BLACK CAT

BLACK CAT
Kakek angkat



Seorang pemuda tampak menaiki tangga sebuah rumah panggung berlantai belahan batang nibung dan segera duduk di depan seorang lelaki tua berusia di atas 80-an tahun.


Begitu pemuda itu duduk di lantai teras rumah panggung yang mirip seperti rumah adat melayu pada jaman dahulu, tampak lelaki tua yang di kenal dengan nama Tengku Mahmud mengambil dua lembar daun sirih, meletakkan kapur dan gambir serta beberapa ramuan lain termasuk isi buah pinang dibelah empat kemudian melipat-lipat daun sirih yang sudah di bumbui itu dan memberikannya kepada pemuda itu.


Tigor, pemuda yang baru saja duduk itu sedikit mengernyitkan dahi karena tidak mengerti untuk apa daun yang berisi belahan buah pinang, gambir dan kapur serta beberapa bahan lain itu diberikan kepadanya.


"Kek. Untuk apa kau memberikan daun sirih ini kepadaku?" Tanya Tigor.


"Nah. Makan saja. Ini baik untuk kesehatan gigi!" Kata orang tua itu menjawab pertanyaan Tigor.


"Uh.. Ini pasti tidak enak." Kata Tigor tampak uring-uringan menerima lipatan daun sirih itu.


"Kunyah saja dan jangan banyak tingkah. Menolak pemberianku berarti mencari penyakit!" Bentak lelaki tua itu membuat Tigor mau tak mau terpaksa menerima juga.


Tigor mulai mengunyah daun sirih itu sampai mulutnya kini memerah seperti berdarah.


"Daun sirih ini banyak khasiatnya. Kelak jika kau sakit mata, kau cukup mengambil tiga lembar laun sirih ini, di tumbuk dan rendam didalam air. Setelah itu saring airnya agar terpisah dengan kotoran sisa ampas sirih itu. Masukkan wajahmu kedalam air rendaman daun sirih tadi dengan mata terbuka. Biarkan selama beberapa saat. Dengan izin Tuhan, mata yang sakit akan berangsur baik." Kata kakek Mahmud.


"Terimakasih kek. Tapi ada yang mengganjal di hatiku dan aku harus menanyakan langsung kepada dirimu Kek." Kata Tigor.


"Apakah kau masih penasaran tentang diriku, mengapa aku bisa menebak dirimu, mengapa aku tau banyak tentang dirimu dan ayah mu?"


Sebagai jawaban, Tigor hanya mengangguk.


"Luar biasa orang tua ini. Dia bisa menebak dengan benar." Kata Tigor dalam hati.


"Kakek mu bernama Parulian adalah sahabat ku sejak kecil." Kata kakek Mahmud.


"Kakek kenal dengan Almarhum kakek ku?" Tanya Tigor.


"Anak setan. Bukan hanya kenal. Tapi melihat dirinya itu sama seperti aku melihat telapak tangan ku sendiri."


Tok...


"Kau tau. Bahkan ayah mu si Bonar itu adalah anak angkat ku." Kata Kakek Mahmud sambil menyentil kening Tigor.


"Benarkah Kek? Lalu siapa dan darimana asal Kakek?" tanya Tigor penasaran.


"Wah. kenapa aku tidak pernah tau kalau mendiang ayahku punya ayah angkat?" Kata Tigor bergumam.


"Itulah kekurangajaran ayah mu itu. Eh tapi bukan salah mendiang ayah mu juga. Aku yang tidak mengizinkan dia mengaku bahwa aku adalah ayah angkat nya."


"Mengapa Kek?" Tanya Tigor heran.


Pemuda itu makin tertarik kepada orang tua yang ada di hadapannya ini.


Kini tinggal Tigor saja. Apakah dia mampu mengorek sedikit demi sedikit tentang latar belakang orang tua ini.


"Kami sebagai orang-orang yang hidup pada jaman dahulu itu jika sudah ada isi pasti akan mencari lawan. Berbeda dengan zaman sekarang yang serba ketat dengan adanya polisi penegak hukum. Jika berkelahi maka akan ditangkap. Kalau dulu, kami para pemuda yang baru keluar dari padepokan atau turun gunung, akan melanglang buana mencari pengalaman. Tidak jarang memasuki perguruan lain hanya untuk uji tanding seberapa dalam ilmu yang kita miliki." Kata orang tua itu. "Oleh karena itu lah aku ini memiliki banyak musuh." Katanya lagi.


"Lalu, bagaimana Kakek bisa berkenalan dengan kakek ku? Apakah kalian bersaudara?" Tanya Tigor.


"Bukan. Kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Kakek mu orang batak. Sedangkan aku dari suku melayu deli. Aku berasal dari sungai Asahan sedangkan Kakek mu berasal dari Sidimpuan tapanuli selatan sana. Pertemuanku dengan kakek mu dulu ketika kami masih berumur sekitar 13 tahun dan kebetulan waktu itu orang tua kami sama-sama menyerahkan kami pada seorang guru tepatnya di Aceh untuk di didik. di situ lah aku bersahabat dengan kakek mu."


"Disana kami di didik bukan hanya tentang tulis baca saja. Kami di didik untuk memperdalam ilmu agama. Di didik memperdalam ilmu kanuragan, tata kerama, keluhuran akhlak, dan banyak lagi tentang falsafah kehidupan. Bagaimana kita bersikap kepada sesama manusia, bagaimana kita menghambakan diri kepada yang Maha Pencipta. Timbal balik antara sesama mahluk hidup dan kesalehan diri terhadap Tuhan."


"Ada orang yang terlalu fanatik terhadap Agama saja sampai tidak memperdulikan tetangga berjiran. Ada yang sibuk dengan dunia saja sampai lupa kepada Tuhan. Nah ini yang ditanamkan kepada kami tentang perlunya keseimbangan. Disaat saudaramu membutuhkan, maka bantu lah. Karena percuma kau tunduk bangkit melakukan sholat sunah seribu raka'at, namun ketika saudara mu, tetangga mu sakit, kau hanya mengabaikannya dan hanya sibuk dengan ibadah mu saja padahal kau mempunyai kemampuan untuk menolong. Karena tetangga mu memiliki hak atas pertolongan dari dirimu. Jika hak seperti ini kau abaikan, pintu surga yang mana yang akan terbuka untuk mu?" Tanya lelaki tua itu.


"Siapapun jiran mu, dari suku apapun dia, dari agama apapun dia, selagi dia itu adalah jiran mu, tetangga mu, maka secara tidak langsung dia sudah menjadi saudara mu dan memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan. Jika ini kau abaikan, maka kau telah gagal membuat Tuhan merasa senang. Keseimbangan ini yang kita perlukan. Tidak hanya sholat, puasa, Zakat, dan haji saja yang bisa membawamu masuk syurga. Dengan memperhatikan tetangga mu, membantu kesusahan orang lain, menolong anak yatim, orang tua jompo, intinya adalah, berbuat baik di dunia ini tanpa menimbulkan kerusakan, itu pun bisa membawamu kepada keridhoan Tuhan."


"Aku tidak bermaksud kau berbuat baik, menolong sesama sampai lupa menyembah Tuhan. Namun keseimbangan itu yang perlu kita terapkan. Itu adalah pelajaran dasar yang aku dapatkan dari guruku dulu bersama dengan kakek mu." Kata Tengku Mahmud.


"Lalu Kek, bagaimana kau bisa mendapat banyak musuh. Bukankah kau sudah mendapat pendidikan seperti itu. Tadi Kakek melarang mendiang ayahku untuk mengakui bahwa kau adalah ayah angkatnya. Mengapa bisa begitu Kek?" Tanya Tigor tidak mengerti.


"Itu lah murid durhaka seperti aku dan kakek mu. Awalnya setelah kami sama-sama lulus dari pesantren itu sebagai kedua murid terbaik. Tentunya baik aku maupun kakek mu merasa tidak puas. Aku menganggap bahwa aku lebih hebat dari kakek mu. Begitu juga sebaliknya. Lalu aku meminta untuk mengadakan pertarungan dengan kakek mu di mana tidak ada yang kalah dan menang hingga akhirnya kami membuat janji untuk bertemu lagi tahun depan di Sipirok untuk melakukan pertarungan ulang."


"Sejak saat itu aku dan kakek mu mulai melanglang buana mencari guru demi menambah perbendaharaan ilmu yang kami miliki. Hanya saja, perbedaan antara aku dan kakek mu adalah, jika dia berguru dengan asal berguru saja. Kalau aku tidak. Aku akan menantang semua orang untuk bertarung denganku. Apabila aku kalah, maka aku akan berguru kepadanya."


"Banyak tempat aku datangi untuk mencari ilmu. Bahkan aku sampai ke Johor Malaysia, Kedah dan Kelantan."


"Wah. Sampai keluar Negri juga ya kakek." Kata Tigor.


"Dulu belum lahir yang namanya Republik Indonesia atau pun Negara Malaysia. Dulu masih Nusantara saja. Dan kita sebagai orang-orang serumpun, bebas keluar masuk kemana saja yang kita mau. Berhari-hari aku mendayung sampan melawan ombak demi sampai ke tanah Melayu itu dan akhirnya aku sampai juga. Ketika itu, banyak perguruan yang aku datangi dan melakukan pertarungan sampai pada satu ketika aku dapat dikalahkan oleh seorang pendekar tepatnya di Kedah tua. Dan aku pun berguru di sana selama hampir satu tahun."


"Ketika aku kembali ke Asahan, aku mulai mencari kakek mu dan kami kembali bertarung tepatnya di Sipirok. Aku mengalahkan kakek mu ketika itu dengan jurus Gayung bersambut. Masih kurang puas, kakek mu meminta untuk mengadakan pertarungan lagi dengan ku setahun kemudian. Aku menyetujui dan kami kembali mencari guru lalu bertarung kembali di tahun depan. Ketika itu aku dapat dikalahkan oleh kakek mu. Dan kami kembali membuat janji bertemu lagi di tahun depan. Namun sialnya adalah Kakek mu bertemu dengan nenek mu dan mereka menikah. Di hari pernikahan mereka, aku datang dan menghancurkan pelaminan membuat kami kembali bertarung sampai tujuh jam. Ketika sudah sama-sama lelah, baru kami sadar bahwa tindakan yang kami lakukan ini adalah tindakan bodoh." Kata Tengku Mahmud sambil tersenyum getir mengenang masa lalunya itu.


"Jadi Kek, kalian dulu adalah musuh berat ya?" Tanya Tigor semakin antusias.


"Dalam hal ilmu bela diri, aku adalah musuh terberat almarhum kakek mu. Tapi hanya sebatas itu. Dalam hal-hal kehidupan, dia adalah saudaraku, sahabat baik ku dan kami saling mencintai layaknya saudara kandung. Ketika Ayah mu baru lahir, kakek mu kedatangan musuh lamanya. Mungkin sama sepertiku yang gemar bertarung. Ketika itu kakek mu bertarung dan kalah. Kekalahan itu menyebabkan dia kehilangan nyawanya. Aku merasa sangat marah dan kehilangan. Sebulan kemudian aku mendatangi orang yang bertarung dengan kakek mu dan aku berhasil menyarangkan tujuh tikaman belati di tubuhnya. Dengan ini, dendam ku terbayar lunas."


"Aku lalu mengangkat ayah mu sebagai anak angkat, menafkahi mendiang nenek mu dan mendiang ayah mu. Banyak yang menyarankan agar aku menikahi nenek mu. Namun karena aku tulus menganggap kakek mu adalah saudara, maka aku menolak perjodohan itu dan menikah dengan gadis pilihan ku. Namun sampai istriku meninggal, aku tidak memiliki keturunan. Karena itu aku sangat sayang kepada ayah mu. Namun aku menolak jika dia mengatakan kepada orang lain bahwa aku adalah ayah angkatnya. Karena apa? Karena aku memiliki banyak musuh. Sama seperti kakek mu yang mati di tangan musuh. Aku tidak ingin dia mati karena musuh-musuh ku. Dia tidak akan sanggup."


"Ketika dia sudah lulus sekolah dan menjadi seorang polisi. Aku tidak mengizinkan dia menemuiku dan aku memilih mengasingkan diri di Kuala nipah ini. Sampai aku mendapat kabar bahwa ayah mu telah di bunuh oleh Geng tengkorak. Selama delapan tahun ini aku terus-terusan membuntuti mu dan menjaga mu dari orang-orang yang menginginkan kematian mu. Apa kau kira semulus itu bisa terlepas dari kelompok mafia itu. Terhitung sudah lebih 30 orang yang mati di tangan ku karena melindungi mu."


"Apa? Jadi selama ini kakek tau penderitaan ku? Makan tak makan, hidup luntang lantung, tidur di bawah jembatan. Mengapa kakek tidak menemui ku dan adikku lalu mengajak kami pindah kerumah mu kek?" Tanya Tigor merasa kecewa.


"Cucu ku. Sepotong besi harus dibakar, dipukul untuk menjadi sebilah pedang. Kau juga sama. Kau harus menikmati rasa sakit mu agar bisa menjadi kekuatan untuk membalas dendam. Ingat! Rasa sakit itu. Jangan lupakan itu!"


Tigor hanya tertunduk mendengar kata-kata Kakek angkat nya itu. Tidak terasa air mata menetes di pipinya. Bukan airmata sedih, atau dia lemah. Tapi air mata dendam.