BLACK CAT

BLACK CAT
Menghubungi Dragon Empire



Sembilan orang pemuda kini tampak berdatangan ke rumah Tigor yang saat ini sedang menunggu di depan pintu rumah dengan sebatang tongkat di tangan nya.


Tampak benar raut wajah yang sangat kusut tergurat di jidat dan bagian pinggi sudut matanya layaknya seperti sedang memeras otak.


Saat ini Monang, Andra, Ucok, Thomas, Sugeng, Timbul, Jabat, Acong dan Ameng sudah tiba di hadapan Tigor sambil bertanya kabar.


"Bagaimana dengan keadaan mu bang? Sudah baikan kah?" Tanya Jabat.


"Masuk kalian semua! Ada masalah penting yang harus kita bahas." Pinta Tigor kepada semua sahabatnya itu.


Melihat ekspresi keseriusan di wajah Tigor, kesemua mereka hanya bisa saling pandang dan mulai memasuki rumah milik Tigor itu.


"Ada apa Gor? Sepertinya sangat serius sekali." Tanya Monang.


"Semuanya kacau balau. Rencana dan siasat yang diatur oleh Karman sudah mentah. Ini di luar kendali Karman." Jawab Tigor.


"Kok bisa bang?" Tanya Acong yang mulai penasaran.


"Ini karena Butet itu mengadu kepada Birong bahwa Marven telah menidurinya. Makanya Birong datang ke kota Tasik Putri lalu melabrak Marven." Jawab Tigor lalu menceritakan semuanya kepada sembilan orang sahabatnya itu.


Kini gantian wajah mereka semua yang tampak mencerminkan kekhawatiran dan mulai saling melempar pandang ke semua orang yang ada di tempat itu.


"Kalau begini gawat ini Gor. Lalu apa rencana mu?" Tanya Andra.


"Itulah sebabnya mengapa aku memanggil kalian semua untuk datang kemari. Sekarang aku tanya. Berapa orang-orang yang berada di bawah kendali kalian masing-masing?" Tanya Tigor.


"Tidak banyak Bang. Hanya ada 60 orang. Enam puluh dikali sembilan. Hanya lima ratus orang lebih. Bagaimana ini?" Jawab Sugeng.


"Sekarang ini yang terpenting adalah menjaga kota Kemuning ini dan seluruh aset kita yang ada di sini. Lebih baik dapat sedikit daripada tidak sama sekali." Kata Tigor dengan wajah yang sangat-sangat serius.


"Maksud bang?"


"Meminta bantuan kepada Dragon Empire di Metro City, atau sekalian kita meleburkan diri kedalam organisasi itu."


"Apa pendapat kalian?" Tanya Tigor.


"Kami sih setuju saja bang. Masalahnya adalah, dengan keadaan kita seperti ini, apa iya mereka memandang ke arah kita? Siapa lah kita ini bang. Hanya sebutir pasir bagi mereka." Kata Ameng pula.


Dia tampak sangat pesimis karena mereka sudah tau seperti apa orang-orang dari Dragon Empire ini. Organisasi besar ini berada di banyak kota dengan potensi bisnis yang besar. Apa iya mereka mau memandang kota kecil seperti Kemuning ini.


"Kita belum mencoba. Bagaimana kita bisa tau." Kata Tigor lalu menambahkan.


"Aku pernah bersentuhan langsung dengan mereka walaupun hanya beberapa hari. Dan kesan pertama ku kepada ketua dari organisasi itu sangat baik." Kata Tigor.


"Sebaiknya Abang coba saja untuk menghubungi mereka bang! Siapa tau mereka berminat dengan kelompok kecil kita ini" Saran dari mereka kepada Tigor.


"Hanya saja..."


"Hanya saja apa bang?" Tanya Ucok.


"Ah itu urusan nanti. Sebaiknya kita selesaikan dulu satu persatu. Aku akan mencoba menelepon Tuan Jerry." Kata Tigor lalu meminta Andra untuk mengambilkan ponselnya di atas meja.


Setelah ponsel itu kini berada di tangannya, Dia pun mencoba menghubungi nomor telepon ketua organisasi Dragon Empire itu.


Kini dia mencoba ke nomor Ryan, Daniel, serta Riko. Namun sama saja. Nomor mereka semuanya tidak aktif.


"Ada apa dengan nomor mereka ini?" Tanya Tigor sambil menatap heran ke arah ponselnya.


"Kenapa bang?" Tanya Acong.


"Entah lah. Semua nomor mereka tidak ada yang aktif." Jawab Tigor lalu mencoba menelepon sekali lagi namun hasilnya tetap sama.


"Abang belum mencoba nomor Tuan Arslan bang." Kata Ameng.


"Oh... Iya. Benar kata mu."


Kini Tigor kembali membuka daftar kontak dan mencari sekali lagi hingga dia bertemu dengan nomor Arslan lalu menekan tombol panggil.


Terdengar nada dering di seberang sana yang membuat wajah Tigor terlihat sangat cerah.


Ada secercah harapan dihatinya.


"Hallo Tuan Tigor. Anda menelepon saya." Terdengar suara seorang lelaki diseberang sana.


"Hallo Tuan Arslan. Maafkan saya menggangu anda." Kata Tigor berbasa-basi.


"Oh. Tidak apa-apa Tuan Tigor. Oh ya. Bagaimana keadaan di sana? Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Itulah juga mengapa saya menelepon Anda Tuan. Saat ini kami sedang dalam masalah besar. Tadi saya sudah mencoba menelepon ke nomor Tuan Besar Jerry. Tapi nomor nya tidak aktif. Saya juga mencoba menelepon Tuan Ryan, Riko dan Daniel namun sama. Sampailah saya menelepon nomor Tuan Arslan ini." Kata Tigor dengan nada bicara yang penuh keheranan.


"Oh. Ya. Memang nomor mereka tidak aktif Tuan. Ini karena mereka saat ini s sedang berada di rumah sakit Metro City. Istri dari ketua kamu yaitu Jerry William sedang akan melahirkan anak mereka. Makanya nomor ponsel mereka tidak aktif." Jawab Arslan.


"Coba anda ceritakan apa sebenarnya yang terjadi di Kota Kemuning! Mengapa anda mengatakan bahwa kalian sedang dalam masalah?!" Tanya Arslan ingin tau masalah apa yang sedang dihadapi oleh Tigor sebenarnya.


"Begini Tuan..." Lalu Tigor pun menceritakan semua kejadian dari Martin di bunuh oleh Marven, sampai dia pun ikut celaka di perbatasan kota Kemuning, kemudian rencana menjebak Marven sampai perencanaan mentah di tengah jalan.


Tak lupa juga Tigor menceritakan bahwa saat ini dua kelompok itu akan tiba kapan saja untuk menyerang mereka di kota Kemuning.


Mendengar akan hal ini, Arslan segera memberikan respon yang sangat memuaskan hati Tigor.


"Tuan Tigor. Mengingat persahabatan kita, anda cukup menyebutkan saja berapa ribu orang yang anda perlukan? Anda bisa mengatur alasan supaya kami bisa tiba di sana tanpa menimbulkan kecurigaan bagi pihak lain." Kata Arslan.


"Apakah Tuan Besar Jerry William tidak keberatan atau barang kali akan marah karena tidak memberitahu kepadanya terlebih dahulu?" Tanya Tigor.


"Masalah itu anda tenang saja. Biar saya yang berbicara kepada Ketua. Anda dapat tenang dan kami akan segera tiba. Jika anda sudah selesai mempersiapkan segala sesuatunya, maka kamu akan langsung berangkat dari sini dengan tiga gelombang." Jawab Arslan.


"Terimakasih Tuan Arslan. Andai ini berhasil, saja akan dengan sangat senang hati bergabung dengan organisasi Dragon Empire dan menjadi bawahan Anda di kota Kemuning ini." Kata Tigor.


"Ah. Itu bisa kita bicarakan nanti. Yang jelas, musuh Tuan adalah musuh kami juga. Jika berani menyinggung sekutu kami, berarti berani menantang dan mengajak kami berperang secara langsung. Anda dapat yakin bahwa bumi ini akan terasa sangat sempit bagi mereka." Kata Arslan dengan bersungguh-sungguh.


"Sekali lagi terimakasih Tuan Arslan. Saya akan merundingkan terlebih dahulu dengan anak buah saya. Setelah itu, saya akan menelepon Anda sekali lagi untuk memastikan kapan gelombang pertama akan memasuki kota Kemuning ini." Kata Tigor dengan penuh semangat.


"Kalau begitu, silahkan anda sibuk dulu Tuan Tigor." Kata Arslan pula lalu mengakhiri panggilan.