BLACK CAT

BLACK CAT
Ucok jatuh sakit



"Uhuk..."


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..!"


Terdengar suara batuk panjang dari bawah jembatan tempat tinggal Tigor dan keempat sahabat nya.


Seperti biasa, Tigor yang terbiasa bangun pagi, sibuk melakukan rutinitas melatih fisik dan keterampilan bertarung dan itu selalu dia lakukan selama 7 tahun ini sehingga dia hafal betul jurus-jurus yang dia pelajari dulu ketika di dojo milik seorang jepang blasteran indonesia di kota batu dengan sempurna.


Tidak jarang Tigor menggabungkan antara jurus pencak silat dengan karate yang dia pelajari sehingga menghasilkan satu gaya baru dari kombinasi kedua aliran tersebut.


Kali ini tetap sama. Tigor tidak pernah lalai melatih diri dan melatih pernafasan di dalam air sungai ketika matahari belum menyingsing.


Mungkin bagi keempat sahabat nya, Tigor ini seperti kurang kerjaan. Disaat mereka sedang asyik dengan selimut yang entah sudah berapa minggu tidak di cuci, Tigor ini malah sangat asyik dengan latihannya. Namun latihan Tigor kali ini terganggu karena suara batuk-batuk dari salah satu sahabat nya. Awalnya Tigor tidak terlalu memperdulikan. Namun lama kelamaan batuk itu semakin menjadi-jadi membuat Tigor terpaksa menghentikan latihannya dan bergegas mencari tau siapa yang batuk itu.


"Kau kenapa Cok?" Tanya Tigor begitu dia mengetahui siapa yang batuk itu.


"Cok. Kau kenapa?" Tanya Tigor lagi.


Lama baru terdengar jawaban.


"Dada ku sakit Gor. Aku juga rasanya meriang ini." Jawab Ucok.


"Wah gawat. Sini aku periksa." Kata Tigor bergegas meraba kening ucok.


"Kening mu panas sekali Cok!" Kata Tigor yang terkejut ketika merasakan suhu tubuh Ucok terasa seperti orang habis berjemur.


"Hey bangun kalian semua! Ucok demam ini." Kata Tigor membangunkan Sugeng, Jabat dan Thomas.


"Ada apa bang? Masih pagi ini." Kata Jabat sambil menggeliat.


"Bangun kalian! Coba periksa Ucok ini. Dia demam." Kata Tigor membuat mereka semua langsung terbangun dan duduk sambil mengucak mata.


"Ada apa dengan Ucok?" Tanya Sugeng.


"Kau coba taruh tangan mu di kening nya. Panas sekali!" Kata Tigor menjawab pertanyaan Sugeng.


"Wah iya. Gawat ini!" Kata Sugeng.


Mereka lalu bergantian menyentuh kening Ucok dan benar saja bahwa Ucok saat ini memang terserang demam.


"Waduh. Ini gawat bang. Ucok terserang demam. Mana kita gak punya uang lagi." Kata Sugeng sambil duduk di tempat tidur nya.


"Berapa uang kita yang ada saat ini? Ayo kita patungan membeli obat di klinik milik kak Debora." Kata Jabat.


"Aku ada segini." Kata Sugeng.


"Aku adanya hanya segini." Kata Thomas.


"Mari kita kumpulkan uang kita. Biar bang Tigor yang pergi menemui kak Debora. Dia kan suka sama bang Tigor. Mungkin nanti harga obat itu bisa agak murah." Kata Jabat sambil memungut uang patungan tersebut lalu menyerahkannya kepada Tigor.


"Baiklah. Kalian tunggu di sini! Rebus saja air di kaleng susu. Kompres kan ke kening Ucok. Aku pergi dulu!" Kata Tigor lalu setengah berlari meninggalkan keempat sahabatnya itu.


***


"Debora. Debora...?! Apakah kau ada di dalam?" Tanya Tigor sedikit mengeraskan suaranya agar di dengar oleh orang yang berada di dalam.


"Debora...! Ini aku Tigor. Aku mau membeli obat." Kata Tigor lagi. Kali ini dia lebih dekat ke arah pintu Klinik tempat Debora membuka praktek.


"Ya Bang. Aku ada. Tunggu sebentar." Terdengar suara sahutan dari dalam klinik tersebut.


"Ada apa bang pagi-pagi sekali kau seperti orang dikejar hantu.?" Tanya gadis itu kepada Tigor.


"Kawan ku si Ucok. Tiba-tiba saja pagi ini dia demam pulak. Kasih aku obat demam sama batuk." Kata Tigor dengan tergesa-gesa.


"Tunggu ya bang. Aku ambilkan dulu obatnya. Mau masuk?" Tanya Debora.


"Jangan. Aku tunggu di luar saja." Kata Tigor. Mana mau dia masuk. Nanti bisa di tuduh berbuat yang tidak-tidak. Walau pun ini klinik, tapi Debora selalu bersikap genit terhadap dirinya.


"Apakah panasnya tinggi bang?" Tanya Debora.


"Panas kali pun aku rasa. Mungkin bisa lah memanggang udang." Kata Tigor.


"Ah bisa aja abang ini." Kata Debora sambil menusuk dada Tigor dengan telunjuk nya.


"Ini obatnya bang." Kata Debora sambil mengulurkan bungkusan dari plastik kecil kepada Tigor.


"Berapa ini dek?" Tanya Tigor.


"Biasanya itu 30 ribu. Tapi sama abang tak apa lah. Bayar saja 20 ribu." Kata Debora sambil tersenyum manja.


"Makasih dek. Abang pamit dulu." Kata Tigor segera berlalu meninggalkan klinik itu.


**


Sudah dua hari Ucok terbaring lemas di tempat tidur. Dia juga sudah beberapa kali muntah dan tidak nafsu makan. Sementara matanya sudah mulai cekung dan tulang pipinya sudah mulai kelihatan.


Beberapa kali Tigor meminta Debora untuk memeriksa penyakit Ucok. Namun karena keterbatasan alat, Debora hanya mengatakan bahwa penyakit yang di derita oleh Ucok adalah Malaria.


Debora juga menyarankan agar Ucok di rujuk ke rumah sakit supaya mendapat perawatan yang lebih baik agar Ucok lekas sembuh. Hal ini lah yang memusingkan kepala Tigor dan kawan-kawannya. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membawa Ucok berobat ke rumah sakit yang sudah pasti biayanya tidak murah.


Beban Tigor ternyata tidak sampai di masalah Ucok saja.


Sore ini, Rio yang bersekolah di SMP tasik datang menemui Tigor mengatakan bahwa uang kos, uang buku, uang makan dan lain sebagainya juga harus di lunasi.


Sudah dua bulan Rio menunggak uang sewa kamar dan juga uang untuk membeli buku pelajaran.


"Rio. Sabar ya dik. Abang sedang berusaha untuk mencari uang." Kata Tigor sambil di saksikan oleh sahabat-sahabatnya.


"Bang. Aku tau biayanya itu mahal dan abang mungkin tidak sanggup. Yang penting aku sudah tau tulis baca. Tak apa lah aku berhenti sekolah dan membantu abang di sini." Kata Rio.


Sebenarnya Rio juga merasakan beban berat yang dipikul oleh abangnya itu. Namun setiap kali dia ingin berhenti sekolah, Tigor selalu memarahinya. Padahal dia juga tertekan di sekolah. Ini karena, sebagai siswa miskin, dia sering di hina dan di bully oleh teman-temannya. Apa lagi jika terkadang dia harus meminjam buku kepada teman sebangku. Bukan buku yang dia dapat, tapi penghinaan yang dia terima.


"Besok kan hari minggu Rio? Kau tunggu lah keputusan dari abang. Kau jangan pulang dulu ke rumah kos mu. Nanti abang akan usahakan semampunya untuk mencari uang supaya kau bisa melunaskan biaya sewa kamar dan membeli buku." Kata Tigor sambil membelai rambut adik lelaki tempatnya menggantungkan harapan dan cita-cita itu.


"Bang. Bawa saja Ucok ke klinik. Di sana aku bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Kata Debora begitu melihat semua yang ada di bawah jembatan itu hanya membisu seperti patung.


"Aku tidak punya uang dek. Bagaimana aku akan membayar ongkos nya?" Kata Tigor sambil memandang sayu kearah Debora.


"Bawa aja dulu. Masalah biaya, kau bisa membayar ketika ada uang." Kata Debora.


"Ya sudah. Ayo kita bawa dia."


"Jabat! Kau panggil becak. Kita bawa Ucok ke klinik Debora." Kata Tigor.


"Baik bang." Kata Jabat. Karena posisi mereka berada di bawah jembatan, Jabat lalu segera naik ke atas benteng untuk mencari tukang becak.