
Berita tentang pembantaian di Tikungan pitu pagi ini membuat gempar di berbagai stasiun televisi dan media sosial.
Semu tajuk utama berita pagi ini adalah tentang pembantaian di Tikungan pitu itu lalu disusul dengan sebuah pernyataan dari saksi hidup dengan wajah mengenaskan bahwa pelaku dari semua kejadian pembunuhan itu adalah seseorang yang mengenakan topeng kucing.
Beberapa kelompok kini mulai menghubung kaitkan antara lelaki bertopeng kucing itu dengan kelompok organisasi kucing hitam di kota Tasik putri yang dikepalai oleh Martin. Namun sejauh ini masih belum ada petunjuk apapun yang dapat dijadikan sebagai patokan bahwa Black Cat adalah bagian dari organisasi mafia itu.
Di hari yang sama juga muncul pernyataan bahwa Birong, ketua organisasi geng tengkorak telah melakukan sayembara dengan upah 10 miliar bagi siapa saja yang mampu menangkap orang yang mengenakan topeng kucing ini hidup-hidup membuat banyak pembunuh bayaran, sindikat preman bawah tanah bahkan para master guru silat pun merasa tergiur dengan uang dalam jumlah yang tidak sedikit itu.
Semua orang tau bahwa Birong dan geng tengkorak miliknya adalah yang paling dirugikan atas kejadian ini. Dan orang-orang juga tidak menampik kemungkinan bahwa akan terjadi peperangan antara geng tengkorak di kota Batu dengan geng kucing hitam di kota Tasik putri.
Sementara itu di Blok B perumahan Tasik putri, Martin yang sengaja datang karena telah mengadakan temu janji dengan Tigor pun tidak luput dari pembahasan tentang seberapa besar kemungkinan yang bisa saja terjadi mengingat cara berfikir Birong adalah bertindak dulu baru berfikir.
Sambil menarik nafas dalam-dalam Martin pun akhirnya mengutarakan juga kekhawatirsnnya kepada Tigor. "Bagaimana menurut mu Gor. Masalah pembantaian di Tikungan pitu ini tidak bisa di anggap sederhana. Birong pasti akan melakukan tindakan membabi buta di kota Tasik putri ini untuk memancingmu keluar." Kata Martin.
"Kuncinya ada padamu Martin. Selama ini hanya kau yang tau siapa Black Cat. Jika kau membantuku, maka aku juga akan membantumu menyatukan Tasik putri, kota Batu dan kota kemuning. Aku tidak akan mengancam. Sama sekali tidak ada maksudku begitu. Namun jika identitas Black Cat terbongkar sebelum waktunya, jangan salahkan jika aku tidak dapat membantumu lagi dan bahkan aku mungkin akan menjadi musuhmu." Kata Tigor tanpa tedeng aling-aling.
"Itu yang aku suka darimu Tigor. Itu yang aku suka. Kau selalu berbicara apa adanya. Kau tidak perlu khawatir. Kerjasama antara kita ini akan saling menguntungkan jika kita bisa saling jujur dan saling percaya. Kau bisa membalaskan dendam mu dengan sumber daya yang aku miliki, dan aku bisa melebarkan kekuasaan berkat idea, tenaga dan keahlianmu. Namun yang aku khawatirkan adalah Birong ini. Dia selalu bisa membaca langkah kita. Ini termasuk mencegat Marven di Tikungan Pitu ketika akan mengantar Wulan kembali ke Dolok ginjang."
"Ada pepatah mengatakan, jika kau memiliki sebutir peluru yang akan kau gunakan untuk menembak musuh, lebih baik peluru itu kau tembakkan saja kepada penghianat. Karena musuh yang nyata sudah jelas keberadaannya. Namun jika musuh itu berada di bawah atap yang sama dengan mu, maka sekantong peluru pun tidak akan berguna." Kata Tigor sambil memainkan kunci mobil BMW i8 miliknya pemberian Martin.
"Maksud mu? Apakah di dalam tubuh geng kucing ada kutu?" Tanya Martin.
"Beberapa kejadian telah menunjukkan secara gamblang bahwa di dalam organisasi kucing hitam terdapat penghianat. Orang ini sangat berbahaya karena begitu dekat dengan mu."
"Apakah maksudmu Beni?" Tanya Martin.
"Benar. Mengapa kau tidak mencari tahu kemana Tumpal pergi?"
"A.. Ak.. Aku.., aku...,"
"Itulah kesalahan mu Martin. Kau terlalu lamban dalam melakukan suatu pekerjaan. Maaf. Aku tidak bermaksud menggurui. Namun perlu kau ketahui bahwa saat ini Tumpal berada di sisi Birong di bukit Batu markas besar Geng tengkorak." Kata Tigor sambil menatap tajam tepat ke bola mata Martin.
"Kau mengetahui semuanya. Tapi mengapa tidak memberitahu kepadaku?" Tanya Martin ngotot tak mau mengalah.
"Kalau semuanya harus aku, lalu untuk apa orang-orang mu? Apakah mereka hanya makan gaji buta? Jika begitu, lebih baik kau memelihara lembu saja. Sudah gemuk akan semakin mahal harganya." Kata Tigor mencibir.
"Hehehe... Bangsat kau Gor. Baiklah. Lalu bagaimana cara kita untuk membongkar kedok Beni ini. Kau kan tau bahwa sejak mendiang ayahku masih hidup, dia sudah berada dalam organisasi ini." Kata Martin.
"Ya aku tau itu. Namun jika terus seperti ini, maka aku harus membunuh lagi." Kata Tigor sambil tersenyum.
"Begini saja Gor. Aku akan memaksa Beni ini untuk mundur dari organisasi dan menggantikan posisinya dengan anak lelakinya bernama Irfan itu. Apa pendapat mu?" Tanya Martin.
"Hahaha... Boleh. Itu bagus. Lumayanlah untuk hiburan." Kata Tigor sambil tertawa.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Martin.
Pemuda itu bergegas mengambil ponselnya lalu segera mengirim pesan singkat kepada Andra untuk bertemu di bawah jembatan.
"Martin. Kali ini jika ada uang yang kami hasilkan, aku tidak akan menyetor kepadamu." Kata Tigor.
"Mengapa begitu Gor?" Tanya Martin.
"Alah uang segitu hanya tahi gigi saja bagimu. Kau kan tau bahwa semua yang aku rekrut itu adalah anak-anak gelandangan. Mereka itu semuanya jalan kaki. Aku ingin agar mereka minimal memiliki sepeda motor agar mudah bergerak kemana-mana jika ada hal mendadak." Kata Tigor.
"Kau menghina ku Gor? Katakan berapa ratus juta yang kau mau. Aku akan membelikan bahkan 200 unit sepeda motor untuk mereka." Kata Martin.
"Maaf Martin. Kami anak gelandangan tidak biasa menerima imbalan baru bekerja. Itu sudah menjadi hukum tak tertulis diantara kami. Makanya untuk masalah ini, biarkan kami yang bekerja. Kau urus saja lembu-lembu mu yang sudah kegemukan itu. Bentar lagi raya haji. Bisa lah di potong untuk kurban." Kata Tigor.
"Sialan betul kau ini Tigor. Terserah kau lah. Sebulan. Aku berikan sebulan untukmu. Kau tidak perlu menyetor kepadaku. Kecuali transaksi yang akan kau lakukan tidak lama lagi." Kata Martin.
"Bagaimana dengan yang palsu yang aku inginkan itu? Apakah sudah kau sediakan?" Tanya Tigor.
"Tidak perlu uang palsu. Rampok saja lah. Kau kan hebat. Aku tau bahwa itu adalah barang palsu." Kata Martin.
"Kalau begitu lupakan tentang transaksi sialan itu. Buang-buang waktu saja.
"Alah terserah kau lah. Aku juga merasa malas bermain-main dengan Acun ini. Begini saja. Bulan depan aku ada sebuah transaksi besar. Kau akan berangkat ke Hongkong melalui jalan air. Ada puluhan kilo gram obat terlarang yang akan kau bawa. Jika ini berhasil, untuk mu 10% bonus di luar gaji. Bagaimana?" Tanya Martin.
"Siapa takut." Jawab Tigor ringan.
"Baiklah. Ini masih rencana. Seminggu sebelum hari 'H' nya, aku akan memberi kabar kepada mu untuk mempersiapkan diri." Kata Martin.
"Baiklah. Sekarang pergilah kau pulang. Aku mengantuk. Pulang sana kau!" Kata Tigor.
"Celaka sekali anda. Kau mengusir ku ha?"
Tuk...!
"Aduh. Asem kau Martin." Kata Tigor sambil mengusap-usap keningnya yang dijitak oleh Martin.
"Apa? mau membalas? Ku sumpahkan kau menjadi kucing kurap. Mau kau?" Kata Martin sambil tertawa.
"Orang tua edan." Kata Tigor bersungut-sungut.
"Hahahahaha... Ya sudah aku pulang dulu. Ingat untuk memberi kabar jika ada masalah nanti malam." Kata Martin sebelum pulang.
"Siap Boss besar!" Kata Tigor sambil mengantar Martin ke depan pintu.