BLACK CAT

BLACK CAT
Berangkat ke Hongkong



...Kuala Nipah...


Sore itu sekitar pukul tiga, Rombongan Tigor beserta empat mister dadakan diikuti oleh puluhan anak buah lainnya yang bertugas mengiringi rombongan itu, sampai juga di perkampungan pinggir pantai Kuala nipah.


Setelah memarkir kendaraan dan menugaskan kepada anak buahnya untuk menjaga mobil nya dan Van pengangkut barang-barang yang akan mereka bawa ke Hongkong, Tigor akhirnya berjalan kaki menuju sebuah rumah panggung berdinding anyaman bambu berlantai belahan batang nibung untuk mengunjungi Kakek angkat nya yang bernama Tengku Mahmud tersebut.


"Assalamualaikum Tok." Kata Tigor begitu dia sampai di depan tangga rumah panggung itu.


"Atok. Apakah Atok ada di dalam?" Teriak Tigor karena menunggu sekian lama namun tidak juga ada jawaban.


"Atok...! Aku Tig...,"


Wuzzz....!


Keletuk!


"Aduuuh....!"


"Waalaikumsalam!"


Belum lagi Tigor selesai dengan ucapannya, tampak sebutir kerang melesat dari arah belakang rumah dan tepat menghantam kening Tigor sekaligus jawaban dari Salam Tigor tadi.


Dari arah belakang tampak seorang Kakek yang sudah sangat tua sekali namun terlihat masih sangat kokoh berjalan menghampiri Tigor sambil menimang-nimang dua buah kerang laut berukuran lumayan besar.


"Kemana fikiran mu Tigor? Jika itu tadi senjata rahasia, sudah mati kau." Kata lelaki tua itu menegur Tigor dengan mata mendelik.


"Kakek...!" Kata Tigor menunduk meraih tangan lelaki tua itu lalu mencium dan meletakkan di kening nya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Bagaimana jika yang aku lempar tadi adalah pisau?" Tanya Lelaki tua itu lagi.


"Ya mati!" Jawab Tigor singkat.


"Susah betul kau ini. Sifat mu sama seperti Kakek mu. Terlalu sepele. Kau pun sama. Terlalu percaya dengan kemampuan diri sendiri seolah-olah selamanya kepandaian musuh-musuh mu berada di bawah mu. Jika kau tidak berubah, suatu saat kau akan bertemu dengan batunya." Kata Kakek Mahmud ngomel-ngomel.


"Beda lah sama Kakek. Kakek ilmu nya jauh di atas ku. Makanya aku tidak bisa menghindar." Jawab Tigor.


"Makanya belajar!"


Tuk...!


"Aduuuh.!" Kata Tigor sambil mengusap kening nya.


"Aku sedang banyak pekerjaan Kek. Mana bisa aku belajar. Percuma kalau aku belajar sedangkan fikiran ku kemana-mana. Tidak akan lengket ilmu yang kakek berikan jika perhatian ku terpecah." Kata Tigor beralasan.


"Terserah kau lah. Asal jangan nanti menyesal. Ketika kau bertemu dengan lawan yang tangguh, dan saat itu nyawa mu berada dalam bahaya, baru kau ingat untuk belajar kepada ku." Kata Kakek Mahmud sambil naik ke tangga dan bersiap membuka peti kecil berukir terbuat dari kayu yang isinya ternyata adalah lembaran daun sirih.


Tigor hanya bisa garuk-garuk kepala sambil mengikuti lelaki tua itu naik ke atas.


"Ngomel terus. Ngomel terus!" Kata Tigor dalam hati.


"Sepertinya kau memiliki hajat besar?! Katakan mau kemana tujuan mu!" Tanya Kakek Mahmud.


"Hebatnya orang tua ini bisa menebak dengan benar." Puji Tigor dalam hati.


"Begini Kek. Malam ini aku akan berangkat ke Hongkong melalui jalan air. Kakek kan sudah kenyang makan asam garam dalam urusan angin atau cuaca. Bagaimana menurut kakek? Apakah baik jika berangkat malam ini?" Tanya Tigor.


Mendengar pertanyaan dari Tigor, tengku Mahmud tidak langsung menjawab. Dia mendongak memandang ke arah langit lalu bergumam., "Cuaca sedang baik. Angin juga tidak terlalu kencang. Jika ingin berangkat malam ini, maka tidak buruk. Hanya saja, sebelum bulan ini berakhir, kau harus segera kembali. Jika terlambat, aku khawatir akan ada kejadian yang akan menimpa orang terdekat dengan mu."


"Apa.maksudnya Kek?" Tanya Tigor mulai merasa tidak enak hati.


"Jawabannya akan kau dapat setelah kau kembali nanti. Makanya kalau mau membalas dendam itu, biar tuntas sampai ke akar nya." Kata Kakek Mahmud.


"Begitu juga tidak buruk. Aku hanya bisa memberi nasehat dan memperingatkan untuk tidak berlama-lama di negri orang. Setelah urusan mu selesai, segera kembali." Pesan Kakek Mahmud kepada Tigor.


"Pesan dari Kakek akan aku ingat selalu." Kata Tigor sambil menyalami lelaki tua itu dan memohon diri untuk segera pergi.


*********


Beberapa orang yang mengikuti rombongan Tigor dan empat Mister dadakan bergegas mengangkat koper yang berjumlah puluhan itu memasuki hutan kayu bakau di sepanjang pinggiran pantai berlumpur di bagian kanan kampung kuala nipah itu.


Meskipun beberapa dari mereka mengalami luka gores akibat terkena duri dari pelepah nipah, namun mereka tetap bersemangat.


Bukannya mereka tidak bisa melalui jalan pantai, namun untuk menghindari kecurigaan penduduk di sepanjang pantai itu, rombongan Tigor hanya memiliki satu pilihan yaitu dengan cara memasuki hutan bakau dan berkeliling untuk mencapai tempat yang sudah dijanjikan oleh Martin dengan perusahaan tempat mereka menyewa Speedboats.


Saat Tigor dan orang-orang nya tiba di luar pinggir laut tak berpantai, ketika itu jam menunjukan tepat pukul 7 menjelang malam.


"Di sini tempat nya Bang?" Tanya Acong.


'Harusnya di sini. Kita tunggu saja!" Jawab Tigor.


"Kalian semua. Ingat! Ketika kami nanti berangkat, jaga bicara kalian setelah tiba di kota Tasik putri! Sedikit saja rahasia keberangkatan kami ini bocor kepada Beni atau geng tengkorak, jangan harap kami akan berhasil mengirim barang ini ke Hongkong dengan mudah." Kata Tigor.


"Percaya sama kami bang! Tidak mudah mengorek tikus yang sudah masuk ke mulut kucing. Apa lagi kami ini." Kata Mereka.


"Ingat sumpah darah yang kalian ikrarkan! Aku tidak memberi ampun kepada penghianat. Kalian harus tau bahwa kita berasal dari jalan. Kita ingin mengubah nasib dan menaikkan derajat hidup agar tidak di anggap sebagai sampah bagi masyarakat. Ini adalah langkah awal untuk mengubah takdir. Jika gagal, kita semua akan kembali hidup di jalanan." Kata Tigor.


"Sekarang kalian boleh kembali. Sebagian lewat jalan tadi, dan sebagian boleh menyisir pinggir pantai ini. Salah seorang dari kalian harus mengantar mobil ku ke blok B dan kembalikan mobil Van sewaan itu ke pemiliknya."


"Baik bang. Jika begitu, kami pamit dulu." Kata mereka.


Semuanya berpelukan dan memberi ucapan dan doa agar bisnis Tigor dan keempat teman mereka yang ikut dalam perjalanan itu tidak terhambat suatu apa pun.


Selesai dengan semua itu, sebagian dari mereka kemudian memasuki hutan bakau dan sebagian lagi berjalan menyusuri pantai.


Tigor sendiri hanya mematung saja melihat kepergian anak buahnya yang semakin menghilang di kejauhan.


Dia baru mengalihkan perhatiannya ketika sayup-sayup di ujung sana satu unit Speedboats laksana anak panah lepas dari busur nya mengarah ke arah mereka dengan kecepatan yang sukar dibayangkan.


"Mereka telah sampai." Kata Tigor bergumam sambil mengalihkan perhatiannya kearah keempat Mister dadakan.


"Kalian bersiap sedia!" Perintah Tigor yang langsung disambut oleh Andra, Acong, Ameng dan Timbul dengan anggukan.


Keempat Mister dadakan itu kini berdiri di pinggiran semak-semak sambil memperhatikan tumpukan koper yang akan mereka bawa berlayar.


Lima menit berselang, kini Boats yang tidak terlalu besar namun cukup untuk menampung sekitar 12 orang itu pun merapat di pinggiran tebing tanah berlumpur.


Kemudian salah seorang dari dua orang yang bertugas sebagai awak keluar dari dalam kabin dan berteriak. "Apakah kalian anak buah Martin?"


Tigor hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan itu.


"Kami adalah organisasi tentara bayaran dari China. Kebetulan kami sedang melakukan operasi di perbatasan. Martin dan Lalah meminta kami untuk mengantar kalian ke Hongkong. Bagaimana? Apakah kalian sudah siap untuk melakukan perjalanan?"


"Ya. Kami sudah siap. Tidak perlu menunggu lagi. Sebaiknya kita berangkat saja sekarang!" Kata Tigor sambil menyuruh keempat temannya untuk berbaris dan saling sambut menyambut memindahkan koper itu sampai ke dalam boats.


Sebelum berangkat, lelaki berambut cepak layaknya seperti tentara itu memberikan rompi pelampung kepada Tigor dan kawan-kawannya berikut dengan kacamata agar ketika speedboats yang memiliki kecepatan luarbiasa itu mulai berjalan, mereka tidak akan mengalami perih pada mata.


"Semua telah siap! Lets go...!" Kata lelaki itu yang di balas dengan gestur Ok dari pengemudi, dan rombongan Tigor pun segera melesat menuju ke tengah-tengah lautan.


"Pantas Martin begitu percaya diri jika pasukan tentara laut atau polisi laut tidak bisa mengejar. Ternyata kecepatan speedboats ini mengerikan. Rambut ku nyaris tanggal dari kepala." Kata Tigor dalam hati.