
"Terimakasih bang, karena sudah menyelamatkan nyawa saya." Kata Karman sambil bangkit berdiri.
"Pergi dari sini dan jangan katakan apapun yang kau ketahui tentang aku. Jika sampai ada orang lain yang tau, maka aku yang akan membunuh mu."
Datar sekali nada bicara yang diucapkan oleh lelaki yang mengenakan topeng kucing itu. Tanpa nada, tanpa ekspresi dan terkesan dingin.
"Baik bang. Saya berjanji akan diam." Kata Karman menggigil ketakutan.
"Sekarang kau boleh pergi. Ingat lah untuk tidak memandang kebelakang!" Kata Black Cat memperingatkan.
"Iy.. Iya bang." Kata Karman lalu segera lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di depan kafe, tampak seorang gadis berusia sekitar 20-an tahun sedang mengomel di depan enam orang laki-laki yang terlihat sangat menyedihkan.
Gadis itu terlihat sangat murka atas kegagalan orang-orang suruhannya itu. Bukan hanya gagal. Mereka bahkan pulang dalam keadaan babak belur.
"Bodoh betul kalian ini. Untuk menghajar satu orang saja kalian tidak becus. Badan saja yang di besar-besarkan. Tenaga kurang. Sia-sia saja ayah ku memelihara kambing bandot lemah seperti ini." Kata gadis itu dengan kemarahan yang sudah memuncak.
"Maaf Non Wulan. Bukannya kami tidak sanggup menghajar jambret itu. Ketika kami akan menangkap nya, tiba-tiba muncul seseorang mengenakan topeng kucing yang menamakan dirinya dengan sebutan Black Cat. Orang ini sungguh sangat mahir dalam bela diri. Jujur kami tidak mampu menghadapi kelincahan dan kegesitan bertarung nya. Maafkan kami Non."
"Benar Nona. Aku rasa jangankan kami. Ronggur pun tidak ada sekuku hitam Black Cat itu. Lihatlah tangan ku ini Non! Patah kan?" Kata lelaki itu sambil menggendong tangannya yang sejak tadi terkulai tanpa daya.
"Aaah sudah. Aku tidak mau dengar. Huh payah!" Kata gadis bernama Wulan itu sambil masuk ke dalam mobil, membanting pintu lalu segera tancap gas meninggalkan keenam lelaki yang sudah babak belur itu.
"Ayo kita susul Nona Wulan. Bahaya jika dia sudah merajuk. Bisa dapat hukuman kita dari Lalah." Kata lelaki yang patah tangan tadi.
Mereka lalu bergegas memasuki mobil Van itu dan segera meninggalkan halaman depan kafe itu.
*
"Hey Karman. Kemana saja kau? Aku lelah mencarimu kemana-mana."
Terdengar suara teguran di belakang Karman yang baru saja lolos dari bahaya.
"Hoy Tigor. Kau yang kemana. Aku hampir saja mampus dihajar oleh orang-orang itu." Kata Karman sambil duduk di teras sebuah toko yang sudah tutup.
"Orang? Orang-orang apa? Mana orang nya?" Tanya Tigor berpura-pura celingak-celinguk.
"Kau mana tau. Tadi itu aku hampir saja modar dihajar oleh enam orang preman suruhan gadis yang di kafe tadi. Kau lah itu. Kau suruh aku lari ke pohon beringin sana. Sampai di situ aku sama sekali tidak melihat mu." Kata Karman sambil bersandar dan meluruskan kakinya yang terasa pegal.
"Wah. Maafkan aku. Aku kira tadi masih lama orang-orang itu datang. Aku kembali dulu ke bawah jembatan untuk mengganti baju. Pas aku sampai di bawah pohon beringin itu, aku lihat kau tidak ada. Makanya aku langsung menyusul mu ke sini." Kata Tigor berbohong.
"Sudahlah Gor. Tidak apa-apa. Semuanya sudah selesai sekarang. Ternyata mereka itu hanya ayam sayur. Sekali kipas saja mereka langsung tumbang." Kata Karman sambil mempraktekkan jurus-jurus entah apa namanya.
"Wah ternyata kau hebat juga ya?!" Kata Tigor berusaha untuk tidak tertawa.
"Tadi katanya hampir mati. Sekarang sudah berubah lagi ceritanya." Kata Tigor berusaha menggoda Karman.
"Tadi itu aku hanya merendah saja. Maklum lah kau. Aku ini pakai ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk." Kata Karman sambil menepuk dada.
"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. Aku lega sekarang. Oh ya. Mau kemana kau nanti? Apakah langsung pulang menemui Monang?" Tanya Tigor.
"Sepertinya iya. Aku harus menemui Monang. Bagaimanapun aku harus memberitahu kepadanya tentang anak buah Lalah yang ingin menghajar ku." Jawab Karman.
"Sebaiknya jangan! Masalahnya kan sudah selesai. Buat apa mengatakan kepada Monang. Oh aku tau. Jangan-jangan kau mau pamer ya di depan Monang kalau kau berhasil memukuli anak buat Lalah?" Kata Tigor.
Sebenarnya Tigor khawatir jika sampai Karman melaporkan semua kejadian kepada Monang. Bagaimanapun Monang tidak akan percaya bahwa Karman mampu menghajar enam orang anak buah Lalah sekaligus.
Monang jelas tau sampai di mana kemampuan bertarung Karman ini. Yang sangat di khawatirkan oleh Tigor adalah, jika sampai Monang mendesak Karman untuk jujur, maka Karman pasti akan menceritakan bahwa dia telah diselamatkan oleh seseorang yang memakai topeng kucing bersama Black Cat. Bisa berabe urusan jika nantinya Monang bergerak untuk mencari tau siapa Black Cat ini sesungguhnya.
"Tidak. Monang tidak akan percaya. Aku hanya ingin agar Monang segera memberitahukan kepada Martin bahwa anak buah Lalah telah menyerang aku. Secara aku ini kan bekerja untuk Monang dan Monang bekerja untuk Martin. Biar mereka membuat persiapan." Kata Karman.
"Kau kira kau siapa Karman? Justru dengan cara seperti itu lah Martin akan langsung menghukum mu. Kau tau bahwa Martin dan Lalah memiliki hubungan yang baik bukan? Mana mungkin hanya karna orang sepertimu, Martin mau membuka silang sengketa dengan Lalah. Kau benar-benar tidak tau diri Karman!" Kata Tigor dengan serius.
"Lalu bagaimana menurut mu Tigor? Sejujurnya aku juga ketakutan ini." Kata Karman.
"Katanya tadi hebat. jago berkelahi dan sanggup membantai anak buah Lalah. Sekarang mengapa malah berubah jadi ayam sayur?" Sindir Tigor.
"Hahaha... Itu lah ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk." Kata Karman tidak mau kalah.
"Ya sudah kalau begitu." Kata Tigor mulai sewot.
"Lalu bagaimana dengan pertanyaan ku tadi Tigor?" Tanya Karman masih tidak puas.
"Pertanyaan yang mana? Apakah tentang ilmu padi mu itu?" Tanya Tigor sambil senyam-senyum.
"Bukan. Menurutmu aku harus bagaimana? Apakah menceritakan semuanya kepada Monang, atau aku diam saja?" Tanya Karman.
"Kalau kau menceritakan semua kejadian ini kepada Monang, sudah jelas kau akan dihajar lagi olehnya. Apakah kau ingat dia menendang mu tadi siang? apa masih kurang?" Tanya Tigor.
Mendengar kata-kata peringatan dari Tigor barusan, Karman hanya bisa menelan ludah. Tiba-tiba saja dia merasakan tenggorokannya menjadi kering.
"Baiklah. Aku akan diam saja. Aku tidak akan menceritakan kejadian tadi kepada siapa pun termasuk Monang." Kata Karman mengalah.
Memang kalau di fikir kembali, perkataan Tigor ini banyak benar nya. Siapa lah dirinya di mata Martin. Dia sama sekali tidak akan mendapat pembelaan andai dia mengadukan semuanya kepada Monang. Karena dari permasalahan juga sudah jelas bahwa Karman lah yang terlebih dahulu membuat masalah.
Sementara Tigor saat ini juga merasa lega karena berhasil meyakinkan Karman untuk tidak menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Monang. Andai itu sampai terjadi, maka kedok Tigor sebagai Black Cat yang selama ini dia sembunyikan akan terancam terbongkar. Jika itu sudah terjadi, maka geng tengkorak tidak akan memburu Black Cat lagi tetapi akan memburu Tigor. Karna Tigor dan Black Cat adalah orang yang sama. Maka kemana lagi dia akan bersembunyi.
Untuk saat ini, biarlah Tigor adalah Tigor dan Black Cat adalah Black Cat. Sampai suatu saat Tigor memiliki kekuatan, baru lah dia tidak aka takut lagi andai identitas Black Cat ini akhirnya terbongkar.