
Mobil BMW i8 tampak melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Tasik Putri menuju ke kota Kemuning.
Tiba di perumahan Staf milik perusahaan yang dimiliki oleh Martin, Mobil BMW itu pun berhenti.
Kini dari dalam tampak seorang pemuda tampan keluar dari mobil itu dan langsung menuju ke salah satu rumah lalu menekan bel.
Setelah menunggu beberapa saat, tampak seorang gadis cantik yang memiliki wajah lembut meninjau dari dalam.
Begitu mengetahui siapa yang datang, gadis itu pun tersenyum riang lalu membukakan pintu untuk pemuda itu.
"Darimana saja bang seminggu baru pulang?" Tanya Gadis itu.
"Aku banyak urusan. Maaf jika tidak sempat memberi kabar." Kata pemuda itu lalu membuka sepatunya dan kemudian melangkah memasuki rumah tersebut dengan diiringi gadis itu dari belakang.
"Tadi aku lihat sepi sekali. Kemana semua orang-orang pergi?" Tanya Pemuda itu.
"Kemarin Martin datang. Dia juga menanyakan keberadaan mu. Makanya semua mereka kini berangkat ke Martins Hotel dan sampai sekarang belum kembali." Kata gadis itu menjelaskan.
"Oh ya. Ok. Aku akan ke sana dulu. Kau tetap di rumah." Kata pemuda itu lalu kembali melangkah menuju mobilnya.
"Sepatu mu bang!" Teriak gadis itu.
"Oh Tuhan ku. Hampir saja." Kata pemuda itu sambil menepuk jidatnya.
Untung di beri tahu. Jika tidak, mungkin dia akan berangkat menuju hotel dengan kaki ayam.
Setelah selesai memakai sepatu, pemuda itu pun memasuki mobilnya lalu berangkat menuju Martins Hotel.
Tiba di sana dia melihat beberapa anak buahnya berada di area parkir serta di lobby hotel.
Dengan acuh tak acuh pemuda itu langsung saja memasuki Hotel tersebut.
Beberapa staf dan Karyawan Hotel langsung menyapa dengan hormat begitu melihat siapa yang datang.
"Tigor. Wah ternyata kau sudah pulang."
Terlihat seorang pemuda yang sedikit lebih tua dari dirinya menyapa sambil melambaikan tangan di salah satu kursi di ruangan itu.
Melihat siapa yang memanggil, pemuda yang ternyata adalah Tigor itu langsung melangkah mendekati kedua pemuda yang sedang duduk itu.
"Gor. Dari mana saja kau?"
"Aku sibuk seminggu ini. Banyak urusan." Jawab Tigor.
"Martin datang kemari dan sudah dua hari dia di sini. Dia bilang sama kami kalau kau pergi keluar negri untuk membunuh orang. Apa benar Gor?" Tanya pemuda itu.
Serrr....
Berdesir darah Tigor mendapat pertanyaan seperti barusan.
"Membunuh orang? Membunuh kambing saja aku tidak sanggup. Eh Monang, sama siapa Bos besar kemari?" Tanya Tigor.
"Dia kemari bersama siapa lagi kalau bukan dengan Mister Carmen orang kepercayaan mu itu." Jawab Monang.
"Di mana dia saat ini?" Tanya Tigor.
"Dia berada di ruangan pribadinya di lantai dua."
"Ya sudah. Kalian jaga di sini. Aku akan menemuinya. Nih orang mulutnya terlalu sembarangan kalau berbicara. Mengatakan bahwa aku membunuh orang." Kata Tigor ngomel sebelum melangkah.
Monang dan seorang lagi temannya hanya mengangkat bahu saja sambil memandang ke arah Tigor yang sedang berjalan menuju pintu lift.
Tiba di depan pintu ruangan pribadi milik Martin, Tigor langsung mengetuk pintu.
Setelah mendapat izin, Tigor pun langsung mendorong pintu lalu segera memasuki ruangan itu.
"Maaf aku terlalu buru-buru kemarin itu." Jawab Tigor.
"Untuk apa kau ke luar negeri hah? Membuat onar?" Tanya Martin lagi.
"Menjadi TKI satu Minggu. Mengapa Pak Martin? Apakah tidak boleh menambah koneksi?" Tanya Tigor.
"Kau itu menambah koneksi dengan melakukan pembunuhan."
"Dan kau membeberkan kepada orang-orang bahwa aku melakukan pembunuhan kan? Bagaimana bisa aku mempercayai mu untuk menyimpan rahasia ku." Kata Tigor memotong perkataan Martin barusan.
"Kau tau, gara-gara perkataan mu itu, kini Monang dan Andra mencurigai ku. Beruntung aku masih bisa beralasan."
"Kau jangan mengalihkan pembicaraan. Seharusnya aku yang marah sekarang ini. Sekarang aku tanya kepada mu. Apakah aku bos mu atau kau bos ku?" Tanya Martin sambil bangkit berdiri.
"Kau bos ku. Puas?" Kata Tigor menjawab pertanyaan dari Martin.
"Beruntung geng tengkorak tidak ada yang mengetahui bahwa kau pergi keluar negeri. Jika mereka mengetahui, bisa berantakan semua di kota ini."
"Harusnya kau memberitahu kepada ku jika ingin pergi. Aku bisa membuat persiapan untuk menjaga segala kemungkinan." Kata Martin.
"Menjaga kemungkinan? Dengan apa Bos? Apa kau mau mengandalkan Beni atau Marven? Aku lebih baik meninggalkan kota Kemuning ini dalam keadaan tanpa penjagaan daripada mempercayakan kepada mereka untuk menjaga."
"Kau lihat badak-badak sialan yang hanya makan gaji buta di sisi mu itu. Izinkan aku dan aku akan memancung kepala mereka semua." Pinta Tigor dengan serius.
"Tidak bisa Gor. Orang-orang akan menuduh ku haus darah dan membunuh orang-orang sendiri." Kata Martin.
"Jika tidak sekarang, maka apa harus menunggu mereka yang akan membunuh mu?"
"Kalau aku mati, kau kan ada untuk membalaskan dendam. Kau harus melakukan bela Pati jika aku terbunuh." Kata Martin.
"Kau jangan main-main Martin!"
"Tidak. Aku tidak main-main. Tapi membunuh ku demi kekuasaan sampai saat ini belum terlintas dalam benak ku. Mana berani mereka melakukan hal konyol seperti itu." Kata Martin lagi.
"Oh ya. Katakan kepada mu berapa upah yang kau dapat dari pembunuhan itu?" Tanya Martin.
"Sepuluh juta Dollar. Itu belum termasuk dengan proyek milik kita ini. Kita hanya perlu membayar setengahnya saja." Jawab Tigor.
"Aku melihat semakin banyak alat dan tenaga kerja yang masuk. Apakah itu bagian dari kesepakatan kalian juga?" Tanya Martin.
Dia merasa aneh juga dengan bangunan yang tidak terlalu megah itu namun peralatan yang digunakan sangat banyak. Ini belum lagi tenaga kerja yang melimpah.
Jika tidak ada halangan, kemungkinan proyek yang dijangka setahun batu selesai itu hanya memakan waktu lima bulan saja pasti akan tuntas.
"Aku secara pribadi memohon kepada Tuan Jerry William untuk proyek itu. Itu seperti kacang goreng saja bagi mereka." Kata Tigor.
"Apakah mereka sekuat itu?" Tanya Martin.
"Aku tidak terlalu tau. Tapi untuk tempat tingga sederhana saja bagi mereka, jika digabungkan, lima rumah besar milik mu itu jika disatukan masih kalah besar dengan Villa usang milik mereka. Itu hanya sebuah tempat singgah saja. Bagaimana jika Villa tempat Tuan Jerry itu menetap?" Jawab Tigor.
"Untuk pentolan saja di organisasi mereka, melebihi empat ribu orang yang masing-masing memiliki bawahan. Seharusnya itu lebih dari seratus ribu orang. Pantas saja mereka sangat sombong ketika mengajukan proposal tender untuk proyek kita." Sambung Tigor lagi.
Martin hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan dari Tigor ini.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Tigor ini bernasib sangat mujur karena mampu memiliki kenalan dari kalangan orang-orang kuat internasional.
"Aku sudah mentransfer uang sebesar dua juga ke rekening mu Bos. Sekarang aku mohon diri dulu. Aku akan beristirahat sebelum melakukan aktivitas lagi."
"Oh ya. Jika kau ingin pulang ke Tasik Putri, jangan lupa untuk mengabari aku. Kami akan mengawal mu sampai ke sana. Mulai sekarang aku ingin merekrut banyak anggota dan mendeklarasikan perang terbuka dengan geng tengkorak." Kata Tigor.
"Hmmm. Kau pergilah. Aku juga masih betah di sini." Kata Martin.
"Aku permisi pak Martin!." Kata Tigor sambil membungkuk hormat lalu berbalik menuju pintu dan menghilang.