
Seorang lelaki setengah baya tampak keluar dari dalam rumah dengan tergopoh-gopoh sambil membawa map.
Begitu lelaki setengah baya itu sampai di hadapan seorang pemuda tampan namun memiliki sorot mata permusuhan, lelaki setengah baya itu buru-buru menyerahkan map yang berada ditangannya kepada pemuda itu.
"Maaf Bang Tigor. Di dalam map ini ada surat permohonan Rio untuk pindah sekolah dan sudah saya tandatangani. Juga ada laporan nilai semester beserta rapot. Karena dia memilih pindah sebelum ujian dingelar, maka hasil nilai tersebut tidak dimasukkan ke dalam rapot." Kata kepala sekolah itu ketakutan.
"Nah begini baru benar. Bukannya saya tidak menghormati anda sebagai guru. Apa lagi anda adalah kepala sekolah. Namun jika anda bersikap pilih kasih, apa bedanya dengan koruptor." Kata Tigor.
Ketegangan di wajah nya saat ini berangsur-angsur mengendor. Sebelum pergi, Tigor sempat menyalami amplop berisi uang sebagai tanda terimakasih. Lalu dia pun membungkuk hormat kemudian mengajak pak Harianja untuk meninggalkan rumah dinas kepala sekolah tersebut.
"Harusnya kau bersikap sedikit lunak Gor! Walau bagaimanapun, dia itu adalah seorang guru. Durhaka kepada guru itu tidak baik." Kata pak Harianja menasehati.
"Maafkan aku Pak. Aku kalut. Nyawa Rio itu sedang terancam. Jika aku tidak bergerak cepat, seumur hidup aku akan dikejar rasa penyesalan." Kata Tigor.
"Jadi, sekarang bagaimana? Apa langkah mu selanjutnya?" Tanya pak Harianja.
"Aku ingin bertanya kepada bapak. Bagaimana dengan pekerjaan bapak di Tasik putri ini? Apakah masih menjadi seorang pemulung?" Tanya Tigor.
"Hmmm... Entahlah Gor. Saat ini serba sulit. Pemulung? Aku kalah dengan orang muda yang masih segar. Bahkan rumah sewa ku pun sudah dua bulan ini menunggak." Kata pak Harianja dengan raut wajah mengeluh.
Ada rasa bersalah di dalam hati Tigor. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan pak Harianja. Orang yang pernah berjasa kepada Rio adiknya.
Berfikir sampai di sini, Tigor pun mulai memberanikan diri mmengajukan permohonan kepada Pak Harianja.
"Pak. Saya ada satu permintaan. Semoga bapak tidak beranggapan bahwa saya sedang menghina bapak." Kata Tigor ragu-ragu.
"Ngomong apa kau ini Tigor. Katakan saja. Jangan segan-segan." Kata pak Harianja.
"Begini Pak. Jika bapak tidak keberatan, bagaimana jika bapak saja yang mengurus Rio. Nanti soal segala sesuatunya, saya akan mengirim uang untuk biaya sekolah Rio dan untuk biaya kebutuhan kalian di sana. Pokoknya bapak tidak usah kerja, tidak usah mikir ini itu. Bapak hanya menemani Rio saja. Bagaimana pak. Tapi maaf loh sebelumnya. Bukannya saya sepele sama bapak." Kata Tigor sedikit sungkan.
"Kemana kau akan memindahkan Rio?" Tanya pak Harianja.
"Menurut bapak, apakah Jakarta aman?" Tanya Tigor.
"Sebenarnya dimana-mana aman. Asalkan tidak ada yang membocorkan keberadaan Rio. Orang bijak berkata, tempat yang paling berbahaya itu adalah tempat yang paling aman." Kata pak Harianja.
"Maksud Bapak?"
"Kota Batu. Selain sahabat-sahabat mu, tidak ada yang tau tentang Rio. Aku bisa mengakuinya sebagai anak ku. Tapi kau jangan sampai terlepas kata. Rahasiakan kepada siapa saja termasuk keempan teman mu Sugeng, Thomas, Jabat dan Ucok. Karena tidak mustahil jika mereka di paksa, mereka pasti akan bernyanyi." Kata Pak Harianja.
"Jadi, apakah bapak setuju untuk mengasuh Rio?" Tanya Tigor penuh harap.
"Kalian ini adalah anak-anak ku. Maka sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengasuh anak-anak nya." Kata pak Harianja.
"Terimakasih pak. Terimakasih banyak. Aku akan mengatur semuanya. Bapak tinggal pergi dan beli rumah di sana. Kemudian menyerahkan Rio kepada Guru. Aku hanya ingin agar dia menjadi seorang polisi seperti cita-citanya. Ketika nanti dia menjadi polisi, aku akan cuci tangan dan bertaubat." Kata Tigor penuh semangat.
"Baiklah. Kau bisa tenang. namun jangan lupa untuk mencari orang yang memiliki kemampuan dan setia. Bagaimanapun, aku hanya bisa mengasuh tidak menyelamatkan. Kau tau kalau aku sudah tua. Mana aku bisa berkelahi untuk membela diri andai ada apa-apa." Kata pak Harianja.
"Nanti aku fikirkan. Ini masalah serius. Tidak bisa buru-buru." Kata Tigor.
"Kapan rencana mu mengirim kami ke kota Batu?" Tanya pak Harianja.
"Bukan aku pak. Tapi bapak sendiri. Aku hanya akan membuntuti kalian dari belakang sebagai pengawal bayangan." Kata Tigor.
"Menurut ku, lebih cepat lebih baik. Begini saja. Malam ini aku akan mengemasi barang-barang ku. Besok pagi kami akan berangkat ke kota Batu." Kata pak Harianja.
"Sip. Mantap Pak. Aku setuju saja."
"Setelah nanti aku antar bapak pulang, bapak jemput lah Rio itu. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya termasuk uang untuk bapak nanti membeli rumah, sebidang tanah untuk bercocok tanam dan segala kebutuhan lainnya." Kata Tigor dengan sangat bersemangat.
"Ingat untuk tidak mengunjungi kami terlalu sering. Jika tidak, kau mungkin akan menyesal. Jika berkunjung, pastikan tidak ada yang melihat mu. Mngerti?"
"Mengerti Pak. Tenang saja. Masalah menyelinap, itu adalah keahlian ku." Kata Tigor.
Setelah mengantar pak Harianja sampai di depan pintu, Tigor pun meminta diri untuk pamit. Tujuannya saat ini adalah menarik uang dari bank, kemudian berangkat lagi ke rumah pak Harianja secara diam-diam untuk menjaga keamanan orang tua itu beserta adiknya.
Walaupun belum ada yang mengendus keberadaan adiknya, tapi bagi Tigor, bergerak selangkah di depan lebih baik daripada tertinggal di belakang.
*********
Sebelum kembali ke rumah, Tigor langsung berangkat menuju bank terdekat untuk menarik uang demi keperluan pak Harianja dan adiknya.
Setelah itu Tigor sengaja mengumpulkan anggota rekrutannya sekitar dua ratus orang demi membahas sesuatu masalah untuk kelancaran kepindahan Rio bersama pak Harianja ke kota Batu.
Bagi mereka semua, hanya ada dua orang yang bisa memerintah mereka. Yang pertama adalah Tigor. Setelahnya baru Martin.
Walaupun Martin adalah ketua dari kelompok kucing hitam, namun Tigor lah yang merekrut dan merekomendasikan mereka. Oleh karena itu, mereka lebih setia kepada Tigor dan menganggap Tigor sebagai Abang daripada Martin yang sama sekali tidak mereka kenal.
"Gor. Sebenarnya ada apa kau memanggil kami untuk datang kemari?" Tanya Andra penasaran.
"Betul itu bang. Ada apa? Apakah kita mau melebarkan kawasan kekuasaan kita?" Tanya Ameng.
"Ketahuilah untuk kalian semua. Saat ini aku membutuhkan bantuan kalian. Kalian tau bahwa mereka, (Geng tengkorak) sedang berusaha untuk melacak identitas ku dan adik ku. Kalian tau kenapa?" Tanya Tigor.
"Kami mana tau bang. asal usul mu pun kami tidak tau. Yang kami tau, kau adalah penguasa jembatan ini. Hanya itu." Kata Acong.
"Sekarang ini aku akan menceritakan asal usul ku kepada kalian. Sebenarnya aku adalah anak tertua dari mendiang Kapten Bonar. Kepala polisi kota Batu bagian kriminal dan narkotika. Ayah ku beserta ibu ku juga adik angkat nya tewas ditangan geng tengkorak sekitar delapan tahun yang lalu. Hal inilah yang memaksa aku harus menjadi gelandangan bersama dengan adikku."
"Tidak ada yang tau keberadaan kami selama ini. Hingga aku bisa memupuk rasa dendam dihatiku dengan sangat subur terhadap komplotan yang bercokol di kota Batu itu. Namun sekarang mereka mulai menyelidiki identitas ku serta adikku. Jika itu aku, sama sekali aku tidak takut. Namun saat ini adikku belum tau apa-apa. Dia masih sangat muda. Oleh karena itu aku akan memindahkan adikku dari tasik putri ini ke tempat yang aman." Kata Tigor menjelaskan.
"Lalu bang, apa hubungannya dengan kau mengumpulkan kami di sini?" Tanya Timbul.
"Kemana kau akan memindahkan adik mu Gor?" Tanya Andra.
"Aku akan memindahkan adik ku ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya." Jawab Tigor berbohong.
Sesuai dengan yang telah di pesankan oleh pak Harianja bahwa Tigor harus berhati-hati dan tidak boleh menceritakan kemana tujuan sebenarnya dia memindahkan adiknya.
"Apakah abang mau kami mengawal adik mu sampai ke Jakarta?" Tanya Acong.
"Tidak. Bukan itu maksud ku. Aku menduga, bahwa saat ini orang-orang dari geng tengkorak pasti masih terus mencari keberadaan diriku dan adik ku. Aku khawatir jika aku memindahkan adikku, ini akan menimbulkan kecurigaan. Oleh karena itu, aku meminta kalian untuk membuat mereka sibuk. Dengan begitu, konsentrasi mereka akan terpecah." Kata Tigor.
"Maksud mu Bang?" Tanya Ameng.
"Ameng, Andra, Timbul, dan kau Acong! Ambil masing-masing lima puluh orang! Aku akan memberikan lokasi-lokasinya. Kalian harus membuat kekacauan di empat titik sekaligus di kota Batu. Jangan tunggu lama. Setelah membuat kekacauan dan kerusakan, kalian harus segera kabur dan lalukan kerusakan di tempat lain. Dengan begini, Birong pasti akan menarik seluruh anggota nya yang terpencar untuk mengejar kalian. Bawa mereka ke perbatasan kota Kemuning. Aku akan memerintahkan Black Cat untuk menghadang mereka di sana." Kata Tigor.
"Black Cat?"
"Wah hebat bang Tigor bisa memerintahkan manusia berhati buas itu."
"Gawat. Jika itu Black Cat, pasti akan ada darah. Aku suka... Aku suka...!"
Mereka saat ini saling berbisik antara satu dan yang lain. Walaupun mereka belum pernah melihat Black Cat bertarung, namun desas desus yang mereka dengar selama ini adalah, jika Black Cat sudah mengincar seseorang untuk menjadi Target, maka jangan harap orang itu bisa lepas.
"Dalam kertas ini ada dua titik lokasi yang menjadi target bagi setiap kelompok." Kata Tigor sambil menyerahkan masing-masing selembar kertas kepada mereka. "Kalian harus bertindak tepat pukul satu malam, lari dan lanjut lagi pukul tiga subuh, lalu kalian harus lari ke perbatasan kota Kemuning. Hanya dengan cara ini aku bisa membawa adikku ke bandara tanpa ada yang akan membuntuti. Aku tidak ingin ada yang mengenali wajah adik ku. Maka dari itu, aku menagih ikrar sumpah darah kalian." Kata Tigor.
"Bang. Demi kau yang sudah mengangkat derajat kami, mati pun aku sanggup bang. Geng tengkorak itu terlalu kecil. Ayo kita berangkat sekarang!" Kata Acong.
"Yang mau bergabung dengan ku, berbaris di sini!" Teriak Andra.
"Geng Acong, berbaris di sini!" Kata Acong.
"Hayya.. Ini Ameng a. Lu jangan takut ooo... Ini Ameng lee. Lu beldili di sini. Owe mau ajak lu olang makan siomay." Kata Ameng menahan tawa.
Baginya mereka mungkin mengusik geng tengkorak seperti menjuluk sarang tawon. Tapi bagi Ameng, itu adalah sebuah kesenangan.
"Apakah kalian siap Timbul dan tenggelam bersama aku?" Tanya Timbul dengan semangat.
"Ok. Sudah siap semua kan? Sekarang kalian boleh berangkat. Aku sudah meminta Karman menyewa bus mini untuk kalian. Hati-hati. Jangan sampai terluka. Uang kita belum cukup buat beli obat." Kata Tigor.
"Luka itu sudah biasa bang. Pelan-pelan. Kami percaya bahwa abang akan memikirkan sesuatu yang bisa menghasilkan uang buat kita. Makanya kita harus semangat. Kelak kita akan buka usaha sendiri dengan abang menjadi ketua nya. Walaupun kita masih di bawah Martin, tapi kita bisa kaya. Ya kan teman-teman?!" Kata Ameng.
"Benar. Kita pelan-pelan Gor. Tapi jangan terlalu lamban." Kata Andra.
"Selesaikan yang ini dulu. Setelah adikku aman, aku akan mengajak kalian merampok. Minggu depan Acun akan datang melakukan transaksi. Mereka membawa uang dan obat-obatan. Kita rampok dan jadikan itu sebagai modal usaha. Bagaimana?" Tanya Tigor.
"Hahaha... Kau paling cepat dapat informasi bang. ok kami berangkat dulu. Setelah ini, kita akan merencanakan pekerjaan selanjutnya dengan matang."
"Berangkatlah. Aku ada urusan. Ingat! Jam tiga subuh. Apa bila Black Cat bertindak, kalian jangan dekat-dekat. Dia tidak bisa mengenali siapa lawan dan kawan di dalam kegelapan. Sudah ku peringatkan. Jika kalian terluka karena tidak mendengarkan perkataan ku, jangan salahkan siapapun. Mengerti?" Kata Tigor.
"Siap bang!"
"Ok. Berangkat segera!" Kata Tigor sambil melompat dari sebongkah batu yang dia injak kemudian berlari mendaki benteng berpasir pembatas sungai dan pemukiman warga kemudian terus berjalan menuju ke kafe tempat dia dulu biasa ngamen.