BLACK CAT

BLACK CAT
Bocornya rencana Monang



Senja menjelang malam, di pusat hiburan dunia gemerlap malam, tampak ratusan lelaki muda antara usia 22 sampai 25 tahun tampak berada di beberapa tempat di sekitar bangunan yang dikenal sebagai sarang maksiat nya kota Tasik putri itu.


Ada sebagian yang duduk-duduk di dekat pintu masuk, sebagian ngumpul-ngumpul di sekitar halaman dan tempat parkir, namun tidak sedikit juga yang duduk atau menyamar sebagai pengunjung dan pelanggan di restoran Samporna.


Tampak raut serius dari setiap wajah mereka seperti sedang bersiap menantikan sesuatu yang akan terjadi. Walaupun ada sebagian yang memaksa untuk bersenda gurau, namun hal itu tidak dapat menutupi sesuatu yang bergejolak di dada setiap anak muda itu.


Sementara itu di bagian dalam salah satu rumah staf yang disediakan oleh Martin, terlihat beberapa orang pemuda diantara nya adalah Monang, Ucok, Sugeng, Thomas dan Jabat/Bejo sedang membahas segala kemungkinan yang bakalan terjadi.


"Bang Monang. Apakah kau sudah mengumpulkan semua anak buah mu dan orang-orang bang Tigor yang berada di Gang kumuh dan di sekitar kafe dekat jembatan?" Tanya Ucok.


"Semua sudah aku kumpulkan. Kecuali 20 orang di gang kumuh. Mereka tidak boleh meninggalkan rumah karena Tigor sudah berpesan apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh meninggalkan rumah. Saat aku tanya apa alasannya, mereka enggan untuk menjawab. Sepertinya mereka merahasiakan sesuatu." Kata Monang.


Wajar jika dua puluh orang anak buah pilihan yang di pilih oleh Tigor enggan meninggalkan markas mereka di gang kumuh, walaupun gang kumuh sudah bukan lagi menjadi kawasan yang berada di bawah kekuasaan Tigor. Namun, karena mereka memenjarakan Acun di sana, maka itu sudah menjadi tanggung jawab mereka sebagai orang yang di tunjuk langsung oleh Tigor untuk mengemban tugas tersebut.


Andai karena keteledoran mereka menyebabkan Acun kabur dari tahanan dan berhasil melarikan diri ke kota Batu, sudah pasti geng kucing hitam akan di cap sebagai Mafia berjiwa gengster yang gemar merampok. Maka, 20 kepala anak buah yang di tunjuk langsung oleh Tigor tadi akan menjadi buah semangka yang siap untuk di petik.


"Sudah lah bang. Hanya 20 orang. Sisa nya kan sudah ngumpul di sini. Lalu apa rencana yang akan kita buat? Apakah kita menyongsong mereka yang datang dari kota Batu atau kita jebak mereka?" Tanya Sugeng.


"Kalau kita menjebak mereka, aku rasa itu ide yang bagus. Namun perlu kau tahu! Bahwa jika terjadi perkelahian di sini, kita akan mengalami dua kali kerugian. Yang pertama resiko cedera bagi diri kita sudah pasti. Yang ke dua, kerusakan properti. Sebaiknya kita bagi dua saja kelompok ini. Sebagian kita siagakan di dekat jembatan. Sebagian lagi kita jadikan sebagai tenaga cadangan. Jika di sana terjadi bentrokan, maka yang di sini akan terjun ke sana untuk membantu. Begitu sebaliknya." Kata Monang.


"Begitu juga baik bang. Mari kita atur beberapa kelompok kecil untuk berangkat menuju jembatan." Kata Jabat.


Mereka berlima di ikuti oleh beberapa orang yang terdiri dari anak buah Monang segera keluar dari rumah tersebut untuk mengatur segala persiapan.


Persiapan itu mungkin sudah sangat matang bagi mereka. Tapi kali ini mereka melawan Beni. Ahli kelicikan dan penjilat nomor satu di organisasi geng kucing hitam.


**********


Seorang lelaki setengah baya dengan rambut sedikit sudah botak seperti seorang profesor sedang duduk di dalam mobil Mercedez benz dengan kaca hitam membuat siapa saja yang melihat dari luar tidak akan dapat mengenali wajah orang yang berada di dalam mobil tersebut.


Mobil tersebut tepat terparkir di depan restoran Samporna sambil memperhatikan seluruh aktifitas di sana termasuk gerombolan-gerombolan anak buah Tigor dan anak buah Monang.


Lelaki itu baru mengalihkan perhatiannya ketika dia mendengar suara dering di ponsel nya menandakan pesan Whatsapp telah masuk.


Lelaki setengah baya itu lalu merogoh saku untuk mengeluarkan ponsel dan melihat ternyata itu adalah pesan suara yang di kirim oleh seseorang kepadanya.


Dengan mendekatkan ponsel itu ke telinga, lelaki setengah baya itu mulai memutar dan mendengarkan isi dari pesan suara tersebut yang berbunyi....,


"Kalau kita menjebak mereka, aku rasa itu ide yang bagus. Namun perlu kau tahu! Bahwa jika terjadi perkelahian di sini, kita akan mengalami dua kali kerugian. Yang pertama resiko cedera bagi diri kita sudah pasti. Yang ke dua, kerusakan properti. Sebaiknya kita bagi dua saja kelompok ini. Sebagian kita siagakan di dekat jembatan. Sebagian lagi kita jadikan sebagai tenaga cadangan. Jika di sana terjadi bentrokan, maka yang di sini akan terjun ke sana untuk membantu. Begitu sebaliknya."


Setelah mendengar isi pesan suara yang di rekam dari tempat yang tidak terlalu jauh itu, lelaki setengah baya itu tersenyum jahat.


Dalam hati dia berkata, "kalian tidak tau sedang berhadapan dengan siapa. Aku adalah Beni. Aku sudah berkecimpung di dunia kebiadaban ini seumur hidup ku. Hanya sekali aku dipecundangi. Dan itu adalah Tigor. Tapi itu tidak akan lama. Aku pasti akan membalas nya."


Selesai berkata begitu dalam hatinya, lelaki setengah baya yang ternyata adalah Beni itu langsung menjalankan mobil nya menuju ke pinggiran komplek elit tasik putri.


Setelah tiba di sana, dia segera mengirim pesan suara kepada konco-konco nya.


"Togi, dan Strongkeng! Kita mengalami perubahan rencana. Kalian tunggu instruksi selanjutnya dari ku. Aku akan menghubungi Tumpal." Kata Beni mengirim pesan suara melalui Whatsapp tersebut.


"Hallo Beni." Kata Tumpal begitu panggilan telepon itu terhubung.


"Tumpal. Di mana kalian saat ini? Apakah kalian sudah on the way?" Tanya Beni.


"Seeeeh... Kucing kurus makan pakis. Jangan sok bahasa inggris plis..!" Kata Tumpal.


"Hahaha... Sudah lah. Yang penting kau tau artinya ngapain diributkan? Saat ini aku sedang memantau pergerakan anak buah Tigor yang berada di kota tasik putri. Aku tidak tau dari mana mereka mendapat kabar bahwa kalian akan datang untuk membuat onar di pusat hiburan dunia gemerlap malam. Yang jelas mata-mataku mengatakan bahwa mereka akan mempersiapkan jebakan untuk kalian." Kata Beni.


"Bah...! Celaka dua belas. Lalu?" Tanya Tumpal sedikit tegang. Hal ini membuat Togar yang berada di samping nya merasa penasaran.


"Ada apa Tumpal?" Tanya lelaki jumbo itu.


Tumpal menceritakan apa yang di sampaikan oleh Beni kepadanya.


"Mari HP-mu itu. Biar aku yang bicara!" Kata Togar.


"Hallo Beni. Ini Togar. Apa yang kau ketahui?" Tanya lelaki itu.


"Bang Togar. Saat ini mereka sudah mengetahui pergerakan kita." Kata Beni lalu menceritakan semua yang dia ketahui baik itu dari apa yang dia lihat dan informasi dari mata-matanya.


"Lalu apa kau memiliki solusi lain?" Tanya Togar.


"Solusi selalu ada bang. Hanya saja abang sanggup atau tidak?" Tanya Beni.


"Maksud mu?"


"Bang. Bagi dua orang-orang mu. Kau dan Tumpal harus memutar jalan dari Dolok ginjang." Kata Beni.


"Sudah gila kau rupanya Beni. Jika aku memutar jalan dari Dolok ginjang ke Tasik putri, bisa subuh aku baru sampai. Senget otak kau Beni." Kata Togar dengan marah.


"Bang. Apa kau mau anak buah mu, anak buah ku, kau, Tumpal dan aku menjadi penghuni kuburan?" Kata Beni merasa tersinggung dengan perkataan Togar tadi lalu dia melanjutkan. "Jika kau mau mati bang, kau mati saja duluan. Aku masih mau hidup." Kata Beni.


"Sialan kai Beni. Ini pasti ada dari anak buah mu yang berkhianat." Maki Togar.


"Itu urusan nanti bang. Yang jelas saat. ini anak buah Tigor dan Monang hampir berjumlah tiga ratus orang. Kau mau melawan mereka. Itu sama saka satu lawan enam orang. Mana anak buah mu lembek tak seperti anak buah Tigor yang memiliki kemampuan satu lawan empat." Kata Beni lagi.


"Jadi, apakah kau memiliki rencana." Tanya Togar.


"Seperti kata ku tadi lah bang. Kau memutar dari Dolok ginjang ke Tasik putri." Lalu Beni menceritakan semua rencana yang akan mereka lakukan secara rinci dan panjang lebar sampai mulut Beni kecut baru Togar faham apa yanh direncanakan oleh Beni.


"Baik. Aku setuju. Kau siagakan anak buah mu. Aku dan Tumpal akan mengambil jalan memutar bersama setengah anak buah mu. Nanti jika sudah tiba di kota Tasik putri, aku akan menghubungi mu." Kata Togar.


"Siap bang!" Kata Beni lalu mengakhiri panggilan.


"Hahahaha... Hahahaha... Mati kau Martin!" Kata Beni tertawa sinis.


Merasa cukup dengan tawa nya yang keras itu, Beni pun keluar dari dalam mobil dan segera berjalan memasuki rumah nya.