BLACK CAT

BLACK CAT
Api di Tasik putri



...Jembatan penghubung Kota batu-Tasik putri...


...*...


Pagi buta sekitar pukul 4 subuh yang seharusnya tenang dan sepi mendadak pecah oleh bising deru kendaraan roda dua dan roda empat.


Seperti di sengaja. Para pengendara dengan brutal menguasai jalan raya tanpa meninggalkan celah bagi pengendara lain yang ingin menuju ke kota Batu.


Tepat di atas jembatan di mana dulu Tigor bertempat tinggal bersama keempat sahabat nya hampir delapan tahun, para pengendara itu mulai memainkan gas sepeda motor itu membuat deru suara mesin sangat memekakkan telinga dan bau asap dari oli samping yang membuat rabun pandangan.


Seperti yang sudah direncanakan oleh Beni. Hal itu tentu saja menarik perhatian bagi anak buah Tigor yang di ketuai oleh Monang.


Mereka mulai keluar dari bawah jembatan dan langsung mendaki benteng berpasir itu untuk mencegat rombongan pembuat onar yang datang dari kota batu tersebut.


"Monang. Mereka sudah tiba." Kata salah seorang dari anak buah nya yang tergabung dalam kelompok yang bertugas sebagai garda terdepan.


"Berapa jumlah mereka?" Tanya Monang.


"Aku tidak pasti. Tapi yang jelas ada puluhan sepeda motor dan mobil." Jawab anggota itu.


Monang segera menimbang-nimbang sejenak lalu Tanpa membuang waktu lagi, dia segera mengirim pesan suara kepada Ucok untuk segera membawa anggota mereka yang berada di pusat hiburan menuju ke jembatan untuk memberantas anggota geng tengkorak yang ingin membuat kekacauan itu.


"Cok. Ternyata benar dugaanku bahwa mereka akan datang. Sekarang mereka sedang membuat onar di atas jembatan. Segera kerahkan sisa anak buah kita kemari. Kita akan mengepung mereka dan membantai mereka dibawah jembatan ini." Kata Monang dalam pesan suara tersebut.


Ucok yang saat itu memang sedang bersiap menunggu kabar, langsung membalas pesan dari Monang tersebut.


"Ok Monang. Saat ini aku akan mengerahkan semua anak buah untuk ke sana." Jawab Ucok singkat.


Hampir sekitar seratus orang mulai bergerak dari pusat hiburan itu menuju ke arah jembatan untuk menghadapi musuh yang datang dari kota batu.


Hal ini jelas tanpa pertimbangan. Mungkin mereka berfikir bahwa anggota geng tengkorak tidak akan ada yang mendatangi kota tasik putri dari arah Dolok ginjang.


Tidak adanya kepastian dari Monang tentang jumlah spesifik anggota geng tengkorak membuat mereka segera bergerak menuju kearah jembatan dengan penuh semangat.


Bagi mereka ini adalah kesempatan untuk membantai anggota geng tengkorak. Namun, hal yang tidak mereka duga adalah bahwa mereka saat ini sedang di awasi dari kejauhan oleh lima orang lelaki setengah baya yang sedang berada di dalam dua mobil mewah di dekat restoran samporna.


Begitu anggota yang dikerahkan oleh Ucok berangkat sekitar lima menit lama nya, kini dari setiap lorong gang bermunculan para lelaki berseragam hitam-hitam dengan jumlah hampir mencapai lima puluh orang dengan senjata besi di tangan masing-masing lalu membentuk kelompok menjadi dua bagian.


Sebagian langsung mengarah ke pusat hiburan dunia gemerlap malam, dan sebagian lagi memasuki Restoran Samporna dan mulai mengacak-acak restoran itu membuat semua Koki, pelayan dan Manager restoran itu lari tunggang langgang mencari selamat.


Kini tampak api mulai berkobar menjilati bagian-bagian di dalam pusat hiburan dan restoran itu.


Asap hitam tampak membumbung tinggi ke udara menyebabkan subuh yang masih gelap itu berubah kian kelam.


"Kalian semuanya segera menyebar. Kembali ke Komplek Elit. Lekas lah!" Teriak Beni kepada anak buah nya.


"Mengapa begitu buru-buru Beni?" Tanya Togar.


"Kau juga harus kembali bang Togar. Drama belum usai. Aku akan melimpahkan semua kesalahan ini kepada Monang. Dia harus tersingkir dari pusat hiburan ini. Sudah saatnya anak ku Irfan yang memegang kendali di pusat hiburan dan restoran samporna ini." Kata Beni bergegas memasuki mobil diikuti oleh Strongkeng dan Togi.


"Kita berpisah di sini Beni. Jangan lupa memberi kabar!" Kata Tumpal.


Beni tidak menjawab. Dia hanya tersenyum jahat sambil mengangguk dan segera memacu kendaraannya meninggalkan tempat yang sudah di lalap oleh api itu.


Sementara itu api terus merambat ke bangunan di kiri dan kanan pusat hiburan itu. Bahkan saat ini terus menjalar melahap rumah staf yang ditempat oleh Ucok dan kawan-kawannya.


Sementara itu asap yang mengepul dan membumbung tinggi tadi mulai kelihatan dari atas jembatan membuat para pembuat onar yang datang dari kota batu mulai bersorak riang.


"Sudah selesai. Hahahaha... Jebakan kita berhasil." Kata mereka.


"Uwuwuwuwuwuw... Hahahahaha... Kalian tertipu."


Mendengar apa yang di bicarakan oleh mereka, membuat Monang dan anak buahnya dengan posisi membelakangi jalur ke restoran samporna segera berbalik dan alangkah terkejutnya mereka melihat asap sudah membumbung tinggi dari titik yang mereka perkirakan adalah pusat hiburan dunia gemerlap malam.


"Bangsat....! Kita telah terkecoh." Kata Monang dengan tatapan berapi-api.


"Kepalang tanggung. Kita kubur dulu mereka ini baru kembali ke pusat hiburan." Seru Sugeng.


Mereka lalu bersiap-siap untuk melakukan serangan. Namun sebelum mereka bergerak, anggota dari geng tengkorak sudah menggeber sepeda motor mereka lalu berbalik arah dan kabur meninggalkan jembatan itu menuju ke kota batu.


"Kejar mereka!" Kata Monang memerintahkan.


"Percuma Monang. Kita tidak tau entah jebakan apa lagi yang akan mereka persiapkan untuk kita andai kita nekat mengejar mereka." Kata Jabat.


"Oh Tuhan. Selesai sudah. Semuanya sudah selesai. Habis lah aku kali ini." Kata Monang sambil tersandar lesu di besi pipa pembatas jembatan.


"Sabar Monang. Pasti ada yang membocorkan rencana kita. Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya bersatu menghadapi kemarahan Martin dan Marven." Kata Sugeng.


"Ayo kita kembali dulu. Jangan sampai Beni mengambil kesempatan untuk mencari muka lalu memojokkan kita." Kata Jabat.


Monang yang memang sudah pasrah dengan apa yang bakal terjadi hanya mengangguk lemas dan bangkit berdiri menuju ke sepeda motor miliknya.


Tak lama kemudian rombongan mereka pun berangkat beriringan di sepanjang jalan menuju ke pusat hiburan dunia gemerlap malam.


Setibanya mereka di depan restoran bahagia itu, ternyata keadaan lebih parah dari yang mereka bayangkan.


Kerusakan akibat kebakaran itu ternyata malahap hampir seratus meter persegi dari pusat hiburan dan restoran milik Martin itu membuat beberapa toko, rumah, kafe dan perumahan staf kini berubah warna menjadi hitam legam terpanggang api.


Tiba di sana mereka melihat Beni dan sekitar empat puluh orang anak buah nya mulai sibuk berjibaku membantu pihak pemadam kebakaran yang saat ini sedang berusaha keras memadamkan si jago merah.


Beberapa regu tampak siap siaga dengan penembak air untuk menjaga segala kemungkinan andai api kembali menyala dan merambat ke arah bangunan lain.


Beni yang saat ini berpura-pura panik tanpa sengaja terpandang ke arah di mana Monang berdiri dan langsung saja menghampiri.


"Hebat kau Monang! Dari mana kau? Kau benar-benar tidak becus dalam pekerjaan mu. Untuk apa kau di gaji mahal?"


"Beni. Aku tidak ingin berdebat dengan mu. Kali ini kau menang dan aku kalah."


Hanya itu yang diucapkan oleh Monang. Dia sudah tidak mampu lagi berkata apa-apa.


Kemarahan sudah memuncak di kepalanya. Namun untuk bertindak, tentu dia tidak memiliki alasan. Jika satu persen saja dari seratus persen alasan itu ada, sudah pasti saat ini dia akan memukul kepada botak milik Beni dengan batangan besi.


"Apa maksud mu Monang?" Tanya Beni pura-pura heran.


"Sudah lah Beni. Jangan berpura-pura lagi. Kau menang dan aku kalah. Tapi ingat! Berputar roda pedati. Suatu saat kau akan mendapat batu nya. Kau tenang saja. Aku tidak akan lari. Semua akan aku pertanggungjawabkan di hadapan Martin." Kata Monang lalu segera melangkah gontai meninggalkan tempat kejadian itu.


Tak lama berselang, pihak kepolisian kota tasik putri pun tiba di ikuti oleh sejumlah besar wartawan.


Kali ini Beni yang menjadi saksi mata dan seluruh jawaban dari pertanyaan itu adalah memojokkan Monang dan anak buah nya.