BLACK CAT

BLACK CAT
Ancaman Wulan



"Tigor kau mau kemana?"


Terdengar satu suara memanggil Tigor yang saat ini tampak bergegas keluar dari dalam restoran.


"Ah kau ternyata Cok. Aku baru saja dari dalam. Sekarang aku akan pulang." Kata Tigor.


"Eh bang. Bagaimana tadi pertemuan mu dengan Martin? Apakah kau jadi ikut dengan mereka?" Tanya Jabat ingin tau.


"Lupakan saja mereka itu. Mereka fikir udah hebat kali kelompok mereka itu. Sombong nya minta ampun." Kata Tigor.


"Ya udah lah bang. Terserah kau aja lah." Kata Ucok.


"Kalian lanjut lah kerja. Aku udah tak selera mau kerja. Aku pulang saja." Kata Tigor.


"Ya bang. Sebentar lagi kami juga akan pulang. Kan batas kerja dari jam 4 sampai jam 12 malam." Kata Jabat.


"Hati-hati kalian kerja ya. Jangan cari masalah." Kata Tigor lalu segera meninggalkan kedua sahabat nya itu.


*


Tigor terus saja berjalan tak tentu arah di bahu jalan menuju ke sebuah kafe tempat di mana dia biasa ngamen.


Sesekali dia menendang botol bekas minuman yang di buang sembarang di pinggir jalan.


Sepanjang jalan itu banyak wanita-wanita malam yang menegur dirinya, namun sedikitpun dia tidak menggubris. Ketika dia hampir tiba di kafe, dia mendengar seseorang memanggil namanya. Begitu dia berpaling, ternyata itu adalah Karman.


"Gor. Ah kebetulan kita bertemu di sini. Ayo aku traktir kau minum kopi." Kata Karman dengan ramah.


"Terimakasih Karman. Tapi aku tidak berminat." Jawab Tigor yang memang sudah malas.


"Ayo lah Gor. Memang hanya sebatas kopi saja yang bisa aku tawarkan padamu. Kau faham lah. Aku bukannya punya banyak duit. Tapi aku iklas Gor. Rejeki jangan di tolak!" Kata Karman.


"Baiklah. Ayo pesan saja. Aku akan duduk minum bersama mu." Kata Tigor tidak bisa menolak lagi.


"Eh Gor. Aku lihat tadi Boss besar Martin sedang memayungi mu dari hujan. Sebenarnya ada apa Gor? mengapa kau bisa berkenalan dengan Martin, ketua geng kucing itu?" Tanya Karman.


"Oh itu. Hahaha. Waktu itu aku pernah membantu ketika ban mobil dia pecah. Makanya dia berterimakasih sama aku. Ah hal biasa. Tidak ada yang 'Wah'." Kata Tigor sambil tertawa.


"Gor. Terus terang saja ya. Andai aku seperti kau tadi, sudah pasti aku akan meminta pekerjaan sama si Martin itu. Lumayan Gor. Kau lihat aku. Walaupun aku bekerja dibawah Monang, tapi aku bisa mengontrak rumah sendiri. Maaf Gor bukan aku menghina dirimu. Tapi ini masalah kesempatan. Terima saja jika Martin menawarkan sesuatu pekerjaan kepada mu. Setidaknya kau bisa memiliki rumah sendiri dan tidak lagi bekerja serampangan dan tinggal di bawah jembatan. Apa kau tidak ingin kehidupan mu mengalami peningkatan?" kata Karman dengan serius.


"Martin hanya berterimakasih kepadaku karena pernah menolong nya. Dia sama sekali tidak menawarkan aku pekerjaan." Kata Tigor berbohong.


"Walaupun dia tidak menawarkan, tapi kau kan bisa meminta. Tidak semua orang seberuntung dirimu Gor. Jalan dipayungi dan duduk satu meja. Itu kesempatan untuk mengubah nasib. Kau fikirkan saja sendiri. Alu ini udah ikut Monang itu selama 4 tahun. Tapi belum pernah memiliki kesempatan seperti kau. Huh andai saja itu aku." Kata Karman sambil menjitak meja.


Tigor dan Karman terus saja mengobrol sampai pada akhirnya sebuah mobil Honda berhenti di depan kafe itu. Kini dari dalam mobil, keluar seorang wanita muda yang lumayan cantik berjalan melenggang memasuki kafe tersebut.


"Tigor! Ternyata benar kata Ronggur. Kau bersandiwara dengan lelaki ini kan? Huh aku kira kau orang baik. Ternyata sama saja dengan gelandangan lainnya." Kata gadis yang baru saja tiba di kafe itu.


"Mak oi. Masalah baru datang lagi." Kata Tigor sambil mengacak-acak rambut nya.


"Mati kita Gor. Ini semua karena aku." Kata Karman.


"Wulan. Jika kau tidak merasa najis, silahkan duduk di sini. Aku bisa menjelaskan semuanya kepada mu." Kata Tigor sambil mempersilahkan gadis yang bernama Wulan itu untuk duduk.


"Huh... Dasar gelandangan tidak tau diri. Kau tunggu saja apa yang akan aku lakukan kepada mu." Kata Wulan sambil memutar badan dan masuk kembali ke dalam mobil nya.


"Mati kita Gor. Dia pasti mengadukan kita kepada ayahnya yang bernama Lalah itu. Kau lari saja Gor! Biar aku yang akan menanggung nya. Aku yang berbuat, maka biarlah aku yang bertanggung jawab." Kata Karman.


"Habiskan dulu kopi mu lalu bayar! Kita akan duduk di luar kafe. Nanti Andai terjadi keributan, tidak merusak perabotan di dalam kafe ini." Kata Tigor sambil berdiri dan membetulkan ikat pinggang nya.


"Bodoh nya aku. Sekali lagi aku minta maaf kepada mu Gor." Kata Karman lalu bergegas menuju kasir untuk membayar minuman mereka.


"Kita duduk di sini saja Man. Lebih leluasa. Jika kalah berkelahi, kita bisa kabur dengan cepat." Kata Tigor sambil tertawa.


"Ah kau masih bisa juga becanda disaat genting seperti ini." Kata Karman yang terlihat pucat.


"Kau takut?" Tanya Tigor.


"Adalah suatu kebohongan besar jika aku tidak ketakutan. Siapa yang tidak kenal Lalah? Martin dan Birong pun menghormati mafia mobil gelap ini. Siapa lah aku yang hanya seperti lipas bagi Lalah." Kata Karman.


"Kalau kau takut, mengapa tidak lari saja?" Tanya Tigor.


"Kalau aku lari, bagaimana dengan mu nanti? Bagaimana dengan keempat teman mu. Bukankah Ronggur sudah melihat wajah mereka. Aku tidak mau karena aku, kalian berlima akan menjadi korban." Kata Karman.


"Kau tenang saja Karman. Aku tidak akan meninggalkan dirimu. Tapi kau harus menjaga satu rahasia untuk ku." Kata Tigor.


"Rahasia apa Gor?" Tanya Karman.


"Kau akan tau nanti. Apapun yang kau lihat nanti, kau tidak boleh memberitahu kepada siapa pun. Apa kau bisa memegang janji?" Tanya Tigor.


"Sudah terdesak begini. Entah hidup entah mati aku ini nanti. Ya aku bukan hanya berjanji. Tapi aku bersumpah." Kata Karman.


"Bagus. Sekarang kita tunggu saja mereka. Setelah mereka nanti datang, kau pancing mereka untuk mengejar mu melewati benteng itu. Ingat Karman! Kau harus lari ke benteng dan berhenti tepat di bawah pohon beringin pinggir jalan tempat kita bertemu tadi siang." Kata Tigor lalu segera memutar badan meninggalkan Karman yang seperti orang bengong tidak mengerti.


"Kau mau kemana Gor?" Tanya Karman terheran-heran ketika melihat Tigor akan pergi meninggalkan nya.


"Aku akan menyiapkan jebakan untuk mereka. Ingat lah untuk melakukan yang aku katakan tadi." Kata Tigor.


Walaupun tidak mengerti apa maksud Tigor ini, namun Karman hanya bisa mengangguk saja. Dalam hatinya hanya ada satu kata, semua sudah serba terlanjur. Maka, hadapi saja.