
Satu unit mobil BMW meluncur dengan mulus membelah jalan lintas kota Tasik putri menuju ke arah jembatan penghubung yang biasa dilewati oleh kendaraan yang akan menuju ke kota Batu, maupun ke kota Kemuning.
Setibanya di atas jembatan, Mobil BMW itu berhenti dan kini tampak seorang pemuda keluar dari mobil mewah tersebut sambil menyandang tas ransel di punggung nya.
Setelah berbasa-basi sejenak, pemuda itu akhirnya berjalan ke arah ujung jembatan lalu menelusuri jalan benteng berpasir kemudian menurun dengan sedikit meraba-raba karena gelap untuk mencari jalan menuju ke bawah jembatan.
Begitu pemuda itu tiba di bawah jembatan, dia kini melihat teman-temannya sedang duduk mengelikingi lampu yang terbuat dari sumbu kain dan menggunakan minyak tanah.
"Hey bang Tigor. Kai sudah kembali. Darimana saja kau bang?" Tanya Salah seorang yang duduk itu kepada pemuda yang baru tiba itu.
"Aku tadi menemani Debora menemui sahabat-sahabat SMA nya dulu. Kemudian aku mencari pekerjaan." Kata Tigor menjawab pertanyaan salah satu dari sahabatnya itu.
"Apakah kau mendapatkan pekerjaan itu bang?"
"Dapat lah." Jawab Tigor sambil tersenyum.
"Pekerjaan apa yang kau dapat?"
"Kerja jadi kurir. Lumayan lah. Gajinya juga lumayan." Jawab Tigor lagi.
"Oh ya, mengapa kalian belum tidur?" Tanya Tigor.
"Kami sambil menjaga Ucok bang. Lagian sulit mau tidur ketika perut kosong." Kata mereka.
"Lihat tuh si Rio. Sejak tadi cacingnya berbunyi terus."
"Bangunkan Ucok. Kita makan sama-sama. Aku ada membeli makanan tadi di restoran Samporna untuk kita." Kata Tigor.
"Jabat! Kau ambil piring dan mangkuk!" Kata Tigor.
"Siap bang." Kata Jabat dengan bersemangat.
"Waaah. Makanan dari restoran. Restoran Samporna pula itu. Enak nih." Kata Sugeng lalu bergegas menuju ke sungai sambil membawa timba untuk mengambil air cuci tangan.
"Rio...! Hey Rio. Bangun dik. Kau lapar kan? Ayo kita makan. Abang ada bawa nasi ini." Kata Tigor membangunkan adiknya yang berada dibawah jembatan itu sejak tadi siang menjelang sore.
Ketika semuanya sudah berkumpul, mereka berenam lalu sama-sama duduk bersila mengelilingin pelita dengan wajah penuh suka cita.
"Alhamdulillah ada juga makanan untuk mengisi perut kita malam ini." Kata Sugeng sambil duduk merapat ke arah pelita minyak tanah itu.
Melihat sahabat-sahabat nya sudah duduk dengan tertib, Tigor pun akhirnya membuka resleting tas nya dan mengeluarkan enam bungkus makanan dan beberapa bungkus lainnya yang berisi sayur, sambal dab ikan.
"Cok. Ayo makan. Makan yang banyak! Besok kau harus dirawat di rumah sakit." Kata Tigor sambil menyodorkan bungkusan nasi kepada Ucok.
"Lupakan sajalah rumah sakit itu bang. Biayanya mahal. Sedangkan untuk makan pun kita kesusahan. Nanti aku juga akan sembuh dengan sendirinya." Kata Ucok berusaha untuk tetap optimis.
"Kau tenang sajalah Cok. Yang penting besok kau sudah berada di rumah sakit. Ayo habiskan makanan ini!"
"Iya bang. Terimakasih." Kata Ucok sambil menyuap nasi kedalam mulutnya.
"Kau juga Rio. Makan yang banyak! Calon polisi tidak boleh terlalu kurus." Kata Tigor sambil menyuapkan ikan kedalam mulut adik lelakinya itu.
Keesokan harinya, setelah mengantar Ucok ke rumah sakit, Tigor pun langsung menemani Rio ke rumah kos-kosannya kemudian membayar semua tunggakan sewa kamar nya.
"Rio. Setelah ini kau jangan lagi menemui abang di bawah jembatan." Kata Tigor membuka percakapan.
"Mengapa bang." Tanya Rio heran.
"Kau ingat geng tengkorak yang membunuh orang tua kita?" Tanya Tigor.
"Ingat bang. ada apa dengan penjahat itu?" Kata Rio balik bertanya.
Tigor sebenarnya sudah memikirkan apa yang akan dan bakalan dia hadapi ketika dia menerima pinangan dari Martin, bahwa ini sungguh tidak sederhana.
Jauh-jauh sebelumnya Tigor telah memikirkan keselamatan adiknya jika kelak identitasnya sebagai Black Cat terbongkar. Karena, bukan mustahil geng tengkorak akan menyelidiki sosok manusia bertopeng yang menjadi momok menakutkan bagi komplotan yang di pimpin oleh orang bernama Birong itu.
Oleh karena itu, Tigor pun sengaja menakut-nakuti Rio agar tidak lagi menemuinya. Karena jika geng tengkorak tau bahwa Black Cat adalah Tigor, maka sudah jelas Rio juga akan berada dalam bahaya.
Andaipun Tigor mampu bertahan, namun tidak demikian bagi Rio.
"Kau tau bahwa saat ini geng tengkorak sedang mencurigai abang sebagai anak dari kapten Bonar, Ayah kita yang mereka bunuh? Saat ini mereka hanya mencurigai abang. Tapi mereka sama sekali tidak mengenal mu. Putuskan hubungan mu dengan abang. Masalah biaya sekolah mu, besok kita akan pergi ke Bank dan membuka tabungan atas nama mu. Setiap bulan abang akan mengirim uang kepadamu untuk biaya pendidikan mu. Bila perlu, SMA mu nanti jangan di Tasik putri ini. Kalau bisa kau harus pindah ke Medan, Surabaya atau Jakarta sekalian." Kata Tigor.
"Jadi, bagaimana kalau aku rindu sama abang? Bagaimana kalau aku membutuhkan bimbingan atau nasehat?" Tanya Rio.
"Kau jangan khawatir. Abang yang akan menemui mu. Asal kau harus ingat! Jangan sesekali kau datang menemui abang. Apa lagi mengaku-aku bahwa kau mempunya seorang abang bernama Tigor. Ingat itu baik-baik!" Kata Tigor sambil menyerahkan ponsel Nokia jadul yang masih poliponik kepada Rio.
"Handphone ini bisa kau gunakan untuk sementara. Nanti kalau abang ada rejeki, abang akan membelikan Handphone yang canggih untuk mu. Doakan semoga abang baik-baik saja ya dek!" Kata Tigor sambil mencium kepala adiknya itu.
"Iya bang. Abang jangan lupa setiap minggu untuk mengisi pulsa ku. Nanti kalau kartunya habis tempo, mana bisa di gunakan." Kata Rio berbinar-binar menatap ponsel jadul itu.
"Sudah faham kau rupanya tentang handphone ya. Darimana kau tau?" Tanya Tigor.
"Anak yang punya rumah ini kan ada handphone. Aku sering mendengar dia mengatakan bahwa kartu nya harus di isi pulsa supaya bisa di gunakan." Kata Rio.
"Itu masalah nanti. Kau tenang saja. Masalah yang terpenting adalah, kau harus belajar yang giat. Sekolah yang benar. Jangan kecewakan abang dan orang tua kita di syurga sana. Kau harus tau bahwa hanya kau lah tempat abang menggantungkan harapan dan cita-cita. Terserah abang akan jadi seperti apa dan bagaimana. Tapi kau harus jadi orang. Ingat untuk terus belajar dan mengejar cita-cita mu untuk menjadi seorang polisi. Andai abang tidak mampu membalas dendam atas kematian orang tua kita, maka kau yang akan melanjutkan membasmi geng tengkorak."
"Iya bang. Aku berjanji akan belajar dengan baik dan tidak mengecewakan abang dan Almarhum orang tua kita." Kata Rio.
"Sholat jangan tinggal ya dik. Manusia hanya akan jadi sampah tak berguna dan lebih buruk daripada binatang jika tidak kenal siapa Tuhan nya. Sembahlah Tuhan! Memohon lah kepada-Nya dalam apa jua keadaan. Semoga segala harapan yang abang gantungkan dipundak mu dapat menjadi kenyataan." Kata Tigor sambil memeluk adiknya.
"Apakah setelah ini akan lama bagi kita untuk saling bertemu bang?" Tanya Rio mulai menangis.
"Kau menangis Rio? Jangan sampai tangan abang ini melekat di pipi mu. Hal yang paling abang tidak suka darimu adalah cengeng mu itu. Besok abang akan datang lagi untuk menemanimu membuka tabungan di bank. Setelah itu kau harus membiasakan diri tanpa abang. Ini semua bukan karena abang benci. Tapi karna abang takut kalau kau akan terseret kedalam bahaya." Bentak Tigor membuat Rio segera menegakkan kepala berusaha untuk tidak menangis.
"Iya bang. Rio mengerti."
"Nah begitu seharusnya. Ingat kata abang tadi! Sholat jangan tinggal! Kirim doa untuk kedua orang tua kita yang telah meninggal agar mereka tidak merasa sia-sia melahirkan mu ke dunia ini." Kata Tigor segera berlalu meninggalkan Rio.
"Bang! Kelak kalau aku jadi polisi, aku akan mengajak abang jalan-jalan pakai mobil dinas." Kata Rio berteriak.
"Abang akan mengingat janji mu itu." Kata Tigor yang semakin jauh berjalan meninggalkan Rio yang masih berdiri mematung memandangi punggung abang nya itu.