
Setelah Black Cat meninggalkan kamar tempat Wulan, Debora, Rini dan beberapa teman yang lainnya mengadakan pesta, keadaan kini kembali sunyi.
Kini tampak Wulan duduk termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
Berbeda dengan Wulan, Debora yang sudah dua kali diselamatkan oleh Black Cat juga tampak sedang termenung. Dia sama sekali tidak merasa marah ketika setiap pertemuan selalu saja dikatakan perempuan sampah oleh Black Cat. Melainkan, dia sangat penasaran dengan wajah di balik topeng kucing tersebut.
Rini yang baru kali ini bertemu dengan lelaki bertopeng itu merasa heran melihat kedua sahabatnya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa Wulan? Apakah kau sedang shock dengan kejadian tadi?" Tanya Rini.
Wulan hanya menggeleng perlahan dan berbisik.
"Rin. Aku sepertinya sangat mengenal orang yang telah menolong kita tadi." Kata Wulan.
"Kau mengenalnya Lan?" Kata Rini mulai tertarik.
"Ya. Tapi aku berdoa semoga saja bukan dia." Kata Wulan.
"Apa maksudmu Lan?" Tanya Rini yang tidak mengerti.
"Bentuk tubuhnya. Suaranya. Aku sangat mengenalnya. Di tambah lagi aroma parfum itu. Itu jelas adalah aroma yang sama. Dan aku membelikannya untuk dia. Tidak mungkin itu hanya sebuah kebetulan." Kata Wulan seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
"Apa maksud mu Lan. Suara apa? Bentuk apa? Lalu, aroma apa?" Tanya Rini semakin tidak mengerti.
"Aah.. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa." Jawab Wulan sambil menggeleng berulang kali.
"Rin. Apakah kau melihat barang-barang ku yang tadi di bawa oleh Tigor?" Tanya Wulan.
"Oh. Iya. Barang-barang mu ada di pojok sana. Sialan betul si Tigor itu. Dia meninggalkan kita disaat-saat seperti ini." Kata Rini sambil melihat teman-temannya yang lain sedang membantu Irfan yang masih belum sadarkan diri.
"Aku sudah menelepon ambulace. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan kemari." Kata Debora.
Wulan tidak memperdulikan perkataan Debora barusan. Dia segera berjalan menghampiri barang-barang yang di tinggalkan oleh Tigor di pojok ruangan itu.
Dengan cepat Wulan mengambil salah satu tas di mana terdapat pakaian bekas milik Tigor dan mengeluarkan sebuah kotak dan ketika isinya dikeluarkan, ternyata itu adalah kotak Parfum.
Wulan mengeluarkan botol tersebut, membuka tutup nya dan denga perlahan menekan bagian atas botol itu dan mengarahkan ke punggung tangannya.
"Hmmm..., aroma ini. Black Cat tadi juga memiliki aroma seperti ini di tubuh nya. Apakah Black Cat ini adalah Tigor? Jika benar, maka sudah dua kali dia menyelamatkanku. Pertama di Tikungan pitu. Dan terakhir malam ini. Oh Tuhan...! Semoga saja dugaan ku salah." Kata Wulan dalam hati.
Sementara itu, Black Cat yang sudah berada di luar segera memerintahkan kepada anak buah geng kucing hitam untuk segera membereskan kamar yang di sewa oleh Wulan dan teman-temannya. Lalu dia sendiri bergegas berjalan menuju salah satu kamar untuk segera membuka kedok nya.
Entah karena terlalu terburu-buru, tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis yang juga sedang berjalan terburu-buru.
Bruuugh...
"Argh...!"
"Oh. Maaf Nona. Aku tidak.sengaja." Kata Black Cat kepada wanita itu.
"Tid.., tidak. Tidak apa-apa." Jawab gadis itu.
Gadis itu terlihat pucat. Entah karena terkejut, atau ketakutan melihat sosok Black Cat yang serba hitam dan mengenakan topeng tersebut.
"Maaf. Aku sedang terburu-buru. Jika tidak, Monang akan memarahiku." Kata gadis itu berusaha berdiri. Namun karena dia memakai pakaian yang sangat sempit dengan rok mini yang juga sangat sempit, hingga dia tampak sangat kepayahan untuk berdiri.
"Sini Nona biar aku bantu." Kata Black Cat sambil mengulurkan tangannya.
Setelah membantu gadis itu berdiri, Black Cat lalu berpesan. "Ingat Nona! Nanti jika Monang marah, Katakan padanya bahwa Black Cat yang membuat mu terlambat. Ingat dan jangan lupa. Setelah menyebut namaku, Monang pasti tidak akan marah." Kata Black Cat sambil bergegas pergi meninggalkan gadis itu.
Seorang pemuda keluar dari kamar dan buru-buru melangkah setengah berlari masuki salah satu kamar ekslusif diantara jejeran kamar-kamar karaoke di pusat hiburan itu.
Baru saja dia muncul di ruangan itu, salah satu dari gadis yang berada di dalam mulai menghamburkan kata-kata makian dan hinaan yang sangat keras kepadanya.
"Darimana saja kau Tigor? Apa kau sengaja melarikan diri ketika ada masalah? Kau itu benar-benar banci. Lari ketika kami diperkalukam seperti hewan oleh orang-orang dari kota Kemuning. Sialan betul kau ini." Terdengar makian dari salah seorang gadis di ruangan itu.
"Maaf tadi aku ke toilet. Mana aku tau ada kekacauan di tempat ini. Ketika aku pergi, semuanya dalam keadaan baik-baik saja." Kata Tigor berkilah.
"Baik-baik saja katamu?! Kau tidak tau bahwa kami nyaris saja babak belur oleh orang-orangnya Ronggur. Dan kau, kau lari seperti banci kaleng. Aku curiga apakah kau ini lelaki atau perempuan."
"Sudahlah Debora. Marah juga percuma. Dia mungkin tidak menduga bahwa akan ada kekacauan di kamar ini." kata salah seorang dari gadis yang berada di ruangan itu.
"Apa kau baik-baik saja Lan?" Tanya Tigor sembari menghampiri Wulan yang sibuk membemahi barang-barang milik nya yang diletaklan begitu saja oleh Tigor tadi di pojok ruangan itu.
"Aku baik-baik saja. Kemana kau tadi?" Tanya Wulan dengan lembut.
Tigor merasa sangat heran dengan sikap Wulan ini. Tadinya dia mengira bahwa dia akan di semprot oleh Wulan. Namun dugaannya meleset.
"Perut ku mulas. Jadi, aku memutuskan untuk mencari toilet. Maaf karena tidak memberitahu kepadamu." Jawab Tigor.
"Bukankah di kamar ini ada toilet nya." Kata Wulan.
"Oh ya? Aku mana tau. Kau kan tau kalau aku sama sekali belum pernah kesini." Jawab Tigor.
"Alah alasan mu saja. Katakan saja kalau kau memang seorang lelaki pengecut yang lari ketika ada kekacauan. Berbeda sekali dengan Irfan. Walaupun dia babak belur, namun dia tidak pengecut yang melarikan diri sepertimu." Kata Debora.
Kali ini Tigor tidak lagi mampu bersabar. Ini karena hatinya sudah terlanjur sakit, sakit dan sakit oleh Debora ini sejak saat di restoran gang kumuh tadi.
Dengan mata merah dan tinju mengepal, Tigor.segera membalikkan badan dan segera membentak.
"Hey kau betina. Jika kau laki-laki, saat ini aku pastikan gigimu akan tanggal oleh ku. Kau pikir kau itu siapa berani berkata seperti itu dengan ku? Apa aku ini kacung mu? Apa aku ini babu mu yang bisa kau perintah sesuka hati mu? Aku tidak perduli kau mau mati atau hidup. Karena itu bukan urusan ku. Dasar perempuan sampah." Kata Tigor dan tanpa berkata apa-apa lagi, segera keluar meninggalkan ruangan itu.
"Tigooor....!"
Melihat Tigor pergi meninggalkannya, Wulan segera berlari menyusul. Namun secepat apa pun dia berlari, dia sudah tidak melihat sosok Tigor lagi.
Berbeda dengan Debora. Ketika mendengar kata-kata terakhir dari Tigor tadi, dia seperti tersadar dan merasakan seperti pernah mendengar kata-kata itu.
"Itu adalah Black Cat. Hanya Black Cat yang memiliki kata-kata kasar seperti itu. Nada yang sama, suara dingin yang sama. Apakah dia adalah lelaki bertopeng itu? Black Cat adalah Tigor dan Tigor adalah Black Cat? Ah.., itu tidak mungkin." Kata Debora dalam hati.
Dia berusaha keras membantah dalam hatinya. Ini karena dia sudah terlalu menghina Tigor.
Dapat dibayangkan andai Tigor adalah Black Cat, dia tidak tau lagi harus mengatakan apa.
"Andai Tigor benar-benar adalah Black Cat, kemana wajah ini akan aku sembunyikan?" Kata Debora lagi.
Dia baru sadar jika ruangan itu sudah kosong ketika salah satu dari anak buah Monang menegur nya.
Sambil sedikit tergagap, Debora segera keluar dari ruangan itu dan terus berjalan keluar di mana teman-temannya sedang menunggu.
"Mengapa kalian meninggalkan ku?" Tanya Debora.
"Kami sudah mengajak mu untuk keluar. Tapi kau seperti patung. Kau sama sekali tidak mendengarkan ajakan kami. Makanya kami keluar duluan." Jawab mereka.
"Oh. Iya deh tidak apa-apa." Kata Debora dan segera masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, dia berpesan kepada Rini untuk menyampaikan kepada Wulan bahwa dia pulang duluan kerumah karena sedang tidak enak badan.
Selesai berpesan, Debora segera menghidupkan mesin kendaraannya dan berlalu meninggalkan area parkir depan pusat hiburan dunia gemerlap itu.