BLACK CAT

BLACK CAT
Ronggur ingin mengganggu Tigor



"Bang. Bagaimana dengan kontraktor yang akan membangun di sekolah dan panti asuhan milik mu itu?" Tanya Ucok kepada Tigor di saat mereka sedang kumpul-kumpul bersama.


"Sudah aku tetapkan. Mereka adalah kontraktor dari luar negri." Jawab Tigor.


"Wah. Luar negeri bang? Pasti malah harga yang mereka inginkan?!" Kata Sugeng.


"Pasti lebih mahal daripada kontraktor lokal. Tapi banyak keuntungan yang bisa kita dapat dari mereka ini. Kata Mirna, hal yang paling utama adalah mereka ini adalah perusahaan yang besar yang bergerak di bidang konstruksi. Masalah tenaga kerja, tenaga pakar di bidang konstruksi dan masalah tenaga keamanan sudah tidak perlu diragukan lagi. Mungkin dalam beberapa hari ini kami akan mengadakan pertemuan untuk pembahasan lebih lanjut." Kata Tigor.


"Hebat kau bang. Benar-benar salut aku sama kau. Dari gelandangan, menjadi pengamen. Kemudian menjadi tukang parkir, lalu di angkat oleh Martin menjadi bawahan dan sekarang kau menjadi Bos nya di kota Kemuning ini. Tepuk tangan untuk bang Tigor!" Kata Jabat sambil bertepuk tangan.


"Ini mungkin rencana dari Martin untuk memindahkan pusat kekuasaan organisasi geng kucing hitam ke kota Kemuning ini. Jadi, kita ini hanyalah sebagai perintis jalan saja bagi membuka laluan kepada mereka." Kata Andra pula.


"Apa yang kau katakan itu mungkin ada benarnya. Ini karena di kota Tasik Putri, terlalu banyak P3." Kata Monang pula.


"Apa itu P3 bang?" Tanya Thomas.


"Pengintai, Penjilat dan Pengkhianat." Jawab Monang.


Lebih lanjut, Monang kembali berkata. "Geng kucing hitam ini sebenarnya tinggal menunggu waktu untuk hancur saja. Aku melihat keretakan-keretakan kecil yang tinggal menunggu saatnya saja untuk pecah. Coba kalian pikir sendiri. Martin yang pendiriannya terlalu lembut, Beni yang sangat pandai menjilat dan menghasut, sementara Marven yang labil dan mudah dimanfaatkan. Seandainya aku masih berada di pusat hiburan dunia gemerlap malam, aku juga akan mengundurkan diri dan memilih mengikuti Tigor ke kota Kemuning ini." Kata Monang.


"Keutuhan sebuah organisasi itu adalah bagaimana anggotanya menggalang persatuan. Jika ada di antara mereka yang sibuk saling berebut tanpa memperdulikan arti berbagi, maka kehancuran itu sudah semakin dekat. Ini contoh untuk kalian semua. Jadikan itu sebagai perumpamaan jika tidak ingin mengikuti jejak mereka dan bernasib sama."


"Aku hanya mengikuti apa yang mereka mau sambil mengatur sesuatu yang aku mau. Percuma memberi peringatan kepada orang yang sama sekali tidak mau peduli terhadap peringatan yang kita beri." Kata Tigor meluapkan uneg-uneg nya.


"Sekarang kita sudah jauh dari Beni. Aku merasa sedikit lega." Kata Acong.


"Gor. Andai suatu saat nanti ada pergesekan antara kita dan Beni, aku mohon jangan bunuh Beni itu! Karena nyawa dia milik ku." Kata Monang dengan wajah merah.


"Tenang saja Monang. Target ku bukan Beni. Tapi Birong dan Togar." Kata Tigor.


"Kami semua akan selalu mendukung mu bang." Kata Jabat.


"Terimakasih. Kita adalah saudara. Saat ini, kita baru saja menetap di sini. Kita masih perlu meluaskan pengaruh. Kelak kalau panti jompo dan panti asuhan itu sudah selesai, kalian bantu aku untuk menjalankannya. Di permukaan kita baik. Di belakang kita adalah Mafia."


"Tapi tidak menyusahkan orang kecil kan bang?"


"Ya tentu tidak lah. Makanan kita yang besar-besar. Kemudian bantu yang kecil. Masalah yang kita beri ke mereka Halal atau Haram, biarkan Tuhan yang menentukan. Daripada mereka terlunta-lunta di jalan. Lebih baik kita pungut dan di didik. Siapa tau kelak bisa menjadi Mentri, atau presiden sekalian." Kata Tigor.


"Pokoknya nanti kalau sekolah sudah berdiri, kita semua akan belajar. Abang nanti cari guru wanita yang cantik bang! Biar betah kami belajar." Kata Ameng.


"Hahaha. Kau ini Meng. Nanti lah kita atur." Jawab Tigor.


"Kebayang kan gimana jadinya dua ratus orang duduk berbaris sambil menenteng buku dan pinsil. Mana sudah berkumis semua. Hahaha..." Kata Andra.


"Mau bagaimana lagi. Nasib orang berbeda-beda. Kita dulu terlahir tidak seberuntung mereka yang anak orang kaya. Atau minimal lah sederhana. Kita kan dibesarkan di jalananan. Syukuri aja. Ini juga udah sebuah nikmat dari Tuhan." Kata Tigor bermaksud membesarkan hati sahabatnya itu.


Seorang pemuda yang tidak terlalu tampan bergegas memasuki rumah besar yang terdapat di komunitas elite kota Kemuning.


Dari wajahnya yang tampak seperti orang yang grasak-grusuk itu mencerminkan bahwa pemuda ini memiliki temperamen yang labil.


Sambil melangkah lebar, pemuda itu menghampiri seorang lelaki yang kalau di lihat dari usia, hampir sebaya dengan Martin, Beni ataupun Lalah.


Pemuda yang baru saja memasuki rumah besar itu langsung menghempaskan pantatnya di sofa bersebelahan dengan wanita setengah baya.


"Dari mana kau Ronggur?" Tanya lelaki setengah baya itu.


Lelaki setengah baya itu adalah Jordan. Selama ini dia yang menjadi penguasa di kota Kemuning ini.


Beberapa tahun yang lalu dia adalah mitra kerja Martin dan atas ajakan darinya, Martin pun akhirnya membuka usaha di kota Kemuning ini.


Namun akhir-akhir ini hubungan kedua ketua ini retak karena Jordan lebih memilih untuk membentuk aliansi dengan geng tengkorak dan membelakangi geng kucing hitam.


Hal ini tentu saja membuat Martin murka.


Atas usulan dari Tigor, Tigor menyarankan agar Beni di kirim ke kota Kemuning ini dengan tujuan untuk menjaga keamanan dari seluruh aset Martin yang berada di kota ini. Tapi apa daya, Tigor yang kalah licik dari Beni lah yang akhirnya dipindahkan ke kota Kemuning ini.


"Aku dari melihat-lihat perumahan staf milik Martin itu, Ayah. Ternyata benar bahwa Martin telah memindahkan Tigor dan seluruh anak buah gelandangan nya itu pindah ke kota ini. Bahaya besar bagi kita Ayah." Kata Ronggur.


"Ayah tau. Tapi mereka pindah kemari secara legal. Siapa yang bisa mencegah? Perusahaan milik Martin seperti Hotel, restoran, kafe, spa, pusat hiburan, karaoke dan lain-lain semuanya terdaftar di kantor perintah daerah. Mereka juga taat pajak. Lalu apa yang bisa kita lakukan?" Tanya Jordan.


"Itu lah Ayah. Coba sebelum mereka datang kita serang terlebih dahulu pusat hiburan itu. Kan bagus."


"Kau ini Ronggur. Geng kucing hitam tidak seperti dua tahun yang lalu. Mereka sekarang sudah kuat. Tuh contohnya geng tengkorak. Hanya dengan Tigor saja, mereka di buat porak poranda. Apa kau mau kita mengalami nasib yang sama dengan si Birong?" Tanya Jordan.


"Lalu untuk apa kita bersekutu dengan geng tengkorak jika tidak ada manfaatnya sama sekali. Ah buang-buang waktu saja."


"Bukan dengan kekerasan. Untuk saat ini hindari kekerasan. Kami memiliki rencana. Geng kucing hitam tidak akan lama lagi. Kau tenang lah dulu. Setelah semuanya berjalan sesuai rencana, baru kita gunakan kekerasan. Mengerti?" Tanya Jordan.


"Aku tidak mau tau Ayah. Ayah silahkan dengan rencana yang akan ayah jalankan bersama mereka itu. Aku akan mengikuti caraku sendiri."


"Apa maksudmu Ronggur?" Tanya Jordan.


"Aku akan mengganggu mereka setiap ada kesempatan sampai mereka tidak betah di kota Kemuning ini. Lihat saja! Sebelum aku bisa mengusir Tigor si gembel sampah itu dari kota Kemuning ini, aku tidak akan puas." Kata Ronggur dengan geram.


"Terserah kau saja lah Ronggur. Tapi ingat! Jika kau tidak mampu melawan Tigor, jangan dipaksakan." Kata Jordan memperingatkan.


"Aku? Apalah aku layak kalah dengan Tigor itu. Huhh.. sampah seperti itu tidak pantas untukku. Sudah lah Ayah. Aku mau keluar lagi. Hatiku tak tenang kalau hanya duduk saja seperti ayah di rumah. Aku pergi dulu!" Kata Ronggur sambil bangkit berdiri.


"Hmmm... Anak bandel." Omel Jordan sambil memperhatikan kepergian putra nya itu.