BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor tidak perduli dengan rencana Beni



...Komplek elit real estate kota Tasik putri....


...*****...


Sehari berjarak dari keberangkatan Beni menemui ketua kelompok geng tengkorak yang diketuai oleh Birong, Beni pun mulai menjalankan rencana yang telah mereka atur.


Setiap masing-masing dari orang-orang yang sudah di tunjuk memilik peran nya sendiri-sendiri.


Langkah awal dari sebuah jebakan adu domba ini dimulai dari Marven. Seorang tuan muda dari ketua kelompok organisasi terbesar di tasik putri.


Baru pagi tadi Beni mendapat kabar bahwa Tigor sudah berada di kota tasik putri ini dengan selamat.


Mendengar bahwa Tigor selamat tiba dari Hongkong, Beni pun segera mengirim beberapa bawahannya untuk pergi mengunjungi kampung pinggir laut kuala nipah. Hal ini sengaja dia lakukan karena sebelumnya dia telah mengirim sekitar tiga puluh orang anak buahnya untuk mencegat Tigor di pinggir hutan bakau yang terletak dibagian kanan perkampungan pesisir pantai itu.


"Togi. Kau berangkat ke kuala nipah! Firasat ku tidak enak. Ada dua kemungkinan mengapa Tigor bisa selamat sampai ke tasik putri ini. Yang pertama, kemungkinan mereka tidak saling bertemu di kuala nipah. Yang ke dua, kemungkinan yang terpahit bahwa anak buah yang aku kirim telah habis terbunuh. Jika hal yang ke dua ini terjadi, maka tentu ada jejaknya. Aku khawatir yang ke dua. Karena sejak tadi, tidak satupun dari mereka bisa dihubungi." Kata Beni mengutarakan kekhawatirannya.


"Ok bang. Aku akan berangkat sekarang. Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Togi sekedar ingin tahu.


"Sesuai rencana kita. Aku telah menyebar beberapa anak buah ke gang kumuh. Sementara aku akan menjebak Marven di sana. Dari gang kumuh lah titik awal dari rencana ini. Aku juga sudah meminta kepada beberapa orang anak buah kita untuk membuntuti Tigor kemana saja dia pergi. Sedikit saja dia melakukan kesalahan, disitu kita mendapatkan poin untuk menjatuhkan nya." Kata Beni sambil bersiap-siap untuk berangkat.


"Apa alasannya bang? Bagaimana kau bisa mengajak Marven?"


"Hahaha. Anak muda. Kita orang tua tau benar apa kesenangan yang digemari oleh anak muda. Kau akan tau nanti." Kata Beni" Baiklah. Mari kita berpisah di sini." Kata Togi lalu bergegas menuju mobil nya dan bersama beberapa anak buahnya, dia segera berangkat menuju kampung kuala nipah.


Berjarak beberapa menit dari keberangkatan Togi, Beni pun juga segera berangkat meninggalkan rumahnya di pinggiran komplek elit itu menuju ke area bangunan kelas satu tepat di tengah-tengah komunitas real estate yang terkenal hanya ditempati oleh orang-orang kaya dan berpangkat saja.


Tiba di rumah besar layaknya Mansion milik Martin, Beni segera memarkir mobilnya dan segera bertanya kepada seorang pemuda berpakaian serba hitam, sepatu hitam dan kacamata hitam lengkap dengan intercom yang terpasang pada telinga nya.


"Maaf tuan Beni. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pemuda itu.


"Apakah Marven ada di dalam nak?" Tanya Beni.


"Carmen Bond. Nama saya adalah Carmen Bond." Kata pemuda itu menegaskan namanya dengan mimik wajah dibuat seserius mungkin.


"Oh Maaf. Baiklah Mr.Carmen Bond! Apakah Marven ada di dalam?" Tanya Beni sekaligus memanggil nama pemuda itu sesuai dengan yang dia sebutkan tadi.


"Jika anda bertanya tentang Tuan besar Martin, saya bisa menjawab. Namun di sini saya hanya bekerja di bawah Tuan Martin. Bukan Marven. Jadi, silahkan anda bertanya kepada orang lain saja." Kata pemuda bernama Carmen Bond itu dengan tingkah sombong bak agent rahasia internasional.


"Hmmm... Sombong sekali anda. Apakah kau tau siapa aku?" Tanya Beni mulai tersinggung.


"Saya tau pak. Tapi saya tidak mau tau. Hanya ada satu orang yang berada di atas saya. Yaitu, Martin. Bodo amat siapa anda." Jawab Carmen Bond.


"Ah sudah lah. Aku tidak ingin berdebat panjang lebar dengan mu." Kata Beni bergegas memasuki rumah besar itu sambil diiringi tatapan merendahkan dari pemuda bernama Carmen Bond tadi.


"Belum tau kau siapa Carmen. Jangankan kau si penghianat. Martin saja pun hormat kepada ku." Kata Carmen dalam hati.


Sejurus setelah Beni memasuki rumah besar milik ketua geng kucing hitam itu, pemuda tengil bernama Carmen Bond tadi pun langsung membuka ponselnya dan membuat panggilan suara.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan itu pin terhubung.


"Halo Karman. Ada berita apa?" Tanya satu suara di sisi seberang sana.


"Ralat untuk anda bang Tigor. Nama saya Carmen Bond 070. Jika anda mencari Karman, maka dia sudah mati. Sekarang yang ada hanya Agent rahasia Carmen Bond 070." Kata Carmen Bond dengan sangat bangga nya.


"Brother Tigor. Berita ini tak lain dan tak bukan datang dari Tikus buncit namun bukan hamil alias Beni. Untuk tetap menjaga kenyamanan berbagi informasi, maka saya menyematkan nama kehormatan ala agent rahasia kepada Beni ini sebagai Tikus bunting. Bagaimana menurut anda Brother Tigor?" Tanya Carmen Bond.


"Hahahahaha....!"


Terdengar suara tawa terbahak-bahak dari telepon begitu Carmen Bond selesai dengan kata sandi ala agent rahasia nya tadi.


"Suka suka kau aja lah Man." Jawab Tigor masih belum dapat menguasai ledakan tawa akibat perkataan Carmen Bond alias Karman tadi yang sangat menggelitik urat lucu nya.


"Bukan Man tapi Men." Tegur Carmen Bond.


"Hahaha. Men apa? Apakah itu Menstruasi?" Tanya Tigor.


"Anda menyepelekan profesi saya sebagai Agent rahasia. Apakah anda tahu kode etik seorang agent rahasia? Anda bisa di hukum!" Kata Carmen lalu tanpa kuasa menahan tawa sehingga tawanya pun pecah seketika itu juga.


"Sudah sudah sudah! Sekarang ayo serius. Ada berita apa yang akan kau sampaikan?" Tanya Tigor.


"Begini bang. Tadi tikus bunting itu datang kemari menanyakan tentang Marven. Akhir-akhir ini aku melihat dia terlalu akrab dengan anak manja itu. Jika bukan tikus bunting, aku tidak akan curiga bang. Tapi ini seekor tikus bunting yang sudah botak, yang kepenghianatannya sudah aku buktikan dengan mata kepala, plus hidung dan telinga ku sendiri." Kata Carmen Bond menggunakan bahasa kiasan yang amburadul.


"Hmmm... Carmen. Aku tau bahwa mereka sedang berusaha untuk menyingkirkan aku. Setidaknya itu adalah dugaan yang sangat kuat saat ini. Namun biarkan saja usaha mereka. Toh aku juga akan meninggalkan kota tasik putri ini cepat atau lambat walau bagaimanapun prosesnya."


"Ingat Karman! Sebuah pohon tidak akan bisa berkembang dan membesar jika dinaungi oleh pohon lainnya yang besar dan rindang. Itu sebuah perumpamaan. Lagi pula, aku sudah menyerahkan takdir Martin kepada dirinya sendiri. Percuma aku berkata ini dan itu. Jika tidak percaya, aku khawatir itu akan menjadi bumerang buat kita. Maka biarkan saja. Aku hanya ingin menjadi raja di kota kemuning tanpa melupakan dari mana aku berasal. Aku akan tetap menjadi bawahan Martin. Namun kota kemuning adalah milik ku." Kata Tigor dengan tegas.


"Apakah kau akan mengajak aku untuk ikut denganmu ke kota kemuning bang?" Tanya Carmen Bond alias Karman.


"Mengapa? Apakah gajimu tidak cukup di situ?"


"Bukan begitu bang. Aku disini merasa sangat asing. Kau kan tau sendiri bahwa kalian itu lah sahabat ku. Disini aku selalu sendiri." Kata Carmen.


"Itu bagus. Bukankah seorang agent rahasia memang selalu sendiri. Nikmati saja. Dan Carmen, Kau harus ingat! Kau berada di sana sebagai mata dan telinga ku. Lakukan saja secara anam. Jangan melawan arus. Kelak aku akan menarik mu ke kota kemuning jika keadaan sudah stabil."


"Baik bang. Ikut apa kata kau saja lah. Tapi kau harus hati-hati. Mungkin tikus bunting ini mempunya niat buruk."


"Sudah ku katakan. Apapun prosesnya. Apakah itu secara baik-baik atau secara kasar, aku pasti juga akan pindah ke kota Kemuning. Maka ya sudah. Biarlah mereka merasa menang dulu. Pada akhirnya aku akan mencabut nyawa Beni ini setelah semuanya beres agar Martin bisa berkuasa tanpa ada duri dalam daging."


"Mengapa tidak kau lakukan saja sekarang bang?" Tanya Carmen.


"Jangan bodoh kau Carmen. Tujuan terbesar ku bukan Beni. Bukan pula Marven. Tujuan ku adalah menyusun kekuatan dengan pondasi yang kuat pula. Saat ini, jangankan kekuatan sebuah organisasi. Pondasi nya pun belum berdiri. Apakah aku akan merusak rencana besar ku hanya karena nyawa anjing milik Beni itu? Nyawa Beni itu hanya sampah bagiku. Aku tidak akan merusak rencana besar ku dengan membunuh seekor tikus." Kata Tigor.


Semua sangat jelas bahwa Tigor memiliki urusan hutang nyawa dengan Birong dan seluruh geng tengkorak.


Walaupun dia berhasil membantai orang-orang di dalam organisasi itu berikut beberapa pentolannya, namun geng tengkorak dan Birong masih terlalu kuat. Bahkan untuk geng kucing hitam sekalipun.


Maka dari itu, dia tidak ingin bertindak terhadap Beni. Andai dia gegabah, maka hal ini akan dimanfaatkan oleh Geng tengkorak untuk menghasut organisasi lain untuk memburu Tigor dan dua ratus anak buah nya.


Sebagai putra tertua dari seorang kapten di kepolisian, tentunya Tigor ini tidak lah bodoh bin bahlul untuk mementahkan rencana yang dia sudah dia susun demi menagih hutang nyawa terhadap geng tengkorak.


Yang dia butuhkan saat ini adalah, mendirikan kekuatan baru di kota kemuning, menjaring sebanyak-banyaknya relasi dan mitra bisnis, merekrut orang-orang jalanan yang berkemampuan dan kompeten, melobby perintah setempat untuk mendapatkan pengakuan.


Setelah semuanya dapat dia kuasai, sepuluh geng tengkorak pun tidak akan membuatnya goyah.