BLACK CAT

BLACK CAT
Melamar Mirna



Beberapa orang pemuda tampak sedang berdandan di depan kaca.


Ada yang sedang kesulitan melilit sorban di kepala nya, ada pula yang tampak kesulitan memakai pakaian adat Melayu.


Seorang pemuda memakai pakaian batik buatan Solo tampak tertawa terbahak-bahak melihat tingkah beberapa sahabatnya itu.


Hari ini, sesuai dengan permintaan Tigor, sembilan orang pemuda itu akan menemani Tigor untuk melamar Mirna di kota Tanjung karang.


Setelah beberapa hari yang lalu Tigor telah mengantar Mirna kembali ke kampung nya, kini Tigor bermaksud untuk datang sekali lagi dengan maksud melamar serta memenuhi persyaratan yang di pinta oleh pihak wanita.


"Bagaimana Bang? Apakah kopiah ku ini sudah benar?" Tanya Acong sambil membenarkan letak kopiah di kepalanya.


"Hahaha. Aku lihat kau sudah seperti calon presiden saja Cong." Kata Tigor.


"Oh jangan salah bang. Kalau ada jabatan di atas presiden, maka aku layak untuk itu." Kata Acong sambil tertawa.


"Jadi tukang pangkas lah kau."


"Apa hebatnya jadi tukang pangkas?" Tanya Acong.


"Bah.. belum tau kau ya. Kalau tukang pangkas sudah memberi perintah, presiden pun nurut. Tunduk katanya ya tunduk. Miring katanya ya miring." Kata Andra.


"Aku bagaimana bang? Sarung ini selalu lepas. Jika nanti di sana lepas, bisa malu tujuh turunan aku." Kata Ameng sambil menyingsingkan kain sarung nya.


"Pakai lah ikat pinggang Meng! Jika seperti itu, ya kedodoran lah." Kata Tigor pula.


"Bang Monang. Pinjam tali pinggang mu dong." Kata Ameng.


"Tuh di tong sampah banyak tali rafia." Kata Monang sambil tertawa.


"Pakaian ku ini lucu sekali. Kuning seperti yang ngambang di sungai itu." Kata seorang lagi.


"Sesuai dengan namamu. Timbul." Jawab Ucok yang saat itu sibuk berlenggak-lenggok di depan cermin.


"Tinggal dasi saja. Siapa yang bisa memakaikan dasi ini ya?" Kata Acong sambil berfikir.


"Andai dilengkapi dengan dasi, sah! Sudah pasti aku mirip presiden." Katanya lagi.


"Di YouTube kan ada. Kau lihat lah di sana." Kata Monang.


"Nih lihat cara memakai dasi." Kata Tigor sambil menyodorkan HP-nya kepada Acong.


"Begini, begini.., lalu sap sap sap. Lah kenapa mencekik? Ini pasti salah ini." Kata Acong sambil terus memperhatikan petunjuk cara memasang dasi di YouTube.


"Hahaha... Aku seperti pak Kiai." Kata Jabat sambil menunjukkan sorban nya.


Penampilan Jabat kali ini benar-benar berbeda. Dengan mengenakan sarung, baju Melayu putih serta sajadah di sampirkan di pundak nya.


"Hahaha... Keren juga kau Jabat. Dari mana kau tau cara memaki sorban itu?" Tanya Sugeng.


"Dari YouTube lah. Bagaimana keren kan? Nah sini aku ceramahin kalian." Kata Jabat.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Para hadirin sekalian yang saya muliakan. Kini tibalah saatnya bagi kita menyambut kemenangan."


"Sudah sudah sudah. Kemenangan apa. Perang juga belum sudah mau menang aja. Puasa mu juga bolong-bolong mau bilang menang." Kata Thomas mencibir.


"Jangan sampai kau kualat sama pak Kiai." Kata Jabat membuat semuanya tertawa.


Dengan kopiah miring, sarung kedodoran dan dasi yang entah seperti apa bentuknya, kesepuluh orang itu pun akhirnya berangkat dengan menggunakan tiga unit mobil menuju ke kota Tanjung karang.


*********


Kehadiran rombongan Tigor ini membuat Kakek Mirna hampir keselek gigi palsu karena terlalu berusaha sekuat tenaga menahan tawa.


Seumur hidup, baru kali ini dia melihat rombongan meminang dengan keadaan seperti ini.


Sementara Jabat, sibuk membetulkan sorbannya yang hampir lepas.


Beda lagi dengan Timbul. Dari atas sampai ke bawah pakaiannya serba kuning.


Ketika mereka dipersilahkan Masuk, Mirna yang mengintip dari dapur juga tak tahan untuk tidak tertawa melihat anak buah calon suaminya itu.


"Ehem.. Begini Kek. Maksud kedatangan kami ini ke sini adalah dengan niat yang sangat baik." Kata Monang mulai menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka ini.


"Mungkin Mirna sudah bercerita kepada kakek sedikit banyaknya tentang diri kami ini. Kami ini adalah anak yatim yang tidak memiliki orang tua. Jadi, saya sebagai orang yang lebih tua dari mereka ini, mewakili Tigor untuk melamar cucu perempuan kakek untuk dijadikan sebagai pendamping hidup adik ku ini yang bernama Tigor Habonaran." Kata Monang menyampaikan maksud dan tujuan mereka mendatangi rumah kediaman kakek Mirna ini.


"Begini Nak Monang. Kakek setuju saja dengan niat baik dari adik nak Monang yang bernama Tigor ini. Namun, yang akan menjalani kehidupan berumah tangga ini kan cucu kakek. Dengan begitu, baik kakek bertanya dulu kepada cucu perempuan kakek ini. Apakah dia setuju atau tidak. Bagaimana nak Monang?" Tanya Kakek Mirna.


"Baik lah Kek. Memang sudah seharusnya kakek menanyakan langsung kepada yang bersangkutan." Kata Monang pula.


Kakek Mirna sejenak memandang ke arah Tigor yang sedikit pucat. Dia hanya tersenyum lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangan belakang rumah usang dan kecil itu.


Sebenarnya mereka tau bahwa Mirna pasti mau menerima Tigor. Ini juga karena yang mengantarkan Mirna kembali adalah Tigor.


Namun untuk menjaga adat istiadat, kakek itu harus menanyakan kepada Mirna apakah dia bersedia menerima lamaran itu atau tidak. Hal ini dilakukan agar kesannya tidak seperti memaksa perjodohan.


Setelah beberapa lama, Kakek Mirna pun kembali ke ruangan tengah dan berkata, "Alhamdulillah bahwa cucu kakek bernama Mirna mau menerima lamaran ini." Kata Kakek itu.


"Maka sah sudah!" Kata Ameng tiba-tiba nyerocos.


"Sah apanya? Ini lamaran bukan ijab qobul. Goblok mu itu." Bisik Andra ke telinga Ameng.


"Hehehe..." Kata Ameng tertawa malu.


"Baiklah kek. Jika lamaran kami ini di terima, maka sudilah kiranya kakek menerima tepak sirih dari kami ini." Kata Monang sambil menyodorkan peti kecil terbuat dari kayu dengan motif ukiran yang indah.


Di adat Melayu Sumatra, peti seperti ini di sebut tepak. Isinya adalah sirih, pinang, Gambir, kapur sirih dan lain sebagainya.


Dengan sangat senang hati kakek Mirna lalu menerima tepak tersebut dan mengambil selembar sirih kemudian meramu sirih tersebut lalu menggulungnya kemudian di makan.


Dengan ini, berarti sudah ada tanda-tanda bahwa lamaran ini di terima dengan senang hati oleh pihak wanita.


"Bagaimana Monang?" Tanya Tigor berbisik.


"Aman kayak nya ini. Aku tadi menonton di YouTube sambil baca di Google. Ternyata berguna juga." Kata Monang juga berbisik.


"Sebentar lagi jadi suami lah kau bang. Enak lah kau bisa kuda-kudaan tiap malam." Kata Thomas yang duduk di samping kiri Tigor.


"Sssst... Awas nanti di dengar kakek itu. Bisa batal nikah ku." Kata Tigor.


"Daripada anak-anak monyet ini nyerocos terus, lebih baik kita segera meminta diri." Kata Monang lalu berdiri.


"Kek. Semua sudah kita sepakati. Hantaran sebagai mas kawin akan kami persiapkan. Dengan ini, saya mewakili Tigor ingin menyerahkan sebentuk cincin sebagai tanda pertunangan." Kata Monang yang langsung di terima oleh kakek Mirna.


"Jika begitu, kami mohon diri dulu Kek." Kata Monang lalu menyalami orang tua itu.


"Baiklah. Hati-hati di jalan." Ucap kakek nya Mirna sambil mengantar tamunya itu sampai di depan pintu.


"Huh... Kau yang mau nikah, aku yang jantungan." Kata Monang.


"Apa benar seperti itu cara melamar nya?" Tanya Tigor.


"Entah lah. Harusnya dia faham bahwa kita ini orang yang tak tau adat. Kita ini anak gelandangan Gor. Mau bagaimana lagi. Gas saja lah." Jawab Monang.


"Yang penting kan tujuan dan niat kita baik. Jika tidak baik, sudah pasti Mirna hamil duluan. Setelah itu, barulah sibuk menikah." Kata Ucok pula.


"Keringat dingin aku. Ayo pulang. Aku mau tidur setelah ini. Spot jantung aku dari tadi." Kata Tigor membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Tak lama kemudian, Mobil mereka pun mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah Mirna menuju ke kota Kemuning.