BLACK CAT

BLACK CAT
Rio menelepon Tigor



Kriiing!


Kriiing!


Terdengar suara ponsel berdering memenuhi ruangan itu membuat seorang lelaki yang berjalan menggunakan tongkat akhirnya melangkah terpincang-pincang mendekati meja di mana ponsel itu berada.


"Nomor siapa ini?" Tanya lelaki itu dalam hati.


Dengan menahan rasa penasarannya, lelaki itu pun akhirnya menjawab panggilan tersebut.


"Hallo. Ingin bicara dengan siapa?" Tanya nya.


"Hallo bang. Bang Tigor. Ini aku Rio." Jawab sang penelepon di seberang sana.


"Rio. Bagaimana dengan pendidikan mu di Akpol?" Tanya Tigor.


"Alhamdulillah aku lulus dengan predikat tertinggi bang. Sekarang aku ditugaskan di kota Batu sebagai Ajun komisaris besar polisi namun karena aku masih baru, maka harus mengikuti para senior terlebih dahulu walaupun pangkat mereka lebih rendah dari ku." Jawab Rio masih melalui sambungan telepon.


"Syukurlah dek. Tidak sia-sia Abang berjuang untuk menyekolahkan mu. Akhirnya kau jadi orang juga sekarang." Kata Tigor penuh rasa syukur.


"Bang. Saat ini aku berada di rumah dinas mendiang Ayah kita. Aku berencana akan menempati rumah ini. Bagaimana menurut Abang?" Tanya Rio meminta pendapat.


"Jika kau sanggup, tempati saja lah. Tapi jujur saja bahwa Abang tidak sanggup. Bahkan jika melihat rumah itu pun, Abang tidak sanggup. Hati Abang akan kembali berdarah. Abang bersumpah tidak akan menginjak rumah itu walau sedetik sebelum Birong mati." Kata Tigor menggeram.


"Bang. Jangan bicara seperti itu kepada ku. Sekarang ini aku adalah polisi. Walaupun aku adik mu, tolong hargai seragam ku ini." Kata Rio menegur.


"Rio. Apakah Abang tidak salah dengar? Sejak kapan kau berani menegur Abang? Apakah karena seragam mu itu?" Tanya Tigor mulai merasa tidak enak di dalam hatinya.


"Aku tidak berani bang. Namun ketika ada yang melanggar hukum, maka tugas polisi lah yang akan menindak."


"Oh. Sudah pandai kau sekarang ya. Asal kau tau saja Rio. Seribu bintang pun di pakaian dinas mu itu, kau tetap adik ku. Jadi, jangan buat aku tersinggung dengan ucapan mu tadi. Aku sudah puas makan asam garam dalam kehidupan ini dan tidak pernah ada hukum dari kepolisian yang pernah membantu ku, membantu kita. Kau pula datang dan bicara hukum didepan ku." Bentak Tigor.


"Bang. Aku menelepon mu ini bukan untuk berdebat. Aku hanya ingin menyampaikan kabar tentang kelulusan ku menjadi polisi. Itu saja." Kata Rio yang tidak ingin membuat darah tinggi Abang nya itu kambuh.


"Ya sudah. Ingat Rio. Ingat janji mu dulu. Aku menyekolahkan mu sampai menjadi seorang polisi seperti sekarang ini karena agar kau membantuku untuk membalas dendam. Bukan menceramahi ku. Nyawa Birong harus di cabut melalui tangan ku, atau tangan mu. Jangan bantah aku atau aku akan datang dan merobek seragam mu itu." Bentak Tigor.


Kemarahannya benar-benar sudah sampai di ubun-ubun saat ini.


Dia tidak mengira bahwa masalah baru akan datang. Dan masalah itu datang dari darah dagingnya sendiri yaitu Rio sang adik yang baru saja lulus menjadi seorang polisi.


"Bang. Jangan berdebat sekarang. Kita bisa bertemu nanti." Kata Rio.


"Lusa aku akan menikah. Kau datang ke kota Tanjung karang! Aku kira kau belum lulus. Makanya aku tidak berani mengusik mu. Ingat! Lusa kau datang dan lihat kakak ipar mu!"


"Siap bang. Siap. Rio pasti datang." Jawab Rio dengan bersemangat karena mendengar Abang nya itu akan menikah.


*********


Ada yang suka dengan berita ini, tapi tidak sedikit yang menganggap bahwa berita ini adalah lelucon. Terlebih lagi Marven dan Birong.


Bagi Marven secara pribadi, dia sangat tau seluk beluk Mirna ini yang dulu pernah menjadi ayam peliharaan Monang di dunia gemerlap malam. Makanya itu berita ini dia anggap sebagai lelucon dan menganggap bahwa Tigor memiliki selera rendahan yang tidak pandai mencari calon istri dari kalangan wanita baik-baik.


Sambil tertawa terbahak-bahak, Marven yang ketika itu didampingi oleh Mr.Carmen Bond 070 setengah mati menertawakan keputusan Tigor yang akan menikah besok lusa.


"Kau dengar itu Carmen? Tigor ini. Entah salah minum obat apa dia sampai-sampai menikahi seorang wanita mantan pelacur." Kata Marven terbahak-bahak.


Carmen yang tau betul siapa Mirna ini yang belum pernah disentuh oleh lelaki hidung belang karena terus-menerus di booking oleh Black Cat merasa panas juga mendengar penghinaan ini. Apa lagi Tigor ini adalah ketuanya.


Namun setelah berfikir bahwa di mana dia saat ini berpijak, maka dia segera menelan semua kejengkelan dihatinya dan memaksa untuk tersenyum.


"Hahaha... Tigor.., Tigor. Berangkat dari tempat sampah lalu hidup senang karena Martin. Aku menduga bahwa setelah naik derajat, selera mu akan turut berubah. Tapi nyatanya selera mu tetap saja sama. Dari sampah kembali ke sampah dan makan sampah." Kata Marven tak kuasa menahan tawanya yang terbahak-bahak itu sampai matanya berair.


Sementara itu di Martins Hotel, Wulan juga merasa sangat terpukul dengan berita ini.


Tadinya dia mengira setelah lebih dekat dengan Tigor dan berada di kota Kemuning paska Dolok ginjang telah di serang oleh geng kucing hitam, dia akan bisa memenangkan hati Tigor dan sedikit demi sedikit mengikis hubungan pemuda itu dengan Mirna.


Tapi nyatanya, baru beberapa hari dia berada di kota Kemuning, Tigor sudah mengumumkan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya dengan Mirna dan dengan bangga mengatakan bahwa dia akan mengadakan pesta besar-besaran.


Hal ini membuat harapan Wulan pupus sudah.


Sedangkan di kota Tasik Putri, Debora pun merasakan hal yang sama dengan Wulan.


Hanya bedanya, penyesalan Debora jauh lebih besar dibandingkan dengan Wulan.


Bagaimana tidak. Dia adalah gadis yang terlebih dahulu mengenal Tigor. Sering bertemu dengannya. Bahkan juga sering jalan bersama.


Dia yang dulunya selalu menganggap remeh kepada Tigor akhirnya harus menelan kenyataan ini.


Memang dulu dia sangat mengakui bahwa Tigor ini memang sangat tampan. Namun dia berpikir bahwa tampan saja tidak cukup untuk membuat perut kenyang.


Seorang lelaki harus memiliki pekerjaan tetap agar dapat menjamin asap di dapur tetap ngebul.


Tigor yang dulunya adalah seorang pengamen jalanan sama sekali tidak masuk dalam kategori kriteria lelaki yang dia dambakan walaupun Tigor itu memang tampan.


Puncak dari kerenggangan hubungan mereka adalah ketika mereka mengadakan pertemuan reunian SMA di salah satu restoran di kota Tasik Putri ini dan ketika itu, dia yang datang bersama dengan Tigor malah kepincut dengan Irfan yang baru saja membeli mobil baru.


Tanpa merasa bersalah, dia dan semua sahabatnya meninggalkan Tigor sendirian di restoran itu seperti orang bodoh yang salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa.


Itu jugalah awalnya sehingga membuat Tigor memilih untuk menerima tawaran dari Martin dan bergabung dengan organisasi kucing hitam.


Ketika itu Tigor bersumpah jika hanya karena uang dia bisa dihormati dan tidak dilecehkan, maka dia akan mandi uang. Dan semua ini terbukti menjadi kenyataan.


Itulah Debora yang hanya memandang orang dari latarbelakang nya saja. Padahal semua orang memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk bangkit dan menjadi yang lebih baik lagi. Tinggal yang bersangkutan saja. Memilih untuk berusaha, atau pasrah dengan keadaannya.