BLACK CAT

BLACK CAT
Marven tidak senang dengan konvoi itu



Kedatangan Wulan dan sahabatnya dengan dikawal oleh lebih dari dua ratus kendaraan sekali lagi membuat gempar Dolok ginjang, kota Tasik Putri, kota Batu, Kota Kemuning dan kota Tanjung karang.


Melebihi pejabat tinggi negara, konvoi yang menjemput kedatangan Wulan ini kesemuanya menggunakan mobil mewah. Benar-benar satu pemandangan yang sangat langka.


Banyak diantara mereka yang merasa sangat kagum terhadap Tigor. Namun tidak sedikit pula yang merasa tidak senang.


Hal ini terlihat saat Beni kembali menghasut Marven dan mengatakan bahwa Tigor lebih berkuasa saat ini atas organisasi geng kucing hitam dibanding dengan dirinya.


Marven yang memang sudah banyak termakan hasutan Beni merasa tidak senang duduk. Ini terlebih lagi Wulan ini adalah mantan pacarnya.


"Aku akan menemui Martin. Aku tidak bisa seperti ini. Dia tidak menghargai ku dengan berani melakukan konvoi hanya untuk menjemput gadis sampah putri Lalah itu. Apakah Wulan itu lebih penting daripada menjaga perasaanku sebagai calon ketua organisasi ini?" Tanya Marven kepada dirinya sendiri.


"Tenangkan dulu diri mu nak."


"Aku bukan anak mu. Aku adalah aku. Kau tidak pantas menyebut diriku anak." Bentak Marven kepada Beni.


"Baiklah Marven. Sebaiknya kau tenang dulu. Kembali lah ke rumah dan desak Martin agar mengeluarkan Tigor dari dalam organisasi. Katakan bahwa apa yang dilakukan oleh Tigor ini adalah suatu pemborosan." Kata Beni masih terus menghasut Marven.


"Huh... Aku pasti akan meminta Martin untuk memecat Tigor ini." Kata Marven sambil melangkah keluar dari ruangan kerjanya di gang kumuh itu


"Anak ini sangat liar dan keras kepala. Tunggulah sampai rencana mu berhasil. Kau dan ibumu yang busuk itu akan membayar mahal. Pertama ibumu telah menyakiti ku dengan menerima Martin dengan berbagai alasan. Sekarang kau juga sama. Aku tidak perduli walaupun kau adalah darah daging ku, tapi semuanya akan berubah sesuai kebutuhan. Bila membunuh mu diperlukan, maka aku pasti akan membunuh mu." Kata Beni dalam hati.


"Saat itu Marven yang mengendarai mobil seperti kesetanan, dengan cepat tiba di komplek elite kota Tasik Putri.


Sambil membanting pintu mobilnya dengan kasar, dia segera berlari memasuki rumah besar itu dan langsung berteriak memanggil.


"Ayaaaah! Di mana kau Ayaaaah....?" Teriak Marven.


"Perlahan kan suara mu Marven! Aku belum tuli." Kata Martin yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ayah. Mengapa Tigor berani-beraninya mengadakan konvoi untuk menjemput Wulan ke kota Kemuning?" Tanya Marven.


"Memangnya mengapa? Apa yang salah?"


"Ini suatu pemborosan. Dia melakukan konvoi dengan lebih dari dua ratus kendaraan. Dana untuk itu sudah pasti puluhan juta. Seenaknya saja dia menggunakan uang organisasi untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebenarnya siapa Bos di organisasi ini? Tigor atau Ayah?" Tanya Marven dengan nada yang cukup tinggi.


"Uang? Hei Marven. Tigor itu sampai saat ini masih belum mendapat gaji dari ku. Terhitung sudah dua bulan dia di kota Kemuning. Semua yang dia lakukan di sana adalah dengan menggunakan uang nya sendiri. Kau jangan lupa bahwa bisnisnya yang berhasil di Hongkong kemarin itu sudah lebih dari cukup kalau untuk berkonvoi bahkan menggunakan dua puluh ribu kendaraan sekaligus." Jawab Martin.


"Kelakuan Tigor ini seperti tidak menghormati Ayah. Dia seenaknya saja pamer kekuatan dan kekuasaan. Dia ingin menunjukkan kepada publik bahwa dia lebih mendominasi daripada ayah." Kata Marven lagi masih tidak mau mengalah.


"Otak mu itu yang harus dibersihkan. Jangan taunya hanya iri saja. Banyak manfaat bagi kita dengan apa yang dilakukan oleh Tigor ini. Dengan begitu, organisasi lain akan berfikir seribu kali untuk mengusik kita. Otak Tigor itu tidak sama seperti otak mu yang hanya berfikir negatif saja. Selama ini kau hanya tau manja dan manja. Selain mengomel, apa lagi yang bisa kau lakukan?"


"Perbaiki dirimu agar organisasi ini kelak tidak runtuh di tangan mu!" Kata Martin lagi sambil berlalu meninggalkan Marven yang masih mematung dengan tinju terkepal.


*********


Kita tinggalkan dulu perselisihan antara Martin dan Marven.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tepat pukul delapan malam akhirnya rombongan yang sangat ramai itu tiba juga di Martins Hotel.


Beruntung bagi Debora bahwa hari Sabtu tadi tidak banyak yang datang berobat sehingga dia bisa menutup klinik nya lebih cepat dan langsung berangkat menemui Wulan.


Selama dalam perjalanan itu, Wulan dan Debora tidak henti-hentinya bergosip tentang Tigor yang sengaja mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menjemput mereka berdua.


"Lan. Apa kau pikir ini nyata Lan?" Tanya Debora kepada Wulan yang sedang fokus menyetir.


"Mengapa? Apa kau berfikir bahwa ini adalah mimpi?" Tanya Wulan.


"Sebenarnya, perusahaan apa yang terjadi kepada diri Tigor ini?" Tanya Debora.


"Tidak ada yang berubah. Sebenarnya dia sudah lama menjadi orang kedua di organisasi kucing hitam. Hanya saja dia memilih untuk tidak menonjolkan di depan umum. Mungkin dia ingin menilai sesuatu." Jawab Wulan.


"Menilai katamu?"


"Iya. Ini hanya dugaan ku saja. Mungkin dia ingin menilai orang-orang disekitarnya. Dia sengaja menjalani kehidupan seperti gelandangan hanya untuk menguji siapa yang bisa dia jadikan sahabat, dan siapa yang harus dia abaikan." Jawab Wulan lagi.


Degh....!


"Berarti aku adalah salah satu orang yang masuk dalam kategori diabaikan." Kata Debora dalam hati.


"Mengapa diam Debora?" Tanya Wulan.


"Eh tid.., tidak. Tidak diam. Ayo bicara lagi!" Kata Debora tergagap.


"Apa kau pernah menyangka bahwa Tigor akan berada di puncak secepat ini?" Tanya Wulan.


"Aku tidak pernah berharap dia menjadi orang kaya atau tangan kanan Martin atau apalah. Aku dulu hanya menginginkan Tigor ini memiliki pekerjaan tetap. Walaupun hanya seorang Satpam, itu sudah cukup."


"Menurut mu, apakah Tigor akan membenciku?" Tanya Debora.


"Entahlah Bora. Kalau benci, seharusnya Tigor lebih benci kepada ku. Tapi tidak tuh. Dia tetap baik." Jawab Wulan.


"Semoga saja seperti itu. Tapi aku benar-benar merasa malu untuk bertemu muka dengan Tigor. Jika bukan karena kau, aku berani bersumpah bahwa aku tidak akan mau menemui Tigor. Aku malu." Kata Debora sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Ini pelajaran berharga buat kita. Kalau tidak suka, cukup jangan di lihat tanpa menghina. Jika suka, berikan pujian sekedar saja. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Kata Wulan sok Arif bijaksana.


"Hahaha. Kau ini sok mengajari. Tapi iya juga. Ini pelajaran berharga untuk kita. Jangan terlalu memandang hina kepada orang lain. Karena nasib seseorang itu bisa saja berubah." Kata Debora.


Mereka berdua terus saja menggosip sampai hal-hal yang tidak penting.


Kini tanpa terasa mereka sudah tiba di depan Martins Hotel dan bersiap-siap untuk turun dari mobil ketika dua orang lelaki muda berlari kecil ke arah mobil mereka bersiap membukakan pintu mobil dengan hormat.