
Komplek elit Tasik putri
Seperti yang sudah diceritakan dalam bab sebelumnya bahwa Ucok mengatakan kepada Tigor bahwa Marven dan beberapa anak buahnya datang untuk membawa Monang ke Komplek Elit.
Sebelum keberangkatan ke pusat hiburan dunia gemerlap malam, Beni terlebih dahulu mendatangi Marven.
Dia berusaha untuk menakut-nakuti Marven dengan mengatakan bahwa bersikap lembut lah dengan Monang. Ini karena Monang itu adalah sahabat Tigor.
Sebenarnya Beni tidak memiliki sedikitpun tujuan untuk membela Monang. Dia mengatakan hal seperti itu tidak lain adalah untuk melaga-lagakan antara Marven dan Tigor.
Beni sengaja mengatakan kelebihan dan dominasi Tigor dalam organisasi. Jadi, dia meminta agar Marven jangan terlalu kasar kepada Monang demi memberi muka kepada Tigor. Hal ini tentu membuat Marven naik pitam.
"Pak Beni. Apakah kau berkata seperti ini untuk menakut-nakuti aku? Aku adalah Marven. Putra dari Martin ketua dari organisasi kucing hitam. Persetan dengan Tigor. Bahkan jika Monang itu bersahabat dengan raja setan sekalipun, aku akan tetap menindak Monang ini. Ini karena dia tidak becus mengemban kepercayaan yang sudah aku berikan kepadanya." Kata Marven dengan tegas.
Tampak wajah pemuda 25 tahun ini memerah seperti udang rebus begitu mendengar bahwa Beni selalu membesar-besarkan nama Tigor setiap kali ada kesempatan.
Hal seperti ini tentu saja sangat digemari oleh Beni. Dia merasa bahwa jarum beracun yang dia tusukkan ke otak Marven dalam beberapa minggu ini sudah mulai meracuni anak muda itu.
Bayangkan saja jika besi terus menerus di pukul, maka dia akan berubah menjadi pisau yang tajam. Ini lah yang terjadi kepada Marven.
Lambat laun otaknya mulai diracuni oleh Beni. Dia tidak lagi memandang Tigor sebagai bawahan ayahnya yang selama ini memberi keuntungan terhadap organisasi. Melainkan saat ini dia malah menganggap Tigor sebagai pesaing berat. Dengan pengaruh yang dimiliki oleh Tigor, dia merasa bahwa Tigor bisa saja menggeser dirinya dari calon kandidat kuat sebagai ketua organisasi kucing hitam di masa depan.
Beni yang melihat perubahan yang sangat ketara di wajah Marven berusaha untuk tetap bersikap wajar. Dia sengaja menarik ulur seolah-olah Marven ini adalah sebuah layangan dan dia lah sang pengendali layangan tersebut.
"Marven. Dengarkan perkataan paman mu ini! Kau tau bahwa Ayah mu sangat menyayangi Tigor. Maaf jika aku katakan kalau Ayah mu lebih sayang kepada Tigor melebihi dirimu sendiri. Dia tidak ragu mengatakan kepada Lalah bahwa dia sangat menyayangi Tigor. Jika kau menghukum Monang dengan berat, kau bukan hanya akan di musuhi oleh Tigor. Tapi kau juga akan di tentang oleh Ayah mu." Kata Beni berusaha untuk terlihat arif dan bijaksana.
"Pak Beni! Sekali lagi aku peringatkan! Jangan sebut tentang hal ini di depan batang hidung ku. Aku tidak akan tunduk kepada siapapun. Aku akan tetap menghukum Monang. Sekarang minggir kau!" Bentak Marven dan langsung keluar menuju mobil.
"Kalian semua! Ikuti aku dan tangkap Monang secara baik, atau pun secara kasar!" Kata Marven berteriak kepada puluhan pengawal yang berada di pos berdekatan dengan rumah yang tampak seperti Mansion itu.
"Siap Tuan muda!" Kata mereka sambil bergegas menuju ke arah area parkir.
Tak lama kemudian rombongan yang dipimpin oleh Marven itu bergerak meninggalkan Komplek Elit diiringi dengan tatapan penuh kepuasan oleh Beni.
"Babak baru sudah di mulai. Kalian anak-anak muda memiliki ego yang tinggi serta darah yang masih panas. Hahahaha... Kami orang tua memang tidak segesit dan sekuat kalian. Namun jangan remehkan otak yang kami miliki." Kata Beni dalam hati.
*********
Iring-iringan mobil mewah itu terlihat memasuki halaman sebuah rumah besar mirip Mansion di Komplek elit Tasik putri.
Dari dalam mobil tampak puluhan lelaki berusaha 30-35 tahun keluar.
Kemudian dari dalam mobil yang paling depan, tampak dua orang lelaki sedang menarik seorang pemuda dan menggiring pemuda tersebut menghadap ke arah Marven.
"Berlutut!"
Plak...!
Bruuugh...
"Akh..."
Tampak salah satu dari kedua orang itu menyepak betis lelaki muda tadi, membuat pemuda itu jatuh berlutut dihadapan Marven.
"Monang Monang Monang...! Celaka sekali anda ini Monang. Bagaimana kau melakukan pekerjaan mu Monang?" Tanya Marven dengan senyum sinis.
"Marven! Aku sudah melakukan pekerjaan ku dengan baik. Tapi aku di jebak." Jawab Monang dalam keadaan masih berlutut.
Plak...!
"Di jebak kata mu? Siapa berani menjebak?" Tanya Marven.
Belum lagi Monang menjawab pertanyaan itu, kini dari arah rumah, muncul Beni tergesa-gesa.
Bahkan sebelum dia tiba, dia sudah berteriak kepada Marven.
"Marven! Tolong jangan kasar begitu! Bagaimanapun dia adalah orang kepercayaan mu dan ayah mu di pusat hiburan. Dia juga adalah sahabat Tigor. Bersikap lah sedikit lembut!" Kata Beni dengan nafas tersengal.
"Sudah aku katakan jangan sebut-sebut nama Tigor dihadapanku!" Bentak Marven.
"Ba.., baik lah. Maafkan aku! Tapi Marven, jangan terlalu kasar begini kepada Monang! Aku percaya andai Boss besar melihat ini, dia pasti tidak akan setuju." Kata Beni lagi sambil melirik kearah Monang dengan tatapan mengejek.
Bergejolak darah di tubuh Monang melihat tatapan penuh ejekan dari Beni ini.
"Beruk buntung ini benar-benar pandai sekali beracting. Jika aku tidak hati-hati, keadaan pasti akan sangat runyam." Kata Monang dalam hati.
"Marven. Aku mengaku salah. Aku siap menerima apapun hukuman yang akan kau berikan kepada ku." Kata Monang pasrah sambil mengusap darah yang meleleh dari sudut bibirnya akibat tamparan dari Marven tadi.
Saat ini Monang sangat sadar bahwa Beni sedang berusaha mencari celah. Andai satu huruf saja dia salah, Beni pasti akan memanfaatkan celah ini untuk semakin memojokkan dirinya.
Dia sadar dengan kemarahan Marven ketika menyebut nama Tigor tadi. Dia berfikir bahwa otak Marven pasti sudah dicekoki oleh Beni dengan racun agar Marven menganggap Tigor adalah saingan yang harus dia singkirkan. Dan ini sangat berbahaya andai dia tersalah ucap.
"Kau mengaku salah sekarang? Lalu mengapa kau beralasan bahwa kau di jebak? Bangun kau bangsat!"
Marven kini menarik kerah baju Monang dan melayangkan tinjunya ke arah wajah Monang.
Plaaak..!
"Ukh..."
"Katakan siapa yang menjebak mu Monang?" Tanya Marven dengan marah.
"Geng tengkorak yang menjebak ku. Mereka datang membuat kekacauan di jembatan. Aku berusaha mengejar mereka ke sana. Namun yang tidak aku duga adalah, mereka membagi dua kelompok dan datang dari arah Dolok ginjang. Kami terkecoh dan akhirnya, karena tanpa penjaga, mereka berhasil membakar restoran samporna dan pusat hiburan dunia gemerlap malam." Kata Monang.
"Ternyata begitu." Kata Marven yang mulai tau duduk persoalannya.
"Ini semua karena Tigor yang lebih duluan mengusik mereka. Tigor yang lebih duluan mengacau kota batu bersama anak buah nya dan Tigor juga membunuh Bongsor anak buah Birong. Hal ini yang membuat mereka membalas dendam kepada kita." Kata Beni.
"Hmmm... Masuk akal juga. Tigor ini. Mencari masalah saja." Kata Marven.
"Jelas mencari masalah. Dia tidak berfikir dulu sebelum bertindak. Jika dia terus berlama-lama di Tasik putri ini, aku yakin kota ini akan terbakar semua oleh anak buah Birong. Sebaiknya cepat buang dia jauh-jauh dari kota Tasik putri ini. Kota kemuning pas untuk anak bar-bar itu." Kata Beni lagi.
Semakin mengerikan saja Beni ini dalam memojokkan Tigor.
"Baiklah. Aku akan meminta kepada ayah ku untuk segera mencampakkan Tigor ini ke kota kemuning secepatnya." Kata Marven.
"Monang. Kau di pecat dan selamanya kau tidak boleh memasuki kota Tasik putri ini lagi. Aku berikan kau waktu satu minggu. Jika minggu depan kau masih terlihat di kota Tasik putri ini, maka aku tidak menjamin nyawa mu." Kata Marven.
"Baik Marven. Dan anda Pak Beni. Terimakasih!" Kata Monang sambil membalikkan badan dan berjalan meninggalkan halaman rumah besar di Komplek elit tersebut.
Dalam hatinya kini hanya ada satu. Menunggu Tigor kembali dari Hongkong.