
Pukul sepuluh malam di kota Kemuning, akhirnya rombongan Lalah bersama kedua anak buahnya yaitu Roger dan Sudung tiba juga setelah menempuh perjalanan jauh.
Tigor sendiri yang memang sudah memberi tahu di mana anak gadis Lalah yaitu Wulan dan sahabatnya bernama Debora menginap langsung menuju ke Martins Hotel.
Ketika Lalah tiba, tak lama kemudian, Tigor juga sampai di depan Martins Hotel tersebut.
Begitu mengenali mobil siapa yang baru sampai itu, beberapa anak buah Tigor yang memang ditempatkan untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi langsung mendatangi mobil Tigor.
Sementara itu Lalah yang menyaksikan ada ramai orang yang mendatangi mobil Tigor dari berbagai tempat yang tersembunyi merasa kagum juga.
"Berarti Tigor ini memang memegang janji. Terbukti bahwa dia menempatkan anak buahnya untuk menjaga putri ku Wulan." Kata Lalah kepada Roger anak buahnya yang merangkap sebagai sopir itu.
"Benar Bos. Berarti anda saja yang terlalu merasa khawatir." Kata Roger.
"Hahaha.. ayo kita temui Tigor itu!" Ajak Lalah.
Baru saja Lalah turun dari mobil nya, Tigor pun sudah menghampiri mobil milik Lalah.
"Pak Lalah. Bagaimana dengan perjalanan nya?" Tanya Tigor.
"Kota tempat mu ini seperti tempat jin buang anak. Nyaris saja pinggang ku patah." Kata Lalah.
"Mengapa pak Lalah tidak naik pesawat saja?" Tanya Tigor.
"Ah.. aku masih ingin menikmati banyak pemandangan. Makanya aku memilih menggunakan mobil saja." Jawab Lalah sambil menepuk pundak Tigor.
"Bagaimana Gor? Apakah kau yang menyuruh Black Cat untuk membunuh Ronggur?" Tanya Lalah yang berucap sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Dia sudah keterlaluan pak. Berkali-kali membuat onar di lokasi proyek milik Ku. Jadi, menurut ku, hanya kematian yang bisa menghentikan nya." Jawab Tigor juga sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
"Kini baru mereka tau siapa lawan mereka. Selama ini mereka belum bertemu lawan yang sangat bar-bar seperti dirimu. Benar kata pepatah. Roda itu berputar."
"Aku masih bisa menoleransi jika tidak keterlaluan pak. Karena target ku bukan lah Jordan tapi geng tengkorak. Namun mereka membentuk aliansi dan menargetkan aku. Jika hari ini aku diam, tak tau besok entah apa lagi yang akan mereka lakukan." Jawab Tigor.
"Baiklah. Sekarang kau antar aku menuju ke kamar Hotel ini. Kau kan CEO di perusahaan milik Martin ini." Kata Lalah sambil tertawa.
"CEO. Hahaha... Apa hebatnya CEO. Aku ke kota Kemuning ini ingin menjadi Founder sekaligus Owner. Bukan sebagai CEO. Karena CEO itu juga kuli." Kata Tigor becanda.
"Apakah kau berniat untuk mendirikan organisasi sendiri Gor?" Tanya Lalah.
"Tidak pak. Aku sama sekali tidak berminat walaupun aku mampu melakukannya. Bagiku, aku adalah anak buah Martin. Namun, apa salahnya jika aku ingin berkembang. Toh juga ini akan berdampak bagus bagi organisasi kucing hitam." Jawab Tigor.
"Benar juga. Tapi kau harus berhati-hati! Banyak orang yang saat ini merasa iri hati kepada mu."
"Aku sudah memperkirakan semuanya pak. Biarkan mereka merasa iri. Karena mereka itu tidak mampu."
"Oh ya pak. Mari aku antar anda menuju ke kamar untuk beristirahat. Besok pagi aku akan ikut serta mengantar mu sampai ke kota Tasik Putri." Kata Tigor menawarkan.
"Baiklah. Kau tunjukkan aku kamar Ku. Lalu beritahu di kamar berapa putri ku menginap."
"Baik pak." Jawab Tigor.
Lalu mereka pun melangkah memasuki lobby hotel.
Setelah cek in, dan mengantarkan langsung ke kamar mereka, Tigor pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
*********
Pagi-pagi itu, setelah mengatakan lokasinya kepada Riko, Ryan dan Daniel di mana dia bisa di jemput, Akhirnya Tigor pun mengatakan kepada anak buahnya bahwa dia akan mengantar Lalah kembali ke Dolok ginjang.
"Andra, Monang dan kalian semuanya! Jaga lokasi proyek serta markas kita selama aku tidak ada di tempat. Mungkin Minggu depan aku baru kembali. Ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan." Kata Tigor beralasan mengatakan bahwa dia kembali Minggu depan karena ada banyak urusan.
Padahal, dia meninggalkan kota Kemuning karena menerima tawaran dari Metro City tentang satu tugas yang sangat rahasia.
Beruntung Lalah tiba dari Dolok ginjang ke kota Kemuning. Dengan begitu, Tigor memiliki alasan yang lebih masuk akal untuk melakukan perjalanan meninggalkan kota Kemuning menuju ke Metro City.
"Bang. Aku mendengar bahwa Tuan Ryan, Daniel dan Riko akan berangkat pagi ini kembali ke Metro City." Kata Acong.
"Wah. Makin mantap lah ini." Kata Ameng.
"Kalian harus saling membantu. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Sekarang aku harus ke hotel untuk mengiringi keberangkatan pak Lalah kembali ke Dolok ginjang." Kata Tigor.
"Baiklah bang." Kata mereka.
Setelah berpamitan dengan sahabat-sahabatnya, serta Mirna, Tigor pun berjalan menuju ke arah mobilnya dan berangkat menuju Martins Hotel.
Tiba di sana, dia melihat Lalah, Roger dan Sudung sudah bersiap-siap untuk pulang ke Dolok ginjang.
Ketika Tigor menghampiri mereka Wulan hanya diam saja dan sama sekali tidak memandang ke arah wajah Tigor. Begitu juga dengan Debora.
Menyaksikan perubahan sikap kedua gadis itu, Tigor hanya mengangkat bahu saja. Baginya mereka berdua ini sama sekali tidak penting.
"Ayo Gor kita berangkat sekarang!" Ajak Lalah.
"Siap Bos!" Jawab Tigor lalu memasuki mobilnya.
Tak lama kemudian tiga unit mobil itu pun berangkat meninggalkan Martins Hotel menuju ke Dolok ginjang.
***
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka tiba juga di kota Kemuning.
Setelah berhenti sejenak di restoran Samporna dan berbasa-basi sedikit dengan Lalah, Tigor pun langsung berangkat menuju ke kampung Kuala Nipah.
Tiba di Kuala Nipah, Tigor langsung menemui Kakek angkat nya yaitu Tengku Mahmud.
"Kek. Assalamualaikum kek. Ooo... Kek! Apakah kakek masih hidup?" Jerit Tigor sambil melirik ke kiri dan kanan sambil meningkatkan kewaspadaan.
Benar saja. Dari arah belakang rumah berdinding anyaman bambu itu, melesat sebutir kerang dan langsung meluncur ke arah kening Tigor.
"Uts.... Hiaaat..." Kata Tigor sambil membuang diri ke samping.
"Eits... Tidak kena." Kata Tigor sambil bangkit berdiri.
"Untung aku meningkatkan kewaspadaan." Batin Tigor dalam hati.
"Dasar sontoloyo. Kemari kau!" Bentak seorang lelaki tua dari arah belakang rumah.
"Apa salah ku?" Tanya Tigor yang melangkah sedikit demi sedikit karena merasa takut.
"Kau ini.....! Apakah kau suka kalau aku mati haaaa...?" Kata lelaki tua itu sambil menjewer kuping Tigor.
"Sa... Sa... Sakit kek." Pekik Tigor sambil mengikuti Langkah lelaki tua itu menuju bagian depan rumah.
"Tigor. Aku melihat bahwa kau sedang memiliki rencana yang besar. Apakah aku benar?" Tanya Lelaki tua itu.
"Benar kek. Aku akan berangkat ke luar negri. Ini karena aku mendapat tawaran pekerjaan sebagai TKI dengan gaji yang menggiurkan." Jawab Tigor lalu menceritakan semuanya kepada Tengku Mahmud tentang apa yang ditawarkan oleh Riko kepadanya.
"Hmmm... Dragon empire itu lumayan punya nama belakangan ini. Itu bagus untuk mu." Kata Lelaki tua itu.
"Aku akan berangkat malam ini juga kek. Aku mohon restu mu." Kata Tigor.
"Berangkat lah. Bawa ini!" Kata lelaki tua itu sambil memberikan sebilah rencong emas.
"Ini emas kek?" Tanya Tigor.
"Iya mengapa? Tidak ada ilmu kebal yang tahan terhadap emas. Kau boleh membawanya. Ingat! Jangan cabut rencong itu jika kau tidak bisa memberikannya darah. Ingat itu!" Kata Kakek Tengku Mahmud.
"Baik Kek. Aku pamit dulu." Kata Tigor sambil membungkuk meraih tangan lelaki tua itu dan mencium nya.
Kini Tigor melangkah dengan mantap menuju ke bagian kanan pantai Kuala Nipah. Tepat di hutan bakau, ternyata orang yang akan menjemput dirinya sudah tampak dari kejauhan.
"Hmmm... Metro city. Tunggu kedatangan ku!" Kata Tigor dalam hati.