BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor VS Wulan



Perumahan Blok B tasik putri.


Setelah mengantar adiknya Rio bersama pak Harianja dari kejauhan, Tigor pun memilih untuk kembali ke rumah dan rencananya adalah untuk Tidur. Karena tiga malam ini dia terus-terusan kurang tidur.


Melihat ke arah jam dinding yang saat itu menunjukkan pukul 11 menjelang tengah hari, tanpa membuang-buang waktu lagi, Tigor pun langsung merebahkan badannya di kasur.


Mungkin terlalu lelah atau terlalu ngantuk, sampai tak terasa kalau ini sudah pukul 4 sore. Saat itu ponsel Tigor sudah berdering lebih dari sepuluh kali. Mungkin karna penjaga rumah tersebut tidak berani membangunkan Tigor yang tidur seperti orang mati.


Kriiiing...!


Kriiiing...!


Untuk kesekian kalinya ponsel milik Tigor berdering.


"Halo..!"


Akhirnya dengan malas, Tigor menjawab juga panggilan tersebut.


"Tigooooor...! Dimana kau? Lihat sudah berapa kali aku menelepon mu! Sudah pukul berapa ini? Kau jangan main-main Gor! Katakan kepadaku kau di mana sekarang?!"


Tigor tersentak mendengar suara bentakan dari si penelepon yang ternyata adalah Wulan itu.


Dengan sedikit tergagap dia menjawab juga.


"Maafkan aku Lan. Aku ketiduran." Jawab Tigor.


"Katakan di mana kau saat ini?!"


"Aku di Blok B tasik putri. Ingat kan waktu kau dulu mengantar mobil yang di beli oleh Martin dari ayah mu? Aku di rumah yang sama." Jawab Tigor.


"Baik. Aku akan datang sekarang. Kebetulan aku berada di kafe dekat jembatan." Kata Wulan lalu mengakhiri panggilan.


"Celaka sungguh mak lampir sialan ini." Rutuk Tigor dalam hati.


"Oh mobil. Mobil harus di sembunyikan. Kalau mak lampir itu tau bahwa itu adalah mobil ku, bisa panjang lagi urusan." Kata Tigor buru-buru lari ke depan untuk memasukkan mobil nya ke garasi.


*


Mobil sport Acura NSX warna putih berhenti tepat di depan sebuah rumah tiga lantai di Blok B tasik putri.


Dari dalam mobil keluar seorang gadis lumayan cantik yang memiliki wajah garang dan tampak sangat mendominasi dan seperti suka mengintimidasi sedang terburu-buru melangkahkan kakinya memasuki rumah milik Tigor tersebut.


Tanpa basa-basi dan ba bi bu lagi, dia terus saja menerobos masuk sambil berteriak.


"Tigooooor...!"


"Woy Tigooor bodat. Di mana kau?" panggil gadis itu dengan mata jelalatan mencari ke sana ke mari.


"Hemat sedikit dengan suaramu itu! Aku belum tuli."


Terdengar suara sahutan dari arah belakang membuat wanita itu sedikit terperanjat.


"Kau! Aih.., mengapa kusut kali muka kau itu?" Tanya gadis itu.


"Aku ketiduran tadi. Makanya wajah ku begini." Jawab Tigor seadanya.


"Bangunan roboh pun tak seburuk wajah kau ini."


"Mengapa? Kau malu mengajak aku? Ya sudah pergi saja sendiri!" Kata Tigor cuek.


"Heh kacung! Semakin jelek wajah kau itu, semakin aku suka. Namanya juga kacung. Ingat ya! Kau itu hanya bertugas membawa barang-barang ku. Nanti di sana kau akan menjadi pelayan pribadi ku. Ketika aku butuh sesuatu, kau akan mengambilkannya. Mengerti?!" Kata Wulan dengan muncung termonyong-monyong membuat Tigor geram setengah mati.


"Seterah kau saja lah. Daripada benjol." Kata Tigor sambil mengangkat bahu.


"Terseraaaaah Tigoooooor.....! Bukan seterah." Jerit Wulan sewot.


"Iya mau bilang itu aku tadi. Tapi tak sempat."


"Eh cepat nanti kita terlambat. Aku harus belanja dulu di butik sekalian membelikan baju dan celana yang layak untuk mu. Muka kau itu juga harus di dempul biar mentereng." Kata Wulan sambil menarik tangan Tigor.


"Sendal. Aku mau ambil sendal ku dulu." Kata Tigor.


"Tidak perlu. Kita sudah tidak punya banyak waktu." Kata Wulan sambil terus menarik tangan Tigor.


Terasa terhiris hati Tigor melihat penampilannya yang sangat menyedihkan seperti itu.


Bayangkan saja bahwa dia harus mengikuti kemana Wulan pergi dengan kaki ayam alias tanpa sendal apalagi sepatu.


"Mak. Malu kali aku bah." Kata Tigor bergumam.


"Gor. Kau tunggu di sini. Aku akan mencoba gaun. Nanti kau bantu aku untuk menilai." Kata Wulan sambil memilih beberapa gaun dan membawanya memasuki kamar ganti.


Tak lama setelah itu Wulan keluar dengan memakai gaun yang entah apa namanya itu lalu berdiri di depan Tigor.


"Bagaimana menurut mu Gor?" Tanya Wulan.


"Hmmm.., lumayan sempurna. Putih, mulus dan jenjang." Kata Tigor.


Tok....!


"Aduuuh. Gila kau ini. Mengapa menjitak kepala ku?" Tanya Tigor sambil menggosok kepalanya yang terkena jitakan Wulan.


"Yang aku tanya gaun yang aku kenakan ini. Warnanya kan kuning, apanya yang putih, mulus dan jenjang?" Tanya Wulan semakin jengkel.


"Oh iya iya iya. Kirain yang itu."


"Kau!!! Aiiih... Mesum kau kan Gor!" Kata Wulan sambil menunjuk ke arah hidung Tigor.


"Lagian kau juga salah. Beli baju itu yang sudah selesai di jahit lah. Ngapain beli baju yang kekurangan bahan begini." Kata Tigor.


"Ini tuh tren jaman sekarang Gor!!! Kau mana tau. Kau kan biasa miskin." Jawab Wulan.


"Kalau pamer anggota tubuh itu kau anggap tren jaman sekarang, kambing dikandang jauh lebih tren. Soalnya dia sama sekali tidak pakai baju." Kata Tigor sesuka nya.


Deg...!


"Sialan si miskin ini. Perkataannya ngena banget. Kenapa aku jadi semakin suka sama si Tigor ini ya?" Kata Wulan dalam hati.


"Lan. Kau masih lama kan? Aku akan membeli sendal sebentar." Kata Tigor.


"Temani aku dulu Gor. Menurut mu, yang mana gaun yang cocok untukku pakai?" Tanya Wulan.


"Yang ini bagus Lan." Kata Tigor sambil menunjukkan gaun yang tidak terlalu minim dan memiliki rok jauh di bawah lutut.


"Ya sudah. Setelah ini aku akan menyuruh mu memilih kemeja yang sesuai untuk mu. Kau suka yang mana Gor?" Tanya Wulan. Kali ini nada bicara nya jauh lebih lembut.


"Tergantung kekuatan uang mu." Jawab Tigor.


"Hey tikus got! Kau jangan mengukur isi dompet ku ya. Butik ini beserta isinya pun aku sanggup beli tanpa berkedip. Putri Lalah ini. Agen mobil dari Dolok." Kata Wulan dengan bangganya.


"Mentang-mentang lah kau itu anak penjual mobil. Sampai-sampai muka awak pun mau kau dempul." Kata Tigor sambil berdiri lalu memilih kemeja warna biru gelap dan celana jeans merk levis.


Setelah selesai berganti pakaian, Tigor langsung keluar dari kamar itu dan melenggak-lenggok seperti super model di depan kaca ccermin sambil bergumam, "Oh Tuhan. Ampunkan hambamu ini jika bersikap sombong. Tapi emang benar bahwa hamba merasa sangat tampan." Kata Tigor membuat Wulan membeliakkan matanya.


"Aku belum pernah bertemu dengan lelaki yang urat malunya udah putus sejak lahir seperti dirimu ini." Kata Wulan.


"Walaupun kau mengatakan seperti itu, setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri bahwa di awal kita berkenalan dulu, kau sempat jatuh hati kepada ku. Ya kan?" Kata Tigor sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Wulan.


Dag dig dug disco hati Wulan mendengar bisikan dari Tigor barusan. Namun sekuat tenaga dia membantah dan mendorong tubuh Tigor agar menjauh walaupun hatinya berkata bahwa Tigor memang sangat tampan dan lumayan machoo walaupun tidak pernah waras.


"Kau yang bayar kemeja dan celana ku ini. Lalu, belikan aku sepatu louis vuitton. Aku ingin sepatu itu." Kata Tigor menggoda.


"Sialan kau Tigor. Kau kira kau siapa? Sepatu itu harganya lebih seratus juta. Gila kau ini kan?" Bentak Wulan.


"Berarti kekuatan uang mu hanya sebatas isapan jempol ku saja. Kau sama saja seperti perempuan dari golongan bawah. Sudah lah. Aku hanya becanda. Mana mampu kau membelikan aku sepatu itu." kata Tigor.


"Mengapa kau jadi matre? Emang kau siapa?"


"Aku?, aku kan kacung mu. Eh aku bukan matre ya. Aku hanya ingin mengukur seberapa dalam isi dompet mu yang konon katanya mampu membeli butik ini beserta isinya tanpa berkedip." Kata Tigor mencibir.


"Kau. Kau.. Iiihhh....."


Kemarahan Wulan sudah sampai di ubun-ubun saat ini. Dia benar-benar habis di kerjai oleh Tigor.