BLACK CAT

BLACK CAT
Menelusuri identitas Tigor



Kota Batu.


Di dalam ruangan besar di sebuah Villa yang terletak di Bukit batu, tampak sedang berlangsung pertemuan para petinggi geng Tengkorak antaranya, Birong sebagai pemimpin tertinggi kelompok geng mafia itu.


Dalam pertemuan itu juga tampak Togar sebagai wakil sekaligus adik dari Birong. Ada juga Prengki, Bongsor, Tumpal dan Dagol.


Dagol sendiri tadinya adalah bawahan biasa yang naik pangkat selepas kematian Bedul yang dibunuh oleh Black Cat tepat di sebuah kafe dekat jembatan.


Sebagai ketua dari geng mafia terbesar di provinsi ini, Birong yang memang diketahui memiliki temperamen yang mudah panas sejak tadi masih berdiri di balik meja ketua milik nya sambil memperhatikan setiap anggota kelompok itu dengan mata melotot.


"Kalian semua yang terdiri dari para petinggi geng Tengkorak. Pertama-tama saya ucapkan selamat menjelang malam dan terimakasih telah datang memenuhi undangan dalam pertemuan ini."


Birong menarik nafas sejenak lalu melanjutkan.


"Seperti yang kalian ketahui, bahwa dalam lima sampai enam bulan terakhir ini geng kita mengalami banyak kerugian. Rentetan peristiwa yang sangat merugikan kelompok kita terjadi silih berganti di mulai dari anggota geng tengkorak yang dipukuli di kafe remang tasik putri, pembakaran mobil tepat di depan Villa ini, terbunuhnya lebih dari sepuluh anak buah Dagol yang mencegat Martin di dekat tanah pemakaman umum, terbunuhnya Bedul di kafe dekat jembatan, kematian anak sulung ku Hasian di Tikungan pitu, dan yang terakhir Gang kumuh telah direbut oleh orang-orangnya Martin yang diketuai oleh pemuda bernama Tigor."


"Khusu kejadian yang terakhir ini yang aku tidak habis fikir. Menurut penuturan dari Tumpal, dia mengatakan bahwa Tigor ini adalah seorang gelandangan yang diangkat oleh Martin untuk menempati posisi yang tinggi dalam organisasi kucing hitam. Ini.., ini yang membuat aku tidak bisa memahami. Atas dasar apa Martin ini begitu mudah mengangkat seorang pemuda yang barang kali sangat diragukan kedalam organisasi? Karna menurut Tumpal sendiri, anak muda bernama Tigor ini sebelumnya sama sekali tidak menonjol atau memiliki kemampuan yang bisa meyakinkan siapa pun untuk merekrut nya."


"Sejak kabar ini aku dapatkan, aku terus memutar otak untuk berfikir mengapa Martin bisa sampai sebodoh ini. Dia menyingkirkan Tumpal dan Beni hanya demi seorang anak ingusan. Pasti ada apa-apanya." Kata Birong sambil memperhatikan kearah wajah bawahannya satu per satu.


"Kau Tumpal! Coba kau berikan gambaran nyata tentang Tigor ini. Siapa anak ini, darimana asalnya, dan sebelum ini apa pekerjaan anak itu?!" Kata Birong.


Selesai mendengarkan ucapan dari Birong, Tumpal yang baru bergabung dengan Geng tengkorak karena mengkhianati Martin ketua dari organisasi kucing hitam pun berdiri dan berkata, "Terimakasih karena telah mempersilahkan saya untuk berbicara." Kata Tumpal membuka suara.


"Sebenarnya, anak muda yang bernama Tigor ini adalah seorang gelandangan. Menurut anak buah ku yang masih berada di Tasik putri, dibantu dengan informasi yang diberikan oleh Beni yang masih berada di sisi Martin, Tigor ini tadinya adalah seorang gelandangan yang bertempat tinggal di bawah jembatan penghubung jalan dari Dolok ginjang, Tasik putri ke kota Batu dan kota Kemuning. Masih menurut anak buah ku, Tigor ini sekitar delapan tahun yang lalu adalah bersama dengan adiknya telah pindah ke tasik putri dari Kota batu ini." Kata Tumpal.


"Apa? Kota Batu?" Kata Birong tersentak dengan penyataan dari Tumpal tadi.


"Ketua. Menurut Tumpal, Tigor ini bersama dengan adiknya pindah dari kota batu ke tasik putri. Apakah...?"


Prengki tidak melanjutkan ucapannya. Malah memandang semua hadirin dengan alis nyaris menyatu.


"Apakah anak buahmu mengetahui apa nama lengkap Tigor ini?" Tanya Birong.


Ctaaaaar...!!!


"Tigor Habonaran?" Kata mereka yang berada di tempat ini serentak.


"Bang. apakah ada hubungan antara Tigor ini dengan Kapten Bonar?" Kata Togar dengan ekspresi sedikit terkejut.


"Tak salah lagi ini ketua. Bukankah yang kita ketahui adalah, Kapten Bonar memang memiliki dua orang anak lelaki. Namun ketika kejadian pembunuhan itu, kedua anak lelaki Kapten Bonar ini tidak berada di tempat. Apakah Bonar ini mengetahui bahwa kita sedang merencanakan sesuatu yang buruk kepadanya sehingga dia berinisiatif menyembunyikan kedua putranya itu?" Tanya Bongsor.


"Ini tidak menutup kemungkinan. Jika kita kembali melihat kebelakang, masuk akal juga andai Tigor ini adalah anak Kapten Bonar. Usianya yang saat ini masih sangat muda menambah kuatnya kecurigaan ku. Karena, yang kita ketahui dulu adalah, Kapten Bonar memilki seorang anak yang duduk di bangku SMP dan yang satu lagi masih duduk di taman kanak-kanak. Coba kalian hitung berapa tahun umur seorang anak yang duduk di bangku SMP! Setelah itu coba kalian tambahkan dengan delapan tahun sejak kejadian pembunuhan yang kita lakukan terhadap keluarga Kapten Bonar!" Kata Prengki.


"Enam tahun kelas satu. Dua belas tahun tamat SD, berarti ketika itu kemungkinan anak Kapten Bonar ini berumur antara tiga belas, empat belas atau lima belas tahun. Lima belas ditambah delapan, dua puluh tiga tahun. Oh Tuhan. Mengapa begitu kebetulan sekali?" Jawab Togar sambil memperhatikan reaksi abangnya.


"Ini tidak kebetulan. Kesalahan kita adalah karena terlalu terburu-buru membunuh Bonar dan istrinya serta keluarga adik nya tanpa mau melakukan penyelidikan mendalam tentang kedua anaknya. Jelas sekarang kita dalam kesulitan. Anak-anak dari mendiang Kapten Bonar ini sudah jelas akan menjadi duri dalam daging bagi kita." Kata Prengki.


Prengki mungkin benar dengan kata-kata nya. Jika ingin membunuh sebatang pohon, maka seharusnya dikorek sampai ke akar. Jika hanya di tebang, inilah yang terjadi. Pohon tersebut kemungkinan besar akan bertunas kembali dan menjelma menjadi pohon juga.


Kesalahan terbesar yang mereka lakukan adalah karena terlalu berhasrat mengakhiri ancaman dari Bonar yang memang seorang kapten kepolisian bagian kriminal. Fakta bahwa mereka tidak melakukan penyelidikan apakah Bonar ini memiliki anak atau tidak mereka tidak perduli. Karena telah diselimuti oleh dendam, mereka tidak mau berfikir lagi dan langsung saja membunuh Bonar dan Istrinya. Apa lagi mereka juga dijanjikan uang sebesar satu miliar dari pengusaha kaya asal Singapore yaitu Acun yang juga mengalami kerugian besar dengan kehadiran Bonar sebagai kepala kepolisian Kota batu itu.


"Martin sungguh pandai. Dia bisa memanfaatkan momentum. Kemungkinan besar Martin ini tau siapa Tigor ini. Jika benar Tigor ini adalah anak dari mendiang Kapten Bonar, sudah pasti dia memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan balas dendam. Dan Martin dapat mengendus keberadaan anak ini. Dengan memanfaatkan Tigor sebagai ujung tombak, setidaknya Martin bisa menghemat tenaga. Jelas sejak kehadiran Tigor dalam organisasi yang diketuai oleh Martin, kita saat ini merasa sangat dirugikan. Jika tidak, mustahil seorang pemuda yang masih ingusan berani mengusiak seekor singa seperti geng tengkorak. Tidak salah lagi. Tigor habonaran ini adalah anak dari mendiang Kapten Bonar." Kata Birong.


Semua yang hadir di tempat itu kini mulai saling pandang.


Bagi Tumpal yang tidak terlalu mengetahui duduk permasalahannya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.


Namun bagi Birong, Prengki, Bongsor, Togar dan Dagol, jelas sangat terasa penyesalan di dalam hati mereka karena terlalu gegabah bertindak tepat delapan tahun yang lalu.


"Sudah! Tidak ada lagi yang perlu di sesali. Semua sudah terjadi. Saat ini musuh kita bukan hanya Geng kucing hitam saja. Namun ada Tigor yang ingin balas dendam, juga ada Black Cat yang juga menjadi musuh kita. Dan sampai saat ini aku tidak tau atas dasar apa dia selalu mencari gara-gara dengan kita. Selesaikan dulu satu per satu. Aku menginginkan Tigor ini mati. Cari tau lebih mendalam tentang Tigor ini dan juga selidiki siapa adiknya. Ini karena, kelemahan Tigor ini sudah pasti terletak pada adiknya yang masih lajang tanggung dan belum tau apa-apa itu." Kata Birong.


"Baik Ketua!" Kata mereka serentak.