BLACK CAT

BLACK CAT
Agen rahasia Carmen Bond 070



Pukul 4 subuh di salah satu rumah dipinggiran Komplek elit Tasik putri, tampak sekitar kurang lebih empat puluh orang lelaki berseragam hitam-hitam bergerak memasuki beberapa bus mini yang memang sudah terparkir menunggu penumpang di jalan tepat depan rumah itu.


Dari dalam rumah, tampak Beni didampingi oleh Strongkeng dan Togi berjalan keluar.


Sesampainya lelaki sedikit gemuk dan berkepala layaknya seorang professor itu di depan pintu pagar, dia segera memberikan beberapa instruksi kepada anak buahnya untuk bertahan di kawasan yang tidak jauh dari restoran Samporna.


Setelah selesai memberikan instruksi, mini bus seperti mobil pengangkut jenazah itu pun bergerak membawa puluhan anak buah Beni mengarah ke restoran Samporna bagi menunggu kedatangan pasukan Togar dan Tumpal.


"Bagaimana selanjutnya Ben?" Tanya Togi.


"Kita akan tetap di sini. Mungkin si Togar dan Tumpal masih di perjalanan. Begitu dia menelepon, kita langsung tancap gas memporak porandakan pusat hiburan dunia gemerlap malam." Kata Beni.


"Apa kita mampu menghadapi anak buah Tigor dan Monang itu Bang?" Tanya Strongkeng.


"Itu lah gunanya otak. Kekuatan saja tidak cukup jika tidak memfungsikan otak dengan benar. Sehebat-hebatnya orang, akan celaka juga jika tidak pandai mengkondisikan otak nya untuk berfikir. Sekuat-kuatnya manusia pasti akan kelelahan jika bekerja tanpa perhitungan. Praktek penting. Namun tanpa teori, akan sama seperti babi. Main seruduk saja." Kata Beni.


"Kau hebat bang. Tidak salah kami dulu selalu mengandalkanmu. Bahkan mendiang Boss kita terdahulu juga sangat bergantung pada kemampuan analisis dari mu." Kata Togi.


"Boss kita terdahulu. Orang yang sangat aku kagumi, aku hormati sekaligus orang yang sangat aku benci. Ah sudahlah. Jangan ungkit-ungkit lagi yang sudah tiada. Hanya akan membuat luka lama ku kembali berdarah. Sekarang mari kita bersiap-siap!" Ajak Beni.


Kriiiing.... Kriiiing....!


Kriiiing....!


Baru saja Beni akan memasuki mobil, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Tumpal. Dimana kalian sekarang?" Tanya Beni tanpa basa-basi lagi bicara melalui sambungan telepon.


"Beni. Kami sudah tiba di pintu gapura memasuki kota Tasik putri. Apakah anak buah mu sudah ready."


'Yess yess yess...!" Kata Beni menjawab menggunakan bahasa inggris.


"Hanya yess itu saja yang kau tau. Oh ya. Siagakan anak buah mu. Temui kami di dekat kafe melody!" Kata Tumpal.


"Ok. Kalian tunggu di sana. Aku akan segera OTeWe." Kata Beni lalu menutup panggilan.


"Sudah sampai di mana mereka bang?" Tanya Strongkeng.


"Mereka sudah hampir tiba. Ayo kita ke kafe melody. Mereka menunggu kita di sana." Kata Beni memerintahkan kepada Togi untuk menyetir mobil dan membawa mereka ke kafe melody.


Setelah mereka pergi, tampak seorang lelaki berbadan sedikit kurus mengenakan stelan jas hitam dan memakai kacamata hitam walaupun keadaan sangat gelap tampak keluar dari balik rerimbunan pohon bunga kertas di seberang jalan berhadap-hadapan dengan rumah Beni.


"Sialan Beni ini. Dia benar-benar menjadi penghianat. Aku harus memberitahukan semua ini kepada Pak Martin. Tapi...,"


Tampak lelaki yang masih sangat muda itu berfikir sejenak.


"Apa buktinya kalau Beni berkhianat. Dia itu ular kepala dua. Bisa saja nanti malah aku yang terpojok. Jika aku terpojok, Bang Tigor pasti akan terkena tempiasnya juga. Ah asem betul kalau sudah begini." Kata lelaki berpakaian serba hitam dan kacamata hitam itu dalam hati.


Lelaki muda itu segera mengeluarkan ponselnya dan berlindung dibalik tembok pagar agar cahaya dari layar ponsel nya tidak terlihat oleh orang yang menjaga rumah Beni.


Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya panggilan itu terhubung juga.


"Hallo Karman. Ada berita apa?" Tanya satu suara di seberang telepon.


"Peringatan untuk anda pak Monang. Sekarang nama ku bukan Karman lagi. Sekarang aku sudah menjadi Agent rahasia. Aku mengganti namaku menjadi Carmen Bond 070." Kata pemuda bernama Karman itu.


"Terserah kau lah. Mau Carmen mau Carbon atau Carbol terserah. Katakan ada berita apa?" Tanya pemilik suara yang ternyata Monang adanya.


"Pak Monang. Tepat sekitar 10 menit yang lalu, orang-orang Beni berjumlah antara 30 sampai 40 orang telah bergerak menuju ke restoran Samporna. Kemudian dalam 3 menit kemudian, Beni menyusul. Hanya saja, dalam penyelidikan saya, saya tidak dapat memastikan kemana arah dan tujuan mereka. Karena hari begitu gelap." Kata Karman.


"Karman..."


"Ralat pak Monang. Carmen Bond. Bukan Karman."


"Alaaaah persetan lah. Aku hanya berpesan. Kau berpura-pura saja tidak tau. Jangan mengungkit masalah ini di depan Martin boss kita. Kita tidak akan menang beradu argumen melawan Beni. Bisa-bisa kau nanti yang dituduh berkomplot dengan Tigor untuk memojokkan dia. Ingat itu wahai Agent rahasia 070!" Kata Monang berpesan.


"Baik. Kalian hati-hati. Aku menduga ini tidak sederhana. Pokoknya kalian harus hati-hati! Carmen Bond 070 mohon undur diri. Wassalam." Kata Karman sambil mengakhiri panggilan.


*********


Kafe melody Tasik putri.


Satu unit mobil Mercedez benz tampak merapat ke sebuah mobil toyota hitam yang terparkir di kawasan depan kafe melody tersebut.


Dari jauh tampak kedua mobil itu saling menurunkan kaca dan tampak dari dalam kedua mobil itu Beni dan Togar sedang terlibat diskusi.


"Bagaimana Bang Togar. Apakah kita sudah bisa melakukan serangan!" Tanya Beni.


"Harusnya aku yang bertanya. Ini karena kau lebih arif tentang kota Tasik putri ini. Aku hampir sepuluh tahun tidak kemari. Bagaimana menurut mu?" Tanya Togar balik.


"Saat ini aku ingin bertanya kepadamu bang. Berapa orang anak buah mu yang kau bawa dan berapa orang anak buah mu yang menunggu perintah dari perbatasan kota Batu?" Tanya Beni ingin memastikan seberapa kekuatan di kedua sisi. Ini dia lakukan untuk mematangkan perencanaan.


"Saat ini anak buah yang aku bawa mengikuti jalan Dolok Ginjang berjumlah 10 orang. Di tambah dengan ku dan Tumpal, berarti ada 12 orang. Sedangkan di perbatasan Kota Batu, berjumlah empat puluh orang." Kata Togar menjawab pertanyaan Beni.


"Andai aku tidak terlebih dahulu mengerjakan anak buah ku ke Kuala Nipah untuk mencegat Tigor dan rombongannya kembali ke Tasik putri ini, tentu aku tidak akan sepusing ini Bang. Tapi itu sudah cukup. Empat puluh di tambah empat puluh ditambah yang kau bawa dan yang aku bawa, berarti berjumpa sembilan puluh lima orang. Sangat cukup untuk membuat kekacauan." Kata Beni.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Togar.


"Seperti yang kita bahas kemarin di telepon. Bahwa kita harus mengecoh mereka. Maaf bang. target kita berubah. Kali ini target kita bukan orang-orang atau sahabat dekat Tigor. Melainkan aset dan properti milik Martin. Dia sudah terlalu lama tidur enak, makan enak dan eek enak. Sesekali kita bikin dia berkeringat."


"Bang Togar! Kau telepon anak buah mu yang berada di perbatasan kota Tasik putri-Kota Batu. Suruh mereka bergerak memasuki tasik putri dengan mencolok. Bila perlu timbulkan sedikit kegemparan. Hal ini agar dapat memancing reaksi anak buah Tigor. Mereka pasti akan melaporkan kepada Monang di pusat dunia hiburan. Begitu mereka berangkat ke jembatan untuk memberi bantuan, otomatis gedung pusat hiburan itu akan kosong. Kita bakar tempat itu." Kata Beni.


"Hahahaha.... Kau memang licik Beni. Baik. Mari kita lakukan pekerjaan yang sangat menyenangkan ini!" Kata Togar sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon anak buah nya yang menunggu perintah di perbatasan Kota Batu-Tasik putri.