
Criiiiiiit.....!
Terdengar suara ban mobil di rem secara mendadak sehingga memperdengarkan suara berdecit di atas aspal dan menimbulkan kepulan asap.
Tak lama setelah itu tampak sekitar 6 orang lelaki berpakaian preman turun dari sebuah mobil Van dengan membawa pemukul terbuat dari rotan.
Setelah keenam lelaki itu turun, salah satu di antara mereka bergegas menghampiri mobil Honda berwarna merah itu dan dengan hormat langsung bertanya.
"Non Wulan, yang mana orangnya yang telah berani mengusik anda?" Tanya lelaki itu.
"Kau lihat orang yang duduk di sana itu?"
"Lihat Non!"
"Itu lah orangnya. Tadi ada dua orang. Namun aku tidak tau kemana perginya seorang lagi. Kalian beri pelajaran kepada orang itu agar jera mencari masalah dengan putri Lalah!" Kata Gadis itu memberi perintah.
Begitu perintah itu keluar, kini kernam lelaki bersenjata pemukul yang terbuat dari rotan itu segera mendatangi Karman yang sedang duduk gelisah di teras kafe tersebut.
"Mati aku Mak..." Kata Karman yang langsung merasa mules di perutnya ketika enam orang lelaki itu mulai mendekat ke arah nya.
Ingat akan pesan dari Tigor, Karman pun mulai beringsut kepinggir dan mulai mundur secara perlahan lalu begitu ada kesempatan...,
"Kabuuuur.....!" Kata Karman lalu melompati kursi-kursi di teras kafe itu kemudian melarikan diri mengikuti teras toko-toko di sepanjang jalan menuju ke arah benteng berpasir di pinggir sungai yang menuju ke arah jembatan tempat tinggal Tigor bersama keempat sahabat nya.
"Hey jangan lari kau bangsat...!" Kata lelaki itu lalu mengajak teman-temannya untuk melakukan pengejaran.
"Jangan lari katamu? Ya jangan kejar lah!" Kata Karman semakin mempercepat larinya.
"Mana kau Tigor? Mau putus nafas ku ini." Kata Karman di sela-sela nafasnya yang sesak akibat berlari begitu jauh.
Tepat ketika Karman mencapai pohon beringin tempat yang di janjikan oleh Tigor, dia pun sudah kehabisan nafas.
Dengan hampir merangkak, Akhirnya Karman sudah tidak kuat lagi berlari. Kini dia hanya bisa pasrah sambil mengatur nafas yang sudah mulai senin kamis.
"Mau lari kemana lagi kau bajingan?" Tanya lelaki yang paling depan kepada Karman.
"Ampun bang. Aku mengaku salah. Tolong jangan bunuh aku. Kemarin itu aku khilaf. Aku terpaksa mencopet untuk mengisi perut." Kata Karman memelas.
"Hahaha... Sudah seperti ini baru mau minta ampun. Kau tidak tau siapa yang kau jadikan sasaran. Sekarang kau harus diberi pelajaran supaya di masa yang akan datang, kau tidak sembarangan lagi." Kata lelaki itu semakin mendekat dan mulai mengayunkan alat pemukul yang tergenggam di tangannya tersebut. Namun sebelum lelaki itu melakukan niatnya, tiba-tiba...,
"Woy....! Berani sekali kalian mengeroyok orang yang sudah tidak berdaya tepat di depan batang hidung ku."
Terdengar satu suara bentakan dari balik pohon beringin itu.
Mungkin karena pohon beringin itu yang cukup besar ditambah lagi suasana memang gelap, sehingga enam orang lelaki yang mengejar Karman tadi tidak menyadari bahwa ada orang lain selain mereka dan Karman di tempat itu.
"Siapa kau? Keluar lah. Jangan main petak umpet dengan kami enam lelaki bayaran." Kata lelaki yang paling depan dengan suara lantang.
"Mau bayar kek, mau utang kek bukan urusan ku. Kalian telah memasuki kawasan larangan. Berarti kalian sudah siap untuk kembali menemui majikan kalian dengan cara merangkak." Kata suara dari balik pohon beringin itu.
"Setaaaan Alaaaaas...! Keluar kau! Aku tidak suka banyak omong. Keluarlah supaya kau juga akan kami lumatkan bersama dengan bangsat jambret ini." Kata lelaki itu yang sudah mulai dikuasai kemarahan.
"Aku di sini."
"Hah apa?"
Tiba-tiba keenam lelaki itu sama-sama terkejut ketika mendengar satu suara menegur dari arah belakang mereka.
Entah kapan tepat nya. Mereka sama sekali tidak melihat adanya bayangan. Namun kini mereka dengan jelas melihat seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan memakai topeng kucing berwarna hitam pekat telah berdiri dengan tangan terlipat di dada tepat di belakang mereka.
"Siapa kau sebenarnya sobat?" Tanya pemimpin keenam lelaki itu.
"Aku sendiri lupa siapa namaku. Tapi orang-orang yang memiliki urusan dengan ku selalu menyebut ku dengan nama Black Cat." Jawab lelaki bertopeng itu.
"Apa hubungan mu dengan kelompok Kucing hitam milik Martin? Apakah kau anak buah Martin?" Tanya Lelaki itu lagi.
"Hahaha... Apa hebat nya kelompok milik Martin itu? Aku adalah aku. Apakah kalian ingin membuang-buang waktu ku?" Tanya lelaki bertopeng itu.
"Bangsat sekali anda. Aku tidak perduli apa pun julukan mu dan untuk siapa kau bekerja. Jika kau menghalangi kami, maka kau jangan menyesal!" Kata lelaki itu.
"Maju dan serang lah aku. Tunggu apa lagi? Apakah kau menunggu muncung mu berbusa baru melakukan serangan?" Tanya Black Cat menghina lelaki itu.
"Bedebus. Ku hajar kau!"
"Seraaaang....!" Kata lelaki itu berteriak sambil melompat ke depan mengirim tebasan ke arah kepala Black Cat menggunakan pentungan dari Rotan itu.
"Uts.... week tidak kena!" Kata Black Cat sambil merundukkan tubuhnya lalu menyambut pergelangan tangan lelaki itu dan...,
Kreeeekt....!
"Aduh maaaak.....!" Kata lelaki itu berteriak ketika Black Cat menahan bagian bawah sikut nya dan memukul bagian atas tangannya sehingga persendian antara lengan dan bahu lelaki itu terlepas.
Bukan main sakitnya sampai-sampai lelaki itu menggigit bibir menahan ngilu akibat tulang yang lepas dari sendi itu.
Melihat temannya cedera, kelima orang lagi langsung melompat mengepung Black Cat dari segala penjuru membuat Black Cat kini benar-benar terkepung.
"Majulah kalian!" Kata Black Cat sambil menyodok ujung pentungan milik lelaki yang patah tangan tadi dengan ujung jari kakinya. Begitu pemukul terbuat dari Rotan itu terangkat ke atas, Black Cat langsung menyambarnya dan mulai menjadikan alat pemukul itu sebagai senjata untuk menyerang kelima lelaki yang mengepungnya.
Wuzzz....!
Bett...!
"Adau....!"
Plaaak....?!
"Oeeek...!"
"Aduh mak... Remuk kepala ku."
Tampak tiga dari lima orang itu sudah jatuh dan menggeliat di atas tanah berpasir itu akibat hantaman pemukul dari rotan yang ada di tangan Black Cat.
"Kalian berdua pergi dan bawa teman kalian ini! Cepat sebelum aku berubah fikiran dan menghanyutkan kalian semua ke dalam sungai supaya sungai ini menjadi kuburan untuk kalian berenam." Terdengar dingin dan datar suara lelaki bertopeng kucing hitam itu.
"Am... Am... Ampuni kami Black Cat."
"Cepat kalian minggat dari sini. Katakan kepada orang yang menyuruh kalian untuk tidak mencari gara-gara di sekitar perbatasan sungai Tasik putri ini. Jika tidak, aku Black Cat akan memburu kalian. Bahkan jika kalian bersembunyi di bawah ketiak Lalah pun, aku akan memaksa Lalah untuk menyerahkan kalian. Ingat itu baik-baik!" Kata Black Cat dengan tegas.
"Ba.. Baik. Baiklah Black Cat. Kami tidak akan membuat masalah lagi di sini."
"Sekarang lekas hambus kalian dari ini. Cepat!"
Bugh....!
"Iy... Iya..."
"Ayo kita tinggalkan tempat ini." Kata kedua orang itu sambil membantu teman-temannya untuk berdiri.