
Empat orang pria berjalan terburu-buru menghampiri jembatan seperti sedang dikejar-kejar oleh massa.
Salah seorang dari keempat lelaki itu tampak sedang menutupi telinga dengan sebelah tangan yang kini berlumuran darah.
Mereka terus saja berjalan melewati Jembatan tanpa mereka sadari berpuluh-puluh pasang mata sedang mengintai mereka.
Tepat ketika mereka akan mencapai jembatan, terdengar suara menegur mereka dari arah bawah.
"Hey sobat. Mau kemana kalian buru-buru?"
Keempat lelaki itu tidak menggubris dan terus saja berjalan dengan cepat.
"Kurang ajar. Sombong sekali kalian. Kalian tidak tau sedang melewati kawasan terlarang."
"Kejar mereka!" Perintah lelaki itu.
Baru saja kata-kata perintah itu bergema, kini dari arah bawah jembatan berlarian puluhan lelaki muda kemudian langsung mengepung keempat lelaki tadi sehingga membuat mereka mulai panik.
Dalam kepanikan itu mereka masih sempat bertanya dengan kasar dengan harapan dapat menggertak gerombolan pemuda yang mengepung mereka.
"Mau apa kalian? Minggir dan jangan halangi jalan kami." Kata lelaki itu dengan gusar.
"Minggir katanya woy. Hahaha..."
"Iya. Dia bilang kita harus minggir. Apa kau tuli? Hahaha..."
"Hahaha... Hey kau ngomong apa tadi? Minggir katamu ya?"
"Ini adalah kawasan kekuasaan kami. Siapa saja yang lewat dengan maksud tidak baik, maka harus membayar!"
"Anak ingusan kurang ajar. Kalian tidak tau siapa kami? Kami adalah orang-orang dari geng tengkorak. Aku akan mengadukan ini kepada Birong agar kalian tau rasa." Kata salah seorang dari keempat lelaki itu.
Dia sengaja menjual nama Birong agar komplotan pemuda itu merasa ketakutan.
"Birong woy. Pasti orang nya hitam. Ya kan? Pasti kalau berdiri di kegelapan yang terlihat hanya gigi nya saja. Hahaha..."
"Kau ingin mengadu kepada Birong? Apa kau yakin kalau kau bisa mengadu? Tentu saja bisa. Tapi kalau kau bisa lolos dari cengkraman kami. Seret mereka ke bawah jembatan!" Perintah ketua dari komplotan pemuda itu.
Gerombolan anak-anak muda itu tanpa banyak bicara lagi langsung menangkap keempat lelaki tadi dan langsung mendorongnya hingga jatuh terguling menggelinding seperti karung sampah dari pinggir benteng ke bawah.
Sementara di bawah, mereka sudah di tunggu lebih ramai lagi anak muda.
Tanpa menunggu perintah, hampir seratusan orang lebih mengeroyok empat orang itu hingga tak berbentuk rupa.
"Sudah dadal duwel kayak perkedel dan ondel-ondel." Kata Mereka lalu tertawa terbahak-bahak.
"Tenggelamkan saja! Habis cerita." Kata mereka lalu mereka bergotong royong melempari tubuh keempat lelaki anggota geng tengkorak itu ke dalam air. Jika tidak tersangkut, mereka akan sampai ke laut Kuala nipah dan akan jadi santapan ikan hiu.
"Gor. Empat orang yang kau suruh aku bereskan tadi udah bungkus." Kata Andra memberitahu kepada Tigor melalui pesan suara.
"Mantap Ndro!" Kata Tigor membalas pesan suara dari Andra.
*********
Seorang pemuda baru saja selesai membalas pasan suara singkat dan kemudian memasukkan ponsel kedalam saku celana nya. Sambil melirik ke kanan dan ke kiri, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil.
Dia baru saja selesai menarik sejumlah uang dari bank dan kini sedang terburu-buru menuju ke rumah pak Harianja.
Tok tok tok...!
"Pak Harianja. Assalamualaikum pak!" Kata Tigor.
"Ya. Salam sejahtera kembali buat mu Gor. Mari masuk!" Kata Pak Harianja.
"Jangan pak. Aku tidak akan masuk. Aku tidak boleh lama di sini." Kata Tigor sambil menyerahkan tas sandang ukuran sedang kepada pak Harianja.
Pak Harianja yang mengerti tidak bertanya lagi. Dia hanya menerima tas tersebut tanpa bertanya.
"Rio ada pak?" Tanya Tigor.
"Ada. Dia sedang di dalam." Jawab pak Harianja.
"Di dalam tas itu ada sedikit uang. Bapak bisa memulai kehidupan baru nanti. Berangkatlah besok subuh. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Perjalanan kalian pasti aman. Karena malam ini aku dan anggota ku akan menyerbu kota Batu untuk membuat kekacauan." Kata Tigor.
"Hati-hati Gor. Jaga dirimu baik-baik!" Kata pak Harianja.
"Terimakasih Pak. Aku pamit dulu." Kata Tigor bergegas pergi meninggalkan orang tua yang masih tetap berdiri di pinggir teras rumah kontrakan nya itu.
Sebenarnya Tigor tidak pergi jauh. Dia hanya menyelinap di balik gang menunggu waktu malam.
Dia akan terus mengintai rumah pak Harianja minimal sampai jam 11 malam ini. Baru setelah itu bergerak ke perbatasan kota Batu dan kota Kemuning untuk menyelesaikan misi yang sudah mereka atur.
Sementara itu di pinggir jalan lewat jembatan, tampak beberapa orang lelaki berbadan tegap terlihat sedang gelisah seperti menunggu kedatangan seseorang.
"Sialan kemana mereka pergi. Di suruh menanyakan identitas Tigor saja lama sekali." Kata lelaki itu dengan jengkel.
"Kita tunggu saja sebentar bang Dagol. Mungkin mereka sedang minum di kafe seberang jembatan itu." Kata lelaki di samping lelaki bernama Dagol tadi.
"Mau tunggu bagaimana? Aku harus mendapat laporan dari kalian semua sebelum kembali ke kota Batu. Mana bisa santai. Kalian tau kalau pekerjaan kalian ini sangat penting bagi Birong. Kalian cari keempat orang itu. Monyet kalian semua. Dari tadi bukan usaha, malah menunggu di sini." Kata Dagol dengan marah.
"Ok Dagol. Jangan marah. Kami akan mencari mereka." Kata orang itu sedikit ketakutan melihat kemarahan atasan mereka.
"Ayo kita cari!"
"Cari berkumpul kayak ikan baru menetas. Berpencar kalian!" Bentak Dagol yang sejak tadi sudah sewot.
Semua mereka yang berada di tempat itu saat ini mulai menyebar mencari kesana kemari. Namun yang mereka cari tetap tidak ketemu.
Sampai matahari sudah tenggelam, mereka masih belum menemukan keempat teman mereka.
Bagaimana mau ketemu jika keempat teman mereka saat ini mungkin sudah hanyut dibawa oleh arus sungai sampai ke Kuala nipah.
Karena sampai malam namun pencarian itu tetap tidak membuahkan hasil, maka satu per satu mereka yang bertugas mencari teman mereka yang hilang kembali ke tempat Dagol yang masih menunggu dengan gelisah.
"Dagol. Kami sudah mencari kemana-mana. Namun kami tidak menemukan mereka."
"Kurang ajar orang ini. Kalau ketemu, akan aku kuliti tubuhnya." Kata Dagol dengan geram.
"Sebaiknya kau kembali saja ke Kota Batu, Dagol. Katakan kepada ketua bahwa sampai saat ini kami masih berusaha mencari informasi tentang Tigor terutama adiknya itu." Kata salah satu bawahannya meminta Dagol untuk kembali dan melaporkan kepada Birong bahwa mereka masih belum berhasil.
"Ya sudah. kalian jangan berhenti mencari tau keberadaan Tigor dan adiknya itu. Aku harus segera kembali ke Villa bukit batu." Kata Dagor sambil masuk ke mobil dan mulai berlalu dari tempat itu.