BLACK CAT

BLACK CAT
Kedatangan Tengku Mahmud



Berita tentang tewasnya ketua organisasi kucing hitam serta ditemukan nya sejumlah mayat di perbatasan kota Batu sungguh sangat menyedot perhatian publik.


Berita itu bahkan menjadi trending topik di berbagai platform media. Dengan berbagai judul.


Tak lupa pula sebagian dari para redaktur membuat spekulasi bahkan secara terang-terangan menuding bahwa ini jelas aalah perbuatan dari Black Cat.


Berbagai foto ilustrasi pun bertebaran di Internet menggambarkan sosok misterius berpakaian serba hitam dengan memakai topeng kucing digambarkan sebagai sosok yang sangat menyeramkan.


Berita yang panas ini kian memanas setelah Birong, ketua organisasi geng tengkorak mengumumkan kepada seluruh kalangan baik itu orang awam, preman pasar, pihak kepolisian bahkan sesama anggota gengster, bagi siapa yang dapat menangkap Black Cat ini, dia akan memberikan hadiah dua milyar rupiah jika hidup dan satu milyar rupiah jika sudah mati.


Hal ini membuat semua kalangan baik yang hitam maupun yang putih masing-masing memusatkan perhatian terhadap sayembara ini dan berharap agar mereka lah yang dapat menangkap Black Cat ini hidup-hidup.


Singkat cerita, Black Cat kini menjadi buronan seluruh lapisan masyarakat.


***


Sore itu, sesuai dengan pembagian tugas masing-masing, bahwa Andra dan Acong akan berangkat menuju ke kampung pinggir laut yang bernama Kuala Nipah.


Setelah melakukan persiapan, mereka pun langsung menuju ke mobil.


Mereka memilih waktu di sore hari karena saat ini para intelijen sedang mengawasi setiap gerak gerik mereka.


Baru saja mereka berdua ingin memasuki mobil yang akan mereka gunakan sebagai kendaraan untuk berangkat ke Kuala Nipah, tiba-tiba dari arah samping muncul seorang lelaki tua dengan pakaian celana pangsi hitam, baju kemeja gombrong juga berwarna hitam serta tidak mengenakan sendal.


Melihat orang tua yang seperti mereka kenal itu, membuat Andra dan Acong batal untuk memasuki mobilnya dan mulai berbisik


"Ndro. Itu kan kakek yang membantu kita waktu di pinggir pantai itu." Kata Acong sambil berbisik.


"Benar Cong. Tak salah lagi." Kata Andra pula.


"Lalu, kita tidak usah jadi berangkat ya kan."


"Ngapain lagi berangkat. Pertanyaan mu ini aneh." Rungut Andra.


"Mau kemana kalian?"


Belum lagi sempat kedua pemuda itu bertanya, lelaki yang sudah sangat tua itu langsung membentak mereka.


"Anu kek. Ini. Kami akan..,"


"Akan apa? Berapa orang yang ingin kalian libatkan dalam masalah ini. Gegabah sekali kalian ini." Kata lelaki tua itu.


Andra dan Acong yang tidak mengerti kemana maksud dan tujuan perkataan orang tua itu hanya saling pandang dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Maaf kek..,"


"Aku tau maksud kalian. Bodohnya kalian ini bahwa kalian yang sedang dalam pengawasan pihak kepolisian pun tidak mengetahui hal ini. Apa kalian ingin juga melibatkan aku dalam perkara sampah yang kalian kerjakan itu hah?"


"Jika kau berangkat ke Kuala Nipah, lalu polisi membuntuti mu. Mereka juga akan menganggap bahwa aku bersekongkol dengan kalian. Ku patahkan batang leher mu jika itu sampai terjadi." Bentak orang tua itu lagi.


Mendengar ini, Andra dan Acong hanya mampu menelan ludahnya saja yang terasa kesat itu


Semua yang dikatakan oleh orang tua itu semuanya benar. Nyaris saja dia berbuat ceroboh.


"Maafkan kami kek. Kami sangat buntu waktu ini. Bang Tigor masih belum sadarkan diri. Itu yang membuat kami berinisiatif untuk berangkat ke kampung Kuala Nipah untuk meminta bantuan kepada kakek." Kata Andra.


"Anak itu memang pantas di hajar sampai setengah mati. Biar lain kali dia lebih pandai menggunakan otaknya baru otot. Itu lah akibatnya jika otot selangkah lebih maju daripada otak."


"Sekarang kalian masuk lah dulu. Aku akan menyusul tak lama lagi." Kata lelaki tua itu memberi perintah.


"Baik Kek." Kata mereka berbarengan lalu segera memasuki rumah staf yang disediakan oleh Martin untuk para karyawan nya itu.


Sebelum memasuki rumah, lelaki tua itu tampak berkomat-kamit entah apa yang dia lafadzkan barulah dia mulai melangkah memasuki rumah tersebut.


*********


Seorang lelaki tua tampak sedang duduk di sisi pembaringan.


Di atas ranjang tersebut, tampak Tigor sedang terbaring dalam keadaan pingsan dan tubuh dibalut dengan kain kasa putih dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Maaf kek. Kami berkelahi di..,"


"Aku tau kalau yang itu. Yang aku tanya, siapa yang membalut anak monyet ini dengan kain dari ujung kepala hingga ujung kaki ini?" Tanya lelaki tua itu dengan mata mendelik.


Andra, Acong, Monang dan yang lainnya menjadi serba salah untuk menjawab pertanyaan kakek itu.


Hal ini terlebih lagi ketika dia melihat ke arah Jabat yang menggigil ketakutan.


"Sa.., saya Kek." Kata Jabat menjawab pertanyaan orang tua itu dengan terbata-bata.


"Hmmm..., Ya. Aku mengerti. Mungkin kalian dalam kepanikan. Sekarang buka lilitan lain ini. Jika kalian seperti ini, luka kulitnya tidak akan bisa kering." Kata lelaki tua itu.


Mereka beramai-ramai lalu membagi tugas dan dengan sigap melakukan pekerjaan masing-masing.


Setelah semuanya selesai, Acong lalu membawa air hangat lalu mengoles sedikit demi sedikit ke kain putih yang membalut tubuh Tigor agar tidak lengket ketika di buka.


Sedikit demi sedikit mereka berhasil membuka perban itu dan kini tampaklah bekas-bekas luka di tubuh Tigor seperti berair dan berlemak.


"Tiga hari saja seperti ini, luka di tubuh anak monyet ini akan berubah menjadi borok." Kata lelaki tua itu.


Dia kini merogok ke satu celananya yang gombrong itu lalu mengeluarkan beberapa lembar sirih kemudian mengunyah sirih tersebut.


Setelah tampak bibir lelaki tua itu berwarna kemerahan karena air dari kunyahan sirih tersebut, dia lalu menyemburkan ke sekujur tubuh Tigor.


"Ambilkan aku lesung batu yang belum pernah di pakai untuk menumbuk cabe!" Kata lelaki tua itu.


"Mohon di tunggu kek. Kami akan membelinya dulu." Kata Monang lalu segera bergegas pergi.


"Hmmm... Panjang juga nyawa anak itu." Kata lelaki tua itu lalu mendekati tubuh Tigor.


Pertama dia mengangkat sedikit kaki Tigor. Menimang-nimang sejenak lalu...,


Krek... Krek..!


Setelah itu, tampak dia memiringkan tubuh Tigor. Setelah memeriksa sejenak, lalu dia berkata.


"Dua tulang rusuk anak ini telah patah. Butuh beberapa bulan untuk bisa pulih."


"Ayo bangun. Misi mu belum selesai!"


"Hah...!" Kata lelaki tua itu membentak ke arah Tigor membuat Tigor mengejang sejenak lalu kemudian matanya pun terbuka membelalak.


"Bangun kataku!"


Perlahan Tigor pun menggerakkan tubuhnya.


Namun karena cedera yang dialaminya terlalu serius, dia pun lalu pinggang sekali lagi.


"Dasar anak monyet. Lemah sekali kau. Itu lah kalau tidak mendengar cakap. Di suruh belajar banyak sungguh alasan mu." Kata lelaki tua itu mengomel.


Tak lama, Monang pun datang dengan membawa lesung batu lalu menyerahkannya kepada lelaki tua itu.


Lelaki tua itu menerima lesung batu tersebut lalu mulai meramu obat-obatan yang dia bawa dari Kuala Nipah.


Setelah semuanya jadi, dia lalu berpesan agar obat itu si rebus lalu dioleskan ke bagian tubuh yang terluka.


Juga ada bedak yang harus di lumuri ke bagian rusuk Tigor.


Ada juga yang di sedu dengan air hangat untuk di minumkan kepada Tigor.


Setelah berpesan secara jelas, lelaki tua itu lalu pamit keluar untuk kembali ke Kuala Nipah.


"Andra. Kau antar kakek itu. Boleh kan?" Kata Monang.


Andra hanya mengangguk lalu bergegas keluar.


Baru saja dia tiba di luar, alangkah terkejutnya Andra karena jangankan melihat kakek itu. Bayangan nya saja pun tidak kelihatan lagi alias lenyap.