BLACK CAT

BLACK CAT
Birong mulai mengatur rencana



Seorang lelaki setengah baya tampak sedang tergesa-gesa berjalan menemui seorang lelaki yang sama usia dengannya.


Tampak ada ekspresi licik dan penuh semangat di wajah lelaki itu.


Melihat seseorang yang dia kenal berjalan kearahnya, lelaki berbadan besar yang dihampiri itu segera bertanya. "Tumpal.., dari mana kau? Nampaknya bersemangat sekali kau menjelang sore ini."


"Ya lah. Eh Bongsor! Aku dapat kamar baik dari Beni." Kata lelaki setengah baya bernama Tumpal itu.


"Kabar baik apa itu?" Tanya Bongsor ingin tau.


"Kau akan tau nanti. Sekarang ayo temani aku menemui Birong!" Ajak Tumpal.


"Ayolah. Aku pun ingin tau kabar apa yang kau bawa itu." Kata Bongsor sembari berdiri lalu mereka berjalan beriringan memasuki Villa tempat ketua mereka bernama Birong tinggal.


Setelah mereka berdua tiba di ruangan tengah yang luas di dalam Villa itu, di sana mereka melihat Prengki dan Togar sudah berada di sana bersama dengan seorang lelaki berbadan besar berkulit hitam sedang duduk dengan kaki terjulur di atas meja. Di tangan lelaki berkulit hitam itu tampak sedang memainkan rokok cerutu.


"Tumpal dan kau bongsor. Dari mana saja kalian?" Tanya lelaki berkulit hitam itu.


"Tadi aku dari rumah bang. Baru saja mau masuk, tiba-tiba aku bertemu dengan si Tumpal ini. Katanya dia mau bercerita sama abang tentang sesuatu yang dia dapat dari Tasik putri." Kata Bongsor menjelaskan.


"Oh. Berita apa itu? Kemari kau Tumpal! Cepat kau ceritakan!" Kata lelaki berkulit hitam itu.


"Begini Birong. Aku mendapat kabar dari Beni dari Tasik putri tentang..," Lalu Tumpal menceritakan semua yang dirinya dan Beni obrolkan tadi di telepon.


"Hah.. Mantap kali lah itu." Kata Birong sambil menampar pahanya sendiri.


"Paten bang?" Tanya Bongsor.


"Paten kali lah. Tak sia-sia aku memberikan posisi mendiang Bedul sama kau Tumpal.


"Jadi, macam mana Birong?" Tanya Tumpal.


"Kau tunggu dulu. Aku akan menghubungi anak ku dulu."


"Oh ya. Prengki! Kau kumpulkan sekitar 20 orang anak buah mu. Lalu suruh mereka langsung bergerak ke tikungan pitu tepatnya di perkebunan kelapa sawit perbatasan antara Tasik putri dan Dolok ginjang. Siagakan saja mereka dulu. Kuasai area itu. Katakan juga kepada mereka untuk tidak bertindak sebelum mendapatkan perintah dariku." Kata Birong.


"Siap Bang. Pokoknya tenang. Kali ini kita harus berhasil." Kata Prengki sambil tersenyum jelek.


Setelah berkata seperti itu, Prengki pun langsung bergegas meninggalkan ruangan itu sambil besiul-siul riang.


"Hmmm..., kalian tunggu sebentar. Aku akan menelepon anak ku dulu." Kata Birong sambil mengeluarkan hp-nya dan langsung mencari nomor telepon anak lelakinya setelah itu lansung membuat panggilan.


"Hallo Ayah."


"Hallo Amooong hasian ku. Di mana kau saat ini nak?" Tanya Birong kepada anak lelakinya itu.


"Aku sedang berada di perbatasan kemuning ini Yah. Tepat nya di lapangan golf kota Kemuning."


"Kemari dulu kau hasian. Ayah ada tugas untuk kau ini. Cepat lah kau datang!" Kata Birong dengan nada suara penuh kasih sayang.


"Ah mana bisa Yah. Sebentar lagi anak mu ini mau bertarung sama si Panjol. Bukan tanggung-tanggung ini. Taruhan kami kafe remang dekat sempadan."


"Aiiih... Kalau itu mau kali lah kau."


"Makanya kalau mau, kau pulang dulu. Ayah sudah mengatur rencana untuk mu agar bisa mendapatkan putri si Lalah itu. Kalau kau dapat si Wulan ini, tiap malam kau bisa main golf sama dia di kamar." Kata Birong sambil tertawa.


"Hahahaha..." Terdengar suara tawa putra Birong di telepon.


Dasar anak dan ayah. Sama-sama oleng.


*********


Sepeda motor Yamaha R1 biru silver itu menderu laju meninggalkan Blok B tasik putri menuju ke arah belakang restoran samporna.


Seperti diketahui bahwa di belakang restoran ini terdapat satu bangunan pusat hiburan yang menyediakan berbagai hiburan baik itu diskotik, karaoke, meja biliar, wanita ayam dan banyak lagi tawaran yang penuh kemaksiatan yang disediakan di pusat hiburan ini.


Tempat pusat hiburan ini di kenal dalam kalangan orang-orang Tasik putri dengan nama Gemerlap malam, dimana hanya malam saja tempat ini beroperasi. Dan semua urusan di tempat ini adalah tanggung jawab anak buah Geng kucing bernama Monang The Bapak ayam.


Ketika sepeda motor itu berhenti tepat di samping salah satu rumah yang memang di sediakan untuk para staf, kini tampak seorang pemuda sangat tampan dengan rambut belah tengah sedikit pirang turun dari sepeda motor itu dan langsung berjalan menuju ke dalam bangunan tersebut.


"Woy Tigor. Hahaha... Come to Monang the bapak ayam! Kau sepertinya sangat tergesa-gesa. Ada apa?" Tanya seorang lelaki yang sedikit sangar namun ramah begitu melihat siapa yang datang.


"Hahaha... Bapak ayam sialan. Aku sedang mencari Karman. Mana dia?" Tanya Tigor sambil tertawa lalu menjabat tangan lelaki yang bernama Monang itu.


"Ada apa dengan Karman? Apakah anak buah besar mulut itu membuat ulah?" Tanya Monang.


"Tidak ada masalah baru yang dia timbulkan. Hanya saja masalah yang dulu masih belum kelar." Kata Tigor membuat Monang langsung mengerutkan kening.


"Apa maksudnya Gor. Masalah lama belum kelar? Masalah yang mana?" Tanya Monang beruntun.


"Masalah dia menjambret tas tangan Wulan putri Lalah itu lah."


"Lalu?"


"Lalu apa. Marven mengetahui hal ini dan dia ingin agar Karman meminta maaf langsung di depan Wulan. Kau tau kalau Wulan akan datang sore ini untuk mengantar mobil pesananku. Nah di sini kesempatan Marven untuk menjadi Hero. Dia ingin memarahiku dan Karman di depan Wulan untuk mencari muka. Dia ingin Wulan terkesan dengannya." Kata Tigor menjelaskan.


"Karman dan kau pasti akan bernasib buruk sore ini. Hahaha.." Kata Monang sambil tertawa.


"Itulah kau. Anak buah sampai menjambret. Malah kita hampir berkelahi gara-gara anak buahmu yang memakai ilmu padi itu." Kata Tigor sambil tersenyum kecut.


"Kau tunggu sebentar Gor! Aku akan memanggil Karman dulu." Kata Monang sambil pergi menuju ruangan belakang dan tak lama kemudian dia sudah datang kembali dengan membawa seorang lelaki yang terlihat salah tingkah.


"Bro Tigor. Ada apa kau mencari ku? Aku kalah judi ini. Modalku masih belum kembali." Kata Karman sambil merengut.


"Kau ini. Judi yang kau fikirkan. Nanti uang mu habis kau merampok pula. Kalau kau salah sasaran lagi, aku sendiri yang akan memotong tanganmu sampai batas sikut." Kata Tigor mendadak lucu melihat ekspresi Karman.


"Sebenarnya ada apa Bro Tigor?" Tanya Karman.


"Kau ikut saja. Marven ingin bertemu dengan mu." Kata Tigor.


"Aku pamit dulu Monang. Kapan-kapan aku akan datang kesini. Jika ada masalah, jangan sungkan menghubungi ku." Kata Tigor sambil menjabat tangan Monang kemudian keluar dari ruangan itu diikuti oleh Karman dari belakang.