BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor gaptek



Tidak terasa sudah hampir sebulan Tigor dan anak buahnya berada di kota Kemuning.


Hari ini, setelah beberapa waktu yang lalu dia yang menggunakan nama organisasi kucing hitam membuka tender proyek untuk pembangunan pertama miliknya di Kota Kemuning itu, tampak sedang sibuk mengecek beberapa proposal yang masuk.


Banyak diantara para kontraktor yang ingin memborong proyek ini menawarkan berbagai iming-iming dari mulai kualitas kerja, ketepatan waktu yang di tetapkan dan banyak lagi yang lainnya. Namun ada satu yang sangat menarik perhatian dari Tigor ini. Yaitu, tentang jaminan keamanan yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan luar negri yang bertempat di MegaTown yaitu R2D MegaTown.


Dalam proposal yang mereka kirim, perusahaan kontraktor ini menawarkan keamanan. Hal ini mereka ungkap dengan jelas bahwa ada banyak organisasi di kota tetangga yang bisa mengganggu jalannya kerja-kerja pembangunan.


Dalam proposal penawaran itu juga mereka mengatakan bahwa mereka bukan hanya ingin sebuah keuntungan dari kesepakatan, melainkan perusahaan mereka ingin melebarkan sayap dalam dunia konstruksi serta menjalin persahabatan di masa yang akan datang.


Tepat ketika Tigor sedang sangat serius sekali dalam membaca isi dari tawaran itu, tiba-tiba semua sahabat nya datang menghampiri.


"Woy Bang Tigor. Serius kali kau bang. Jangan sampai HP dan Kertas itu terbakar karena tatapan matamu. Seperti yang di TV itu. 'PERHATIKAN MATA SAYA!' hahahaha.... Kata Acong.


"Ah kalian bikin aku terkejut saja." Jawab Tigor masih sambil terus menyimak sesuatu yang berada di hadapannya.


"Ini lah kalau tidak punya sekolah. Baca pun gagap." Kata Tigor seperti mengeluh kepada dirinya sendiri.


"Apa yang bisa kami bantu bang?" Tanya Ameng.


"Kau bantu doa saja lah. Mau bantu apa? Kau, Andra dan Timbul pun buta huruf. Tapi doakan. Kelak kalau bangunan sekolah itu sudah berdiri, kita bisa belajar tulis baca bersama." Kata Tigor tersenyum sambil memandang ke arah para sahabatnya itu.


"Lalu apa lagi yang kau pusing kan bang? Gas lah! Biar bangunan sekolah itu cepat berdiri." Kata Timbul pula.


"Begini Mbul. Bukan masalah gas-gas nya. Masalahnya aku bingung karena terlalu banyak yang mengajukan proposal tentang keinginan mereka untuk menghandle proyek ini." Kata Tigor.


"Pilih satu Gor yang terbaik menurut mu!" Kata Andra pula.


"Apa aku harus meminta bantuan Rio ya untuk melacak informasi tentang mereka ini di Internet. Soalnya kalau aku minta bantuan kepada bawahan di sini, malu lah. Kan bisa ketahuan kalau aku tidak punya pendidikan. Wajah ku ini mau di letakkan di mana?" Tanya Tigor dengan senyum kecut.


"Hahahaha... Bang..., Bang. Masih punya malu juga kau." Kata Acong ngakak.


"Busyet dah Cong. Aku ini ketua kalian. Kalau aku malu, kau juga pasti akan ikut malu." Kata Tigor.


"Maluku di Ambon bang." Kata Acong sambil terus tertawa.


"Asem lah. Eh begini saja. Kau tanya Monang! Apakah dia tau tentang seluk-beluk pencarian informasi di internet. Kalau dia bisa, suruh dia menemui aku di sini!" Kata Tigor kepada keempat orang itu.


"Siap laksanakan Pak Ketua!" Kata mereka berempat sambil menghormat lalu memutar badan layaknya anak Pramuka.


*********


Dua orang pemuda itu saling tergagap membaca beberapa bait tulisan berbahasa Inggris yang tertera di layar ponsel mereka.


Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak ketika salah satu dari mereka melirik ke yang lainnya.


"Gor. Aku kalau melihat ekspresi mu seperti itu, aku ingat kambing tetangga yang mau melahirkan."


"Aduh Monang. Baca saja lah biar aku dengar!" Kata Tigor.


"Baca gimana? Percuma Gor! Artinya kita tidak tau." Kata Monang sambil menggaruk-garuk kepala.


"Haduh. Mau minta tolong sama siapa lagi lah kita ini?" Kata Tigor seperti putus asa.


"Sama geng Andra sudah Gor?" Tanya Monang.


"Kalau mereka bisa, ngapain mereka aku suruh memanggil mu?!" Bantah Tigor.


"Bukannya mau menghina. Kami tumbuh besar bersama. Mereka jauh lebih parah dari aku." Jawab Tigor.


Hening sejenak karena pikiran masing-masing sedang buntu.


Dalam hati Tigor saat ini hanya ada satu cara, yaitu dengan berangkat ke kota Batu menemui adiknya Rio. Kan Rio saat ini sedang menjalani pendidikan di kota Batu dalam pengawasan Pak Harianja.


"Mirna, Gor!"


Tiba-tiba saja Monang menyebutkan nama Mirna dengan sangat keras membuat Tigor kaget setengah mati. Kini secercah harapan baru timbul di hati nya.


"Mirna. Hmmmm... Aku nyaris melupakan gadis itu. Hahaha. Ayo kita temui dia!" Ajak Tigor penuh semangat.


"Kau saja lah Gor. Aku sungkan dengan Mirna. Kau kan ingat dulu seperti apa perlakuan ku ke Mirna?!" Kata Monang sambil terlihat seperti uring-uringan.


"Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu. Tapi kau tidak boleh selamanya seperti itu kepada Mirna. Jika kau tidak meminta maaf kepadanya, selamanya kau akan dikejar rasa bersalah dan malu." Kata Tigor sambil bangkit berdiri lalu melangkah meninggalkan Monang.


"Aku belum siap. Penyesalan itu membuatku terlalu malu." Kata Monang juga melangkah pergi ke arah yang berlawanan dengan Tigor.


Baru saja Tigor akan memasuki rumah yang di sediakan oleh Martin untuk nya, dia hampir saja bertabrakan dengan Mirna.


"Kau ini bikin kaget saja. Ngapain nguping pembicaraan orang?" Tanya Tigor.


"Aku mendengar suara Bang Monang terlalu keras menyebut nama ku. Makanya aku penasaran lalu menguping pembicaraan kalian." Jawab Mirna jujur.


"Oh gitu. Kirain kau ingin melihat wajah ku yang ganteng ini." Kata Tigor sambil terkekeh.


"Bang jangan bicara gitu lah. Nanti Mbak Wulan marah kepada ku." Kata Mirna sambil mencibir.


"Wulan atau Black Cat?" Tanya Tigor menggoda.


"Apaan sih. Jangan sebut nama Black Cat Bang! Dia sudah tidak perduli lagi kepada ku. Masa iya hanya ingin melihat wajahnya saja, sampai-sampai ingin mencabut nyawaku." Kata Mirna dengan wajah sedih.


Melihat Mirna dengan ekspresi wajah seperti itu, membuat Tigor setengah mati menahan tawa.


"Kau itu yang salah. Mencintai orang yang tak jelas wujud dan rupa. Ini babang ada di hadapan mu. Mengapa kau tidak membuka hati?" Tanya Tigor.


"Kuncinya ada di Abang. Aku hanya menurut saja. Jika Abang menginginkan, aku akan rela menjadi milik mu. Tapi jangan paksa hatiku untuk mu. Boleh?" Tanya Mirna dengan sorot mata penuh harap.


"Lupakan masalah itu! Masih banyak waktu untuk kita saling mengenal.


Oh ya Mirna! Aku ada satu keperluan kepada mu. Kau tamat kan SMA?" Tanya Tigor.


"Tamat." Jawab Mirna singkat.


"Bisa bantu aku untuk melacak informasi orang di internet? Soalnya, semua yang kami lihat tadi bersama Monang, semuanya bahasa Inggris." Kata Tigor.


"Kan bisa di ubah ke bahasa Indonesia." Kata Mirna.


"Mana aku tau. Kau saja yang cari. Aku akan mengatakan kepada mu siapa-siapa nama yang akan kau cari di internet."


"Sini HP-mu bang. Kita cari sama-sama."


Sambil garuk-garuk kepala Tigor menyerahkan ponsel nya kepada Mirna.


Mereka lalu duduk di depan pintu untuk melakukan apa yang di pinta oleh Tigor sambil sesekali bersenda gurau.