BLACK CAT

BLACK CAT
AKBP Rio



Setelah selesai melakukan panggilan lewat telepon, kini tampak wajah Tigor berubah sedikit cerah membuat mereka yang berada di dalam ruangan itu merasa penasaran dan bertanya.


"Bagaimana Gor?" Tanya Monang ingin tau.


"Mereka bersedia untuk membantu kita. Namun yang menjadi masalahnya adalah, alasan apa yang kita miliki agar kedatangan mereka kemari tidak menimbulkan kecurigaan."


"Ini karena, jumlah mereka yang akan datang tidak sedikit. Kemungkinan empat atau lima kali lipat dari anggota geng kucing hitam dan Geng tengkorak jika digabungkan." Jawab Tigor.


"Berarti mereka tidak main-main bang. Kemungkinan ada yang mereka harapkan dari kita atau di kota Kemuning ini." Kata Thomas.


"Itu tidak masalah. Kita tidak perlu memikirkan apa motif mereka. Yang jelas, mereka tidak pernah mengganggu kita seperti Birong dan Marven."


"Sudah ku katakan dari tadi kepada kalian. Lebih baik kita mendapatkan sedikit, daripada tidak sama sekali." Kata Tigor.


"Benar juga. Lagian, jika mereka berinvestasi di sini, itu artinya kan semakin banyak lapangan pekerjaan yang terbuka. Selain itu, aset kita di sini akan aman." Kata Ucok.


"Tidak hanya aman. Karena aman saja tidak cukup. Aku ingin menebas sumber masalah langsung ke akar-akarnya." Kata Tigor.


"Maksud mu bang?" Tanya Jabat.


"Jabat, Ucok, Sugeng, dan kau Thomas.


Kalian adalah orang yang paling lama hidup bersama dengan ku. Terhitung sejak usia kita lima belas tahun dan sekarang usia kita sudah hampir kepala tiga. Sejak dulu aku selalu mengatakan kepada kalian bahwa apapun itu, asal aku bisa membasmi geng tengkorak dan membunuh Birong, semua jalan akan aku tempuh. Walaupun setelah itu aku juga harus mati."


"Mereka bisa bergembira dan merasa menang saat ini. Tapi sebentar lagi mereka semua akan mandi darah. Mandi darah!" Kata Tigor sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Aku memiliki sebuah rencana. Semoga ini bisa menjadi alasan untuk menghilangkan kecurigaan mereka atas kedatangan orang-orang dari Dragon Empire." Kata Andra tiba-tiba.


Sekarang ini semua mata tertuju kepada Andra.


Apa lagi Tigor yang langsung bangkit berdiri seolah-olah melupakan rasa sakit pada kakinya.


"Katakan Ndro! Ide apa yang kau miliki?!" Tanya Tigor.


"Menurut ku, hanya ada satu alasan yang paling tepat. Yaitu, percepat acara pernikahan mu dengan Mirna. Kita buat pesta besar-besaran dan undang semua kenalan kita serta orang-orang besar di kota Kemuning ini."


"Karena pesta yang diadakan secara besar-besaran ini, sudah pasti tamu undangan akan ramai yang datang. Dengan ini, kau mengandalkan alasan telah mengundang seluruh mitra bisnis mu dan para kenalan. Tidak akan ada yang curiga. Bukankah mereka semua tau bahwa kau sering bepergian ke luar negeri untuk menjalin kerjasama bisnis mu atas nama mendiang bos besar kita, Martin." Kata Andra menyampaikan buah pikiran nya.


"Masuk akal. Ini ide yang sangat masuk akal. Dengan begitu, mereka bisa datang kemari dengan alasan sebagai tamu undangan." Kata Monang pula.


"Hmmm... Ada benarnya. Jangan tunda lagi bang! Bila perlu, adakan secepatnya dan lebih cepat dari rencana Birong yang akan menikahkan Marven dan keponakannya itu." Kata Acong yang langsung setuju dengan gagasan ini.


"Ok. Kalau begitu kita berbagi tugas."


"Monang dan Andra berangkat ke Tanjung karang. Sampaikan rencana kita ini kepada kakek dan neneknya Mirna. Ucok dan Sugeng kalian berangkat sekarang juga ke perusahaan percetakan! Cetak kartu undangan sebanyak mungkin. Sugeng, Acong dan Timbul. Kalian berangkat ke perbatasan untuk memata-matai keadaan! Sisanya, sebarkan gosip bahwa aku akan segera melangsungkan pernikahan tiga hari lagi."


"Ayo sekarang kalian semua bergerak!" Kata Tigor.


"Siap ketua!" Kata mereka lalu segera membubarkan diri mengerjakan tugas masing-masing.


*********


Seorang pemuda tampak sedang berdiri di depan sebuah rumah yang tampak sudah lama tidak ditempati.


Dari pakaian seragam yang dia kenakan, tampak bahwa pemuda berusia dua puluhan lebih ini adalah seorang anggota dari kesatuan kepolisian.


Terlihat lambang dua bunga melati emas berderet di pangkatnya menandakan bahwa pemuda ini adalah Ajun komisaris besar polisi atau disingkat (AKBP).


Hanya saja, pemuda ini masih harus melanjutkan lagi pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S1 STIK (sespimma polri)


Di plat nama pula, terpampang tulisan dengan Nama, Rio Habonaran di seragam dinas kepolisian yang dia kenakan itu.


Pemuda ini bernama Rio. Seorang anggota polisi kelas perwira menengah yang baru saja lolos dengan predikat tertinggi dari jajaran para calon anggota kepolisian dan ditempatkan di kota Batu dengan sebutan Ajun Rio dan kandidat terkuat untuk menjadi Kapolresta Kota Batu suatu saat nanti dengan pangkat Kombespol.


Lama juga pemuda dengan seragam kepolisian itu menatap ke arah rumah yang berada di hadapannya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah.., Ibu.., aku anak mu telah pulang." Katanya sambil meneteskan air mata.


Selama ini dia sangat ingin sekali kembali ke rumah yang pernah ditempati oleh keluarga selama ini sebelum kejadian terbunuhnya kedua orang tuanya.


Namun hal itu urung dia lakukan karena larangan dari Abang nya yang tidak ingin nantinya dia akan menjadi target pembunuhan oleh musuh mendiang Ayah nya.


Oleh karena itu, dia menunggu saat yang tepat.


Hanya setelah memakai seragam kepolisian ini lah masa yang tepat untuk kembali.


Dengan pangkat yang dia miliki, dengan wewenang yang ada ditangannya, dan dengan tekad yang kuat untuk membalas dendam, akhirnya dia tiba di satu titik dalam kehidupannya untuk mencapai tujuan yang lain.


Seragam ini hanya alasan agar dia bisa menyiksa musuhnya yang masih bebas berkeliaran tanpa tersentuh oleh hukum.


"Ayah. Aku akan menyeret mereka ke dalam penjara lalu mati perlahan di dalam sel tahanan. Itu sumpah ku." Kata pemuda itu.


Terbayang dalam ingatan nya ketika dia dulu masih kecil, selalu di manja dan di sayang oleh Ayah, Ibu dan Abang nya.


Namun karena tragedi berdarah yang menyebabkan kehilangan nyawa kedua orang tuanya, dia terpaksa menjalani kepahitan hidup selama beberapa tahun di jalanan bersama dengan Abang nya.


Sempat menjadi gelandangan, kemudian bersusah payah Abang nya yang terus berjuang menyekolahkan dirinya, sampai harus melarikan diri bersembunyi dari incaran musuh-musuh mendiang ayahnya dan terpaksa berpisah dari Abang nya yang hanya mengirimkan uang biaya sekolah tanpa pernah bertatap muka. Hal ini seperti luka yang di siram dengan cuka.


Baginya, itu sangat perih dan pedih.


Sambil berlinang air mata, pemuda itu pun selangkah demi selangkah memasuki teras rumah itu kemudian merogoh sakunya untuk mengambil kunci rumah itu dan perlahan membuka pintu.


Air mata mulai deras mengalir ketika dia meninjau kedalam, keadaan rumah itu tidak ada perubahan. Masih sama seperti belasan tahun yang lalu. Hanya bedanya, debu yang tebal menempel di sana-sini.


"Ibu, Ayah. Aku anak mu Rio Habonaran kembali." Kata pemuda itu sambil meraup debu di lantai, lalu mengusapkan ke wajahnya.