BLACK CAT

BLACK CAT
Keberangkatan



Seperti yang sudah disepakati antara Martin dan Tigor, bahwa hari ini rombongan Tigor harus berangkat meninggalkan kota Tasik putri menuju ke kota Kemuning serta menetap di sana untuk menjaga seluruh aset milik Martin di kota yang berbatasan dengan kota batu di sisi kanan dan kota Tanjung karang di sisi kiri nya itu.


Dengan menyewa bus dari Lalah, Akhirnya dengan di antar langsung oleh Martin, rombongan itu pun mulai bergerak meninggalkan blok B perumahan kelas menengah ke atas kota Tasik putri.


"Sayonara kota Tasik putri!" Kata Tigor sambil membungkuk mengambil sejumput tanah di halaman rumahnya lalu mencium tanah tersebut.


"Puas-puasin lah kalian melihat kota Tasik putri ini! Karena setelah ini, kita mungkin akan sangat jarang kemari lagi." Kata Tigor.


"Tidak masalah bang. Bagi kami, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Kata Acong.


"Bagaimana dengan persiapan kalian? Jika sudah selesai semuanya, ayo masuk ke bus! Kita tidak boleh berlengah-lengah lagi. Perjalanan ini memakan waktu lebih sepuluh jam." Kata Martin memberi perintah.


"Siap Boss besar!" Kata mereka serentak lalu bergegas memasukkan barang-barang bawaan mereka ke dalam bagasi bus.


Setelah semuanya selesai, akhirnya rombongan yang diketuai oleh Martin dan Tigor itu pun berangkat menuju kota kemuning dengan mengendarai 2 mobil pribadi, satu unit bus dan sisanya dengan mengendarai sepeda motor dengan berbagai jenis.


***


"Bang rombongan Tigor sudah berangkat menuju ke kota Kemuning."


Tampak seorang lelaki memberikan laporan kepada Marven.


"Hmmm... Baiklah. Siapkan kendaraan kalian. Kalian akan bersama dengan ku ke Dolok ginjang." Kata Marven sambil meminum sisa minumannya di gelas lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke lantai atas.


Baginya kali ini satu saingan sudah berangkat dan dia akan ke Dolok ginjang untuk menemui Wulan dan menanyakan apa hubungan antata gadis itu dengan Tigor.


Jika benar mereka terlibat perselingkuhan, Marven berniat akan memimpin anak buahnya dan akan menyerang rombongan Tigor yang sedang dalam perjalanan dengan meminta bantuan dari kota Batu.


Tak lama setelah itu, Marven pun turun kembali ke lantai satu dan terus keluar ke tempat di mana mobil nya diparkir.


"Mau kemana kau Marven?"


Terdengar satu suara menegur nya.


"Ibu..!" Kata Marven yang saat itu sudah membuka pintu mobil.


Dia mengurungkan niatnya memasuki mobil lalu menghampiri wanita setengah baya itu dan menyalami sambil membungkuk.


"Aku mau ke Dolok ginjang bu. Aku ingin meminta penjelasan dari Wulan tentang hubungan nya dengan Tigor." Kata Marven.


"Untuk apa meminta penjelasan? Apakah kau memang mencintai putri Lalah itu? Lihat dirimu. Kau adalah seorang lelaki. Calon ketua geng kucing hitam. Banyak wanita yang antri mengharap dapat menjalin hubungan dengan mu. Untuk apa lagi Wulan itu. Ingat Marven! Jangan permalukan dirimu." Kata Wanita yang dipanggil ibu oleh Marven itu.


"Memang benar apa yang ibu katakan itu. Namun sebelum memastikan, hatiku ini belum puas bu. Aku ingin mendengar sendiri dari bibir Wulan. Jika memang benar dia memiliki hubungan gelap dengan Tigor, aku pasti akan menghancurkan kekuasaan ayah nya di Dolok ginjang."


"Terserah padamu. Toh kau yang menjalani nya. Hanya satu pesan ku. Kau tidak boleh kembali lagi dengan gadis itu. Ibu tidak setuju."


"Baik bu. Marven patuh kepada ibu."


"Hmmm... Pergilah!" Kata wanita itu memberi izin lalu membalikkan badan dan melangkah memasuki rumah.


"Kalian semua! Mari kita berangkat!" Kata Marven sambil memasuki mobilnya.


Tak lama setelah itu, rombongan Marven yang terdiri dari enam kendaraan roda empat meluncur perlahan meninggalkan komplek elit menuju ke Dolok ginjang.


*********


"Bang Beni. Rombongan Tigor sudah berangkat menuju kota kemuning. Mereka diantar langsung oleh Boss besar. Setelah itu, Marven juga berangkat ke Dolok ginjang untuk meminta penjelasan dari Wulan soal foto yang kita kirim itu." Kata salah seorang anak buah yang menyamar jadi kurir kemarin.


"Hmmm... Berarti siapa saja yang tinggal di rumah Martin?" Tanya Beni kepada anak buah nya itu.


"Hanya ada beberapa orang pengawal bang. yang lainnya semua pergi."


"Apakah Carmen Bond ada di sana?" Tanya Beni.


"Tidak bang. Carmen Bond juga pergi ikut mengawal Boss besar ke kota Kemuning."


"Ugh... Bantu aku berdiri." Kata Beni sambil sedikit mengeluh kesakitan.


"Mau kemana Bang?" Tanya lelaki itu sambil membantu Beni berdiri.


"Antar aku ke rumah Martin. Aku rindu ingin bertemu dengan Venia." Kata Beni sambil duduk.


"Bagaimana dengan tangan mu ini bang? kau kan masih sakit." Kata lelaki itu memperingatkan.


"Aduh...! Black Cat sialan itu. Kelak aku akan membuat perhitungan dengan setan hitam itu. Sekarang antar aku ke komplek elit. Mumpung Martin dan Marven tidak di rumah, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Venia."


Kini beni seperti emak-emak menggendong bayi akibat tangannya yang patah dihajar oleh Black Cat.


Sementara itu, di Dolok ginjang, Marven seperti orang kesetanan mengendarai mobilnya dan dalam waktu singkat saja sudah tiba di Dolok ginjang.


Karena sudah hafal jalan pintas, Marven sama sekali tidak kesulitan menempuh perjalanan yang seharusnya di tempuh sekitar empat atau lima jam itu.


Begitu dia tiba di depan rumah Lalah, dia segera menyalakan klakson sambil berteriak, "Kemana semua pengawal? Cepat buka pintu pagar ini. aku ingin masuk." Teriak nya yang membuat penjaga rumah itu segera menghampiri.


Begitu dia melihat siapa yang berteriak tadi, penjaga itu pun langsung membukakan pintu pagar.


"Bang Marven? Selamat datang. apakah bang Marven kemari ingin bertemu dengan Lalah?" Tanya penjaga rumah Lalah itu.


"Tidak. Aku ingin bertemu dengan Wulan. Apa dia ada di dalam?" Tanya Marven.


"Ada bang. akhir-akhir ini, Nona kami sering mengunci diri di kamar. Entah apa yang terjadi saya tidak tau."


"Ya sudah. Aku akan menemuinya dulu." Kata Marven lalu segera memasukkan mobilnya lalu berhenti di tempat parkir.


Setengah berlari Marven akhirnya sampai juga di depan pintu kamar milik Wulan. Dengan sedikit kasar Marven mengetuk pintu itu lalu memanggil nama Wulan.


"Wulan! Ini aku Marven. Buka pintu ini! Aku ingin bicara dengan mu. atau kau keluar saja!"


"Ada apa kau datang kemari. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mu." Jawab Wulan.


Mendengar jawaban dari Wulan ini, makin bertambah sakit hati Marven. Kecurigaannya kini semakin kuat bahwa antara Wulan dan Tigor memang sudah terjalin hubungan yang istimewa.


"Oh... Begitu ya?! Pantas kau tidak mau menemuiku. Berarti benar kecurigaan ku bahwa kau memang memiliki hubungan dengan Tigor." Kata Marven dengan nada sinis.


"Tutup muncung kau itu Marven! Apa kau fikir aku ini sama seperti wanita gendaan mu itu. Apa kau kira Tigor itu sama dengan mu. Kau tidak layak bahkan seujung kuku pun kau tidak bisa menyaingi Tigor. Dasar lelaki bejat. Asal bersisik kau anggap ikan." Kata Wulan sambil membuka pintu kamar dan mendorong Marven hingga hampir saja tersungkur.


"Apa katamu tadi? Kau bilang aku lelaki bejat? Jika aku lelaki bejat, lalu ini apa?"


Plak...!


Terdengar suara tamparan diikuti dengan beberapa lembar kertas kaku terjatuh di lantai.


"Sekarang kau jelaskan kepadaku apa ini?!" Bentak Marven sambil menuding ke arah gambar yang berserakan di lantai.


"Kalau hanya seperti itu, aku juga punya." Kata Wulan bergegas memasuki kamarnya dan keluar lagi sambil memegang amplop besar berisi foto-foto kemesraan Marven dengan Della alias Butet.


"Nih...! makan tuh gambar!"


Plak...!


'Kau juga harus menjelaskan kepadaku siapa wanita yang sangat mesra dengan mu itu?! Dasar bajingan. Kau menuduh aku memiliki hubungan serong dengan Tigor. Padahal Tigor sedikitpun tidak bersalah."


"Kau...!"


"Kau apa? Setelah aku mendapat kiriman foto itu, aku berusaha mengubungi mu untuk meminta penjelasan. Tapi nomor mu tidak aktif. Aku juga pergi ke Tasik putri untuk menemui mu. Tapi kau tidak berada di komplek elit. Dalam keadaan putus asa, aku bertemu dengan Tigor. Dia mencoba menenangkan aku. Jika ada yang mengambil gambar kami secara diam-diam, seharusnya kau gunakan otak mu untuk berfikir." Kata Wulan dengan sangat ketus.


"Berarti ada yang mencoba untuk mengadudomba antara aku dan Tigor." Gumam Marven dalam hati.


"Sekarang aku bertanya kepadamu Marven. Siapa gadis dalam gambar itu?" Tanya Wulan.


"Itu... Itu adalah.., it.., itu..."


"Mengapa mendadak gagu? Kau memang bajingan!


Roger! Antar tamu yang tak di undang ini keluar dari rumah ku. Najis rasanya aku melihat lelaki bajingan seperti ini." Teriak Wulan.


Tak lama setelah itu, seorang pemuda yang sebaya dengan Marven pun menghampiri lalu berkata, "Silahkan Bang Marven lewat sini."


"Kau mengusir ku?"


"Maaf bang Marven. Aku hanya menjalankan perintah."


"Kalian dengar baik-baik ya! Aku tidak akan melupakan kejadian ini. Suatu saat aku akan datang lagi kemari. Namun bukan dengan cara baik-baik. Ingat itu. Aku tidak melupakan penghinaan ini." Kata Marven lalu bergegas keluar dari rumah Lalah.


"Dasar bangsat sialan. Dia yang salah bukannya meminta maaf, malah mengancam." Maki Wulan setelah Marven meninggalkan halaman rumahnya itu.


"Ancamannya itu tidak bisa dipandang remeh Lan. Kita harus melaporkan hal ini kepada Lalah." Kata Roger.


"Ya. Itu harus. tapi apa yang bisa kita lakukan. Ayah dan paman Martin adalah sahabat. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Biarkan saja. Anak manja seperti itu memang bisanya hanya mengancam. Tapi nol aksi." Kata Wulan lalu kembali memasuki kamar nya.