BLACK CAT

BLACK CAT
Ronggur VS Black Cat



Setelah acara yang tidak menyenangkan bagi Tigor itu selesai di salah satu restoran mewah di gang kumuh, kini acara kembali berlanjut di ke pusat hiburan dunia gemerlap di belakang restoran Samporna milik Martin yang dijalankan oleh Marven.


Sama seperti kejadian di depan restoran gang kumuh. Kali ini beberapa anak buah geng kucing hitam juga merasa heran melihat Tigor layaknya seperti kacung oleh Wulan.


Hal ini tidak luput jadi perhatian Monang, Karman, Jabat dan Ucok. Bagaimana tidak, bagi Monang dan Karman, Tigor ini adalah atasan mereka sekaligus sahabat yang baik. Hanya saja, Karman buru-buru menyadari mengapa Tigor bisa diperlakukan seperti itu oleh Wulan. Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian jambret beberapa bulan yang lalu.


Melihat Tigor menatap tajam kearahnya, membuat Karman merinding ketakutan dan buru-buru menundukkan kepala.


"Ada apa Karman? Mengapa Tigor menatapmu seperti ingin menelan mu hidup-hidup?" Tanya Monang.


"Anu bang. Eh abang ingat atau tidak kejadian aku menjambret tas gadis itu beberapa bulan yang lalu? Dan aku juga nyaris menyebabkan kau dan Tigor berkelahi." Kata Karman.


"Oh.. Jadi..? Ya aku ingat sekarang. Apakah gadis itu putri Lalah?" Tanya Monang.


"Benar bang. Atas kejadian itu, telah menimbulkan salah faham antara Tigor dan Wulan. Seperti yang kau lihat saat ini. Tigor harus menerima imbasnya." Kata Karman.


Plak...!


"Gara-gara ulah mu itu. Aku khawatir Tigor akan menghukum mu setelah malam ini. Kau siap-siap saja menerima konsekwensinya." Kata Monang.


Mendengar perkataan Monang yang banyak benarnya ini, Karman segera merasakan mulas di perutnya.


"Tolong aku bang. Bilang sama Tigor itu kalau aku sudah bertaubat. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Kata Karman dengan wajah memucat.


"Itu lah kau Karman. Gara-gara kau, Tigor menjadi babu." Kata Ucok.


"Alah sudahlah. Bang Tigor pasti tau apa yang harus dia lakukan. Masa iya hanya dengan mak lampir begitu saja dia tidak bisa melarikan diri. Pasti dia sengaja pasrah diperlakukan seperti itu." Kata Jabat.


"Ya sudah. kalian urus saja lah. Bantu Tigor secara diam-diam. Ini agar dia tidak terlalu kelelahan. Di mana muka ku mau aku letakkan jika seorang atasan ku dijadikan kacung. Kalau Tigor kacung, lalu kita apa? Kau ini Karman. Awal dari masalah ini adalah dirimu. Berdoa lah agar Martin tidak tau tentang ini. Jika dia tau, kepala mu tidak aman." Kata Monang segera pergi. Namun sebelum pergi, dia tidak lupa menjitak kening Karman.


"Ayo lah kembali bekerja. Kau jangan dekat-dekat dengan mereka, Karman! Kalau Wulan melihatmu, dia akan semakin mempermalukan Tigor. Kau pergi ke lantai atas saja. Biar kami di sini!" Kata Ucok.


"Makasih Cok. Aku pergi dulu." Kata Karman tanpa membuang waktu lagi langsung minggat dari tempat itu.


*********


Sementara itu di dalam Room karaoke, Tigor dengan setia melayani apa saja keinginan Wulan dan tetap berdiri di samping sofa tempat Wulan duduk.


Sesekali dia menarik nafas panjang ketika Rini, Debora dan Irfan menyuruhnya melakukan kerja-kerja yang semestinya tidak perlu dia lakukan. Termasuk menuangkan minuman, memijit-mijit pundak Irfan, menyalakan api rokok untuk mereka dan banyak lagi pekerjaan yang membuat Tigor makan hati.


Tepat ketika mereka lagi asik-asiknya bernyanyi, tiba-tiba pintu ruangan tempat mereka bernyanyi itu di tendang dari arah luar membuat semua mereka yang berada di tempat itu sangat terkejut.


Ketika mereka mulai memperhatikan siapa yang telah menendang pintu kamar karaoke yang mereka booking itu, sontak saja dari wajah setiap orang kini mulai memucat ketika melihat seorang pemuda seusia dengan mereka memasuki ruangan bersama sejumlah lelaki berbadan tegap.


"Ronggur?!"


Tanpa sadar Wulan bergumam menyebut nama pemuda yang baru saja memasuki ruangan itu secara paksa.


"Hebat sekali kau Wulan. Aku mencari mu kemana-mana. Ternyata kau berada di tempat ini bersama dengan para gembel-gembel ini." Kata pemuda bernama Ronggur itu sambil menunjuk kearah semua orang yang sedang duduk.


"Darimana kau tau bahwa aku berada di sini?" Tanya Wulan.


"Kau tidak perlu tau. Aku memiliki banyak mata dan telinga dimana-mana. Oh ya.., mana orang yang bernama Marven itu? Aku ingin melihat seperti apa lelaki yang berani mendekatimu itu." Kata Ronggur.


"Dia tidak berada di tempat ini. Aku kemari karena acara reunian bersama sahabat-sahabatku. Kau jangan mengacaukan pesta ku!" Kata Wulan dengan sengit.


"Hei betina ******!" Kata Ronggur sambil mencengkram rahang Wulan dengan sangat kuat. "Asal kau tau saja. Kau jangan terlalu besar kepala dihadapanku! Kau fikir kau siapa? Apakah hanya karena kau adalah putri Lalah, maka kau bisa sesukanya kepada ku? Selama ini aku hanya bersabar. Aku masih memberi muka kepada ayah mu. Kau kira kau itu sudah terlalu cantik berani bertingkah melewati batas di depan mataku?" Kata Ronggor makin menguatkan cengkramannya membuat Wulan meringis kesakitan.


"Kau.., kau! Lepaskan tangan mu ini!" Kata Wulan dengan lirih.


"Hei bung. Mengapa kau begitu kasar sekali kepada perempuan?"


Kini Irfan maju beberapa langkah dan mulai memberikan teguran kepada Ronggur.


"Kau siapa hah? Berani menegur ku. Duduk saja dan nikmati minuman mu. Atau kau akan menyesal karena aku tidak akan memberi ampun kepada orang yang suka ikut campur dengan urusanku." Kata Ronggur.


"Kemana perginya Tigor? Mengapa dia menghilang?" Tanya Debora yang mulai ketakutan.


Awalnya dia ingin menjadikan Tigor sebagai umpan untuk melawan Ronggur. Andai Tigor babak belur, dia juga tidak merasa rugi. Ini karena baginya Tigor adalah sampah yang tidak memiliki arti sama sekali bagi dirinya dan semua yang berada di tempat itu.


Saat ini baik Debora, Wulan, Rini, Irfan dan yang lainnya mulai melirik ke kanan dan kiri mencari sosok Tigor. Namun mereka semua tidak melihat kelibat bayangan Tigor yang seperti menghilang bagai asap di terpa angin.


"Lepaskan kataku. Apa kau tidak tau bahwa amu adalah anak Beni, orang nomor dua di organisasi kucing hitam setelah Martin?" Kata Irfan dengan lantang.


Dia sengaja berbicara dengan keras agar semua yang berada di tempat itu mendengar bahwa dia adalah anak dari seorang yang memiliki pengaruh besar di kota Tasik putri ini.


Bukannya takut ketika mendengar Irfan menyebut nama ayah nya, melainkan mereka malah tertawa terbahak-bahak. Hal ini membuat Irfan sangat terkejut sekaligus jengkel.


"Apakah ayahmu adalah Beni yang sudah disingkirkan dari sisi Martin karena dianggap penghianat? Hahahaha... Ayah mu saat ini tidak lebih dari seorang penyakitan yang tidak tau diri. Martin hanya menghargai karena ayah mu adalah orang lama. Jika tidak, ayah mu pasti sudah di buang di pinggir jalan oleh Martin. Kau malah bangga dengan ayah mu yang memprihatinkan itu." Kata Ronggur sambil teryawa dan diikuti oleh anak buahnya.


"Kurang ajar kau. berani sekali menghina ayah ku. Kau rasakan ini!" Kata Irfan yang sudah dikuasai kemarahan dan mulai melayangkan tinju ke arah Ronggor.


Plaaak...!


Tinju itu mendarat dengan sangat mulus di wajah Ronggur membuat cengkraman tangannya terlepas dari wajah Wulan.


"Kau terlalu berani memukul wajah Ronggur. Apa kau tau akibat nya hah?" Kata Ronggur sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibir nya.


Karena merasa di atas angin, Irfan yang terkenal arogan dan haus pujian itu kembali melayangkan tinjunya sambil berkata. "Ayo kalian semua. Kita keroyok orang asing ini!"


Begitu teriakan Irfan itu bergema di ruangan itu, semua pemuda itu mulai bangkit dari kursi masing-masing dan mulai menyerang kearah Ronggur dan anak buahnya.


"Hahahaha... Hanya segini saja. Aku akan pastikan bahwa kalian akan merangkak keluar dari tempat ini!" Kata Ronggur sambil memapas pukulan Irfan dan menangkap kepalan tinjunya lalu menarik tangan irfan hingga tertelungkup di lantai.


Setelah Irfan jatuh, Ronggur segera mencapai salah satu dari botol bir di meja dan memukulkan botol tersebut ke kepala Irfan yang ketika itu berusaha untuk bangun.


Bugh...!


"Aduh...!" kata Irfan ketika merasakan benda keras itu menghantam kepalanya.


Darah kini mulai mengucur dari kepala Irfan dan setetes demi setetes jatuh ke lantai ruangan itu.


Seketika Irfan merasakan pemandangannya berubah menjadi gelap. Lalu di susul dengan pukulan dan tendangan membuat dia kini menjadi sangat sekarat.


"Hajar mereka yang memberikan perlawanan. Pastikan mereka merangkak dan bila perlu, Koma sekalian." Kata Ronggur tanpa henti menghajar tubuh Irfan yang nyaris tidak sadarkan diri.


Keadaan dalam ruangan itu benar-benar seperti kapal pecah. Kursi dan sofa mulai berantakan. Begitu juga dengan meja yang kaki nya sudah ke atas. Selain itu suasana yang tegang itu semakin bertambah tegang karena semua wanita mulai menjerit histeris melihat adegan kekerasan termasuk Wulan, Debora dan Rini yang tidak menyangka bhwa acara yang seharusnya menyenangkan itu berubah menjadi neraka bagi mereka.


Saat ini seadaan Irfan benar-benar sudah tidak karuan. Pakaiannya sudah sobek dimana-mana. Hidung bengkak mengucurkan darah. Bibir dower karena beberapa kali menerima tinju gratis dari Ronggur serta kepalanya yang terus-terusan mengucurkan darah.


Tepat ketika Irfan sudah jatuh pingsan dan Ronggur mulai menjambak rambut Wulan dengan sangat kasar, dari arah pintu kini tampak sosok hitam dengan topeng kucing mulai menghajar anak buah Ronggur secara membabi buta membuat mereka yang terkejut tidak sempat menghindar menjadi sasaran empuk sepotong kayu yang tergenggam di tangan sosok yang mengenakan topeng itu.


"Black Cat."


"Ya. Itu Black Cat!" Kata Wulan mulai kembali bersemangat. Namun tidak bagi Ronggur.


Kini Ronggur melihat anak buahnya satu per satu telah tumbang dihajar oleh orang berpakaian serba hitam itu dengan senjata kayu patahan dari kaki kursi.


"Kurang ajar. Berani sekali kau ikut campur masalah ku. Siapa kau sebenarnya?" Tanya Ronggur setelah melepaskan jambakan tangannya dari rambut Wulan.


"Aku lupa siapa nama ku. Tapi setiap korban ku menyebutku dengan panggilan Black Cat." Kata orang berpakaian dan mengenakan topeng serba hitam itu.


"Kurang ajar. Apa kau tidak tau siapa aku hah?"


"Aku tidak perlu tau kau siapa. Sampaikan salam ku kepada ayah mu di kota kemuning. Katakan padanya bahwa sebentar lagi, kota Kemuning akan berada dalam genggaman ku. Ingat itu!" Kata Black Cat memberi peringatan.


"Setan alas. Cari penyakit kau." Kata Ronggur geram.


"Maju lah! Jangan buang waktu ku. Kau hanya sampah!" Kata Black Cat sambil membuang kayu patahan kaki kursi ditangannya ke lantai.


"Sontoloyoooo....! Kau terima ini!" Kata Ronggur sambil melompat mengirimkan tendangan ke arah Black Cat.


Tap...!


Breeet!


"Adau..."


Ketika tendangan itu sedikit lagi menemui sasaran, Black Cat langsung menangkap pergelangan kaki Ronggur dan menariknya membuat Ronggur jatuh terkangkang.


Dengan posisi jatuh seperti itu, otomatis membuat jahitan di celana bagian terlarang milik Ronggur koyak. Ini lah yang membuat Ronggur malu setengah mati dan menutupi bagian yang sobek itu. Karena walau bagaimanapun, banyak pasang mata wanita yang menyaksikan kejadian itu.


"Setan kau. Aku harus membalas mu!" Kata Ronggur sambil kembali menyerang Black Cat.


Black Cat hanya tunduk sedikit menghindari serangan tinju dari Ronggur.


Ketika serangan itu luput, Black Cat yang masik menunduk segera maju selangkah dan mengirim tusukan dua jari ke arah ketiak Ronggur.


Tus...


"Hiks...!"


"Kau. Bangsat kau." Kata Ronggur merasakan bagian tangan kanannya mati rasa oleh tusukan Black Cat tadi di bagian bawah ketiak nya.


"Bawa semua anak buah mu ini keluar sebelum aku berubah fikiran."


"Apa hak mu mengatur aku?" Bentak Ronggur dengan marah.


"Dasar pantat kuali. Kau pilih. Keluar hidup-hidup atau keluar setelah menjadi bangkai?!" Kata Black Cat sambil menekan kepala ikat pinggang nya.


Serta merta ikat pinggang Black Cat terlepas dan kini di genggaman tangan Black Cat tampak sebilah pedang tipis yang sangat lentur.


"Kau. Apakah kau kira bisa mengancam ku?" Kata Ronggur masih tetap ngeyel.


Braaaaak....!


Tampak meja di depan Ronggur terbelah menjadi dua bagian ketika Black Cat membacokkan pedang nya. Hal ini membuat Ronggur merasa gemetar dan mulai terkencing di dalam celana.


"Aku hitung sampai tiga. Jika tidak pergi, maka nyawa mu yang akan pergi."


"Satu...?!"


"Dua...!"


"Iya iya iya. Baik. Aku akan pergi. Kau ingat Black Cat! Aku akan membuat perhitungan dengan mu."


"Kau tidak perlu mengancam ku. Karena sebentar lagi, aku yang akan memasuki kota kemuning. Sampaikan pesan ku kepada ayah mu!" Kata Black Cat sebelum mereka semua kabur meninggalkan ruangan itu.


Setelah semuanya pergi, kini Wulan, Debora dan Rini mendekati Black Cat dan segera menunduk hormat.


"Terimakasih bang. Kalau tidak ada dirimu, Kami pasti sedang berada dalam masalah." Kata Rini.


"Saya juga berterimakasih bang." Kata Debora pula.


Ketika Wulan ingin berbicara, Black Cat sudah memotong perkataannya.


"Aku tidak menyelamatkan siapa pun. Ini adalah daerah kekuasaanku. Membuat keributan di tempat ini, berarti mencari urusan dengan ku. Dasar perempuan sampah." Kata Black Cat lalu segera membalikkan tubuhnya dan kini sosoknya menghilang di balik pintu.