BLACK CAT

BLACK CAT
Rencana merampok Acun dari Singapore



Tiga hari setelah pertemuan antara Martin yang didampingi oleh Black Cat menemui Lalah di Dolok ginjang, kini Tigor mengumpulkan seluruh anak buah nya yang berada di bawah komando Andra, Acong, Timbul dan Ameng.


Dalam pertemuan itu, Tigor menyampaikan bahwa mereka semua akan pindah ke kota Kemuning dalam waktu dekat. Jadi, Tigor menghimbau kepada semua sahabat-sahabat gelandangannya itu untuk mempersiapkan diri agar bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru nantinya.


Beruntung bagi mereka karena sebagian dari anak buah Tigor pernah ditempatkan di sana. Jadi, banyak hal-hal yang bisa mereka ceritakan untuk mempermudah Tigor mengatur siasat.


"Kapan kita akan berangkat ke kota Kemuning itu bang?" Tanya Timbul.


"Secepatnya kita akan berangkat setelah satu misi dapat kita selesaikan." Jawab Tigor.


"Maksud Abang, misi apa itu?" Tanya Acong.


"Misi kita kali ini sangat berbahaya. Dalam satu atau dua hari lagi, Acun akan datang dari Singapore ke kota Batu untuk mengadakan pameran berlian. Aku tidak tertarik dengan kalung berlian palsu itu. Yang menarik perhatianku adalah, ada sesuatu di balik ajang pameran itu."


"Maksudnya bang?" Tanya Timbul.


"Maksudnya adalah, pameran itu hanya kedok untuk mengalihkan perhatian. Sedangkan dibalik dari semua itu, mereka ingin mengadakan transaksi narkoboi dalam jumlah yang tidak sedikit."


"Wah. Ini berita bagus. Ternyata lebih cepat dari yang aku duga." Kata Andra.


"Memang bagus. Tapi resiko nya juga bagus." Jawab Tigor sambil tersenyum kecut.


Setelah dia berhenti sejenak untuk berfikir, kemudian Tigor melanjutkan.


"Dulu, mendiang ayah ku sebelum mengadakan operasi penggerebekan, dia akan terlebih dahulu melakukan penyelidikan dan pengintaian di lokasi-lokasi yang berpotensi untuk dijadikan tempat transaksi. Maksudku adalah, aku akan meniru cara kerja mendiang Ayah ku sebelum kita melakukan perampokan."


"Apakah kau sudah memikirkan caranya Gor?" Tanya Andra.


"Sudah.


Saat ini kita semua berjumlah 201 orang. Aku tidak masuk dalam hitungan. Sekarang kalian semua harus memasuki kota batu dan menyamar sebagai gelandangan. Fokus kalian adalah menyelidiki kawasan-kawasan bangunan tinggal, area parkir hotel, gudang-gudang tua serta kawasan pinggir laut. Kau Acong! Bawa sekitar 10 orang dan berangkat ke pelabuhan Kuala nipah. Awasi semua kapal yang bersandar di sana. Baik yang datang atau yang pergi. Begitu kau melihat sesuatu yang mencurigakan, segera lapor pada ku. Namun jangan lupa bahwa dua orang di antara kalian harus membuntuti mereka dari jarak yang aman!"


"Aku mengerti bang." Jawab Acong.


"Andra bersama 50 orang berangkat ke kampung baru. Pelajari area kawasan itu. Seluk beluk kawasan itu harus kalian kuasai. Ini sangat berguna andai kita dalam keadaan terdesak. Jangan korbankan diri! Jika terdesak, maka jawabannya adalah kabur."


"Ameng! Kau bawa 50 orang ke bukit batu kawasan Villa-Villa elit di sana. Sama seperti Andra. Kalian harus menguasai peta area itu sesingkat mungkin. Darimana jalan masuk dan cari jalan keluar. Sekitar dua kilo meter dari sana, ada bangunan tua yang bangkrut. 500 meter ke utara ada perkebunan karet. Andai di sana nanti yang mereka pilih sebagai tempat untuk mereka melakukan transaksi, kalian harus menguasai areal perkebunan karet itu! Begitu Black Cat berhasil, dia akan melarikan diri ke perkebunan karet. Pasti akan ada pengejaran. Tugas kalian adalah menjebak mereka dan kuburkan di dalam semak-semak itu." Kata Tigor.


"Timbul! Kau bawa 60 orang. Tugas mu menjadi pengemis atau apa saja misalnya, menjadi pelayan kafe atau pengamen, atau tukang jaga parkir. Kali ini tugas mu adalah menyerap informasi!"


"Dengarkan kalian semua! Setelah semua medan area kalian kuasai seluk-beluk nya, setiap pimpinan dari kalian harus kembali ke sini dan aku menunggu kalian di bawah jembatan ini tepat pukul 5 sore. Kalian silahkan pilih orang-orang yang akan kalian bawa. Sisanya akan aku tempatkan di sepanjang kawasan kota Batu termasuk kantor polisi kota batu dan area perumahan kepolisian." Kata Tigor.


"Lalu kau akan kemana bang?" Tanya Ameng.


"Setelah orang-orang Acong kembali dari kuala nipah, di tambah dengan Andra, Ameng dan Timbul, maka jumlah kalian ada 14 orang. Aku akan membeli seragam polisi palsu dan senjata api palsu dari anak-anak bawah tanah di Dolok ginjang." Kata Tigor.


"Palsu Gor?" Tanya Andra.


"Iya. Kita mana punya banyak uang untuk membeli senjata api benaran dalam jumlah yang banyak. Palsu saja. Selebihnya, tergantung kemampuan kita bertarung. Makanya mengapa aku meminta kalian untuk mempelajari kawasan-kawasan itu. Supaya kita punya arah dan tidak amburadul dalam melarikan diri. Setelah ini berhasil, kita akan punya banyak uang dan kita akan membeli senjata asli dari Lalah di Dolok ginjang." Kata Tigor.


"Hahaha. Ternyata otak ketua kita ini seperti berlian. Bisa dijadikan batu cincin." Kata Acong sambil tertawa.


"Sialan kau Cong. Masa iya otak ku mau kau jadikan batu cincin. Oh ya.., ini titipan dari Black Cat. katanya dia berhutang padamu 15 juta rupiah." Kata Tigor sambil mengulurkan sesuatu yang dibungkus dengan plastik kresek warna hitam yang sobek di sana-sini.


"Tau aja dia kalau kantong ku sekarang ini lagi cekak. Ok lah bang. Bilang sama Black Cat itu jangan lagi sungkan jika ingin meminta bantuan dari ku. Acong ini bang. Peranakan China Batak." Kata Acong dengan bangga.


"Cina kok hitam." Kata Tigor mencibir sambil melemparkan plastik itu kepada Acong.


Semua yang ada di tempat itu tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan Tigor tadi.


"Aku ini hitam bukan dari lahir bang. Kelamaan di jalanan membuat kulit ku jadi hitam. Aslinya tidak begini aku bang. Kau kalah ganteng sama aku." Kata Acong mulai sombong.


"Sembarang. Tigor ini kebanggaan kita. Kalau ada kontes mirip korea, dia pasti juara 1." Kata Andra sambil memuji.


"Beda tipis antara Korea dengan korengan." Kata Tigor sambil tertawa juga.


"Kalau aku udah pas Acong."


"Aku pun udah pas. Nama ku kan Ameng."


"Pokoknya ada ng ng nya ya. Kalau begitu nama ku Thai lhin Chong." Kata Timbul sambil terduduk memegangi perutnya karena tertawa.


"Kalau kamu apa Ndro?" Tanya Tigor.


"Aku apa ya?" Kata Andra sambil berfikir.


"Aku saja yang Thai lhin Chong. Kalau si Timbul kan karena tidak tenggelam, bagaimana jika kita ganti saja namanya menjadi, Thai Ngam Bhang! kan ada juga ng ng nya." Kata Andra.


Kali ini semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar nama baru ala kechina-chinaan dari anak bekas gelandangan yang sama sekali tidak memiliki pendidikan ini. Dia kira asal akhirannya 'ng' Udah cina lah itu.


"Mengapa perut ku sangat sakit hari ini?" Kata Tigor sambil terbungkuk-bungkuk menahan tawa.


"Kau bang. Sekarang giliran mu. Apa nama yang pas untuk mu." Tanya Ameng.


Semua orang berfikir keras saat ini. Apa nama yang pas untuk Tigor.


Dalam keheningan itu, Tiba-tiba Acong nyeletuk.


"Karena kau adalah pimpinan kami, bagaimana jika namamu King no Kong?" Kata Acong.


"Apa artinya itu?" Tanya Andra.


"Kalau dalam bahasa inggris, No itu kan artinya Tidak. Jadi King no Kong itu artinya, bukan Kingkong!" Kata Acong sambil terpingkal-pingkal.


"Hahahaha. Kalian ini bisa aja." Kata Tigor.


"Eh jangan salah. Walaupun aku gelandangan, dulu aku sering mengintip orang yang belajar di sekolah. Aku ingat dulu harus membawa balok kayu untuk pijakan kaki ku ketika ingin mengintip di jendela sekolah. Aku membeli pinsil ku sendiri dan buku tulis ku sendiri. Setiap pagi aku seperti itu sampai selama 5 tahun. Semenjak aku dipukuki oleh satpam, aku berhenti belajar dengan cara mengintip. Aku sering menjawab pertanyaan dari guru dalam hatiku. Aku tau jawaban ku selalu benar. Tapi tidak pernah dapan ponten. Andai aku sekolah secara resmi, pasti nilai ku akan 10 semua." Kata Acong.


Keadaan yang tadi sempat ceria berubah menjadi mendung. Mereka semua sudah saling tau seperti apa kehidupan mereka dulu. Tigor jauh lebih beruntung karena masih sempat duduk di bangku SMP.


"Makanya itu bang. Aku mendukung mu untuk menyekolahkan Rio. Kalau dia tidak sekolah, pasti dia akan menjadi hantu juga seperti kita." Kata Acong lagi.


"Tapi syukur kepada Tuhan. Entah itu ilmu yang halal atau tidak. Dari aku mengintip dan mencuri ilmu di sekolah, aku bisa membaca dan menulis walaupun tulisan ku seperti cakar ayam." Kata Acong.


"Udah lumayan itu. Aku pun yang mengajarkanku membaca adalah Acong ini Bang!" Kata Ameng.


"Apakah ada di antara kita ini yang masih buta huruf?" Tanya Tigor.


"Andra tuh buta huruf. Tapi kalau masalah memperbaiki mesin, dia jago nya bang." Jawab Timbul.


"Lalu ketika aku mengirim pesan teks kepada mu, siapa yang membalas pesan ku itu?" Tanya Tigor.


"Heheh.. Itu aku Bang." Jawab Acong.


"Ok lah. Setelah ini selesai, aku akan mengajarkan semua yang buta huruf ini untuk belajar mengenal huruf. Beruntung aku masih sempat duduk di bangku SMP. Semoga kalian belum terlambat untuk menangkap apa yang diajarkan." Kata Tigor.


"Iya bang. Kami akan berterimakasih jika kau mau mengajarkan kami tulis baca." Kata Timbul.


"Baiklah. Kita berpisah dulu. Lain kali aku tidak akan mengirim pesan teks lagi kepada kalian. Langsung telepon saja atau pesan suara. Persiapkan diri kalian. Karena sebentar lagi ujian berat menunggu kita. Misi kita ada tiga. Merampok Acun, berangkat ke Hongkong, kemudian menguasai kota Kemuning." Kata Tigor.


"Siap bang!!!" Kata Mereka serentak.


"Aku pergi dulu. Aku ingin menemui Ucok, dan yang lainnya. Kemungkinan aku akan menarik mereka masuk ke dalam kelompok kita. Setelah itu aku akan menemui Monang untuk meminta Karman juga bergabung dengan kita." Kata Tigor.


"Setuju bang. Ini bisa menjadi tambahan tenaga dan semangat buat kita. Rasanya memang aneh ketika kau mengajak kami, tapi keempat sahabat mu tidak diajak." Kata Timbul.


"Ya. Sepertinya aku salah." Kata Tigor.


Namun dalam hati, Tigor memiliki alasan tersendiri mengapa dia tidak berani mengajak sahabat yang lebih dari saudara itu untuk ikut jejaknya. Ini karena dia tidak ingin keempat sahabatnya itu celaka.