birong memberi tawaran.


"Terimakasih. Akan aku fikirkan lagi." Jawab Tumpal yang merasa bahagia mendapatkan tawaran dari Borong. Namun karna ingin menjaga gengsi, dia hanya menyembunyikan perasaan bahagia nya.


**********


Siang itu, seorang pemuda tampan memiliki rambut belah tengah berwarna hitam kepirangan sedang duduk melamun di atas besi penghadang jembatan.


Dari tadi dia hanya duduk saja sambil memperhatikan arus air yang mengalir terus menuju ke perkampungan bernama Kuala nipah.


Kuala nipah adalah perkampungan dekat dengan laut yang memiliki pantai yang sangat indah.


Pemuda itu terus saja duduk di besi bulat sebesar betis orang dewasa itu tanpa memperdulikan sengatan matahari sore yang masih cukup untuk membakar kulit putih miliknya.


Masih segar terbayang dalam ingatannya bagaimana dia tertidur bersama adik lelakinya di kaki lima depan toko milik seseorang. Ketika itu karena terlalu lelah, dia sampai bangun kesiangan dan harus terbangun karena disiram dengan air oleh pemilik toko.


Dia bukan hanya disiram saja. Dia juga mengalami penghinaan dan kata-kata kasar mengandung caci maki.


"Orang-orang mengatakan bahwa waktu begitu cepat berlalu. Namun bagiku, ketika aku memulai hidup di jalanan bersama adikku, untuk menghabiskan satu hari saja terasa bagai setahun. Segala bentuk cacian, makian, penghinaan dan segala tindak kekerasan telah aku alami. Ini semua karena ulah dari geng tengkorak. Aku akan membalas dendam. Akan membalas dendam. Aku tidak akan mati sebelum dendam ku terbalas. Kau tunggulah aku Borong!" Kata pemuda itu lagi dalam hati.


Butir-butir keringat membasahi wajah serta tubuhnya akibat menahan luapan amarah yang terus menerus menguasai fikirannya.


Ketika pemuda itu semakin jauh terhanyut dalam lamumannya, satu suara seorang wanita terdengar menegurnya dari arah jalan raya.


"Tigor..!"


"Hey Tigor. Apa yang kau lakukan di tempat itu. Jangan katakan kalau kau mau bunuh diri." Terdengar suara lelaki setelah suara wanita yang pertama tadi menegur pemuda yang sedang melamun itu.


Karena suara itu jelas ditujukan kepadanya, kini lamunan pemuda yang bernama Tigor itu buyar. Dengan sedikit menyipitkan mata karna melawan sinar matahari sore itu, Tigor pun akhirnya mengenali siapa yang menegurnya barusan.


"Ternyata kau Debora." Kata Tigor acuh tak acuh lalu mengalihkan kembali tatapannya ke arah Sungai.


"Hey Gor. Kau ngapain di sini?" Tanya seorang pemuda teman Debora tadi.


"Aku hanya iseng duduk di pinggir jembatan ini. Maklumlah gelandangan yang tidak punya kerjaan." Kata Tigor menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Tigor. Jika kau tidak memiliki pekerjaan tetap, kau bisa meminta bantuan Irfan untuk diterima bekerja sebagai pelayan restoran milik boss dari ayah Irfan ini bernama pak Beni." Kata Debora memberi saran.


"Terimakasih Debora. Tapi aku tidak ingin merepotkan siapapun." Kata Tigor menolak dengan halus.


"Kau ini Tigor. Aku berniat baik ingin membantumu mendapatkan pekerjaan agar kau tidak menjadi pengangguran. Mengapa sikap sombong mu tak berubah. Apa yang mau kau sombongkan?" Tanya Debora merasa tida dihargai oleh Tigor.


"Udah selesai kau bicara Debora? Kalau sudah selesai, silahkan pergi dari sini!" Kata Tigor.


"Sudahlah Debora. Untuk apa kita membuang waktu mengurusi sampah masyarakat ini. Ayo aku antar kau pulang." Kata Irfan.


"Kau itu ya Gor. Orang berniat baik. Tapi sedikitpun tak kau hargai."


"Mau berapa harga yang harus aku beri per kilo gram untuk kebaikanmu? Aku duduk di sini tanpa mengganggu siapapun. Lalu kau dan pasangan kaya raya mu dengan mobil baru yang lebih mahal dari Bugatti ini berhenti dan menghampiri ku. Berkata ini dan itu lalu memaksa aku untuk mengucapkan terimakasih dan menghargai mu. Anda waras?" Kata Tigor sambil menyindir mobil baru milik Irfan yang sama sekali tidak selevel dengan BMW series terbawah.


"Kau...!"


"Jika kau tidak bisa pergi, maka aku yang pergi." Kata Tigor segera melompat dari besi tempat dia tadi duduk dan berjalan menuju ujung jembatan meninggalkan Debora yang sangat kesal sambil menghentakkan kakinya di bahu jalan jembatan tersebut.