
Satu sosok hitam tampak sedang merayap di antara rimbunan semak bagaikan seekor kucing mengintai mangsa.
Dalam kepekatan malam itu, tatapannya tertuju ke arah bangunan tua yang sudah puluhan tahun terbiar itu.
Dari tempat persembunyiannya, dia melihat puluhan orang hilir-mudik seperti sedang mencari sesuatu dengan masing-masing menggunakan lampu senter milik Tentara.
Sesekali sosok hitam itu melirik ke belakang di mana terdapat saluran parit yang sebagian dinding beton nya sudah runtuh.
Ketika dia melihat tidak ada lagi bayang-bayang sahabatnya, dia pun mulai keluar dari persembunyiannya lalu,
Wuzz....
Sebuah bayangan melintas membuat beberapa orang yang memegang senter tanpa sengaja menyorot ke arahnya mulai berteriak.
"Siapa itu?"
Suasana kembali senyap.
"Ada apa?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Aku melihat bayangan hitam bergerak cepat lalu menghilang di balik semak sana." Jawab lelaki yang di tanya tadi.
"Ayo kita lihat!" Ajak temannya.
Beberapa orang itu mulai berjalan secara hati-hati mendekati rumpun rumput liar yang di tunjuk oleh rekannya barusan.
Kurang dari lima langkah lagi mereka akan mendekati gerombolan semak liar itu, tiba-tiba...,
Wuuuzzzz....
Slaaapppp....!
"Aghhhhhh....!"
Lelaki yang paling depan menjerit tertahan sambil memegangi lehernya lalu ambruk membuat beberapa temannya langsung melompat terkejut.
"Pisau!"
"Kurang ajar. Segera beri tanda bahwa mereka masih di sini!" Teriak salah satu dari mereka.
Setelah mendapat perintah, salah seorang dari mereka mulai mengarahkan lampu mode SOS ke arah bangunan.
Begitu mendapat tanda itu, berpuluh-puluh orang anak buah geng tengkorak mulai berdatangan ke arah cahaya lampu tadi.
Melihat semakin banyak yang berdatangan, Black Cat langsung bergerak bangkit kemudian melarikan diri ke arah pinggir parit.
Dia sengaja sedikit memperlambat larinya agar terlihat oleh orang-orang dari geng tengkorak dengan tujuan untuk memancing mereka supaya mengejar.
Dengan lari zig-zag, Black Cat terus menggiring orang-orang itu memasuki area perkebunan karet milik PT sampai sejauh 500 meter.
Ketika dia merasa sudah tepat di titik yang di tentukan, dia pun memberi tanda kepada sekitar 200 orang anak buahnya yang bersembunyi di dalam areal perkebunan itu untuk bersiap sedia menyambut kedatangan musuh sesuai dengan yang sudah mereka rencanakan.
"Hey.. Jangan lari kau!" Teriak para pengejar.
Mendengar teriakan ini, Black Cat berhenti sejenak lalu berbalik.
Ketika dia berbalik ke arah pengejar, tampak dua bila pisau melesat dari tangan kiri dan kanannya secara rambang menusuk dua orang dari orang-orang yang mengejarnya tadi.
"Akhhhh...!"
"Ughhh....!"
"Kurang ajar. Tembak dia!" Teriak salah seorang yang paling depan. Namun baru saja mereka mengeluarkan pistol, Black Cat sang sosok hitam itu sudah kabur memasuki areal perkebunan.
"Kejar...!"
"Jangan sampai lolos. Aku ingin memenggal kepada orang itu."
Mereka beramai-ramai mulai memasuki perkebunan karet itu. Terus semakin jauh ke dalam.
Tepat ketika mereka sampai di jalan tanah yang terdapat di tengah-tengah perkebunan itu, kini dari balik pohon tampak bayangan-bayangan hitam menabrak mereka dan menyerang secara membabi buta kemudian menghilang di balik pepohonan karet.
Hasil dari serangan kilat ini, hampir setengah dari mereka mengalami cedera luka dan sebagian ada yang tidak bisa lagi berdiri.
Dor...
Dor...
Dor.....!
"Kurang ajaaar.... Keluar kalian! Jangan jadi pengecut."
Terdengar suara tembakan membabi-buta secara acak sambil di selingi dengan teriakan penuh amarah. Namun selain dari suara jangkrik, tidak ada tanda-tanda kehidupan di areal perkebunan yang sangat gelap pekat itu.
"Bensin..!"
"Ini bensin...!"
Ketika lemparan kantong plastik itu berhenti, Kini dari arah lain berterbangan obor-obor dan begitu salah satu dari obor itu menyentuh mereka, lautan api pun segera berkobar membakar paling tidak 20 meter persegi dari area itu sehingga menjadi kolam api yang mendadak menerangi kegelapan malam.
Suara jerit pekik teriakan dan bau daging panggang mulai menerobos penciuman.
Beberapa orang dengan tubuh di balut api berusaha melarikan diri. Namun apa daya, tidak ada yang bisa melarikan diri dari dalam perkebunan itu karena telah di kepung oleh dua ratus orang anak buah Tigor.
Jauh sebelum kobaran api itu padam, satu pun tidak ada dari orang-orang yang terbakar itu masih dalam keadaan bernyawa. Dan itu sungguh sebuah acara bakar-bakar yang mengerikan.
Keadaan kembali hening walau api masih terlihat menyala di sana sini.
Dari ujung jalan, tampak sebuah sepeda motor yamaha R1 menderu menghampiri tempat kejadian itu lalu berhenti.
Seorang pemuda mengenakan celana sedikit besar dan berbaju putih turun dari sepeda motor itu dan berkata, "Semuanya harus segera keluar dari perkebunan ini. Setiap kelompok hanya boleh terdiri dari 5 orang dan tinggalkan kota batu ini secara bertahap."
"Siap Bang!" Kata mereka lalu segera membubarkan diri ke berbagai penjuru.
Selesai dengan instruksi nya, Pemuda yang mengendarai sepeda motor itu segera kembali dari arah datangnya tadi dan berhenti tepat di depan dua unit mobil Van.
"Andra! Segera berangkat sekarang. Gunakan kecepatan maksimal untuk segera melewati perbatasan kota batu ini. Keadaan mungkin akan kacau sebentar lagi ketika Birong mengetahui semua kejadian ini. Saat ini kemungkinan terbesar dia masih belum tau karena menghadiri acara pameran berlian di hotel milik nya. Namun ini tidak akan lama. Oleh karena itu, cepat berangkat!" Kata pemuda itu.
"Kau akan kemana Gor?" Tanya Andra.
"Aku akan mengawasi keadaan. Kembali aktifkan ponsel kalian. Kita harus terus berhubungan."
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan Acun ini?" Tanya Tigor.
"Aku memiliki rencana untuk Acun ini. Untuk sementara, bawa dia ke gang kumuh. Tapi ingat! Jangan sampai ada yang curiga."
"Baiklah. Kami mengerti."
"Bersiap berangkat!" Kata pemuda itu sambil memulas tali gas sepeda motor nya sehingga membuat sepeda motor berkecepatan tinggi itu melesat kencang seperti kuda yang di cambuk.
"Berangkat!"
"Ayo!"
Kedua mobil Van itu bergerak perlahan meninggalkan jalan tanah di areal perkebunan karet itu.
Begitu ban mobil itu menginjak aspal, Andra lalu melarikan mobil Van itu dengan kecepatan maksimal menuju ke perbatasan kota Batu-Kota Tasik putri.
"Kita kaya.... Ho ho ho kita kayaaa...."
"Beli mobiiiiil... Ho ho ho beli motor....."
"Aku kawin..... Ho ho ho aku kawiiiin...."
Begitu mobil Van melewati perbatasan kota Batu, Acong yang berada satu mobil dengan Andra segera bernyanyi sekuat-kuat tenaga nya meluapkan kegembiraan karena keberhasilan mereka merampok Acun dan Mr. BLA Chan dalam sebuah transaksi gila yang melibatkan tidak sedikit jumlah narkoboi serta puluhan juta dollar america uang tunai selain beberapa cek dengan jumlah yang cukup buat membeli motor beserta dealer showroom nya.
"Ini gila. Ini adalah pekerjaan tergila yang pernah aku lakukan seumur hidup ku. Biasanya mencuri telor ayam milik warga pun aku ketakutan. Kali ini dengan telunjuk bang Tigor, kita merampok puluhan koper berisi uang dan barang. Ini benar-benar gila." Kata Timbul sambil fokus mengemudikan mobilnya ditemani oleh Ameng.
"Aku masih belum percaya. Walaupun aku sering terlibat perkelahian, namun aku belum pernah menodongkan senjata palsu kepada seseorang yang memegang senjata benaran. Aku merasa bahwa nyawa ku sudah di ujung jempol kaki." Timpal Ameng sambil mengingat kejadian di atas bangunan tadi.
"Benar juga kata Acong. Bang Tigor pasti memiliki seribu satu cara untuk mengangkat derajat kehidupan kita. Buktinya. Hanya modal nekat dan kematangan rencana, kita berhasil." Kata Timbul.
"Apakah selama ini kau meragukan kreadibilitas seorang Tigor?" Tanya Ameng.
"Aku bersumpah demi arwah Ibu ku bahwa mulai hari ini, aku akan mengikuti kemana telunjuk bang Tigor memerintahkan ku. Dia tidak meleset. Perkiraan yang tepat dan sangat akurat. Yah. Memang tadinya aku meragukan bang Tigor. Aku hanya menghargai sumpah darah kita. Tapi setelah malam ketika kita merebut gang kumuh, itu mulai merubah cara fikir ku terhadap Bang Tigor." Kata Timbul.
"Aku sedikit berbeda. Aku mengira bahwa kita hanya akan begitu-begitu saja tanpa kemajuan. Ini karena kau tau sendiri bahwa bang Tigor seenaknya saja mengalah dengan menyerahkan gang kumuh kepada Beni. Sementara bekas luka ku ketika merebut kawasan itu baru saja sembuh. Tapi setelah aku fikir-fikir lagi, keputusan bang Tigor itu ada benarnya. Tidak boleh ada dua penguasa dalam satu kota."
"Tumben otak mu bener. Biasanya selalu keruh." Ejek Timbul.
"Setan kau Mbul. Eh tapi bener gak sih? Aku rasa, alasan bang Tigor melepas gang kumuh itu karena ingin menguasai kota kemuning. Jika hanya di gang kumuh, apa bedanya seperti kodok di bawah tempurung. Kesempatan untuk berkembang tidak akan kita dapatkan. Berbeda jika di kota kemuning. Hanya Jordan? Keciiiil....!" Kata Ameng sambil menjentikkan kuku jari tangannya.
"Hahahaha....!"
"Bang Tigor pasti memiliki rencana lain. Sekarang aku mau nyanyi dulu. Hahaha."
"Ku hamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran sering dua duaan."
"Aseeeek.... Tarek sis!'
"Semongkoooo...!"
"Hahahaha....."