BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor mulai merasakan penghinaan



"Bang Tigor.., aku telah melakukan pemeriksaan terhadap penyakit Ucok temanmu. Dari hasil pemeriksaan itu, selain mengalami demam malaria, teman mu itu juga mengalami penyakit paru-paru basah." Kata Debora melaporkan hasil pemeriksaan terhadap Ucok.


"Apa? Paru-paru basah? Kau yakin dek?" Tanya Tigor terkejut.


"Menurut hasil pemeriksaan memang begitu bang. Tidak mungkin meleset." Kata Debora yakin.


"Oh Tuhan. Apa lagi ini?" Kata Tigor sambil mengurut kening nya yang mendadak pening.


"Sebaiknya abang segera membawa Ucok ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sebelum penyakit yang di derita oleh Ucok temanmu itu tidak semakin parah. Karena klinik ku ini tidak memiliki cukup alat dan obat. Aku hanya bisa memberikan obat penahan rasa sakit. Tapi tidak menyembuhkan." Kata Debora sambil mengelus pundak Tigor.


"Aku mengerti. Terimakasih dek. Sekali lagi aku ucapkan Terimakasih karena kau telah mau membantu sahabatku." Kata Tigor.


"Sama-sama bang. Semakin cepat, semakin baik. Ini karena percuma saja dia berlama-lama di klinik ku ini. Takutnya penyakit yang di derita Ucok akan semakin parah dan akan sulit untuk di sembuhkan." Kata Debora lagi.


"Huhh... Sakitnya kepalaku." Kata Tigor lalu segera bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu sekedar untuk menghirup udara segar.


"Jangan terlalu stres bang! Nanti kau malah sakit. Akan bertambah satu masalah lagi." Kata Debora berusaha menenangkan perasaan Tigor yang kalut. Dia tau saat ini Tigor butuh seseorang yang bisa untuk di ajak berbagi. Oleh karena itu dia berusaha untuk terus berada di samping pemuda itu.


"Bang. malam ini akan ada acara reuni teman SMA dan aku di undang untuk menghadiri acara itu. Apakah kau mau menemaniku? Setidaknya kau bisa bertemu banyak orang untuk menghilangkan rasa boring." Kata Debora.


"Mau naik apa? Apa kau mau jalan kaki? Aku kan tidak punya kendaraan. Kau saja lah yang pergi. Aku malas." Kata Tigor menolak ajakan Debora.


"Jalan kaki pun asal bersama mu aku mau bang. Aku malu. Semua mereka memiliki pasangan. Tapi aku tidak. Ayo lah bang! Mau ya?!" Kata Debora memaksa dengan manja.


"Asalkan nanti kau tidak merasa terhina, ya boleh lah." Jawab Tigor Pasrah.


"Bagaimanapun nanti kita akan bertemu dengan teman-teman SMA mu yang mungkin sudah sukses dan memiliki pekerjaan yang bagus serta karier yang gemilang. Aku khawatir kau akan dipermalukan oleh mereka nanti ketika melihat kau jalan dengan seorang gelandangan seperti aku." Kata Tigor lagi.


"Ah. Abang terlalu berfikiran jauh. Buang jauh-jauh kekhawatiran yang keterlaluan itu bang! Mereka adalah sahabat-sahabat ku yang terbaik. Pokoknya kau tenang saja." Kata Debora.


"Ya sudah. Pukul berapa kita berangkat?" Tanya Tigor.


"Pokoknya habis adzan maghrib kau sudah ada di sini. Lalu kita berangkat." Kata Debora.


"Ok. Tunggu saja nanti ya. Aku akan pulang dulu. Rio belum makan dari tadi. Aku harus menemui Karman. Mau minjam uang untuk beli makanan dan ongkos angkot kita nanti." Kata Tigor lalu segera meninggalkan Debora di depan klinik tempat praktek nya itu.


*********


Malam itu sesuai dengan janji yang telah mereka sepakati, Tigor pun akhirnya tiba di depan Klinik Debora dan langsung duduk di depan beranda klinik tersebut di mana di sana terdapat bangku panjang terbuat dari papan kayu.


Sekitar 10 menit menunggu, tampak seorang gadis memakai baju warna pink dan Rok panjang warna hitam menghampiri dirinya sambil berkata, "sudah lama menunggu bang?" Tanya gadis itu.


"Tidak. Aku baru saja duduk di sini. Kurang lebih 10 menit lah." Jawab Tigor.


"Berangkat sekarang?" Tanya Debora.


"Yuk." Jawab Tigor singkat lalu segera bangkit berdiri.


Begitu Tigor berdiri, Debora langsung menyambar tangan pemuda itu agar mereka bisa berjalan beriringan.


Terasa Risih juga Tigor diperlakukan seperti itu. Tapi mau gimana lagi, Debora sudah sangat baik kepada dirinya dan Ucok. Terpaksalah Tigor menurut saja seperti Kerbau yang di cocok hidung nya.


"Memang tidak enak termakan budi terhadap orang lain." Kata Tigor dalam hati.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Tigor dan Debora sampai juga di pinggir jalan. Kebetulan ada angkot yang nyeper diwaktu malam sedang lewat. Jadi, mereka tidak perlu lama-lama menunggu.


Setelah beberapa menit, angkot yang di tumpangi oleh Tigor dan Debora tadi akhirnya tiba di sebuah restoran yang sederhana. Dikatakan sederhana karena restoran ini tidak semegah dan sebesar restoran Samporna milik Martin.


Setelah membayar ongkos, Tigor dan Debora pun berjalan beriringan memasuki halaman restoran di mana di halaman parkir restoran tersebut tampak beberapa mobil sudah berjejer dengan rapi di area parkir.


Ketika Debora dan Tigor memasuki restoran, beberapa pasang mata mulai melirik ke arah pasangan itu sambil berdecak kagum.


"Heh Rini. Lihat cowo disamping Debora itu. Tampan sekali dia." Kata salah seorang gadis kepada sahabat nya.


"Mana?"


"Ah sialan. Beruntung sekali Debora itu. Aku tadinya mengira bahwa dia masih jomblo. Jadi aku sengaja datang bersama pacarku untuk membuat dia iri. Tau nya dia berjalan didampingi oleh pemuda setampan itu. Asem tenan." Kata gadis bernama Rini itu.


"Hi Debora. Kenalin dong yang di samping mu itu kepada kita!" Kata para gadis-gadis itu bercanda dengan genit.


"Ah kau ini Debora. Baru saja aku ingin mengajak mu makan malam di Dolok ginjang dengan mobil baru ku. Gagal sudah karena ternyata kau sudah punya pacar." Kata Seorang pemuda.


"Mobil? Emang kau baru beli mobil ya Fan?" Tanya Debora antusias.


"Iya baru seminggu ini. Oh ya. Kenalin dong aku dengan pacar mu itu." Kata lelaki bernama Irfan itu kepada Debora.


Tadinya Debora merasa bangga dan akan mengakui kalau Tigor itu adalah pacarnya. Namun karna mendengar bahwa Irfan membeli mobil baru dan ingin mengajak nya untuk kencan, maka Debora langsung membantah.


"Ini namanya Tigor. Dia bukan pacar ku. Dia hanya sahabatku. Kebetulan aku meminta dia untuk menemaniku menghadiri acara reuni ini. Benar kan bang?!" kata Debora sambil melepaskan gandengan tangannya.


"Iya benar. Debora tadi memintaku untuk menemaninya." Kata Tigor mengaku dengan jujur. Baginya tidak ada gunanya berbohong. Toh juga Debora memang bukan siapa-siapa baginya. Dia hanya sekedar membalas budi karna Debora ini sudah mau menolong sahabatnya. Jadi, dia terpaksa mau menerima ajakan dari Debora untuk menemaninya. Hanya itu saja.


"Oh begitu. Ya tidak apa-apa. Oh ya.., nama mu Irfan." Kata pemuda itu dengan ramah sambil mengulurkan tangan nya.


"Tigor." Jawab Tigor sambil menyambut uluran tangan Irfan.


"Masih Jomblo ya bang?" Tanya Seorang gadis dari arah samping.


"Apaan kau ini Maya. Lihat tuh si Tigor jadi salah tingkah." Kata Irfan berpura-pura menegur gadis bernama Maya itu.


"Aku memang belum memiliki pacar. Siapalah yang mau dengan orang seperti aku ini." Jawab Tigor merendah.


"Ah. Kau terlalu merendah Tigor. Oh ya. Kau kerja di kantor mana dan bagian apa?" Tanya Irfan ingin tau.


"Tigor ini kerja di.., di.., di..,"


"Aku tidak bekerja di kantor. Maklum aku tidak memiliki pendidikan. Aku adalah anak yatim. Jadi kerjaan ku hanya dari kafe ke kafe." Kata Tigor terus memotong jawaban Debora yang tampak gugup.


Mendengar pengakuan dari Tigor ini, hampir semua sahabat Debora sekitar 30 orang di ruangan itu saling berbisik.


Kata-kata sumbang kini mulai sayup-sayup menerpa telinga Tigor. Namun Tigor tidak terlalu perduli karna dia memang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.


"Sayang sekali wajah tampan tapi pengangguran."


"Iya. Aku juga mengira kalau dia itu tadi anak orang kaya."


"Sini Maya. Kau tidak akan kenyang makan ketampanan."


Maya dan beberapa gadis yang lainnya yang tadi ingin mendekati Tigor pun mulai menjauhi pemuda itu membuat Tigor hanya bisa mengelus dada.


"Debora. Sini ikut aku." Kata Irfan sambil menarik tangan Debora untuk menjauhi Tigor.


"Untuk apa kau bawa orang seperti itu kedalam pertemuan kita ini Debora? Huhh membikin malu saja." Kata Irfan.


"Iya benar Debora. Kau ini dulu kan terkenal sebagai cewe pemilih. Tidak sembarang lelaki yang bise mendekati mu kecuali dia anak orang kaya. Huh.. Rusak sudah acara pertemuan kita ini." Kata Rini yang mulai memanas-manasi Debora.


"Aku sudah kehilangan mood di sini. Ayo kita pindah saja." kata Maya sambil memandang najis ke arah Tigor.


Kata-kata hinaan mulai berdengung bagai dengungan ribuan tawon. Dan kini semua mata seperti tertuju ke arah Tigor yang masih berdiri bagai patung dengan perasaan salah tingkah.


Tigor saat ini benar-benar merasa di telanjangi di hadapan orang ramai. Perkataan yang tepat untuk nya saat ini adalah, 'Sepi di keramaian'.


"Ah begini saja. Aku kan punya rencana untuk mengajak Debora menaiki mobil baru ku. Bagaimana jika kita pindah saja ke restoran milik Lalah di Dolok ginjang?" Kata Irfan. Dia sebenarnya ingin mengusir Tigor. Namun tidak menemukan alasan yang tepat. Jadi, terpaksa dia membuat alasan secara halus seperti itu.


"Idea yang bagus tuh. Kami setuju." Kata yang lainnya.


"Ayo Debora kita pergi." Ajak Irfan sambil menarik tangan gadis itu.


"Bang. Aku pergi dulu ya. Kau cukup menemani ku sampai di sini saja." Kata Debora tersenyum lalu meninggalkan Tigor yang masih berdiri mematung di tempat itu tanpa tau harus berbuat apa.