
Kriiiing...!
Kriiiing....! Kriiiing.....!
"Hallo Tumpal."
"Ben. Mati aku Ben. Semua rencana kita telah gagal." Terdengar suara cemas dari si penelepon.
"Tumpal.., tenangkan dulu dirimu. Ceritakan secara perlahan. Ada apa sebenarnya?"
"Beni. Seluruh anggota geng tengkorak yang dipimpin oleh Bedul semuanya tewas di kafe dekat jembatan." Kata Tumpal dengan suara bergetar ketakutan.
"Mengapa bisa begitu Tumpal? Bukankah seluruh anak buah tidak ada yang bergerak. Bukankah kau sendiri yang telah menyuruh mereka untuk libur." Kata Beni bertanya dengan heran.
"Aku tidak tau Ben. Sekarang ini aku harus lari."
Suara Tumpal kini semakin terasa bergetar.
"Mengapa kau lari Tumpal? Martin kan tidak tau kalau kau telah berkhianat." Tanya Beni.
"Tidak Ben. Dia pasti tau. Masalahnya adalah, aku telah mengirim pesan kepada Bedul. Akhi khawatir jika ponsel milik Bedul jatuh ke tangan Martin. Sebelum itu terjadi, sebaiknya aku melarikan diri."
"Ini semua gara-gara kau Beni. Kau yang mendorong aku untuk melakukan pengkhianatan ini." Kata Tumpal mulai menyalahkan Beni.
"Wah kau ini Tumpal. Sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Bukankah kita berdua telah sepakat?" Kata Beni mencoba melepaskan diri dari Tumpal.
"Kau harus membantu ku Beni. Harus! Jika aku tertangkap oleh Martin, aku juga pasti akan menyeret mu. Aku tidak mau mati sendirian." Kata Tumpal mengancam.
"Kau tenang dulu Tumpal. Sekarang apa rencana mu?"
"Aku akan melarikan diri meminta perlindungan dari Birong. Kau juga harus membantuku untuk meyakinkan Birong bahwa aku bisa memberikan kontribusi bagi organisasi geng tengkorak nya." Kata Tumpal.
"Baik. Saat ini kau jangan kembali ke rumah mu. Kau berada di mana sekarang?" Tanya Beni.
"Aku berada di samping kafe Melody. Aku menunggu tadi sambil memata-matai Martin dan memberi informasi kepada Bedul bahwa Martin sudah tiba di kafe dekat jembatan itu. Tapi masalahnya adalah si Bedul malah terbunuh dan semua anak buahnya juga habis di bantai." Kata Tumpal.
"Tunggu. Tadi katamu kau berada di samping kafe melody. Lalu, bagaimana kau tau kalau Bedul telah mati terbunuh?" Tanya Beni.
"Baik. Kau jangan kembali ke rumah. Aku akan berpura-pura menemui Martin dan menanyakan bagaimana keadaannya. Jika sampai 1 jam tidak ada kabar dariku, maka kau segera pergi ke kota batu menemui Birong." Kata Beni.
"Baiklah. Aku akan menunggumu selama 1 jam. Jika kau tidak menghubungiku, maka aku akan melarikan diri." Kata Tumpal lalu mengakhiri panggilan.
Selesai melakukan obrolan di telepon, Beni pun langsung mencari nomor Martin di daftar kontak miliknya. Setelah ketemu, dia pun langsung membuat panggilan.
"Hmmm.., Beni. Kemana saja kau aku hubungi tidak bisa?" Terdengar satu suara di seberang telepon begitu telepon dari Beni terhubung dengan Martin.
"Maafkan aku bang. Tadi aku mengantar orang rumah ke rumah sakit untuk periksa. Aku tadi buru-buru sampai lupa hp-ku tertinggal di rumah." Kata Beni berbohong.
"Hmmm. Begitu rupanya. Baiklah. Aku saat ini sedang berada di Hotel Samporna bersama para staf dan orang-orang penting dalam organisasi kita. Aku akan melakukan rapat dan mengatur ulang seluruh peraturan dan tata cara di dalam tubuh organisasi kita. Jika kau ada waktu, kau boleh datang ke sini sekarang." Kata Martin yang tanpa basa-basi lagi langsung mengakhiri panggilan.
*********
Pertemuan antara orang-orang dalam organisasi kucing hitam milik Martin itu berlangsung dengan beberapa perubahan antara lain adalah, Pelucutan hak kepada Bani yang selama ini membawahi sekitar dua ratus orang anak buah. kini baik Beni maupun 200 orang anak buahnya semua di pecat.
Yang ke dua adalah, Meresmikan perekrutan Tigor sebagai orang paling kanan di sisi Martin.
Yang ke tiga, seluruh anak buah yang tergabung dalam organisasi kucing hitam mulai saat ini berada dalam kendali Tigor, dan Martin juga memerintahkan agar Tigor dan seluruh anak buahnya untuk memburu keberadaan Tumpal yang saat ini di cap sebagai penghianat.
Semua yang ada di tempat itu baik Beni, Manager Theo, Marven dan Monang sama-sama tidak membantah keputusan yang telah diambil oleh Martin. Hanya saja ketika itu Beni buru-buru menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Martin lalu berkata. "boss Tolong jangan pecat aku. Kita telah bekerja sama sejak masih muda dan itu bukan waktu yang singkat. Apakah hanya karna satu kesalahan dariku membuatmu ingin melupakan puluhan tahun kebersamaan kita?"
Mendengar ratapan dari Beni, Martin hanya bisa mendongak sambil memejamkan matanya dan berkata. "Beni. Aku memberikan kepadamu satu kesempatan lagi. Ini yang terakhir. pandai-pandailah kau menggunakan kesempatan yang terakhir ini." Kata Martin diikuti dengan tarikan nafas berat.
"Saat ini dengan masuknya Tigor ke dalam organisasi kita, setidaknya memberi nafas baru dalam organisasi ini. Aku memberikan kebebasan kepada Tigor untuk merekrut siapa saja yang dia rasa pantas untuk di rekrut dan mulai malam ini Geng kucing hitam harus berbenah. Harus lebih kuat. Tidak perlu menjadi yang terkuat. Asalkan bisa mempertahankan diri dari gempuran geng lain, itu sudah sangat membuatku tenang."
"Dulu waktu ayah ku kakek Marven masih hidup, geng kucing ini adalah antara geng terkuat. Kami bergerak di segala bidang dan merajai pasar gelap di negara ini. Bahkan beberapa kelompok mafia dari negara tetangga seperti Thailand, Hongkong, Taiwan dan Singapore harus rela antri demi mendapat pasokan stok barang dari geng ini. Namun itu dulu. Semenjak ayahku meninggal, banyak anggota dari geng ini akhirnya keluar dan berlomba-lomba membentuk perkumpulan sendiri. Antara pentolan yang keluar itu adalah abang adik Birong dan Togar."
Martin berhenti sejenak sambil menatap ke arah Tigor lalu melanjutkan. "Sekitar 10 tahun yang lalu, datang seorang pegawai polisi dari kapolda dan mengetuai kepolisian di kota batu. nama pegawai kepolisian itu adalah inspektur Bonar."
"Kehadiran pegawai polisi ini lambat laun membuat pergerakan Birong dan Togar serta beberapa komplotan lain ketika itu benar-benar merasa seperti di pinggir bibir jurang yang sewaktu-waktu bisa saja tergelincir. Birong yang merasa kehadiran anggota polisi yang jujur dan tidak mempan suap ini berinisiatif untuk mengajak seluruh anggota kelompok geng lain ketika itu yang masih berjalan sendiri-sendiri seperti Prengki, Bedul, Bongsor dan ketua komplotan geng kecil bernama Dagol. Mereka semua menerima ajakan bedul kecuali aku."
Next...